Lukas 13:1-9 | Pikiran yang Menghakimi - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

pikiran yang menghakimi
Renungan Warta, 24 Maret 2019

Pikiran yang Menghakimi — Menjaga pikiran itu sulit. Ada banyak hal yang memengaruhi jalan pikiran seseorang ketika dirinya melihat dan atau menyadari sesuatu. Entah sesuatu itu berkaitan dengan apa yang sedang ia alami atau sesuatu itu adalah yang ia lihat di luar dirinya sendiri.

Kita mencoba membaca apa yang ada dalam pikiran beberapa orang yang membawa kabar tentang orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus (ayat 1).

Melihat dari jawaban Yesus di ayat 2, kita cukup mengenali bahwa respon Yesus terhadap kejadian yang memilukan tersebut adalah dengan memerangi apa yang ada dalam pikiran pembawa berita (ayat 1) tentang orang-orang yang mati terbunuh itu daripada orang Galilea yang lainnya.

Saya sebenarnya mencari tahu siapakah orang-orang yang membawa berita di ayat 1 tadi kepada Yesus. Apakah mereka adalah orang dari Yerusalem yang sudah jelas berkonflik dengan mereka yang ada di Galilea; Ataukah yang membawa kabar berita itu justru sesama orang Galilea sendiri.

Makin sedihlah rasanya bila yang datang melapor pada Yesus itu adalah orang-orang Galiea sendiri. Dengan pikiran yang menghakimi bahwa “yang mati terbunuh itu pasti lebih berdosa daripada kita” (makanya Yesus merespon seperti yang kita baca di ayat 2); ini kan berarti “antar sesama di rumah kita sendiri”, ternyata ada yang saling menghakimi.

Kelihatan ya makin sedihnya? Sama orang di Yerusalem, Galilea (Samaria) sudah dibenci; Sekarang antar sesama orang Galilea sendiri mereka saling menghakimi.

Apa yang dilakukan oleh Yesus dalam merespon “pikiran yang menghakimi” tadi sudah seharusnya menjadi cara kita pula dalam menengking semua pikiran yang bisa hinggap dalam benak kita ketika kita melihat, merasakan dan akhirnya menyimpulkan suatu peristiwa yang terjadi dalam diri kita atau diri orang lain.

Daripada menyibukkan diri dengan pikiran menghakimi yang belum tentu benar (apa yang kita pikirkan itu), lebih baik memfokuskan pada pengembangan diri (atau keluarga) sendiri menjadi diri (dan keluarga) yang lebih baik dari hari ke hari. (GA)
Sumber gambar: Pixabay

Ketidak-bahagiaan menandakan adanya jalan pikiran yang salah. Seperti halnya kesehatan yang buruk menunjukkan adanya gaya hidup yang buruk. (Paul Bourge)

Lukas 13:1-9 | Pikiran yang Menghakimi

pikiran yang menghakimi
Renungan Warta, 24 Maret 2019

Pikiran yang Menghakimi — Menjaga pikiran itu sulit. Ada banyak hal yang memengaruhi jalan pikiran seseorang ketika dirinya melihat dan atau menyadari sesuatu. Entah sesuatu itu berkaitan dengan apa yang sedang ia alami atau sesuatu itu adalah yang ia lihat di luar dirinya sendiri.

Kita mencoba membaca apa yang ada dalam pikiran beberapa orang yang membawa kabar tentang orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus (ayat 1).

Melihat dari jawaban Yesus di ayat 2, kita cukup mengenali bahwa respon Yesus terhadap kejadian yang memilukan tersebut adalah dengan memerangi apa yang ada dalam pikiran pembawa berita (ayat 1) tentang orang-orang yang mati terbunuh itu daripada orang Galilea yang lainnya.

Saya sebenarnya mencari tahu siapakah orang-orang yang membawa berita di ayat 1 tadi kepada Yesus. Apakah mereka adalah orang dari Yerusalem yang sudah jelas berkonflik dengan mereka yang ada di Galilea; Ataukah yang membawa kabar berita itu justru sesama orang Galilea sendiri.

Makin sedihlah rasanya bila yang datang melapor pada Yesus itu adalah orang-orang Galiea sendiri. Dengan pikiran yang menghakimi bahwa “yang mati terbunuh itu pasti lebih berdosa daripada kita” (makanya Yesus merespon seperti yang kita baca di ayat 2); ini kan berarti “antar sesama di rumah kita sendiri”, ternyata ada yang saling menghakimi.

Kelihatan ya makin sedihnya? Sama orang di Yerusalem, Galilea (Samaria) sudah dibenci; Sekarang antar sesama orang Galilea sendiri mereka saling menghakimi.

Apa yang dilakukan oleh Yesus dalam merespon “pikiran yang menghakimi” tadi sudah seharusnya menjadi cara kita pula dalam menengking semua pikiran yang bisa hinggap dalam benak kita ketika kita melihat, merasakan dan akhirnya menyimpulkan suatu peristiwa yang terjadi dalam diri kita atau diri orang lain.

Daripada menyibukkan diri dengan pikiran menghakimi yang belum tentu benar (apa yang kita pikirkan itu), lebih baik memfokuskan pada pengembangan diri (atau keluarga) sendiri menjadi diri (dan keluarga) yang lebih baik dari hari ke hari. (GA)
Sumber gambar: Pixabay

Ketidak-bahagiaan menandakan adanya jalan pikiran yang salah. Seperti halnya kesehatan yang buruk menunjukkan adanya gaya hidup yang buruk. (Paul Bourge)

Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email