Yohanes 19:19-24 | Suara-suara di Sekitar Salib Kristus

jumat agung
Yesus disalib
19:19 Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi."
19:20 Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.
19:21 Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."
19:22 Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis."
19:23 Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian--dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja.
19:24 Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.

Suara-suara di Sekitar Salib Kristus — Setiap kali kita ada dalam ibadah pengingatan akan karya pengorbanan Kristus di kayu salib, setiap kali itu pula orang-orang percaya, kita, diperhadapkan dengan titik puncak pertemuan antara suara-suara tentang salib.

Tonton di Facebook: Ibadah Jumat Agung, 10 April 2020

Tema kita hari ini (tema sinodal:) Salib Menyuarakan Kasih dan Kebenaran. Itu baru satu suara, suara iman kita. Dan dari dahulu sampai sekarang atau bahkan sampai Maranatha nanti, akan selalu ada suara-suara yang lain tentang salib Kristus.

Dan kita berada ditengah-tengah pusaran itu.

Makanya saya rasanya akan sangat mengerti pabila di satu waktu ada seseorang yang merasa imannya porak-poranda karena berada di tengah pusaran suara-suara tentang salib Kristus.

Bagaimana tidak?

Para murid Yesus pun imannya porak-poranda saat mereka tahu bahwa Yesus ditangkap - diadili dan kemudian dihukum salib hingga wafat.

Gak tahanlah mereka mendengar suara-suara yang lain, apalagi melihat Guru mereka disalib hingga wafat.

Petrus saja menyangkal tiga kali.
Murid-muridNya saja gak ada yang nongol di Golgota, kecuali Yohanes (ayat 26-27). Para murid yang lainnya, porak-poranda.

Dari situ saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal.

Yang pertama, orang Kristen itu punya kebiasaan yang aneh.

Kebiasaan yang aneh. Dihina, disalahpahami, dianggap bodoh, ditolak atau bahkan dipersekusi sekalipun, mereka mampu bertahan, tidak terlalu bereaksi balik. Selow aja gitu mereka mah.

Di dalam perikop kita, bukan hanya penolakan orang-orang Yahudi terhadap Kristus, bahkan Pontius Pilatus yang di ayat lainnya telah berkata, "Aku tidak menemukan kesalahan apa-apa terhadap orang ini (Yesus) - Yoh. 18:38", di perikop kita sekarang justru menjadikan Kristus sebagai bahan olok-olokkan ke orang Yahudi. Coba lihat kembali ayat 21-22.

Saya jadi ingin bertanya kepada bapak dan ibu semua, apa sih rahasinya sehingga bapak dan ibu bisa memiliki kebiasaan yang aneh seperti itu?

Seperti sebuah kidung pujian:
Meski dihina serta dilanda duka, harus melayani dengan sepenuh.

Apa rahasianya bisa melakukan seperti itu?

(Ini yang kedua yang saya mau ajak untuk kita renungkan bersama-sama) Apakah ini adalah rahasianya?

Di Alkitab juga sudah dikatakan:

Berita tentang salib adalah suatu kebodohan bagi orang yang tidak percaya, tetapi bagi mereka yang percaya itu adalah kekuatan Allah (1 Korintus 1:18).

Saya percaya bapak dan ibu, kita semua telah menemukan apa yang dikatakan sebagai kekuatan Allah melalui berita salib Kristus.

Jejak-jejak jalan keselamatan yang telah lama diberitakan di Perjanjian Lama, sekarang telah dinyatakan di dalam salib Kristus.

- Tentang bagaimana kuasa iblis dipatahkan oleh keturunan perempuan (Kejadian 3:15).
- Tentang bagaimana korban penebusan dosa bagi umat itu dikorbankan diluar perkemahan Israel (Imamat 4:21).
- Tentang bagaimana pengorbanan anak Abraham di Perjanjian Lama menjadi tipologi (cerminan) akan pengorbanan Kristus.

Maka mari di Jumat yang Agung ini, kita berjalan menuju bukit Golgota.

Temukanlah jejak-jejak langkah kaki-Nya yang telah membawa keselamatan bagi hidup kita di sepanjang jalan penderitaan yang kita lewati hari ini.

Pandanglah salib itu, anak Domba Allah yang telah diberikan sebagai Korban Tebusan yang Agung bagi kita ... karena seharusnya kita lah yang berada di situ, kitalah yang seharusnya dihukum atas pelanggaran-pelanggaran kita.

Amin.

Jika kebutuhan terbesar kita adalah informasi, Tuhan mengirim seorang pendidik. Jika kebutuhan terbesar kita teknologi, Tuhan mengirim seorang ahli sains. Jika kebutuhan terbesar kita uang, Tuhan mengirim seorang ahli ekonomi. Tetapi karena kebutuhan terbesar kita adalah pengampunan, maka Tuhan telah mengirim seorang Juruselamat kepada kita. (Max Lucado, When God Whispers Your Name, 54)

Post a Comment