Yohanes 21:15-19 | Kasih adalah ... - Pdt. Gerry Atje
Kasih Adalah ...


Saya pernah membaca satu cerita tentang sepasang suami istri yang sedang duduk ngobrol berdua ... lalu tiba-tiba si suaminya tanya begini:

S: Mama, apakah mama benar-benar mengasihi papa?
I: Kenapa papa tanya begitu? Mama kan istri papa? (sambil kaget)
S: Ah ... hanya ingin tahu saja ...
I: Papa ... sudah 25 tahun kita menikah, anak kita sudah mau tunangan ... susah-senang, suka-sudah kita lewati bersama ... tiap hari mama buatin sarapan, cuci baju, cuci piring, beres-beres rumah ... Kenapa masih tanya tentang sayang? Iyalah ... mma sayang papa! Papa juga sayang mama kan?
S: Bahagia sekali papa mendengar ungkapan sayangnya mama .... 25 tahun sudah kita lewati dan papa juga akan selalu sayang dan mengasihi mama.
... kapan terakhir kali kita mengungkapkan rasa kasih kita kepada orang-orang yang kita kasihi? Cerita tadi membuat saya sadar bahwa ungkapan-ungkapan rasa sayang ... itu penting. Ungkapan itu menenangkan, menentramkan, dan itu membahagiakan ... Padahal itu baru diungkapkan saja ...

Cerita yang berbeda dialami oleh keluarga yang lain ... ini juga saya membacanya dari buku ... ada seorang ibu yang naik bis kota dan duduk di sebelah seorang bapak ... ibu ini merhatiin terus si bapak ini sebab si bapak ini kelihatannya pakai cincin kawin, tapi kok di taruhnya di jari yang salah ... Lalu di cek lah sama ibu ini: "Pak, maap ... bapak sudah menikah bukan?" ... "Sudah ibu, saya sudah menikah ... kenapa ibu tanya itu?" ... "Oh ... enggak, cuma heran saja ... sebab cincin kawin bapak ditaruhnya di jari yang salah tuh". Lalu bapak itu pun menjawab:
"Oh ... ini ... emang sengaja bu saya taruh cincin kawin saya di jari yang salah ... habis saya juga nikahnya sama orang yang salah juga sih ..."

KWAAKK KWAWW .... gimana rasanya hidup berkeluarga dengan pikiran-pikiran seperti itu? Damai? Sukacita? Tentram? Susah kalau sudah begini ... Horor!

Wahyu 2:4
"Aku mencela engkau, karena engkau
telah meninggalkan kasihmu yang mula-mula
"
Kenapa Tuhan mencela? Karena tahu kalau itu terjadi ... Horor!! Kalau kasih itu sudah hilang ... itu bencana! (lihat saja bagaimana kehidupan orang yang sudah kehilangan kasih itu ... dia tega melakukan segala hal .. bahkan menyakiti orang lain sekalipun)

Hari ini kita sama-sama mau belajar tentang arti kasih yang sebenarnya ... Kita sama-sama mau belajar untuk memperjuangkan agar kasih itu tinggal tetap di dalam keluarga kita, jemaat kita, di dalam hati dan pikiran kita.

Yohanes 21:15-19

Mari kita lihat kembali pertanyaan Yesus kepada Petrus .... Tiga kali Yesus bertanya pada Petrus: "Apakah engkau mengasihi Aku?" .... Tiga kali juga Petrus menjawab: "Aku mengasihi Engkau".

Sayangnya dalam Alkitab kita, sebenarnya bukan Alkitabnya ... tapi perbendaharaan bahasa Indonesia kita yang kurang ... maksudnya kita kekurangan tata bahasa Indonesia untuk menggambarkan secara spesifik tentang kasih! Berbeda dengan bahasa Yunani, bahasa asli Perjanjian Baru, untuk kata kasih ... bahasa Yunani memiliki 4 kata yang berbeda untuk menggambarkan apa itu kasih secara spesifik: Agape (kasih yang Ilahi), Phileo (kasih persahabatan), Storge (kasih persaudaraan), Eros (kasih yang berlandaskan nafsu) ...

Nah ... kalau kita membaca teks Alkitab kita hari ini dari bahasa Yunaninya ... kita akan bertemu dengan pola seperti ini:

Ayat 15:
Yesus bertanya: "Apakah engkau mengasihi Aku?"
Yesus menggunakan kata kasih dari kata Agape
Kemudian Petrus menjawab: "Aku mengasihi Engkau"
yang Petrus gunakan untuk menjawab pertanyaan kasih agape Yesus adalah kasih yang phileo!

Seakan-akan Petrus mau bilang: "Aku memang mengasihi Engkau Tuhan, tapi tidak atau belum sampai ke tahap agape .. sebab aku masih mengasihi Engkau di tahap phileo!"

Ayat 16:
Pola tadi berulang lagi ... Yesus tanya pake kata kasih agape ... Petrus jawab pake kata kasih phileo.

Ayat 17:
Ini dia ... ada sesuatu yang berbeda di ayat ini :)
Yesus tidak lagi menggunakan kata kasih agape untuk bertanya kepada Petrus: "Apakah engkau mengasihi Aku?"
Akan tetapi, Yesus menggunakan kata phileo untuk menanyakan hal itu lagi kepada Petrus. Dan Petrus menjawab: "Iya Tuhan ... aku mengasihi (phileo) kepada Engkau"

Menurut bapak atau ibu ... apa yang sedang Yesus lakukan waktu itu?

Yesus sedang berusaha memahami dan mengerti situasi dan kondisi yang dialami Petrus waktu itu!!

Ini dia point kita ...

Mengasihi adalah MENGERTI.

Arti mengasihi bukan terletak, yang terutama, pada memberi pengertian. Kenapa? Karena kalau orang sudah mengerti ... dia tidak perlu lagi kan di kasih pengertian?!

Ibu tidak perlu lagi kebingungan cari anak-anak yang belum nyampe rumah ... Kenapa? Karena bahkan sebelum ibu kuatir, anak ibu sudah sampai dirumah karena mereka mengerti. "Oh ... sudah jam 7 malam ... waktunya pulang nih ..."

Bapak tidak perlu lagi kasih pengertian: "Mama, sabar ya ... cari sewa sekarang itu tambah susah .. apalagi tanggal tua kayak gini ..." Kenapa? Karena ibu mengerti situasi itu bahkan sebelum bapak memberikan pengertian kepada ibu.

Bayangkan betapa indahnya hidup ini apabila diantara kita ... kehidupan ini diwarnai oleh saling mengerti satu sama lain ...

Yang terakhir ... saya agak heran melihat Yesus yang masih bertanya kepada Petrus: "Apa engkau mengasihi Aku?" ... Heran karena bahkan Petrus gak usah jawab pertanyaan itu pun Yesus pasti tahu siapa itu Petrus .... Dia pasti masih ingat sejarah Petrus ...

Si Peragu ... Si Penyangkal ... Si Sok Tahu ... Si Sok Ngatur

Dan kenapa Yesus masih bertanya itu??? Bukankah itu juga berarti membuka kesempatan kepada Petrus untuk melihat kembali seberapa besar kasihnya kepada Dia? Dan berujung pada memperbaharui lagi komitmennya kepada Dia? "Ya Tuhan ... Aku mengasihi Engkau" KENAPA?

Karena Yesus tahu bahwa untuk bisa mengasihi seseorang sepenuhnya itu kita harus mempelajari seni melupakan hal-hal yang harus dilupakan, ditinggalkan.

... setiap kita memiliki rekaman! Hampir setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, terekan dan tersimpan dengan baik dalam hati dan pikiran kita ...

Sayangnya ... tidak semua rekaman kita itu membuat kita bahagia, tersenyum, optimis ... Ada rekaman-rekaman yang justru ketika kita memutar dan menayangkan kembali ... kita dibuatnya bersedih, marah, sakit hati, kecewa ... kita jadi pesimis!

Mengasihi adalah seni melupakan hal-hal yang harus kita lupakan!!!
Banyak orang, banyak keluarga yang dipulihkan Tuhan ketika mereka bersedia bekerjasama untuk melupakan rekaman-rekaman buruk yang memang seharusnya tidak mengikat mereka ... Mereka dipulihkan setelah mereka mau meninggalkan dan melupakan rekaman buruk itu dan berani membuka lembaran yang baru ... bersiap merekam adegan peristiwa yang baru ... hidup yang baru ... bersama-sama dengan Tuhan yang telah memperbaharui mereka yang kita kasihi itu ....

Petrus mengakhiri catatan rekaman buruknya di sepanjang kisah Injil-Injil dengan akhir yang 'manis' sebagai salah satu pejuang iman yang berperan dalam menyebarkan Kabar Baik itu bukan ... Bila kita mengasihi seseorang ... bukankah kita juga rindu untuk melihat pembaharuan terjadi dalam hidup mereka ... mereka dipulihkan juga oleh Tuhan ...

Tuhan membutuhkan pertolongan kita untuk bisa memulihkan mereka.

Tidak mudah memang melakukan hal itu: meninggalkan dan melupakan peristiwa yang menyakitkan itu, melupakan kekecewaan, melupakan semua rekaman yang membuat kita bersedih ... Akan tetapi, walaupun memang tidak mudah ... toh bukan mustahil untuk kita perjuangkan.


Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. (I Korintus 13:4-8a)

Yohanes 21:15-19 | Kasih adalah ...

Kasih Adalah ...


Saya pernah membaca satu cerita tentang sepasang suami istri yang sedang duduk ngobrol berdua ... lalu tiba-tiba si suaminya tanya begini:

S: Mama, apakah mama benar-benar mengasihi papa?
I: Kenapa papa tanya begitu? Mama kan istri papa? (sambil kaget)
S: Ah ... hanya ingin tahu saja ...
I: Papa ... sudah 25 tahun kita menikah, anak kita sudah mau tunangan ... susah-senang, suka-sudah kita lewati bersama ... tiap hari mama buatin sarapan, cuci baju, cuci piring, beres-beres rumah ... Kenapa masih tanya tentang sayang? Iyalah ... mma sayang papa! Papa juga sayang mama kan?
S: Bahagia sekali papa mendengar ungkapan sayangnya mama .... 25 tahun sudah kita lewati dan papa juga akan selalu sayang dan mengasihi mama.
... kapan terakhir kali kita mengungkapkan rasa kasih kita kepada orang-orang yang kita kasihi? Cerita tadi membuat saya sadar bahwa ungkapan-ungkapan rasa sayang ... itu penting. Ungkapan itu menenangkan, menentramkan, dan itu membahagiakan ... Padahal itu baru diungkapkan saja ...

Cerita yang berbeda dialami oleh keluarga yang lain ... ini juga saya membacanya dari buku ... ada seorang ibu yang naik bis kota dan duduk di sebelah seorang bapak ... ibu ini merhatiin terus si bapak ini sebab si bapak ini kelihatannya pakai cincin kawin, tapi kok di taruhnya di jari yang salah ... Lalu di cek lah sama ibu ini: "Pak, maap ... bapak sudah menikah bukan?" ... "Sudah ibu, saya sudah menikah ... kenapa ibu tanya itu?" ... "Oh ... enggak, cuma heran saja ... sebab cincin kawin bapak ditaruhnya di jari yang salah tuh". Lalu bapak itu pun menjawab:
"Oh ... ini ... emang sengaja bu saya taruh cincin kawin saya di jari yang salah ... habis saya juga nikahnya sama orang yang salah juga sih ..."

KWAAKK KWAWW .... gimana rasanya hidup berkeluarga dengan pikiran-pikiran seperti itu? Damai? Sukacita? Tentram? Susah kalau sudah begini ... Horor!

Wahyu 2:4
"Aku mencela engkau, karena engkau
telah meninggalkan kasihmu yang mula-mula
"
Kenapa Tuhan mencela? Karena tahu kalau itu terjadi ... Horor!! Kalau kasih itu sudah hilang ... itu bencana! (lihat saja bagaimana kehidupan orang yang sudah kehilangan kasih itu ... dia tega melakukan segala hal .. bahkan menyakiti orang lain sekalipun)

Hari ini kita sama-sama mau belajar tentang arti kasih yang sebenarnya ... Kita sama-sama mau belajar untuk memperjuangkan agar kasih itu tinggal tetap di dalam keluarga kita, jemaat kita, di dalam hati dan pikiran kita.

Yohanes 21:15-19

Mari kita lihat kembali pertanyaan Yesus kepada Petrus .... Tiga kali Yesus bertanya pada Petrus: "Apakah engkau mengasihi Aku?" .... Tiga kali juga Petrus menjawab: "Aku mengasihi Engkau".

Sayangnya dalam Alkitab kita, sebenarnya bukan Alkitabnya ... tapi perbendaharaan bahasa Indonesia kita yang kurang ... maksudnya kita kekurangan tata bahasa Indonesia untuk menggambarkan secara spesifik tentang kasih! Berbeda dengan bahasa Yunani, bahasa asli Perjanjian Baru, untuk kata kasih ... bahasa Yunani memiliki 4 kata yang berbeda untuk menggambarkan apa itu kasih secara spesifik: Agape (kasih yang Ilahi), Phileo (kasih persahabatan), Storge (kasih persaudaraan), Eros (kasih yang berlandaskan nafsu) ...

Nah ... kalau kita membaca teks Alkitab kita hari ini dari bahasa Yunaninya ... kita akan bertemu dengan pola seperti ini:

Ayat 15:
Yesus bertanya: "Apakah engkau mengasihi Aku?"
Yesus menggunakan kata kasih dari kata Agape
Kemudian Petrus menjawab: "Aku mengasihi Engkau"
yang Petrus gunakan untuk menjawab pertanyaan kasih agape Yesus adalah kasih yang phileo!

Seakan-akan Petrus mau bilang: "Aku memang mengasihi Engkau Tuhan, tapi tidak atau belum sampai ke tahap agape .. sebab aku masih mengasihi Engkau di tahap phileo!"

Ayat 16:
Pola tadi berulang lagi ... Yesus tanya pake kata kasih agape ... Petrus jawab pake kata kasih phileo.

Ayat 17:
Ini dia ... ada sesuatu yang berbeda di ayat ini :)
Yesus tidak lagi menggunakan kata kasih agape untuk bertanya kepada Petrus: "Apakah engkau mengasihi Aku?"
Akan tetapi, Yesus menggunakan kata phileo untuk menanyakan hal itu lagi kepada Petrus. Dan Petrus menjawab: "Iya Tuhan ... aku mengasihi (phileo) kepada Engkau"

Menurut bapak atau ibu ... apa yang sedang Yesus lakukan waktu itu?

Yesus sedang berusaha memahami dan mengerti situasi dan kondisi yang dialami Petrus waktu itu!!

Ini dia point kita ...

Mengasihi adalah MENGERTI.

Arti mengasihi bukan terletak, yang terutama, pada memberi pengertian. Kenapa? Karena kalau orang sudah mengerti ... dia tidak perlu lagi kan di kasih pengertian?!

Ibu tidak perlu lagi kebingungan cari anak-anak yang belum nyampe rumah ... Kenapa? Karena bahkan sebelum ibu kuatir, anak ibu sudah sampai dirumah karena mereka mengerti. "Oh ... sudah jam 7 malam ... waktunya pulang nih ..."

Bapak tidak perlu lagi kasih pengertian: "Mama, sabar ya ... cari sewa sekarang itu tambah susah .. apalagi tanggal tua kayak gini ..." Kenapa? Karena ibu mengerti situasi itu bahkan sebelum bapak memberikan pengertian kepada ibu.

Bayangkan betapa indahnya hidup ini apabila diantara kita ... kehidupan ini diwarnai oleh saling mengerti satu sama lain ...

Yang terakhir ... saya agak heran melihat Yesus yang masih bertanya kepada Petrus: "Apa engkau mengasihi Aku?" ... Heran karena bahkan Petrus gak usah jawab pertanyaan itu pun Yesus pasti tahu siapa itu Petrus .... Dia pasti masih ingat sejarah Petrus ...

Si Peragu ... Si Penyangkal ... Si Sok Tahu ... Si Sok Ngatur

Dan kenapa Yesus masih bertanya itu??? Bukankah itu juga berarti membuka kesempatan kepada Petrus untuk melihat kembali seberapa besar kasihnya kepada Dia? Dan berujung pada memperbaharui lagi komitmennya kepada Dia? "Ya Tuhan ... Aku mengasihi Engkau" KENAPA?

Karena Yesus tahu bahwa untuk bisa mengasihi seseorang sepenuhnya itu kita harus mempelajari seni melupakan hal-hal yang harus dilupakan, ditinggalkan.

... setiap kita memiliki rekaman! Hampir setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, terekan dan tersimpan dengan baik dalam hati dan pikiran kita ...

Sayangnya ... tidak semua rekaman kita itu membuat kita bahagia, tersenyum, optimis ... Ada rekaman-rekaman yang justru ketika kita memutar dan menayangkan kembali ... kita dibuatnya bersedih, marah, sakit hati, kecewa ... kita jadi pesimis!

Mengasihi adalah seni melupakan hal-hal yang harus kita lupakan!!!
Banyak orang, banyak keluarga yang dipulihkan Tuhan ketika mereka bersedia bekerjasama untuk melupakan rekaman-rekaman buruk yang memang seharusnya tidak mengikat mereka ... Mereka dipulihkan setelah mereka mau meninggalkan dan melupakan rekaman buruk itu dan berani membuka lembaran yang baru ... bersiap merekam adegan peristiwa yang baru ... hidup yang baru ... bersama-sama dengan Tuhan yang telah memperbaharui mereka yang kita kasihi itu ....

Petrus mengakhiri catatan rekaman buruknya di sepanjang kisah Injil-Injil dengan akhir yang 'manis' sebagai salah satu pejuang iman yang berperan dalam menyebarkan Kabar Baik itu bukan ... Bila kita mengasihi seseorang ... bukankah kita juga rindu untuk melihat pembaharuan terjadi dalam hidup mereka ... mereka dipulihkan juga oleh Tuhan ...

Tuhan membutuhkan pertolongan kita untuk bisa memulihkan mereka.

Tidak mudah memang melakukan hal itu: meninggalkan dan melupakan peristiwa yang menyakitkan itu, melupakan kekecewaan, melupakan semua rekaman yang membuat kita bersedih ... Akan tetapi, walaupun memang tidak mudah ... toh bukan mustahil untuk kita perjuangkan.


Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. (I Korintus 13:4-8a)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL