Kejadian 22:1-19 | Jaring Keselamatan

Kejadian 22:1-19

Ketidak-mengertian kita terhadap semua jalan Tuhan tidak seharusnya membuat kita berbantah-bantahan dengan Tuhan.

Jaring Keselamatan — Syalom bapak, ibu, saudara-saudari dan anak-anak yang terkasih. Kita pasti cukup akrab dengan pembacaan Alkitab kita hari ini, tentang Abraham yang diperintahkan Allah untuk mengorbankan Ishak.

Kalau kita yang ada di posisi Abraham, bagimana perasaan kita dan tindakan kita dalam merespon perintah Allah yang benar-benar membingungkan ini?

Membingungkan? Ya, membingungkan.

Abraham diperintahkan Allah untuk mengorbankan anak perjanjian yang telah dinantikan selama 25 tahun di masa tua Abraham dan Sara (lihat Kejadian 12:4 dan Kejadian 21:5). Dan sekarang, setelah anak perjanjian itu besar, Allah meminta kepada Abraham untuk menjadikan Ishak sebagai korban bakaran.

Yang luar biasa dari perikop kita hari ini adalah kita sama sekali tidak melihat sikap – tindakan ataupun perkataan Abraham yang menggambarkan penolakan terhadap perintah Allah tersebut.

Baca juga

Saya kepikiran gini, kalau dahulu Abraham sampai sebegitunya memperjuangkan kota Sodom dan Gomora agar tidak di bumi-hanguskan, karena ada keluarga Lot yang adalah keponakannya di sana, ya mbok Abraham memperjuangkan minimal hal yang sama lah dengan anaknya sendiri. Supaya tidak kehilangan anak yang dijanjikan Allah menjadi pewaris keluarga Abraham.

Negolah sama Tuhan seperti sewaktu Abraham nego dengan Tuhan tentang Sodom dan Gomora yang sudah jelas-jelas berdosa. Tapi ini mah enggak untuk perikop kita hari ini tentang anaknya, yaitu Ishak.

Saya mencatat setidaknya ada dua kesempatan buat Abraham ngomong, tapi dilompati begitu saja oleh Abraham seperti yang ditulis di dalam pembacaan Alkitab kita, Kejadian 22:1-19.
Kejadian 22:1-19
Kepercayaan Abraham diuji
22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."
22:2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."

22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.

22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."
22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
22:8 Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan."
22:12 Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."
22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."
22:15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,
22:16 kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,
22:17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.
22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku."
22:19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.
Pertama saat Abraham diberitahu oleh Tuhan di ayat 1-2, lalu menuju ke ayat 3.

Seberapa singkatnya pun waktu di saat itu, seharusnya di saat itu Abraham bisa berbicara dengan Tuhan.

Kedua, dari ayat 4.

Ada 3 hari perjalanan, di sini juga sama, apa yang terjadi selama 3 hari perjalanan itu dilompati begitu saja. Tidak ada penolakan, tidak ada pula jalan menyimpang (misalnya seperti Yunus).

Oke, itu dia dua kesempatan yang kalaupun ada percakapan Allah dengan Abraham, seharusnya terjadi di situ.

Hanya saja ada tiga ayat yang ingin kita baca bersama juga hari ini, tapi bukan dari perikop kita.

Ibrani 11:17-19
17 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, 18 walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." 19 Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Apa yang terjadi?

Meskipun tidak tergambar dalam perikop kita secara lisan Abraham, tapi dalam pikirannya, Abraham menggumuli hal itu. Dan Abraham berhasil menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja dari sana.

Allah Menyediakan


Bapak dan ibu pasti pernah melihat di TV atau di film, orang yang main sirkus, jalan di atas tali. Mereka menggunakan jaring pengaman, jaring keselamatan sehingga meskipun dia jatuh, dia bisa bangkit lagi dan mencoba lagi sampai berhasil.

Dia gak takut berjalan di atas tali, karena mereka tahu ada jaring keselamatan itu.

Ketika Abraham berkata, “Allah menyediakan,” Abraham gak tahu bahwa jaring keselamatan itu adalah seperti yang kita baca di dalam perikop kita: Ishaknya tidak jadi dikorbankan, digantikan oleh Domba yang disediakan oleh Tuhan.

Abraham gak tahu bahwa itu adalah jaring keselamatan yang telah disediakan oleh Tuhan, bukan berarti jaring keselamatan itu tidak ada.

Bahkan kalau mau disandingkan dengan Ibrani 11:17-19 tadi, maka jadi ada dua jaring keselamatannya. Jaring keselamatan dari Allah yang saat itu belum dilihat Abraham (tapi ada di sana, siap untuk ditemukan) dan jaring keselamatan yang dibuat oleh Abraham dari ketertundukannya pada kehendak Allah (Ibrani 11:19)

Entah Allah menyelamatkan dan menyediakan dengan cara yang ini atau yang itu, Dia pasti memberikan yang terbaik kan.

Itu yang membuat jalan Abraham, di tengah beban pikiran yang ada saat itu, menjadi lebih ringan karena Abraham tahu, atau paling tidak oleh karena ketertundukannya pada kehendak Allah, Abraham percaya bahwa akan ada jaring keselamatan yang disediakan oleh Tuhan.


Stop Berbantahan

Yang terakhir, ketidak mengertian kita terhadap semua jalan Tuhan tidak seharusnya membuat kita berbantah-bantahan dengan Tuhan.

Yang repot kan gini ya ...

Kita tidak tahu apa maksud Tuhan ketika mengizinkan satu pergumulan terjadi dalam kehidupan kita (di sini kita gak tahu tentang jaring keselamatan macam apa yang telah disediakan Tuhan bagi kita)

Ditambah lagi ...

Kita juga gak mau menundukkan diri kita kepada kehendak Allah sehingga tidak bisa melakukan seperti yang dilakukan Abraham: membuat jaring keselamatan seperti yang disebut di Ibrani 11:19.

Di masa-masa sulit karena pandemi seperti ini, ketika perekonomian keluarga kita pasti terdampak atau bahkan terpapar oleh virus Corona dan berduka karena kehilangan orang-orang yang kita kasihi, godaan untuk bersitegang dengan Tuhan, berbantah-bantahan dan semua daya negatif lainnya pasti mudah sekali terjadi.

Kalau berbantahan dengan Tuhan saja tidak selesai-selesai, bagaimana kita bisa menyelesaikan perbantahan dengan orang-orang yang ada di sekitar kita?

Semoga kita bisa belajar dari teladan yang sudah diberikan oleh Abraham yaitu tidak perlu berkubang dalam perbantahan dengan Tuhan, tapi sebaliknya, Abraham membiarkan yang terbaik dari Tuhan disediakan dan percaya bahwa pertolongan Tuhan tidak pernah datang terlambat.

Allah senantiasa menjaga dan memelihara kita asalkan kita sendiri tidak menghalangi-Nya melakukan hal itu. (Thomas Aquinas)

Post a Comment