Yohanes 20:19-23 | Damai Sejahtera Bagi Kamu - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

mencari damai yang sejati
Yesus menampakkan diri kepada para muridNya
20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Damai Sejahtera Bagi Kamu — Hari ini, kita mau berbicara tentang kedamaian. Wah siapa yang gak mau merasakan kedamaian? Kita semua mencari-cari itu yang namanya damai. Kalau bisa kita semua inginnya hidup damai, bahkan mati pun nantinya pasti inginnya dalam damai (rest in peace) kan.

Saya punya cerita tentang raja yang mengadakan sebuah sayembara, "tolong gambarkan, buat lukisan tentang apa itu kedamaian".

Ada tiga orang pelukis yang mendengar tentang sayembara itu, kemudian mereka mencoba menuangkan pemahaman mereka tentang "apa itu damai" melalui lukisan.

1. Lukisan tentang kapal di tengah laut yang tenang, itulah kedamaian.
2. Lukisan tentang sawah yang sudah mulai menguning, siap di panen di sore hari kala mentari terbenam, itulah kedamaian.
3. Lukisan air terjun dengan aliran air yang deras, itulah damai.

Siapa yang menang? Lukisan air terjun.

Lho kok bisa air terjun yang deras (dan pasti berisik) jadi menang? Ternyata setelah diperhatikan lebih dekat lagi, ada seekor induk burung yang sedang tertidur bersama anak-anaknya di sangkar mereka, tidak jauh dari air terjun itu.

Pertanyaan besar buat kita sekarang: Apa arti damai buat kita?

Atau biar lebih mudah ... kapan, saat apa, kita merasa hidup kita ini damai sejahtera?

Awal bulan gajian?
Damai berarti gak ada orang yang mikir jelek tentang diri kita, gak ada yang gosipin?
Damai berarti keluarga gak pernah ribut?

Tapi, kalau memang pengertian damai kita hanya sebatas tu, hati-hati, ... akhir bulan, pas ada yang gosipin, pas lagi ribut-ribut, pas lagi kecewa, pas lagi takut, ... berarti damainya hilang.

Bukan kedamaian semu seperti itu yang kita cari sekarang ini kan ya? Yang kita cari adalah damai sejati yang meskipun betul ada "suara air terjun deras" yang pasti membuat kita terganggu, terusik, tetapi kita tetap bisa tenang dalam menjalani hidup ini. Setuju? Setuju.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kehilangan damai di hati, itulah latar belakang kisah di antara para murid Tuhan pada waktu itu.

Bagaimana tidak hilang damainya, bila apa yang mereka harapkan tentang sosok Yesus dahulu, "ini calon raja Israel", tapi searang malah mati disalib. Sekarang malah nambah persoalan, dikejar-kejar orang Yahudi.

Dari pembacaan Alkitab kita hari ini, ada beberapa hal yang mau saya ajak untuk kita renungkan bersama.

Mari kita lihat terlebih dahulu satu ayat sebelum perikop kita ini ya

Ayat 18, Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Menemukan keanehan gak dengan perilaku para murid dalam perikop kita ini bila dibandingkan dengan ayat 18 tadi?

Mereka mendengar Yesus telah bangkit. Tapi mereka belum percaya dengan berita itu, dan itu yang membuat mereka tetap saja takut, tidak tenang. Takut kalau dituduh mencuri mayat Yesus, takut kalau semakin dikejar dan dicari oleh orang-orang Yahudi. Dan hilanglah rasa damai di hati mereka.

Kehilangan damai di hati seringkali membuat ita tidak peka terhadap sesuatu yang sedang dirancang Tuhan dalam hidup kita. Kita menjadi kehilangan jejak Tuhan.

Coba aja, apa reaksi kita waktu jalan hidup kita ini penuh lika-liku, sakit, dll. Kita merasa damai? Tidak.

Sama seperti para murid Yesus, mereka takut, mereka kunci pintu rapat-rapat, ngumpet, gak mau meneruskan perjalanan hidup mereka, pelayanan mereka

Akan tetapi lihat apa yang terjadi kemudian.

Tepat di saat kita mungkin bertanya-tanya, "kok Tuhan gak melakukan apa-apa sih ngeliat hidup saya begini? Ke mana Tuhan, kok malah gak melakukan pergerakan?

Kita mungkin gak sadar bahwa Tuhan sedang berjuang untuk menjumpai kita dalam ketidak-damaian kita itu dan menunjukkan damai sejahtera yang sejati kepada kita.

Murid-murid takut tentang hidup mereka tanpa kehadiran Yesus, dan sekarang Yesus menjelaskan kepada mereka, "Apa yang terjadi kemarin itu maksudnya itu begini lho ... Bukannya dari dahulu sudah dibilang, mati dan bangkit untuk menebus dosa umat manusia."

Ketidak-damaian yang berganti dengan sukacita, damai sejahtera yang sejati.

Hal terakhir yang Yesus ingatkan pada murid-murid dan juga kita hari ini ada di Ayat 21, Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."

Jangan sampai ketidak-damaian yang semu membuat kita menjadi lupa bahwa ada sesuatu yang bisa kita kerjakan dan lakukan dalam kehidupan ini. Tuhan yang sudah mengutus kita untuk melakukan sesuatu. Tuhan pula yang telah menunjukkan daai sejahteraNya yang sejati itu pada kita semua.

Kalau karena ketidak-damaian yang semu itu membuat kita lupa bahwa kita bisa melakukan sesuatu, nanti yang rugi diri kita sendiri.

Rugi karena seharusnya kita sudah bergerak maju dari kemarin-kemarin, tapi malah tertunda karena rasa tidak damai dalam hati tadi. Rugi karena apa yang kita kerjakan pasti jadi gak maksimal.

Jadi pilihan kita mau bagaimana?

Yohanes 20:19-23 | Damai Sejahtera Bagi Kamu

mencari damai yang sejati
Yesus menampakkan diri kepada para muridNya
20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Damai Sejahtera Bagi Kamu — Hari ini, kita mau berbicara tentang kedamaian. Wah siapa yang gak mau merasakan kedamaian? Kita semua mencari-cari itu yang namanya damai. Kalau bisa kita semua inginnya hidup damai, bahkan mati pun nantinya pasti inginnya dalam damai (rest in peace) kan.

Saya punya cerita tentang raja yang mengadakan sebuah sayembara, "tolong gambarkan, buat lukisan tentang apa itu kedamaian".

Ada tiga orang pelukis yang mendengar tentang sayembara itu, kemudian mereka mencoba menuangkan pemahaman mereka tentang "apa itu damai" melalui lukisan.

1. Lukisan tentang kapal di tengah laut yang tenang, itulah kedamaian.
2. Lukisan tentang sawah yang sudah mulai menguning, siap di panen di sore hari kala mentari terbenam, itulah kedamaian.
3. Lukisan air terjun dengan aliran air yang deras, itulah damai.

Siapa yang menang? Lukisan air terjun.

Lho kok bisa air terjun yang deras (dan pasti berisik) jadi menang? Ternyata setelah diperhatikan lebih dekat lagi, ada seekor induk burung yang sedang tertidur bersama anak-anaknya di sangkar mereka, tidak jauh dari air terjun itu.

Pertanyaan besar buat kita sekarang: Apa arti damai buat kita?

Atau biar lebih mudah ... kapan, saat apa, kita merasa hidup kita ini damai sejahtera?

Awal bulan gajian?
Damai berarti gak ada orang yang mikir jelek tentang diri kita, gak ada yang gosipin?
Damai berarti keluarga gak pernah ribut?

Tapi, kalau memang pengertian damai kita hanya sebatas tu, hati-hati, ... akhir bulan, pas ada yang gosipin, pas lagi ribut-ribut, pas lagi kecewa, pas lagi takut, ... berarti damainya hilang.

Bukan kedamaian semu seperti itu yang kita cari sekarang ini kan ya? Yang kita cari adalah damai sejati yang meskipun betul ada "suara air terjun deras" yang pasti membuat kita terganggu, terusik, tetapi kita tetap bisa tenang dalam menjalani hidup ini. Setuju? Setuju.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kehilangan damai di hati, itulah latar belakang kisah di antara para murid Tuhan pada waktu itu.

Bagaimana tidak hilang damainya, bila apa yang mereka harapkan tentang sosok Yesus dahulu, "ini calon raja Israel", tapi searang malah mati disalib. Sekarang malah nambah persoalan, dikejar-kejar orang Yahudi.

Dari pembacaan Alkitab kita hari ini, ada beberapa hal yang mau saya ajak untuk kita renungkan bersama.

Mari kita lihat terlebih dahulu satu ayat sebelum perikop kita ini ya

Ayat 18, Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Menemukan keanehan gak dengan perilaku para murid dalam perikop kita ini bila dibandingkan dengan ayat 18 tadi?

Mereka mendengar Yesus telah bangkit. Tapi mereka belum percaya dengan berita itu, dan itu yang membuat mereka tetap saja takut, tidak tenang. Takut kalau dituduh mencuri mayat Yesus, takut kalau semakin dikejar dan dicari oleh orang-orang Yahudi. Dan hilanglah rasa damai di hati mereka.

Kehilangan damai di hati seringkali membuat ita tidak peka terhadap sesuatu yang sedang dirancang Tuhan dalam hidup kita. Kita menjadi kehilangan jejak Tuhan.

Coba aja, apa reaksi kita waktu jalan hidup kita ini penuh lika-liku, sakit, dll. Kita merasa damai? Tidak.

Sama seperti para murid Yesus, mereka takut, mereka kunci pintu rapat-rapat, ngumpet, gak mau meneruskan perjalanan hidup mereka, pelayanan mereka

Akan tetapi lihat apa yang terjadi kemudian.

Tepat di saat kita mungkin bertanya-tanya, "kok Tuhan gak melakukan apa-apa sih ngeliat hidup saya begini? Ke mana Tuhan, kok malah gak melakukan pergerakan?

Kita mungkin gak sadar bahwa Tuhan sedang berjuang untuk menjumpai kita dalam ketidak-damaian kita itu dan menunjukkan damai sejahtera yang sejati kepada kita.

Murid-murid takut tentang hidup mereka tanpa kehadiran Yesus, dan sekarang Yesus menjelaskan kepada mereka, "Apa yang terjadi kemarin itu maksudnya itu begini lho ... Bukannya dari dahulu sudah dibilang, mati dan bangkit untuk menebus dosa umat manusia."

Ketidak-damaian yang berganti dengan sukacita, damai sejahtera yang sejati.

Hal terakhir yang Yesus ingatkan pada murid-murid dan juga kita hari ini ada di Ayat 21, Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."

Jangan sampai ketidak-damaian yang semu membuat kita menjadi lupa bahwa ada sesuatu yang bisa kita kerjakan dan lakukan dalam kehidupan ini. Tuhan yang sudah mengutus kita untuk melakukan sesuatu. Tuhan pula yang telah menunjukkan daai sejahteraNya yang sejati itu pada kita semua.

Kalau karena ketidak-damaian yang semu itu membuat kita lupa bahwa kita bisa melakukan sesuatu, nanti yang rugi diri kita sendiri.

Rugi karena seharusnya kita sudah bergerak maju dari kemarin-kemarin, tapi malah tertunda karena rasa tidak damai dalam hati tadi. Rugi karena apa yang kita kerjakan pasti jadi gak maksimal.

Jadi pilihan kita mau bagaimana?

Terimakasih sudah membaca artikel di blog ini. Sahabat dapat menerima artikel terbaru langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email