Pdt. Gerry Atje

    Social Items

pemuda gereja
Renungan Warta, 11 Agustus 2019

Apakah menemukan anak muda Kristen yang militan dalam pelayanan gereja hari ini sudah menjadi suatu kelangkaan? Di kebaktian Minggu kali ini, cobalah tengok kanan-kiri depan-belakang bapak dan ibu, hitunglah berapa kaum muda yang hadir di dalam kebaktian hari ini?

Atau sekali-sekali tengoklah ke dalam kebaktian kaum muda kita yang diadakan setiap dua minggu sekali (Sabtu kedua dan Sabtu keempat) setiap bulannya, berapa jumlah pemuda kita yang hadir dalam ibadah tersebut?

Bung Karno pernah berkata, "Berikanlah aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia". Aduh bung, menemukan 10 pemuda (bagi kami, di gereja) seringkali itu bukan perkara yang mudah lho.

Makanya kita patut heran dan sekaligus salut dengan apa yang dilakukan oleh Timotius dalam pembacaan Alkitab kita hari ini. Salah satu tafsir menyebutkan bahwa Timotius telah ambil bagian dalam pelayanan bersama rasul Paulus (1 Korintus 16:11) sejak usia Timotius 15 atau 16 atau 17 tahun (Expositor's Greek Testament).

Di saat orang muda seusianya di masa kini hanya disibukkan oleh kegiatan hariannya yang berupa sekolah, gaul, pacaran, atau bahkan sudah mulai bekerja, tokh dengan usia yang sama (teenager) Timotius tetap juga masih dapat melakukan sesuatu dalam pelayanan bagi Tuhan.

Jadi ada apa sebenarnya dengan kehidupan anak-anak muda Kristen yang marak terjadi di mana-mana di masa kini? Apa yang bisa kita lakukan dalam menjangkau kaum muda gereja?

Paling tidak dalam pembacaan Alkitab kita hari ini rasul Paulus menunjukkan salah satu caranya bagi kita sekalian untuk menjangkau kaum muda, yaitu: selalu menjadi teman seperjalanan yang menopang dan yang menjadi teladan dan juga memberikan arahan-arahan yang baik seturut firman Tuhan. (GA)

Menjadi dewasa memang adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Jauh lebih mudah melompatinya dan beralih dari masa kanak-kanak ke masa kanak-kanak yang lain. (F. Scott Fitzgerald)

1 Timotius 4:1-16 | Langka

anak tangga
Renungan Warta, 28 Juli 2019

Apa jadinya bila Mazmur 37:1-6 ditulis oleh seorang yang semangatnya telah kendur? Mungkin akan terdengar seperti ini …

Dari seorang yang semangatnya kendur.
Aku marah karena orang yang berbuat jahat,
aku iri hati kepada orang yang berbuat curang,
sebab mereka tidak segera lisut seperti rumput
dan tidak pula layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.
Aku mulai meragu kepada TUHAN dan memertanyakan
mengapa harus tetap melakukan yang baik, berlaku setia
dan bergembira sedangkan TUHAN
tidak memberikan apa yang diinginkan hatiku?
Aku telah menyerahkan hidupku kepada TUHAN
dan memercayaiNya, namun Ia tidak pula memunculkan kebenaranku seperti terang dan hakku seperti siang.

Bukan bermaksud mengubah apa yang tertulis dalam pembacaan Alkitab kita hari ini dengan paragraf tadi, namun apabila kita mau jujur bukankah banyak di antara orang-orang yang memang berpikir seperti itu (yang ada dalam paragraf di atas) walaupun mereka sedang membaca apa yang tertulis di dalam pembacaan Alkitab kita hari ini (Mazmur 37:1-6)?

Alih-alih sepakat dengan judul perikop Alkitab kita hari ini, “Kebahagiaan orang fasik semu”, seseorang bisa jadi tergoda untuk berpikiran yang sebaliknya: “jangan-jangan yang semu adalah memilih jalan hidup sebagai orang benar karena menjadi orang benar nyatanya penuh dengan penderitaan sedangkan justru mereka yang mengambil jalan tidak benar, malah terlihat bahagia”.

Saya menyadari bahwa pikiran-pikiran seperti itu tidak jauh dari kehidupan kita sebagai orang percaya. Sewaktu pergumulan datang dan belum ada titik terangnya sama sekali hingga saat ini, maka semangat kita untuk tetap setia di hadapan TUHAN menjadi kendur.

Namun, cobalah sesekali melihat dalam sejarah kehidupan kita masing-masing apabila godaannya datang untuk berpikir “Tuhan tidak sesayang itu kepada kita”, tapi kita tetap melakukan apa yang diminta oleh TUHAN kepada kita untuk melakukannya, hasilnya bagaimana?

Tanyalah pada Daud (yang menuliskan Mazmur 37 ini), apabila Daud berhenti di tengah jalan yang paling sukar yang pernah dia hadapi dahulu (misalnya saja ketika Daud menjadi seorang pelarian karena diburu oleh Saul), maka Daud mustahil menuliskan Mazmur 37 ini untuk kita sampai hari ini.

Mazmur 37:1-6 (dan ayat-ayat selanjutnya) tidak lah ditulis oleh seorang yang semangatnya telah kendur. Mazmur 37 hanya ditulis oleh orang yang tidak pernah berhenti di tengah jalan, walau jalan itu sukar sekalipun. (GA)

Kalau saya diberitahu bahwa saya akan melakukan perjalanan yang berbahaya, setiap guncangan di sepanjang jalan itu mengingatkan saya bahwa saya berada di jalan yang benar. (F. B. Meyer)

Mazmur 37:1-6 | Berhenti di Tengah Jalan

Renungan Warta, 14 Juli 2019

Malang nian orang yang kita temui dalam perikop kita hari ini. Pertama, dia kerasukan roh jahat. Bukan hanya satu roh jahat yang merasuk dalam dirinya, melainkan banyak (legion, ayat 30, ukuran jumlah tentara romawi sebesar 6000 orang). Melihat kenyataan itu, wajar apabila orang yang ada di sekitarnya dahulu berusaha untuk merantai dan membelenggunya (ayat 29).

Tidak berhenti di situ saja, dalam keadaan tidak berpakaian, orang ini ditempatkan oleh roh-roh jahat itu di pekuburan. Bagi orang Yahudi, pekuburan adalah tempat yang tidak suci (lih. Bil. 19:11-13, dalam pemahaman orang Yahudi, pekuburan termasuk dalam definisi bersentuhan dengan mayat).

Dan yang terakhir adalah jika kita melihat ada orang-orang (kemungkinan besar orang Israel) yang memelihara babi-babi (Markus 5:13 menyebut jumlah kawanan babi itu sebanyak 2000). Orang Israel tidak memakan daging babi. Memelihara babi pun tidak boleh, namun ada saja yang memelihara babi untuk dijual kepada penjajah Romawi dan itu bisa dianggap sebagai “antek-antek penjajah”.

Kemalangan yang bertumpuk-tumpuk. Secara kedirian orang tersebut dianggap najis (karena kerasukan), secara tempat dia berada juga dianggap najis (pekuburan) dan lingkungan yang ada di sekitar itu pun dipenuhi oleh orang-orang yang dianggap najis (karena memelihara babi dan menjadi antek penjajah).

Berbeda dengan orang-orang yang melihatnya sebagai “sampah masyarakat” yang harus dirantai dan dibelenggu (dan itu ternyata tidak cukup untuk “membuangnya” karena ia memutuskan rantai itu), perjumpaannya dengan Yesus (ditempat yang sunyi – pekuburan – sebagai tempat pengasingannya) mengubahkan kehidupannya sama sekali (ayat 35). Dia yang telah berjumpa dengan Yesus dan dibebaskan oleh Yesus dari semua kemalangan hidupnya, kini tidak memiliki alasan lagi untuk tidak membaktikan hidupnya bagi Yesus (ayat 38-39).

Hari ini bagi kita yang tentu telah mengalami perjumpaan dengan Yesus dan telah diubahkan-Nya kehidupan kita ini, yang tertinggal hanya pertanyaan, “apakah kita masih memiliki alasan untuk tidak membaktikan hidup kita kepada-Nya setelah semua kebaikan yang telah, sedang dan selalu diperbuatNya di hidup kita?(GA)

Jika Anda benar-benar mau melakukan sesuatu, Anda akan menemukan suatu jalan; Jika tidak, Anda akan menemukan suatu alasan. (Norman Vincent Pealle)

Lukas 8:26-39 | Alasan


Renungan Warta, 30 Juni 2019

Kita sering mendengar istilah lipsync. Biasanya ditulis lipsing karena kita lebih sering melihat penyanyi-penyanyi yang berpura-pura menyanyi (padahal sudah ada rekaman nyanyian yang sudah jadinya). Bahkan bukan hanya lipsingnya saja, sudah ada istilah air guitar yang prinsipnya sama seperti lipsing, namun ini dilakukan dalam bermain gitar; Seseorang yang melakukan gaya permainan gitar, tetapi gitarnya gak ada.

Di masa kini, yang namanya lipsync dalam bernyanyi atau air guitar (untuk bermain gitar imajiner) sudah ada banyak kontesnya. Meskipun yah, tetap saja yang namanya lipsync dan air guitar, para pelakunya tidak benar-benar memperdengarkan suara mereka atau memainkan kemampuan bermain gitar yang seharusnya.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita menemukan pula hal yang tampaknya senada dengan keadaan lipsync. Bukan tentang menyanyi, bukan pula tentang membawa persembahan dan kurban di hadapan Tuhan. Bangsa Israel di zaman Mikha, melakukan itu semua dengan baik. Mereka menyembah Tuhan, membawa korban persembahan kepada Tuhan (ayat 6-7), namun ibadah mereka hanyalah sebatas ibadah lipsync yang tidak mengubah apa-apa dalam keadaan hidup keseharian mereka di hadapan Tuhan dan sesama.

Lihat saja bagaimana keadaan bangsa Israel yang tetap bobrok meskipun mereka beribadah pada Tuhan: Orang tetap menindas yang lain (Pasal 2), akhlak yang merosot (Pasal 7) dan dalam perikop kita hari ini di ayat 8 mereka tidak pula berlaku adil, setia dan rendah hati di hadapan Tuhan. Kalau sudah begini, apakah arti ibadah itu?

Tujuan ibadah adalah perubahan dalam diri seseorang menjadi yang lebih baik lagi karena pengenalannya terhadap kehendak Tuhan. Bukan hanya tentang “apa yang dilakukannya di hari Minggu, melainkan apa yang dilakukannya pula di sepanjang Senin hingga Sabtu” sebagai ibadahnya yang utuh kepada Tuhan setiap hari.

Mari kita semakin memadankan kehidupan kita seturut dengan kehendak Tuhan, bukan hanya menggerakkan kaki kita untuk datang beribadah, tetapi yang terpenting adalah menggerakkan hati kita agar melalui ibadah kita kepadaNya, kehidupan kita diperbaharui menjadi lebih baik lagi. (GA)

Worship is not a part of the Christian life; It is the Christian life. (Gerald Vann)

Mikha 6:6-8 | Ibadah Lipsynch

Terima Renungan Terbaru Melalui Email