Lukas 10:1-12 | Menjawab Tugas Pengutusan dari Tuhan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

menjawab tugas pengutusan dari tuhan
Yesus mengutus tujuh puluh murid
10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
10:3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.
10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,
10:9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
10:10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah:
10:11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat.
10:12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."
Menjawab Tugas Pengutusan dari Tuhan — David Livingstone adalah salah satu penginjil yang cukup dikenal karena perjuangannya menyebarkan kabar baik dari Tuhan. Meskipun David orang Ingris, ternyata David terpanggil untuk melayani Tuhan di belahan bumi Afrika Selatan. Tiga puluh tahun lamanya dia berjuang di sana.

Suatu hari, ada satu lembaga misi Pekabaran Injil yang tertarik untuk membantu karya pelayanan David di sana. Mereka pun mengirim surat kepada David, "Tuan David, kami rindu untuk membantu pelayanan Anda. Dapatkah Anda menunjukkan jalan mana yang baik agar kami bisa sampai ke tempat Anda?"

Lalu inilah balasan surat dari David.

"Jika Anda mau datang hanya bila ada jalan yang bagus di Afrika, lebih baik Anda tidak usah datang. Saya hanya mengizinkan seseorang yang akan tetap datang meskipun dia tahu bahwa tak ada jalan."

Di masa kini, jangan-jangan apa yang diminta oleh simpatisan David juga menjadi halangan banyak orang dalam menjawab tugas panggilan Tuhan kepada dirinya:

"Tuhan, kami mau Engkau utus. Tapi bagaimana dengan jalan ke sananya? Nanti kalau jalannya berbatu-batu dan mobil kami rusak karena jalan yang rusak bagaimana dong?"

"Kami siap Tuhan. Tapi nanti kami mampu gak ya dengan apa yang Tuhan tugaskan itu kepada kami? Kami kan orangnya ... (lalu kita mulai menyebutkan sederetan kelemahan dan kekurangan kita)"

"Kami mau Tuhan, tapi saya tuh orangnya gak tahan dengan caci maki orang yang tidak suka dengan apa yang saya kerjakan ..."

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, sebetulnya ke 70 murid itu sudah seharusnya bisa berpikir dua kali sebelum mereka menjawab tugas pengutusan dari Yesus. Coba kita lihat apa yang Yesus utus kepada mereka:
- Diutus seperti anak domba ke tengah serigala
- Jangan bawa uang atau bekal
- Sembuhkan orang sakit

Tidak mungkin rasanya apabila 70 murid itu langsung "heu euh Tuhan (iya Tuhan), Siap. Laksanakan"

Pasti ada pergumulan, ada peperangan dalam diri terlebih dahulu: ini beneran siapa atau gak ya? Mampu atau tidak? Saya benar-benar mau atau baru setengah mau?

Hari ini kita akan merenungkan hal-hal apa saa yang menyebabkan ke 70 murid tadi pada akhirnya menjawab ya kepada Tuhan dan mereka jalan.

Ke 70 murid ini jelas bukan orang yang baru kenal Yesus kemarin sore lalu langsung hari ini diutus. Gak akan mau mereka kalau baru kenal Yesus kemarin sore. Ke 70 murid ini pasti mereka sudah melihat sendiri, mendengar sendiri atau bahkan mengalami sendiri kuasa Yesus, misalnya:

Lukas 8:46
Tetapi Yesus berkata: "Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku."

Mungkin ini yang menyebabkan mereka pergi (karena mereka telah melihat, mendengar atau bahkan merasakan sendiri), meskipun dalam pikiran mereka, mereka tetap kepikiran tuh ... (yang tadi saya bilang: yakin nih mau?). Akan tetapi mereka juga tahu kalau Yesus yang mengutus mereka dan Yesus memiliki kuasa dan mereka yakin akan kuasa itu.

Hasilnya?

Lukas 10:17
Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."

Garis bawahi kata: kembali dengan gembira.

Tema sinodal kita hari ini "... sebagai SDM yang unggul".
Kalau ditanya di mana letak keunggulan 70 murid tadi? Atau untuk kita hari ini, di mana letak keunggulan kita sehingga Tuhan mau mengutus kita pula hari ini?

Apa jawab bapak dan ibu?

Saya mau cerita satu kisah nyata.

Sebuah sekolah di Amerika pernah mengadakan suatu riset.
Mereka mengumpulkan guru-guru dan murid-murid terbaik dari seluruh penjuru daerah dalam satu kelas.

Lalu kepala sekolahnya berkata, "Kalian semua ada di sini karena kaian adalah guru dan murid terbaik yang kita miliki di kota ini. Satu semester ini kalian akan membuktikan hal itu di dalam kelas ini."

Satu semester lewat dan ternyata hasilnya memang luar biasa. Terbaik!

Satu waktu setelah satu semester lewat, kepala sekolah memanggil satu guru dan mulai bercerita, "Maaf, kami memilih kalian sebenarnya bukan karena kalian adalah yang terbaik. Kami memilih kalian secara acak dan mengatakan kepada kalian bahwa kalian adalah yang terbaik. Dan nyatanya betul kalian memang yang terbaik."

Jadi, apa artinya keunggulan? Apakah mereka unggul daripada yang tidak terpilih secara random tadi? Skillnya, keahliannya, kemampuannya? Tidak, belum tentu. Kan dipilih random (acak).

Keunggulan mereka adalah mereka mau mendengar dan memercayai apa yang dikatakan oleh Guru mereka.

Sehingga apa? Wow, mereka menemukan hal-hal yang luar biasa terjadi nyata dalam karya pelayanan mereka yang mungkin awalnya mereka tidak menyadari bahwa mereka mampu melakukan hal itu.

Hari ini, semoga apa yang menjadi halangan kita dalam menjawab tugas panggilan yang dari Tuhan itu tidak lagi menghalangi kita dalam menjawab ya kepada Tuhan.

Buang kekuatiran, singgirkan rasa takut, hilangkan pikiran tidak mampu. Tuhan tidak mungkin memilih seorang pelayan hanya untuk mempermalukan diri pelayan itu sendiri.

Bila waktunya tiba nanti, kita akan terkager-kaget karena ternyata dalam diri kita ini tersimpan "keunggulan-keunggulan" yang terpendam yang akhirnya bisa keluar dari tempat persembunyiannya selama ini.

Lukas 10:1-12 | Menjawab Tugas Pengutusan dari Tuhan

menjawab tugas pengutusan dari tuhan
Yesus mengutus tujuh puluh murid
10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
10:3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.
10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,
10:9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
10:10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah:
10:11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat.
10:12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."
Menjawab Tugas Pengutusan dari Tuhan — David Livingstone adalah salah satu penginjil yang cukup dikenal karena perjuangannya menyebarkan kabar baik dari Tuhan. Meskipun David orang Ingris, ternyata David terpanggil untuk melayani Tuhan di belahan bumi Afrika Selatan. Tiga puluh tahun lamanya dia berjuang di sana.

Suatu hari, ada satu lembaga misi Pekabaran Injil yang tertarik untuk membantu karya pelayanan David di sana. Mereka pun mengirim surat kepada David, "Tuan David, kami rindu untuk membantu pelayanan Anda. Dapatkah Anda menunjukkan jalan mana yang baik agar kami bisa sampai ke tempat Anda?"

Lalu inilah balasan surat dari David.

"Jika Anda mau datang hanya bila ada jalan yang bagus di Afrika, lebih baik Anda tidak usah datang. Saya hanya mengizinkan seseorang yang akan tetap datang meskipun dia tahu bahwa tak ada jalan."

Di masa kini, jangan-jangan apa yang diminta oleh simpatisan David juga menjadi halangan banyak orang dalam menjawab tugas panggilan Tuhan kepada dirinya:

"Tuhan, kami mau Engkau utus. Tapi bagaimana dengan jalan ke sananya? Nanti kalau jalannya berbatu-batu dan mobil kami rusak karena jalan yang rusak bagaimana dong?"

"Kami siap Tuhan. Tapi nanti kami mampu gak ya dengan apa yang Tuhan tugaskan itu kepada kami? Kami kan orangnya ... (lalu kita mulai menyebutkan sederetan kelemahan dan kekurangan kita)"

"Kami mau Tuhan, tapi saya tuh orangnya gak tahan dengan caci maki orang yang tidak suka dengan apa yang saya kerjakan ..."

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, sebetulnya ke 70 murid itu sudah seharusnya bisa berpikir dua kali sebelum mereka menjawab tugas pengutusan dari Yesus. Coba kita lihat apa yang Yesus utus kepada mereka:
- Diutus seperti anak domba ke tengah serigala
- Jangan bawa uang atau bekal
- Sembuhkan orang sakit

Tidak mungkin rasanya apabila 70 murid itu langsung "heu euh Tuhan (iya Tuhan), Siap. Laksanakan"

Pasti ada pergumulan, ada peperangan dalam diri terlebih dahulu: ini beneran siapa atau gak ya? Mampu atau tidak? Saya benar-benar mau atau baru setengah mau?

Hari ini kita akan merenungkan hal-hal apa saa yang menyebabkan ke 70 murid tadi pada akhirnya menjawab ya kepada Tuhan dan mereka jalan.

Ke 70 murid ini jelas bukan orang yang baru kenal Yesus kemarin sore lalu langsung hari ini diutus. Gak akan mau mereka kalau baru kenal Yesus kemarin sore. Ke 70 murid ini pasti mereka sudah melihat sendiri, mendengar sendiri atau bahkan mengalami sendiri kuasa Yesus, misalnya:

Lukas 8:46
Tetapi Yesus berkata: "Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku."

Mungkin ini yang menyebabkan mereka pergi (karena mereka telah melihat, mendengar atau bahkan merasakan sendiri), meskipun dalam pikiran mereka, mereka tetap kepikiran tuh ... (yang tadi saya bilang: yakin nih mau?). Akan tetapi mereka juga tahu kalau Yesus yang mengutus mereka dan Yesus memiliki kuasa dan mereka yakin akan kuasa itu.

Hasilnya?

Lukas 10:17
Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."

Garis bawahi kata: kembali dengan gembira.

Tema sinodal kita hari ini "... sebagai SDM yang unggul".
Kalau ditanya di mana letak keunggulan 70 murid tadi? Atau untuk kita hari ini, di mana letak keunggulan kita sehingga Tuhan mau mengutus kita pula hari ini?

Apa jawab bapak dan ibu?

Saya mau cerita satu kisah nyata.

Sebuah sekolah di Amerika pernah mengadakan suatu riset.
Mereka mengumpulkan guru-guru dan murid-murid terbaik dari seluruh penjuru daerah dalam satu kelas.

Lalu kepala sekolahnya berkata, "Kalian semua ada di sini karena kaian adalah guru dan murid terbaik yang kita miliki di kota ini. Satu semester ini kalian akan membuktikan hal itu di dalam kelas ini."

Satu semester lewat dan ternyata hasilnya memang luar biasa. Terbaik!

Satu waktu setelah satu semester lewat, kepala sekolah memanggil satu guru dan mulai bercerita, "Maaf, kami memilih kalian sebenarnya bukan karena kalian adalah yang terbaik. Kami memilih kalian secara acak dan mengatakan kepada kalian bahwa kalian adalah yang terbaik. Dan nyatanya betul kalian memang yang terbaik."

Jadi, apa artinya keunggulan? Apakah mereka unggul daripada yang tidak terpilih secara random tadi? Skillnya, keahliannya, kemampuannya? Tidak, belum tentu. Kan dipilih random (acak).

Keunggulan mereka adalah mereka mau mendengar dan memercayai apa yang dikatakan oleh Guru mereka.

Sehingga apa? Wow, mereka menemukan hal-hal yang luar biasa terjadi nyata dalam karya pelayanan mereka yang mungkin awalnya mereka tidak menyadari bahwa mereka mampu melakukan hal itu.

Hari ini, semoga apa yang menjadi halangan kita dalam menjawab tugas panggilan yang dari Tuhan itu tidak lagi menghalangi kita dalam menjawab ya kepada Tuhan.

Buang kekuatiran, singgirkan rasa takut, hilangkan pikiran tidak mampu. Tuhan tidak mungkin memilih seorang pelayan hanya untuk mempermalukan diri pelayan itu sendiri.

Bila waktunya tiba nanti, kita akan terkager-kaget karena ternyata dalam diri kita ini tersimpan "keunggulan-keunggulan" yang terpendam yang akhirnya bisa keluar dari tempat persembunyiannya selama ini.

Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email