Yesaya 55:6-13 | Aku Mengampuni Diriku - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

mengampuni diri sendiri
Seruan untuk turut serta dalam keselamatan yang dari Tuhan
55:6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
55:9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
55:12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.
55:13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.
Aku Mengampuni Diriku - Saya pernah membaca satu cerita tentang seorang anak yang merasa sangat-sangat bersalah karena sudah memecahkan salah satu guci antik milik papanya. Dia tahu pasti papanya akan marah dan menghukum, maka sebelum ketahuan sama papanya, dia mengaku duluan sama papanya itu. Dan benar, setelah dia ngaku, papanya marah dan menghukum: "Uang jajan berkurang selama sebulan!". Akan tetapi papanya juga berkata: "Ya sudah, mau diapakan lagi, papa maafkan kamu."

Itu hari pertama. Hari kedua, dia datang lagi sama papanya untuk minta maaf. Hari ketiga, begitu lagi, hari keempat ... kelima begitu lagi juga. Dan selalu papanya bilang: "Iya dimaafkan".

Apa yang mau saya katakan? Ada banyak orang yang ketika menengok ke belakang ke dalam peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya, dia tahu, dia menyadari bahwa dia telah berbuat salah. Lalu apa yang terjadi? Dia tidak bisa keluar dari persaan bersalah itu, dia tidak bisa mengampuni dirinya sendiri.

Nah, mari kita cek dalam kehidupan kita masing-masing. Tengoklah pada "peristiwa-peristiwa pahit" (jatuh dalam pergumulan: diPHK, diputusin calon, cari kerja gak dapat-dapat) Lalu mari kita tanya hari ini: Bagaimana keadaan kita sekarang?

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Israel diingatkan oleh Tuhan agar apa? Agar tidak terjatuh dalam pemahaman "tidak termaafkan-terampuni oleh Tuhan karean kesalahan yang telah diperbuat oleh Israel sehingga mereka dibuang ke negeri asing".

Kita tahu ya ceritanya bagaimana Israel dihukum: "Israel memecahkan 'guci antik' di hadapan Tuhan". Disuruh hidup baik, eh malah bobrok. Disuruh hanya berpaut pada Tuhan saja, malah lirak-lirik ke yang lain. Makanya Israel dihukum Tuhan selama 70 tahun di negeri pembuangan.

Bayangkan, apa yang dipikirkan oleh Israel? Mereka yang disebut 'umat pilihan Allah', tetapi sekarang menjadi orang buangan.

Yesaya 55 mau menegaskan kepada bangsa Israel waktu itu, dan kepada kita hari ini, bahwa mungkin benar di hari kemarin kita bersalah. Kita pernah berbuat yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Akan tetapi, itu tidak bisa menjadi pembenaran bagi kita untuk menghukum diri kita sendiri terus menerus.

Perikop kita menggambarkan hal itu dengan sangat baik.

Ayat 6 - Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Tetaplah mencari Tuhan. Datang dan berseru kepadaNya. Mohon ampun, minta kekuatan kepadaNya. Yang repot kalau "sudah jelas salah" tapi tetap saja gak mau datang ke Tuhan. Malah makin jauh. Masalah gak akan selesai dengan cara begitu, perasaan bersalah akan selalu datang kembali.

Ayat 7 - Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

Oleh sebab itu ayat selanjutnya dikatakan, berbaliklah kepada Tuhan. Yakinlah dengan anugerah pengampunan dan pembaruan dari Tuhan. Kita tidak layak menghukum diri kita sendiri apabila Tuhan sudah dengan jelas menyediakan anugerah pengampunan bagi siapa saja yang datang kepadaNya.

Yang perlu kita lakukan itu bukan menghukum diri kita sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah memperbaharui kehidupan kita: tinggalkan yang buruk, kembali pada jalan Tuhan.

Ayat 8-10 - Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,

Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa berdamai dengan dia yang sudah terlanjur mempersalahkan dirinya sendiri terus menerus? Ayat 8-10 bisa menolong siapa saja yang kesulitan untuk keluar dari rasa bersalah itu.

Memiliki sudut pandang yang positif terhadap peristiwa buruk dan pahit yang telah terjadi, yang mungkin efeknya masih terasa sampai dengan hari ini.

Contohnya ya (yang tidak bisa lepas dari rasa bersalah):
- Seandainya saya gak berbuat seperti itu, mungkin sekarang saya masih kerja.
- Seandainya saya mau nurut, pasti gak seperti ini.
(Dan kemudian biasanya apa yang dilakukan oleh seseorang setelah mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu adalah cara mereka menghukum diri mereka sendiri: mengurung diri, gak mau makan, dll)

Kita gak akan bisa menjalani ayat 12-13 dengan kondisi hati yang kacau balau seperti itu.
- Terus menerus merasa bersalah
- Menghukum diri sendiri
- Tidak bisa mengampuni diri sendiri

Kalau itu yang terjadi bagaimana bisa mendapatkan apa yang dikatakan dalam ayat 12-13? "Sukacita, damai, gembira dan sorak-sorai, tepuk tangan sukacita".

Ubahlah sudut pandangnya.
"Tuhan mengizinkan hal itu terjadi supaya kita bisa belajar dan bertumbuh di dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Sumber gambar: Pixabay

Yesaya 55:6-13 | Aku Mengampuni Diriku

mengampuni diri sendiri
Seruan untuk turut serta dalam keselamatan yang dari Tuhan
55:6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
55:9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
55:12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.
55:13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.
Aku Mengampuni Diriku - Saya pernah membaca satu cerita tentang seorang anak yang merasa sangat-sangat bersalah karena sudah memecahkan salah satu guci antik milik papanya. Dia tahu pasti papanya akan marah dan menghukum, maka sebelum ketahuan sama papanya, dia mengaku duluan sama papanya itu. Dan benar, setelah dia ngaku, papanya marah dan menghukum: "Uang jajan berkurang selama sebulan!". Akan tetapi papanya juga berkata: "Ya sudah, mau diapakan lagi, papa maafkan kamu."

Itu hari pertama. Hari kedua, dia datang lagi sama papanya untuk minta maaf. Hari ketiga, begitu lagi, hari keempat ... kelima begitu lagi juga. Dan selalu papanya bilang: "Iya dimaafkan".

Apa yang mau saya katakan? Ada banyak orang yang ketika menengok ke belakang ke dalam peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya, dia tahu, dia menyadari bahwa dia telah berbuat salah. Lalu apa yang terjadi? Dia tidak bisa keluar dari persaan bersalah itu, dia tidak bisa mengampuni dirinya sendiri.

Nah, mari kita cek dalam kehidupan kita masing-masing. Tengoklah pada "peristiwa-peristiwa pahit" (jatuh dalam pergumulan: diPHK, diputusin calon, cari kerja gak dapat-dapat) Lalu mari kita tanya hari ini: Bagaimana keadaan kita sekarang?

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Israel diingatkan oleh Tuhan agar apa? Agar tidak terjatuh dalam pemahaman "tidak termaafkan-terampuni oleh Tuhan karean kesalahan yang telah diperbuat oleh Israel sehingga mereka dibuang ke negeri asing".

Kita tahu ya ceritanya bagaimana Israel dihukum: "Israel memecahkan 'guci antik' di hadapan Tuhan". Disuruh hidup baik, eh malah bobrok. Disuruh hanya berpaut pada Tuhan saja, malah lirak-lirik ke yang lain. Makanya Israel dihukum Tuhan selama 70 tahun di negeri pembuangan.

Bayangkan, apa yang dipikirkan oleh Israel? Mereka yang disebut 'umat pilihan Allah', tetapi sekarang menjadi orang buangan.

Yesaya 55 mau menegaskan kepada bangsa Israel waktu itu, dan kepada kita hari ini, bahwa mungkin benar di hari kemarin kita bersalah. Kita pernah berbuat yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Akan tetapi, itu tidak bisa menjadi pembenaran bagi kita untuk menghukum diri kita sendiri terus menerus.

Perikop kita menggambarkan hal itu dengan sangat baik.

Ayat 6 - Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Tetaplah mencari Tuhan. Datang dan berseru kepadaNya. Mohon ampun, minta kekuatan kepadaNya. Yang repot kalau "sudah jelas salah" tapi tetap saja gak mau datang ke Tuhan. Malah makin jauh. Masalah gak akan selesai dengan cara begitu, perasaan bersalah akan selalu datang kembali.

Ayat 7 - Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

Oleh sebab itu ayat selanjutnya dikatakan, berbaliklah kepada Tuhan. Yakinlah dengan anugerah pengampunan dan pembaruan dari Tuhan. Kita tidak layak menghukum diri kita sendiri apabila Tuhan sudah dengan jelas menyediakan anugerah pengampunan bagi siapa saja yang datang kepadaNya.

Yang perlu kita lakukan itu bukan menghukum diri kita sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah memperbaharui kehidupan kita: tinggalkan yang buruk, kembali pada jalan Tuhan.

Ayat 8-10 - Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,

Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa berdamai dengan dia yang sudah terlanjur mempersalahkan dirinya sendiri terus menerus? Ayat 8-10 bisa menolong siapa saja yang kesulitan untuk keluar dari rasa bersalah itu.

Memiliki sudut pandang yang positif terhadap peristiwa buruk dan pahit yang telah terjadi, yang mungkin efeknya masih terasa sampai dengan hari ini.

Contohnya ya (yang tidak bisa lepas dari rasa bersalah):
- Seandainya saya gak berbuat seperti itu, mungkin sekarang saya masih kerja.
- Seandainya saya mau nurut, pasti gak seperti ini.
(Dan kemudian biasanya apa yang dilakukan oleh seseorang setelah mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu adalah cara mereka menghukum diri mereka sendiri: mengurung diri, gak mau makan, dll)

Kita gak akan bisa menjalani ayat 12-13 dengan kondisi hati yang kacau balau seperti itu.
- Terus menerus merasa bersalah
- Menghukum diri sendiri
- Tidak bisa mengampuni diri sendiri

Kalau itu yang terjadi bagaimana bisa mendapatkan apa yang dikatakan dalam ayat 12-13? "Sukacita, damai, gembira dan sorak-sorai, tepuk tangan sukacita".

Ubahlah sudut pandangnya.
"Tuhan mengizinkan hal itu terjadi supaya kita bisa belajar dan bertumbuh di dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Sumber gambar: Pixabay

Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email