Lukas 15:11-32 | Takut Pulang - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Takut Pulang - Pembacaan Alkitab kita hari ini dilatarbelakangi oleh kejadian di mana Farisi dan Ahli Taurat (lagi-lagi) bersungut-sungut karena Yesus bergaul dengan orang-orang yang dianggap berdosa menurut mereka. Dalam merespon sungut-sungut itulah Yesus menceritakan tiga kisah tentang “mereka yang hilang” (domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang).

Ada yang berbeda dengan kisah anak yang hilang dibandingkan dengan dua kisah sebelumnya (domba dan dirham yang hilang), selain perbandingan persentasenya yang juga semakin membesar: 1 domba dari 100 (1%), 1 dirham dari 10 (10%), dan akhirnya 1 anak yang hilang dari 2 (50%). Ketemu tidak bedanya? Bedanya adalah tentang siapa figur yang aktif dalam ketiga kisah tersebut.

Di dalam kisah domba dan dirham yang hilang, yang aktif mencari adalah “yang kehilangan” (yaitu gembala di ayat 4, dan perempuan di ayat 8). Sedangkan dalam kisah yang kita baca hari ini, justru yang aktif bukanlah bapa “yang kehilangan anaknya itu”, melainkan anak “yang terhilang” itulah yang aktif dalam mencari jalan pulang untuk kembali setelah menyadari keadaannya yang sudah terpuruk itu (ayat 18).

Bagi saya ini menarik karena tidak semua orang yang diselimuti rasa bersalah (akan alasan apapun) memiliki keberanian seperti si bungsu untuk “pulang ke rumah”. Kenapa gak berani pulang ke rumah? Karena takut respon yang dihadapinya adalah persis seperti si sulung yang protes di ayat 28-30; Takut diomongin gak enak seperti cara ngomongnya orang Farisi dan Ahli Taurat di ayat 1-2.

Pengalaman si bungsu yang bersalah tetapi berani pulang sehingga dia mengetahui betapa baiknya bapa nya, seharusnya menjadi kekuatan bagi kita semua yang mungkin hari ini merasa bersalah untuk berani kembali dan dipulihkan lagi olehNya. (GA)

Allah kita adalah Allah yang tidak hanya memulihkan, tetapi mengambil kesalahan dan kebodohan kita dalam rencana-Nya bagi kita dan mengubahnya menjadi kebaikan bagi kita. (J. I. Packer)

Lukas 15:11-32 | Takut Pulang

Takut Pulang - Pembacaan Alkitab kita hari ini dilatarbelakangi oleh kejadian di mana Farisi dan Ahli Taurat (lagi-lagi) bersungut-sungut karena Yesus bergaul dengan orang-orang yang dianggap berdosa menurut mereka. Dalam merespon sungut-sungut itulah Yesus menceritakan tiga kisah tentang “mereka yang hilang” (domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang).

Ada yang berbeda dengan kisah anak yang hilang dibandingkan dengan dua kisah sebelumnya (domba dan dirham yang hilang), selain perbandingan persentasenya yang juga semakin membesar: 1 domba dari 100 (1%), 1 dirham dari 10 (10%), dan akhirnya 1 anak yang hilang dari 2 (50%). Ketemu tidak bedanya? Bedanya adalah tentang siapa figur yang aktif dalam ketiga kisah tersebut.

Di dalam kisah domba dan dirham yang hilang, yang aktif mencari adalah “yang kehilangan” (yaitu gembala di ayat 4, dan perempuan di ayat 8). Sedangkan dalam kisah yang kita baca hari ini, justru yang aktif bukanlah bapa “yang kehilangan anaknya itu”, melainkan anak “yang terhilang” itulah yang aktif dalam mencari jalan pulang untuk kembali setelah menyadari keadaannya yang sudah terpuruk itu (ayat 18).

Bagi saya ini menarik karena tidak semua orang yang diselimuti rasa bersalah (akan alasan apapun) memiliki keberanian seperti si bungsu untuk “pulang ke rumah”. Kenapa gak berani pulang ke rumah? Karena takut respon yang dihadapinya adalah persis seperti si sulung yang protes di ayat 28-30; Takut diomongin gak enak seperti cara ngomongnya orang Farisi dan Ahli Taurat di ayat 1-2.

Pengalaman si bungsu yang bersalah tetapi berani pulang sehingga dia mengetahui betapa baiknya bapa nya, seharusnya menjadi kekuatan bagi kita semua yang mungkin hari ini merasa bersalah untuk berani kembali dan dipulihkan lagi olehNya. (GA)

Allah kita adalah Allah yang tidak hanya memulihkan, tetapi mengambil kesalahan dan kebodohan kita dalam rencana-Nya bagi kita dan mengubahnya menjadi kebaikan bagi kita. (J. I. Packer)

Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email