Kolose 3:1-17 | Ganti Baju atau Malah Ngedobel Baju?

Kolose 3:1-17

Tentang orang yang tidak mau menanggalkan pakaiannya yang lama tapi juga keukeuh (bahasa sunda: tetep ngotot) mau mengenakan pakaian yang baru.

Kolose 3:1-17 — Syalom bapak ibu dan teman-teman muda semuanya. Beberapa hari setelah perayaan Paskah di hari Minggu yang lalu saya jadi agak penasaran apa sih perbedaannya antara bapak dan ibu sebelum perayaan Paskah dan sesudah perayaan Paskah?

Setiap tahun kan kita merayakan hari Paskah ya.

Ada perbedaan antara sebelum dan sesudah kita merayakan paskah tahun ini? Atau ... kalau mau lebih besar lagi, setiap tahun kita merayakan paskah kan, ada perbedaan yang terasa gak di dalam kehidupan keseharian kita dari tahun ke tahun?

Coba ditanya dulu sama suami, istri dan anak-anak kita yang ikut kebaktian di rumah hari ini ... Ada bedanya gak sebelum dan sesudah kita merayakan Paskah?

Kemungkinan jawaban:
- Biasa aja, gak ada bedanya.
- Ya ada dong bedanya.

Semoga jawaban kita adalah yang kedua ya: Ya ada dong bedanya. Soalnya kalau menjawab: Biasa aja, gak ada bedanya, terus kita merayakan Paskah buat apa dong kalau gak ada efeknya dalam kehidupan keseharian kita hari ini?

Merayakan ulang tahun saja akan membuat seseorang berpikir kan, contoh: "Saya sudah 24 tahun, Oh saya sudah makin tambah usia, bukan anak kecil lagi, harus makin dewasa!"

Kalau setelah perayaan Paskah, apa dong yang harus kita pikirkan lebih lagi tentang kehidupan kita ke depan?

Perikop kita hari ini menolong kita untuk menjawab pertanyaan itu.

Menjadi manusia baru.

Kita tahu bahwa surat-surat para rasul tentu ditulis setelah peristiwa Paskah (kebangkitan) bahkan setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga.

Dan hari ini kita bertemu dengan dengan persekutuan orang percaya di kota Kolose yang diingatkan oleh Rasul Paulus tentang bagaimana seharusnya sikap hidup orang percaya di dalam Kristus.

Saya gak mau mengulangi lagi apa yang sudah kita bacakan tadi di dalam perikop Alkitab kita hari ini, intinya kan begini:

Rasul Paulus menegaskan ya mbok orang kalau sudah ikut Yesus, kenal dengan peristiwa-peristiwa Kristus, kematian-kebangkitan-kenaikan ke sorga dan percaya akan pengajaran Kristus sang Juruselamat ... ya mbok berubah gitu kehidupannya.

Jangan gunakan lagi manusia yang lama, yang tidak mengenal kuasa kasih Kristus, tetapi gunakanlah manusia yang baru yang menunjukkan bahwa hidup kita memang berjuang untuk hidup berpadanan dengan apa yang telah diajarkan oleh Kristus.

Tapi kita sadar betul bahwa perkara "membuang pakaian yang lama" seperti yang dikatakan dalam ayat 8-9 (membuang kemarahan, kata-kata kotor, dusta) memang betul-betul bukan perkara yang mudah ...

Membuang pakaian yang lama dan menggantinya langsung dengan pakaian yang baru seperti yang dikatakan dalam ayat 12-17 (belas kasih, rendah hati dan murah hati, lemah lembut, sabar) lebih sering muncul dalam suatu proses yang panjang ketimbang semudah seseorang menanggalkan baju yang lama dan menggantikannya langsung dengan baju yang baru.

Itu masih mending, karena masih ada semangat untuk mengganti baju yang lama dengan yang baru.

Yang saya takutkan adalah seseorang yang tidak mau menanggalkan pakaiannya yang lama (manusia yang lama) tapi juga keukeuh (bahasa sunda: berkeinginan keras) mau mengenakan pakaian yang baru (manusia yang baru) ...

Jadi bukan ganti baju dia mah, yang terjadi malah seperti orang yang ngedobel, ngerangkap baju lamanya dengan baju yang baru ...

Sewaktu kegerahan karena misalnya, gak dapat-dapat kerja atau gak dapat-dapat pasangan hidup, gak tahan dengan omongan orang ... mulai kegerahan sangat ... maka yang terjadi adalah pakaian yang baru itu disingkirkan sehingga pakaian yang lamanya yang memang tetap ada di dirinya kelihatan lagi ...

Semoga kehidupan kita setelah Paskah, betul betul memperjuangkan agar kita mengenakan pakaian yang baru di dalam manusia yang baru. Bukan hanya sekedar ngedobel pakaiannya, dan pas kegerahan, kelihatan lagi deh manusia lamanya yang belum dibuang jauh-jauh.

Tuhan menolong, Amin.

Post a Comment