Lukas 9:28-36 | Mau Yang Enaknya Saja - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

mau enaknya saja
Mau Yang Enaknya Saja — Perikop yang kita baca hari ini dilatar-belakangi oleh pemberitahuan pertama tentang penderitaan dan kematian Yesus (Lih. Perikop sebelumnya: Lukas 9:22-27). Dalam perikop sebelumnya, Lukas memang tidak merinci bagaimana respon para murid ketika mendengar bahwa Yesus sudah memberitahukan sedari awal tentang penderitaan dan kematian (juga kebangkitannya nanti).

Namun jika kita membaca latar belakang perikop paralelnya di Injil Matius 16:21-23, kita tahu bahwa Petrus menolak apa yang dikatakan Yesus tentang penderitaan-kematian yang akan dialamiNya nanti, sehingga Yesus menghardik Petrus dengan keras pada waktu itu.

Perikop yang menjadi bahan perenungan kita hari ini dilatar belakangi keadaan seperti itu. Sekarang bandingkan bagaimana sikap Petrus di perikop kita hari ini (Lukas 9:33) dengan Petrus di latar belakang perikop kita yang ada di Matius 16:21-23 tadi. Terlihat bedanya ya. Saat Petrus melihat kemuliaan Yesus dalam perikop kita, Petrus mengungkapkan perasaan bahagianya kepada Yesus. Akan tetapi, tepat sebelum kejadian itu saat Yesus memberitakan penderitaan hingga kematianNya, Petrus menolak apa yang dinyatakan oleh Yesus.

Sudah umum rasanya dari dahulu kala hingga akhir zaman nanti, manusia itu memang cenderung mau menerima yang enak-enaknya saja dari Tuhan. Saat kemuliaan Tuhan dinyatakan, maka kita bersukacita; Sedangkan saat Tuhan mengizinkan penderitaan itu terjadi dalam kehidupan kita, maka kita persis seperti Petrus yang menolak penderitaan Yesus dalam latar belakang perikop kita hari ini (di Mat. 16:21-23).

Perikop kita dikenal dengan istilah transfigurasi (perubahan, dari ayat 29) Yesus. Yesus yang taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa untuk menghadapi penderitaan (ayat 31) supaya kemuliaanNya itu terpancar juga hingga dirasakan dan dinikmati oleh semua orang yang percaya kepadaNya.

Bagi kita sekarang yang telah mengetahui kemuliaan dibalik jalan salib Kristus, sudahkah kita juga mau memikul salib (yang pasti tidak enak) untuk menemukan kemuliaanNya? Atau jangan-jangan kita masih juga hanya mau yang enak-enaknya saja? (GA)

God does not pay weekly, but he pays at the end. (Dutch Proverb)
Sumber gambar: Pixabay

Lukas 9:28-36 | Mau Yang Enaknya Saja

mau enaknya saja
Mau Yang Enaknya Saja — Perikop yang kita baca hari ini dilatar-belakangi oleh pemberitahuan pertama tentang penderitaan dan kematian Yesus (Lih. Perikop sebelumnya: Lukas 9:22-27). Dalam perikop sebelumnya, Lukas memang tidak merinci bagaimana respon para murid ketika mendengar bahwa Yesus sudah memberitahukan sedari awal tentang penderitaan dan kematian (juga kebangkitannya nanti).

Namun jika kita membaca latar belakang perikop paralelnya di Injil Matius 16:21-23, kita tahu bahwa Petrus menolak apa yang dikatakan Yesus tentang penderitaan-kematian yang akan dialamiNya nanti, sehingga Yesus menghardik Petrus dengan keras pada waktu itu.

Perikop yang menjadi bahan perenungan kita hari ini dilatar belakangi keadaan seperti itu. Sekarang bandingkan bagaimana sikap Petrus di perikop kita hari ini (Lukas 9:33) dengan Petrus di latar belakang perikop kita yang ada di Matius 16:21-23 tadi. Terlihat bedanya ya. Saat Petrus melihat kemuliaan Yesus dalam perikop kita, Petrus mengungkapkan perasaan bahagianya kepada Yesus. Akan tetapi, tepat sebelum kejadian itu saat Yesus memberitakan penderitaan hingga kematianNya, Petrus menolak apa yang dinyatakan oleh Yesus.

Sudah umum rasanya dari dahulu kala hingga akhir zaman nanti, manusia itu memang cenderung mau menerima yang enak-enaknya saja dari Tuhan. Saat kemuliaan Tuhan dinyatakan, maka kita bersukacita; Sedangkan saat Tuhan mengizinkan penderitaan itu terjadi dalam kehidupan kita, maka kita persis seperti Petrus yang menolak penderitaan Yesus dalam latar belakang perikop kita hari ini (di Mat. 16:21-23).

Perikop kita dikenal dengan istilah transfigurasi (perubahan, dari ayat 29) Yesus. Yesus yang taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa untuk menghadapi penderitaan (ayat 31) supaya kemuliaanNya itu terpancar juga hingga dirasakan dan dinikmati oleh semua orang yang percaya kepadaNya.

Bagi kita sekarang yang telah mengetahui kemuliaan dibalik jalan salib Kristus, sudahkah kita juga mau memikul salib (yang pasti tidak enak) untuk menemukan kemuliaanNya? Atau jangan-jangan kita masih juga hanya mau yang enak-enaknya saja? (GA)

God does not pay weekly, but he pays at the end. (Dutch Proverb)
Sumber gambar: Pixabay

Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email