III Yohanes 1:1-4 | Tangan Allah yang Berkarya Di Tengah Dunia - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

perpanjangan tangan allah di dunia
Salam
1:1 Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran.
1:2 Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.
1:3 Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.
1:4 Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.
Tangan Allah yang Berkarya Di Tengah Dunia — Ada satu cerita dari satu kota di Eropa sewaktu perang dunia ke 2 terjadi. Kota itu memiliki satu patung Yesus, kira-kira yang mirip seperti di Manado itu lho: Patung Yesus Memberkati. Akan tetapi sayang, suatu hari ada bom yang meledak di dekat patung itu dan membuat kedua tangan patung itu menjadi hancur. Patung Yesus yang buntung.

Beberapa waktu kemudian, setelah perang usai, semua warga kota punya ide yang sama. Bagaimana kalau kita memperbaiki patung Yesus ini supaya gak buntung lagi. Tapi, ada satu orang yang idenya ternyata berbeda sama sekali. Dia gak setuju kalau patung Yesus yang sudah buntung itu diperbaiki. Dia adalah pendeta jemaat di kota itu.

Semua orang bingung kenapa justru pak pendeta yang tidak setuju perbaikan patung Yesus yang buntung itu?

Kemudian pendeta itu pun menjelaskan: "Biarkan saja patung itu apa adanya. Tak perlu diperbaiki. Biar kita semua ingat bahwa kita adalah tangan-tangan Allah yang berkarya di dunia, sewaktu kita melihat patung Yesus yang buntung itu."

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini ada tiga tokoh yang muncul: Yohanes, Gayus dan mereka yang disebut dalam ayat 3, beberapa saudara yang memberi kesaksian tentang tindakan Gayus.

Jika kita hanya berhenti di ayat ke 4, kita kurang mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi kesaksian "beberapa saudara tadi tentang hidup Gayus yang dikatakan sebagai hidup dalam kebenaran".

Oleh sebab itu mari kita lihat ayat kelanjutannya, ayat 5-6
1:5 Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.
1:6 Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.
Apa yang terjadi di sana?
Gayus yang menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah "tangan Allah yang berkarya di dalam dunia ini". Tepat seperti apa yang dimaksudkan oleh pendeta di kota tadi yang menolak perbaikan patung Yesus yang buntung.

Bukankah setiap kita sudah pasti memiliki peran dan potensi yang sama sebagai perpanjangan tangan Allah di dunia ini. Sekarang ini dan sepanjang kita ada, kita semua adalah perpanjangan tangan Allah yang berkarya di dunia ini.

Pasti kita semua menyadari bahwa setiap tindakan kita (perkataan, perbuatan, dll) akan sangat mempengaruhi kehidupan orang lain yang ada di sekitar kita.

Tetapi apakah kita juga menyadari bahwa sebelum kita melakukan suatu tindakan, kita juga dipengaruhi oleh sesuatu yang ada, terjadi dalam kehidupan kita. Misalnya yang sederhana, bapak pulang kerja marah marah di rumah, ternyata marahnya bukan karena orang rumah sebenarnya, tapi karena di kantor memang lagi pusing aja.

Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh seorang yang bernama Jack Canfield, dia menemukan bahwa setiap kita menerima "komentar yang negatif" enam kali lebih banyak dibandingkan "komentar yang positif". Bayangkan perbandingannya: sekali kita dipuji, dihargai dan enam kali pula di hari yang sama kita "dinegatifkan".

Sekarang mari kita lihat ayat 9-10
1:9 Aku telah menulis sedikit kepada jemaat, tetapi Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami.
1:10 Karena itu, apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami; dan belum merasa puas dengan itu, ia sendiri bukan saja tidak mau menerima saudara-saudara yang datang, tetapi juga mencegah orang-orang, yang mau menerima mereka dan mengucilkan orang-orang itu dari jemaat.
Apa yang bisa kita tangkap tentang situasi jemaat pada waktu itu?

Ada suasana yang tidak kondusif, tidak mengenakkan terjadi dalam kehidupan jemaat pada waktu itu. Salah satu daya hambat yang paling kuat terjadi dalam kehidupan jemaat mula-mula untuk bisa menjadi tangan-tangan Allah yang berkarya di dunia adalah ... ketika di dalam kehidupan berjemaat mereka sendiri, mereka saling bertikai - mengeluarkan komentar-komentar yang negatif satu sama lain - saling melukai hati (antara orang Yahudi Kristen dan Yunani Kristen).

Tepat di saat kita menerima komentar-komentar negatif, kita harus memilih: percaya pada perkataan Yesus (yang pasti meneguhkan, meneduhkan, menguatkan, memulihkan dan semua yang akan membuat kita bisa menemukan kehidupan yang baru) atau perkataan yang negatif dari mereka itu?

Saya mau menggambarkan sedikit.
Saya punya gambar hati di kertas ini. Anggaplah satu komentar negatif yang datang, kemudian melukai hati yang ada di kertas ini. Blas ... jadi bolong kertasnya. Hati yang terluka, banyak terluka karena komentar yang negatif.

Sekarang saya mau tanya, apakah dengan kondisi hati kita seperti ini (yang penuh luka karena perkataan negatif) bisa memberikan pengaruh yang positif pada orang lain? Bisakah hati yang terluka menjadi tangan-tangan Allah yang berkarya di tengah dunia ini?

Bisa. Tapi sangat sulit.

Kenapa? Karena kita selalu akan cenderung melakukan suatu tindakan berdasarkan apa yang sedang kita rasakan, apa yang menjadi suasana hati kita.

Jadi bagaimana kalau hatinya sudah terluka begitu?

Yang jelas, kita tidak mungkin menahan orang lain berkata-kata negatif tentang kehidupan kita sekarang. Tetapi kabar baiknya adalah kita selalu bisa memilih pada siapa kita percaya dan menyandarkan diri kita di tengah situasi yang sulit itu.

Oke, sekarang kembali ke gambar hati yang penuh luka tadi. Sekarang coba saya tempatkan kertas gambar hati ini di atas alas Alkitab. Kemudian, datang lagi komentar yang negatif yang mau melukai hati kita ... (kebayangkan? ambil saja satu pulpel kemudian berusaha nyoblos-nyoblosin lagi itu kertas gambar hatinya).

Apa yang terjadi? Lebih kuat, tidak mudah bolong - terluka lagi.
Apa yang membedakan? Sandarannya. Firman Tuhan.

Apakah seorang yang hidup bersandar pada Kristus tidak pernah terluka? Kata siapa? Pasti pernahlah.

Yang membedakan adalah dia bisa mengendalikan suasana hatinya dan dia tidak akan membiarkan luka itu terus menyakitinya karena ia ditopang oleh sesuatu yang lebih kuat: Firman Tuhan.

Gayus dan Diotrefes itu satu jemaat lho.
Gayus yang dikatakan dalam perikop kita sebagai orang yang hidup dalam kebenaran, bertemu dengan seorang yang paling negatif setiap hari di tengah pelayanannya: Diotrefes (meleter, berkata kasar, menolak orang lain, mengucilkan).

Tetapi dengan situasi yang seperti itu pun tidak menghalangi Gayus untuk tetap menunjukkan kasihnya - menjadi perpanjangan tangan Allah - bagi orang lain yang dikatakan dalam perikop kita hari ini, Gayus gak kenal mereka (orang asing).

Selamat menjadi perpanjangan tangan Allah yang berkarya di tengah dunia dengan selalu menyandarkan diri kita di dalam kebenaran FirmanNya.
Sumber gambar: Pixabay

III Yohanes 1:1-4 | Tangan Allah yang Berkarya Di Tengah Dunia

perpanjangan tangan allah di dunia
Salam
1:1 Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran.
1:2 Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.
1:3 Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.
1:4 Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.
Tangan Allah yang Berkarya Di Tengah Dunia — Ada satu cerita dari satu kota di Eropa sewaktu perang dunia ke 2 terjadi. Kota itu memiliki satu patung Yesus, kira-kira yang mirip seperti di Manado itu lho: Patung Yesus Memberkati. Akan tetapi sayang, suatu hari ada bom yang meledak di dekat patung itu dan membuat kedua tangan patung itu menjadi hancur. Patung Yesus yang buntung.

Beberapa waktu kemudian, setelah perang usai, semua warga kota punya ide yang sama. Bagaimana kalau kita memperbaiki patung Yesus ini supaya gak buntung lagi. Tapi, ada satu orang yang idenya ternyata berbeda sama sekali. Dia gak setuju kalau patung Yesus yang sudah buntung itu diperbaiki. Dia adalah pendeta jemaat di kota itu.

Semua orang bingung kenapa justru pak pendeta yang tidak setuju perbaikan patung Yesus yang buntung itu?

Kemudian pendeta itu pun menjelaskan: "Biarkan saja patung itu apa adanya. Tak perlu diperbaiki. Biar kita semua ingat bahwa kita adalah tangan-tangan Allah yang berkarya di dunia, sewaktu kita melihat patung Yesus yang buntung itu."

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini ada tiga tokoh yang muncul: Yohanes, Gayus dan mereka yang disebut dalam ayat 3, beberapa saudara yang memberi kesaksian tentang tindakan Gayus.

Jika kita hanya berhenti di ayat ke 4, kita kurang mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi kesaksian "beberapa saudara tadi tentang hidup Gayus yang dikatakan sebagai hidup dalam kebenaran".

Oleh sebab itu mari kita lihat ayat kelanjutannya, ayat 5-6
1:5 Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.
1:6 Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.
Apa yang terjadi di sana?
Gayus yang menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah "tangan Allah yang berkarya di dalam dunia ini". Tepat seperti apa yang dimaksudkan oleh pendeta di kota tadi yang menolak perbaikan patung Yesus yang buntung.

Bukankah setiap kita sudah pasti memiliki peran dan potensi yang sama sebagai perpanjangan tangan Allah di dunia ini. Sekarang ini dan sepanjang kita ada, kita semua adalah perpanjangan tangan Allah yang berkarya di dunia ini.

Pasti kita semua menyadari bahwa setiap tindakan kita (perkataan, perbuatan, dll) akan sangat mempengaruhi kehidupan orang lain yang ada di sekitar kita.

Tetapi apakah kita juga menyadari bahwa sebelum kita melakukan suatu tindakan, kita juga dipengaruhi oleh sesuatu yang ada, terjadi dalam kehidupan kita. Misalnya yang sederhana, bapak pulang kerja marah marah di rumah, ternyata marahnya bukan karena orang rumah sebenarnya, tapi karena di kantor memang lagi pusing aja.

Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh seorang yang bernama Jack Canfield, dia menemukan bahwa setiap kita menerima "komentar yang negatif" enam kali lebih banyak dibandingkan "komentar yang positif". Bayangkan perbandingannya: sekali kita dipuji, dihargai dan enam kali pula di hari yang sama kita "dinegatifkan".

Sekarang mari kita lihat ayat 9-10
1:9 Aku telah menulis sedikit kepada jemaat, tetapi Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami.
1:10 Karena itu, apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami; dan belum merasa puas dengan itu, ia sendiri bukan saja tidak mau menerima saudara-saudara yang datang, tetapi juga mencegah orang-orang, yang mau menerima mereka dan mengucilkan orang-orang itu dari jemaat.
Apa yang bisa kita tangkap tentang situasi jemaat pada waktu itu?

Ada suasana yang tidak kondusif, tidak mengenakkan terjadi dalam kehidupan jemaat pada waktu itu. Salah satu daya hambat yang paling kuat terjadi dalam kehidupan jemaat mula-mula untuk bisa menjadi tangan-tangan Allah yang berkarya di dunia adalah ... ketika di dalam kehidupan berjemaat mereka sendiri, mereka saling bertikai - mengeluarkan komentar-komentar yang negatif satu sama lain - saling melukai hati (antara orang Yahudi Kristen dan Yunani Kristen).

Tepat di saat kita menerima komentar-komentar negatif, kita harus memilih: percaya pada perkataan Yesus (yang pasti meneguhkan, meneduhkan, menguatkan, memulihkan dan semua yang akan membuat kita bisa menemukan kehidupan yang baru) atau perkataan yang negatif dari mereka itu?

Saya mau menggambarkan sedikit.
Saya punya gambar hati di kertas ini. Anggaplah satu komentar negatif yang datang, kemudian melukai hati yang ada di kertas ini. Blas ... jadi bolong kertasnya. Hati yang terluka, banyak terluka karena komentar yang negatif.

Sekarang saya mau tanya, apakah dengan kondisi hati kita seperti ini (yang penuh luka karena perkataan negatif) bisa memberikan pengaruh yang positif pada orang lain? Bisakah hati yang terluka menjadi tangan-tangan Allah yang berkarya di tengah dunia ini?

Bisa. Tapi sangat sulit.

Kenapa? Karena kita selalu akan cenderung melakukan suatu tindakan berdasarkan apa yang sedang kita rasakan, apa yang menjadi suasana hati kita.

Jadi bagaimana kalau hatinya sudah terluka begitu?

Yang jelas, kita tidak mungkin menahan orang lain berkata-kata negatif tentang kehidupan kita sekarang. Tetapi kabar baiknya adalah kita selalu bisa memilih pada siapa kita percaya dan menyandarkan diri kita di tengah situasi yang sulit itu.

Oke, sekarang kembali ke gambar hati yang penuh luka tadi. Sekarang coba saya tempatkan kertas gambar hati ini di atas alas Alkitab. Kemudian, datang lagi komentar yang negatif yang mau melukai hati kita ... (kebayangkan? ambil saja satu pulpel kemudian berusaha nyoblos-nyoblosin lagi itu kertas gambar hatinya).

Apa yang terjadi? Lebih kuat, tidak mudah bolong - terluka lagi.
Apa yang membedakan? Sandarannya. Firman Tuhan.

Apakah seorang yang hidup bersandar pada Kristus tidak pernah terluka? Kata siapa? Pasti pernahlah.

Yang membedakan adalah dia bisa mengendalikan suasana hatinya dan dia tidak akan membiarkan luka itu terus menyakitinya karena ia ditopang oleh sesuatu yang lebih kuat: Firman Tuhan.

Gayus dan Diotrefes itu satu jemaat lho.
Gayus yang dikatakan dalam perikop kita sebagai orang yang hidup dalam kebenaran, bertemu dengan seorang yang paling negatif setiap hari di tengah pelayanannya: Diotrefes (meleter, berkata kasar, menolak orang lain, mengucilkan).

Tetapi dengan situasi yang seperti itu pun tidak menghalangi Gayus untuk tetap menunjukkan kasihnya - menjadi perpanjangan tangan Allah - bagi orang lain yang dikatakan dalam perikop kita hari ini, Gayus gak kenal mereka (orang asing).

Selamat menjadi perpanjangan tangan Allah yang berkarya di tengah dunia dengan selalu menyandarkan diri kita di dalam kebenaran FirmanNya.
Sumber gambar: Pixabay

Terimakasih sudah membaca artikel di blog ini. Sahabat dapat menerima artikel terbaru langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email