Lukas 8:26-39 | Alasan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Renungan Warta, 14 Juli 2019

Malang nian orang yang kita temui dalam perikop kita hari ini. Pertama, dia kerasukan roh jahat. Bukan hanya satu roh jahat yang merasuk dalam dirinya, melainkan banyak (legion, ayat 30, ukuran jumlah tentara romawi sebesar 6000 orang). Melihat kenyataan itu, wajar apabila orang yang ada di sekitarnya dahulu berusaha untuk merantai dan membelenggunya (ayat 29).

Tidak berhenti di situ saja, dalam keadaan tidak berpakaian, orang ini ditempatkan oleh roh-roh jahat itu di pekuburan. Bagi orang Yahudi, pekuburan adalah tempat yang tidak suci (lih. Bil. 19:11-13, dalam pemahaman orang Yahudi, pekuburan termasuk dalam definisi bersentuhan dengan mayat).

Dan yang terakhir adalah jika kita melihat ada orang-orang (kemungkinan besar orang Israel) yang memelihara babi-babi (Markus 5:13 menyebut jumlah kawanan babi itu sebanyak 2000). Orang Israel tidak memakan daging babi. Memelihara babi pun tidak boleh, namun ada saja yang memelihara babi untuk dijual kepada penjajah Romawi dan itu bisa dianggap sebagai “antek-antek penjajah”.

Kemalangan yang bertumpuk-tumpuk. Secara kedirian orang tersebut dianggap najis (karena kerasukan), secara tempat dia berada juga dianggap najis (pekuburan) dan lingkungan yang ada di sekitar itu pun dipenuhi oleh orang-orang yang dianggap najis (karena memelihara babi dan menjadi antek penjajah).

Berbeda dengan orang-orang yang melihatnya sebagai “sampah masyarakat” yang harus dirantai dan dibelenggu (dan itu ternyata tidak cukup untuk “membuangnya” karena ia memutuskan rantai itu), perjumpaannya dengan Yesus (ditempat yang sunyi – pekuburan – sebagai tempat pengasingannya) mengubahkan kehidupannya sama sekali (ayat 35). Dia yang telah berjumpa dengan Yesus dan dibebaskan oleh Yesus dari semua kemalangan hidupnya, kini tidak memiliki alasan lagi untuk tidak membaktikan hidupnya bagi Yesus (ayat 38-39).

Hari ini bagi kita yang tentu telah mengalami perjumpaan dengan Yesus dan telah diubahkan-Nya kehidupan kita ini, yang tertinggal hanya pertanyaan, “apakah kita masih memiliki alasan untuk tidak membaktikan hidup kita kepada-Nya setelah semua kebaikan yang telah, sedang dan selalu diperbuatNya di hidup kita?(GA)

Jika Anda benar-benar mau melakukan sesuatu, Anda akan menemukan suatu jalan; Jika tidak, Anda akan menemukan suatu alasan. (Norman Vincent Pealle)

Lukas 8:26-39 | Alasan

Renungan Warta, 14 Juli 2019

Malang nian orang yang kita temui dalam perikop kita hari ini. Pertama, dia kerasukan roh jahat. Bukan hanya satu roh jahat yang merasuk dalam dirinya, melainkan banyak (legion, ayat 30, ukuran jumlah tentara romawi sebesar 6000 orang). Melihat kenyataan itu, wajar apabila orang yang ada di sekitarnya dahulu berusaha untuk merantai dan membelenggunya (ayat 29).

Tidak berhenti di situ saja, dalam keadaan tidak berpakaian, orang ini ditempatkan oleh roh-roh jahat itu di pekuburan. Bagi orang Yahudi, pekuburan adalah tempat yang tidak suci (lih. Bil. 19:11-13, dalam pemahaman orang Yahudi, pekuburan termasuk dalam definisi bersentuhan dengan mayat).

Dan yang terakhir adalah jika kita melihat ada orang-orang (kemungkinan besar orang Israel) yang memelihara babi-babi (Markus 5:13 menyebut jumlah kawanan babi itu sebanyak 2000). Orang Israel tidak memakan daging babi. Memelihara babi pun tidak boleh, namun ada saja yang memelihara babi untuk dijual kepada penjajah Romawi dan itu bisa dianggap sebagai “antek-antek penjajah”.

Kemalangan yang bertumpuk-tumpuk. Secara kedirian orang tersebut dianggap najis (karena kerasukan), secara tempat dia berada juga dianggap najis (pekuburan) dan lingkungan yang ada di sekitar itu pun dipenuhi oleh orang-orang yang dianggap najis (karena memelihara babi dan menjadi antek penjajah).

Berbeda dengan orang-orang yang melihatnya sebagai “sampah masyarakat” yang harus dirantai dan dibelenggu (dan itu ternyata tidak cukup untuk “membuangnya” karena ia memutuskan rantai itu), perjumpaannya dengan Yesus (ditempat yang sunyi – pekuburan – sebagai tempat pengasingannya) mengubahkan kehidupannya sama sekali (ayat 35). Dia yang telah berjumpa dengan Yesus dan dibebaskan oleh Yesus dari semua kemalangan hidupnya, kini tidak memiliki alasan lagi untuk tidak membaktikan hidupnya bagi Yesus (ayat 38-39).

Hari ini bagi kita yang tentu telah mengalami perjumpaan dengan Yesus dan telah diubahkan-Nya kehidupan kita ini, yang tertinggal hanya pertanyaan, “apakah kita masih memiliki alasan untuk tidak membaktikan hidup kita kepada-Nya setelah semua kebaikan yang telah, sedang dan selalu diperbuatNya di hidup kita?(GA)

Jika Anda benar-benar mau melakukan sesuatu, Anda akan menemukan suatu jalan; Jika tidak, Anda akan menemukan suatu alasan. (Norman Vincent Pealle)

Terimakasih sudah membaca artikel di blog ini. Sahabat dapat menerima artikel terbaru langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email