Mazmur 37:1-6 | Berhenti di Tengah Jalan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

anak tangga
Renungan Warta, 28 Juli 2019

Apa jadinya bila Mazmur 37:1-6 ditulis oleh seorang yang semangatnya telah kendur? Mungkin akan terdengar seperti ini …

Dari seorang yang semangatnya kendur.
Aku marah karena orang yang berbuat jahat,
aku iri hati kepada orang yang berbuat curang,
sebab mereka tidak segera lisut seperti rumput
dan tidak pula layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.
Aku mulai meragu kepada TUHAN dan memertanyakan
mengapa harus tetap melakukan yang baik, berlaku setia
dan bergembira sedangkan TUHAN
tidak memberikan apa yang diinginkan hatiku?
Aku telah menyerahkan hidupku kepada TUHAN
dan memercayaiNya, namun Ia tidak pula memunculkan kebenaranku seperti terang dan hakku seperti siang.

Bukan bermaksud mengubah apa yang tertulis dalam pembacaan Alkitab kita hari ini dengan paragraf tadi, namun apabila kita mau jujur bukankah banyak di antara orang-orang yang memang berpikir seperti itu (yang ada dalam paragraf di atas) walaupun mereka sedang membaca apa yang tertulis di dalam pembacaan Alkitab kita hari ini (Mazmur 37:1-6)?

Alih-alih sepakat dengan judul perikop Alkitab kita hari ini, “Kebahagiaan orang fasik semu”, seseorang bisa jadi tergoda untuk berpikiran yang sebaliknya: “jangan-jangan yang semu adalah memilih jalan hidup sebagai orang benar karena menjadi orang benar nyatanya penuh dengan penderitaan sedangkan justru mereka yang mengambil jalan tidak benar, malah terlihat bahagia”.

Saya menyadari bahwa pikiran-pikiran seperti itu tidak jauh dari kehidupan kita sebagai orang percaya. Sewaktu pergumulan datang dan belum ada titik terangnya sama sekali hingga saat ini, maka semangat kita untuk tetap setia di hadapan TUHAN menjadi kendur.

Namun, cobalah sesekali melihat dalam sejarah kehidupan kita masing-masing apabila godaannya datang untuk berpikir “Tuhan tidak sesayang itu kepada kita”, tapi kita tetap melakukan apa yang diminta oleh TUHAN kepada kita untuk melakukannya, hasilnya bagaimana?

Tanyalah pada Daud (yang menuliskan Mazmur 37 ini), apabila Daud berhenti di tengah jalan yang paling sukar yang pernah dia hadapi dahulu (misalnya saja ketika Daud menjadi seorang pelarian karena diburu oleh Saul), maka Daud mustahil menuliskan Mazmur 37 ini untuk kita sampai hari ini.

Mazmur 37:1-6 (dan ayat-ayat selanjutnya) tidak lah ditulis oleh seorang yang semangatnya telah kendur. Mazmur 37 hanya ditulis oleh orang yang tidak pernah berhenti di tengah jalan, walau jalan itu sukar sekalipun. (GA)

Kalau saya diberitahu bahwa saya akan melakukan perjalanan yang berbahaya, setiap guncangan di sepanjang jalan itu mengingatkan saya bahwa saya berada di jalan yang benar. (F. B. Meyer)

Mazmur 37:1-6 | Berhenti di Tengah Jalan

anak tangga
Renungan Warta, 28 Juli 2019

Apa jadinya bila Mazmur 37:1-6 ditulis oleh seorang yang semangatnya telah kendur? Mungkin akan terdengar seperti ini …

Dari seorang yang semangatnya kendur.
Aku marah karena orang yang berbuat jahat,
aku iri hati kepada orang yang berbuat curang,
sebab mereka tidak segera lisut seperti rumput
dan tidak pula layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.
Aku mulai meragu kepada TUHAN dan memertanyakan
mengapa harus tetap melakukan yang baik, berlaku setia
dan bergembira sedangkan TUHAN
tidak memberikan apa yang diinginkan hatiku?
Aku telah menyerahkan hidupku kepada TUHAN
dan memercayaiNya, namun Ia tidak pula memunculkan kebenaranku seperti terang dan hakku seperti siang.

Bukan bermaksud mengubah apa yang tertulis dalam pembacaan Alkitab kita hari ini dengan paragraf tadi, namun apabila kita mau jujur bukankah banyak di antara orang-orang yang memang berpikir seperti itu (yang ada dalam paragraf di atas) walaupun mereka sedang membaca apa yang tertulis di dalam pembacaan Alkitab kita hari ini (Mazmur 37:1-6)?

Alih-alih sepakat dengan judul perikop Alkitab kita hari ini, “Kebahagiaan orang fasik semu”, seseorang bisa jadi tergoda untuk berpikiran yang sebaliknya: “jangan-jangan yang semu adalah memilih jalan hidup sebagai orang benar karena menjadi orang benar nyatanya penuh dengan penderitaan sedangkan justru mereka yang mengambil jalan tidak benar, malah terlihat bahagia”.

Saya menyadari bahwa pikiran-pikiran seperti itu tidak jauh dari kehidupan kita sebagai orang percaya. Sewaktu pergumulan datang dan belum ada titik terangnya sama sekali hingga saat ini, maka semangat kita untuk tetap setia di hadapan TUHAN menjadi kendur.

Namun, cobalah sesekali melihat dalam sejarah kehidupan kita masing-masing apabila godaannya datang untuk berpikir “Tuhan tidak sesayang itu kepada kita”, tapi kita tetap melakukan apa yang diminta oleh TUHAN kepada kita untuk melakukannya, hasilnya bagaimana?

Tanyalah pada Daud (yang menuliskan Mazmur 37 ini), apabila Daud berhenti di tengah jalan yang paling sukar yang pernah dia hadapi dahulu (misalnya saja ketika Daud menjadi seorang pelarian karena diburu oleh Saul), maka Daud mustahil menuliskan Mazmur 37 ini untuk kita sampai hari ini.

Mazmur 37:1-6 (dan ayat-ayat selanjutnya) tidak lah ditulis oleh seorang yang semangatnya telah kendur. Mazmur 37 hanya ditulis oleh orang yang tidak pernah berhenti di tengah jalan, walau jalan itu sukar sekalipun. (GA)

Kalau saya diberitahu bahwa saya akan melakukan perjalanan yang berbahaya, setiap guncangan di sepanjang jalan itu mengingatkan saya bahwa saya berada di jalan yang benar. (F. B. Meyer)

Terimakasih sudah membaca artikel di blog ini. Sahabat dapat menerima artikel terbaru langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email