Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Renungan Warta, 14 Juli 2019

Malang nian orang yang kita temui dalam perikop kita hari ini. Pertama, dia kerasukan roh jahat. Bukan hanya satu roh jahat yang merasuk dalam dirinya, melainkan banyak (legion, ayat 30, ukuran jumlah tentara romawi sebesar 6000 orang). Melihat kenyataan itu, wajar apabila orang yang ada di sekitarnya dahulu berusaha untuk merantai dan membelenggunya (ayat 29).

Tidak berhenti di situ saja, dalam keadaan tidak berpakaian, orang ini ditempatkan oleh roh-roh jahat itu di pekuburan. Bagi orang Yahudi, pekuburan adalah tempat yang tidak suci (lih. Bil. 19:11-13, dalam pemahaman orang Yahudi, pekuburan termasuk dalam definisi bersentuhan dengan mayat).

Dan yang terakhir adalah jika kita melihat ada orang-orang (kemungkinan besar orang Israel) yang memelihara babi-babi (Markus 5:13 menyebut jumlah kawanan babi itu sebanyak 2000). Orang Israel tidak memakan daging babi. Memelihara babi pun tidak boleh, namun ada saja yang memelihara babi untuk dijual kepada penjajah Romawi dan itu bisa dianggap sebagai “antek-antek penjajah”.

Kemalangan yang bertumpuk-tumpuk. Secara kedirian orang tersebut dianggap najis (karena kerasukan), secara tempat dia berada juga dianggap najis (pekuburan) dan lingkungan yang ada di sekitar itu pun dipenuhi oleh orang-orang yang dianggap najis (karena memelihara babi dan menjadi antek penjajah).

Berbeda dengan orang-orang yang melihatnya sebagai “sampah masyarakat” yang harus dirantai dan dibelenggu (dan itu ternyata tidak cukup untuk “membuangnya” karena ia memutuskan rantai itu), perjumpaannya dengan Yesus (ditempat yang sunyi – pekuburan – sebagai tempat pengasingannya) mengubahkan kehidupannya sama sekali (ayat 35). Dia yang telah berjumpa dengan Yesus dan dibebaskan oleh Yesus dari semua kemalangan hidupnya, kini tidak memiliki alasan lagi untuk tidak membaktikan hidupnya bagi Yesus (ayat 38-39).

Hari ini bagi kita yang tentu telah mengalami perjumpaan dengan Yesus dan telah diubahkan-Nya kehidupan kita ini, yang tertinggal hanya pertanyaan, “apakah kita masih memiliki alasan untuk tidak membaktikan hidup kita kepada-Nya setelah semua kebaikan yang telah, sedang dan selalu diperbuatNya di hidup kita?(GA)

Jika Anda benar-benar mau melakukan sesuatu, Anda akan menemukan suatu jalan; Jika tidak, Anda akan menemukan suatu alasan. (Norman Vincent Pealle)

Lukas 8:26-39 | Alasan


Renungan Warta, 30 Juni 2019

Kita sering mendengar istilah lipsync. Biasanya ditulis lipsing karena kita lebih sering melihat penyanyi-penyanyi yang berpura-pura menyanyi (padahal sudah ada rekaman nyanyian yang sudah jadinya). Bahkan bukan hanya lipsingnya saja, sudah ada istilah air guitar yang prinsipnya sama seperti lipsing, namun ini dilakukan dalam bermain gitar; Seseorang yang melakukan gaya permainan gitar, tetapi gitarnya gak ada.

Di masa kini, yang namanya lipsync dalam bernyanyi atau air guitar (untuk bermain gitar imajiner) sudah ada banyak kontesnya. Meskipun yah, tetap saja yang namanya lipsync dan air guitar, para pelakunya tidak benar-benar memperdengarkan suara mereka atau memainkan kemampuan bermain gitar yang seharusnya.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita menemukan pula hal yang tampaknya senada dengan keadaan lipsync. Bukan tentang menyanyi, bukan pula tentang membawa persembahan dan kurban di hadapan Tuhan. Bangsa Israel di zaman Mikha, melakukan itu semua dengan baik. Mereka menyembah Tuhan, membawa korban persembahan kepada Tuhan (ayat 6-7), namun ibadah mereka hanyalah sebatas ibadah lipsync yang tidak mengubah apa-apa dalam keadaan hidup keseharian mereka di hadapan Tuhan dan sesama.

Lihat saja bagaimana keadaan bangsa Israel yang tetap bobrok meskipun mereka beribadah pada Tuhan: Orang tetap menindas yang lain (Pasal 2), akhlak yang merosot (Pasal 7) dan dalam perikop kita hari ini di ayat 8 mereka tidak pula berlaku adil, setia dan rendah hati di hadapan Tuhan. Kalau sudah begini, apakah arti ibadah itu?

Tujuan ibadah adalah perubahan dalam diri seseorang menjadi yang lebih baik lagi karena pengenalannya terhadap kehendak Tuhan. Bukan hanya tentang “apa yang dilakukannya di hari Minggu, melainkan apa yang dilakukannya pula di sepanjang Senin hingga Sabtu” sebagai ibadahnya yang utuh kepada Tuhan setiap hari.

Mari kita semakin memadankan kehidupan kita seturut dengan kehendak Tuhan, bukan hanya menggerakkan kaki kita untuk datang beribadah, tetapi yang terpenting adalah menggerakkan hati kita agar melalui ibadah kita kepadaNya, kehidupan kita diperbaharui menjadi lebih baik lagi. (GA)

Worship is not a part of the Christian life; It is the Christian life. (Gerald Vann)

Mikha 6:6-8 | Ibadah Lipsynch

Terima Renungan Terbaru Melalui Email