Kolose 3:11-17 | Kita Ini Non-Muslim atau Non-Islam? - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Kita Ini Non-Muslim atau Non-Islam? — Syalom bapak ibu semua. Masih dalam suasana Natal, salah satu topik pembicaraan yang berulang-ulang terjadi dari tahun-ke-tahun seputar Natal, salah satunya, adalah tentang larangan mengucapkan selamat Natal dari saudara-saudara sepupu kita.

Kebetulan beberapa waktu yang lalu di Cilacap lagi rame tentang ini


Baliho dengan tulisan besar-besar: I Love Jesus because Jesus is Moslem. Dilanjutkan dengan tulisan: Saya Muslim tidak merayakan Natal dan Tahun Baru dst.

Beberapa orang bereaksi dengan keras (terutama dari kalangan Islam sendiri, seperti NU misalnya) yang menganggap itu provokatif dan berpotensi memecah-belah bangsa yang beragam ini.

Tapi kalau saya mah melihat baliho itu, biasa aja. Apa yang salah dengan baliho itu? Melarang umat untuk mengucapkan selamat Natal karena tidak mengimani Natal? Ya boleh saja jika itu memang jalan hidup beriman yang mereka pilih kan. Saya mah gak ada masalah gak diucapkan Natal oleh saudara-saudara kita yang sepupu. Diucapkan selamat, kita bersyukur. Kalaupun gak diucapkan selamat Natal, ya gak apa-apa juga.

Selanjutnya tentang: Yesus itu Muslim.
Ya memang benar kan Yesus itu Muslim. Muslim itu kan bukan nama agama. Muslim itu bahasa arab yang artinya (pribadi yang) berserah diri dan patuh kepada kehendak Allah. Di dalam iman kita pun seperti itu, Yesus adalah pribadi yang patuh, tunduk dan berserah pada kehendak Bapa (ingat peristiwa di Getsemani kan).

Lagi-lagi kita harus mengulang ini sedikit ... Perbedaan di antara kita dengan saudara-saudara sepupu kita adalah di dalam iman kepada Yesus sebagai Firman Allah yang datang ke dunia menjadi manusia ini sehakikat atau tidak dengan Allah? Kita dan saudara-saudara kita sama-sama mengatakan Yesus itu Firman Allah (Kalamullah) dan Roh Allah (Rohullah) lho.

Mereka menolak kesehakikatan Yesus sebagai Firman Allah dengan Allah, sedangkan kita menerima Yesus sebagai Firman Allah sehakikat, se-esensi, atau dalam bahasa saudara Islam kita: satu dzat dengan Allah.

Apakah ini berarti Kristen "menuhankan tiga Allah"? Ya jelas tidak. Allah ya satu. Bapa. Yang menyatakan diri melalui FirmanNya dan RohNya di dalam Yesus Kristus. Coba perhatikan ini: Allah - Firman Allah - Roh Allah. Ok, ada berapa Allah-nya? Jadi tahu persamaannya kalau kita menyebut Trinitas dengan cara: Allah - Yesus - Roh Kudus kan.

Perlu diingat pula bahwa saudara sepupu kita juga memahami Firman Allah (dalam hal ini kitab suci mereka, yaitu: Quran) sebagai Kalam Allah yang qadim (yang tidak berawal), yang bukan makhluk (tidak diciptakan). Jadi sebenarnya agak mirip dengan iman Kristen juga pemahamannya tentang Firman Allah. Bedanya, kita mengimani Firman Allah yang qadim (tak berawal) dan bukan makhluk ini adalah Yesus, sedangkan saudara sepupu kita mengimani Firman Allah yang qadim dan bukan makhluk ini adalah kitab suci Quran yang turun ke bumi.

Kalau tentang kata Muslim tadi, ya Yesus, ya kita sebagai pengikut Yesus sama-sama Muslim karena kita berserah diri kepada Alah yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus yang adalah Firman Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1).

Ini saya mau share sedikit tentang beberapa istilah yang seringkali disalahpahami oleh kita atau bahkan oleh orang lain di luar sana.

Nasrani - Kristen - Masihan
Di Arab, setahu saya, pengikut Yesus menyebut diri mereka sebagai Masihan (Lihat misalnya penjelasan Mun'im Sirry: Umat Kristiani Bukan Nashara). Bukan Nasrani. Masihan, dari kata Al-Masih (bahasa arab), Kristus - Mesias - Christ menjadi Kristen (Christian). Di dalam Alkitab dan juga sejarah, kata Nasrani itu sudah ada sejak zaman sebelum Yesus datang ke dunia. Nasrani adalah sekte agama Yahudi yang sudah ada sejak zaman Nehemia (Lihat misalnya ulasan Rabbi Ben Abrahamson tentang Sejarah Nasrani)

Islam - Muslim
Sudah dibahas tadi ya. Muslim itu bukan nama agama. Muslim dalam bahasa Arab adalah pribadi yang patuh dan berserah diri pada Tuhan. Islam, baru ini nama agama. Jika kata Muslim artinya adalah seseorang yang patuh dan tunduk pada kehendak Allah; Maka kita pun sebagai orang percaya juga patuh dan tunduk pada kehendak Allah (ini artinya muslim) sebagaimana yang dinyatakan di dalam Injil Yesus Kristus (ini artinya pengikut Kristus atau Kristen). Kita ini muslim, hanya saja kita memang tidak beragama Islam. Kita ini pengikut Yesus atau disebut dengan Kristen.

Bersunat - Tak Bersunat
Beberapa orang masih menganggap Kristen itu anti sunat. Padahal orang Kristen boleh-boleh saja bersunat. Yang tidak boleh adalah menganggap bahwa dengan melakukan sunat itu maka keselamatan diraih, ini mah pola pikir Yahudi. Keselamatan bagi kita adalah anugerah yang diberikan Allah melalui Yesus.

Persoalan-persoalan seperti itulah yang terjadi di dalam kehidupan berjemaat di Kolose. Memilah-milah perbedaan untuk jadi ribut. Yang lebih repot lagi adalah karena berbeda dengan kita hari ini yang bersinggungan dengan saudara sepupu kita yang memang berbeda iman, nah ini jemaat di Kolose itu satu iman lho, tapi mereka ribut juga.


Ini menarik ya, kalau kita memerhatikan kota Kolose, letaknya tidak persis di pingiran pantai. Ini tidak sama seperti kota atau daerah pekabaran Injil para rasul yang umumnya berada di tepian laut (lihat misalnya di peta: Filipi dan Tesalonika).

Biasanyakan rasul Paulus menggunakan jalur laut untuk berpindah-pindah tempat melakukan pekabaran Injil. Di daerah pinggir laut, rasul bertemu dengan beberapa orang yang menjadi percaya kemudian membentuk jemaat dan setelah itu rasul pergi lagi ke daerah lainnya untuk melanjutkan pekabaran injil. Itulah sebabnya yang kita baca di dalam Alkitab disebut surat. Kenapa? Ya karena memang bentuknya surat untuk jemaat Kristen mula-mula yang dididik oleh Allah melalui para rasul.

Tapi untuk Kolose, letaknya tidak di pinggir laut. Dia agak ke tengah. Seperti misalnya antara Tanjung Priok yang dipinggir pantai dengan Cawang yang di tengahan lagi. Artinya kan orang-orang yang berada di tengah kota akan cenderung menetap. Tidak seperti yang dipinggir laut, singgah sebentar lalu pergi lagi.

Maksud saya begini, apabila ada orang yang menjadi percaya di kota pinggir laut yang kebetulan singgah sebentar saja di kota tersebut ... apabila terjadi persoalan-persoalan ditengah jemaat, ya namanya juga orang cuma singgah, dia bisa tidak terlibat lebih jauh lagi dalam persoalan-persoalan itu.

Sedangkan jemaat di Kolose yang ada di tengah (bukan di pinggir pantai)? Tidak bisa seperti itu. Mereka tidak cuma orang yang singgah sebentar lalu pergi. Saat pergumulan datang dalam persekutuan orang percaya di Kolose, mereka harus menghadapi itu terus dan menemukan solusi terbaik bagi jemaat dan iman mereka.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja hari ini tentang identitas iman kita (tema sinodal kita kan tentang identitas iman kristen).

Yang pertama, mencari dasar hidup bersama di dalam perbedaan.

Saya suka dengan ayat 11
dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Yesus itu memang datang untuk semua umat manusia. Dia tidak datang untuk menyelamatkan orang bersunat saja (Yahudi) atau hanya untuk orang-orang yang bagus saja (beradab, tuan bukan hamba, dll).

Permasalahannya, manusianya percaya gak dengan apa yang telah Allah lakukan melalui kehadiran Firman yang menjadi manusia (Yesus) itu? Ada yang menerima dan ada juga yang menolak (ini kan perbedaan kita dengan saudara sepupu kita. Kita menerima Yesus sebagai Firman Allah itu adalah sehakikat dengan Allah (karena Firman Allah tidak terpisahkan dari dzat Allah, qadim - dalam bahasa Islam, tidak berawal - tidak bermula dan tidak diciptakan); Sedangkan saudara-saudara kita menolak hal itu).

Perbedaan iman inilah yang membuat seringkali kita sebagai orang percaya menjadi kebawa menyebut: saya non-muslim. Lha? Kok Non Muslim? Kan aneh. Masak bapak dan ibu mengatakan diri bapak dan ibu sendiri sebagai orang yang tidak patuh dan tunduk dan berserah pada Allah? Kita ini kan orang yang patuh, tunduk dan berserah pada Allah di dalam Yesus Kristus seperti yang dinyatakan di dalam Alkitab. Kita ini muslim lho, orang yang patuh dan taat dan tunduk kepada Allah dengan cara iman kita sendiri. Dan sudah jelas kita memang bukan beragama Islam, kita adalah pengikut Yesus yang disebut Kristen.

Yang terakhir, ini yang paling saya suka. Ayat 12-17. Ini identitas Kristen sekali.

Hitunglah ada berapa kata sifat yang ada di seantero ayat 12-17: Belaskasihan, kemurahan, kerendahan hati, lemah lembut, sabar, mengampuni, berdamai sejahtera, berkata-kata seperti Kristus, bertindak dengan ucapan syukur.

Kita sebagai orang Kristen, lebih suka "dihancurkan" daripada "menghancurkan", kita lebih suka "disalahpahami tapi kita akur" daripada kita jadi ribut karena "membela iman kita" dengan cara "perang, debat, demo ... pokoknya semua yang reaktif itu seringkali "gak kita banget".

Saya jadi ingat satu cerita waktu zaman banyak gereja yang dibakar pas kerusuhan dulu itu. Satu pendeta GKP (kalau gak salah Pdt. Erik Egne) menceritakan: "Saya mah dulu malah bilang ke yang rusuh-rusuh itu, tuh di situ ada gereja. Bakar saja." Kita jadi bingung denger cerita itu kan, lalu bertanya kok gitu? Pendeta Erik kemudian menjelaskan: "Ya gak apa-apa atuh kalau gereja dibakar, berarti kan kita bisa bangun gereja yang lebih bagus lagi nantinya." Nah, ini Kristen banget juga kan. Lebih baik dibakar daripada ribut, nanti patungan bikin gedung gereja yang lebih bagus lagi.

Untuk menutup renungan ini, saya mau share tentang kisah nyata di sejarah gereja. Tentang Telemakhus.


Pada abad keempat adalah seorang rahib yang bernama Telemakhus. Walau kekristenan pada waktu itu telah menjadi agama resmi kekaisaran Romawi (tahun 313), pola hidup dan kebiasaan masyarakat belum banyak terpengaruh oleh kekristenan itu sendiri. Orang-orang Roma masih menyenangi kematian gladiator yang kalah dalam pertarungan di stadion Koloseum. Mereka adalah penonton yang haus darah.

Pada suatu hari, ketika pertarungan antar gladiator sedang berlangsung seru, ditimpali pekik dan sorak para penonton, seorang yang berjubah hitam, yang tak lain adalah Telemakhus, melompat masuk ke dalam arena. Pakaian yang dikenakannya sungguh kontras dengan pakaian baja yang mengkilap, yang dipakai oleh para gladiator.

Ia menyorongkan tubuhnya ke tengah-tengah para gladiator yang sedang bertarung itu, berusaha untuk memisah dan melerai mereka. Tak berapa lama kemudian, dengan pekikan penonton yang semakin beringas, Telemakhus pun rebah, mati di arena.

Namun kematiannya tidak sia-sia. Paling tidak, sang Kaisar tersentuh hatinya menyaksikan kematian Telemakhus. Sebuah dekrit pun akhirnya dikeluarkan. Dekrit itu mengatakan bahwa pertarungan gladiator tidak lagi diperkenankan.

Itulah dia identitas Kristen yang sejati. Menjadi pribadi yang patuh dan tunduk kepada Allah sebagaimana yang telah dinyatakan dan diteladankan di dalam Yesus Kristus. Kita ini memang lebih suka dihancurkan daripada menghancurkan. Dihancurkan untuk bisa mengubahkan kehidupan.

Kolose 3:11-17 | Kita Ini Non-Muslim atau Non-Islam?

Kita Ini Non-Muslim atau Non-Islam? — Syalom bapak ibu semua. Masih dalam suasana Natal, salah satu topik pembicaraan yang berulang-ulang terjadi dari tahun-ke-tahun seputar Natal, salah satunya, adalah tentang larangan mengucapkan selamat Natal dari saudara-saudara sepupu kita.

Kebetulan beberapa waktu yang lalu di Cilacap lagi rame tentang ini


Baliho dengan tulisan besar-besar: I Love Jesus because Jesus is Moslem. Dilanjutkan dengan tulisan: Saya Muslim tidak merayakan Natal dan Tahun Baru dst.

Beberapa orang bereaksi dengan keras (terutama dari kalangan Islam sendiri, seperti NU misalnya) yang menganggap itu provokatif dan berpotensi memecah-belah bangsa yang beragam ini.

Tapi kalau saya mah melihat baliho itu, biasa aja. Apa yang salah dengan baliho itu? Melarang umat untuk mengucapkan selamat Natal karena tidak mengimani Natal? Ya boleh saja jika itu memang jalan hidup beriman yang mereka pilih kan. Saya mah gak ada masalah gak diucapkan Natal oleh saudara-saudara kita yang sepupu. Diucapkan selamat, kita bersyukur. Kalaupun gak diucapkan selamat Natal, ya gak apa-apa juga.

Selanjutnya tentang: Yesus itu Muslim.
Ya memang benar kan Yesus itu Muslim. Muslim itu kan bukan nama agama. Muslim itu bahasa arab yang artinya (pribadi yang) berserah diri dan patuh kepada kehendak Allah. Di dalam iman kita pun seperti itu, Yesus adalah pribadi yang patuh, tunduk dan berserah pada kehendak Bapa (ingat peristiwa di Getsemani kan).

Lagi-lagi kita harus mengulang ini sedikit ... Perbedaan di antara kita dengan saudara-saudara sepupu kita adalah di dalam iman kepada Yesus sebagai Firman Allah yang datang ke dunia menjadi manusia ini sehakikat atau tidak dengan Allah? Kita dan saudara-saudara kita sama-sama mengatakan Yesus itu Firman Allah (Kalamullah) dan Roh Allah (Rohullah) lho.

Mereka menolak kesehakikatan Yesus sebagai Firman Allah dengan Allah, sedangkan kita menerima Yesus sebagai Firman Allah sehakikat, se-esensi, atau dalam bahasa saudara Islam kita: satu dzat dengan Allah.

Apakah ini berarti Kristen "menuhankan tiga Allah"? Ya jelas tidak. Allah ya satu. Bapa. Yang menyatakan diri melalui FirmanNya dan RohNya di dalam Yesus Kristus. Coba perhatikan ini: Allah - Firman Allah - Roh Allah. Ok, ada berapa Allah-nya? Jadi tahu persamaannya kalau kita menyebut Trinitas dengan cara: Allah - Yesus - Roh Kudus kan.

Perlu diingat pula bahwa saudara sepupu kita juga memahami Firman Allah (dalam hal ini kitab suci mereka, yaitu: Quran) sebagai Kalam Allah yang qadim (yang tidak berawal), yang bukan makhluk (tidak diciptakan). Jadi sebenarnya agak mirip dengan iman Kristen juga pemahamannya tentang Firman Allah. Bedanya, kita mengimani Firman Allah yang qadim (tak berawal) dan bukan makhluk ini adalah Yesus, sedangkan saudara sepupu kita mengimani Firman Allah yang qadim dan bukan makhluk ini adalah kitab suci Quran yang turun ke bumi.

Kalau tentang kata Muslim tadi, ya Yesus, ya kita sebagai pengikut Yesus sama-sama Muslim karena kita berserah diri kepada Alah yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus yang adalah Firman Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1).

Ini saya mau share sedikit tentang beberapa istilah yang seringkali disalahpahami oleh kita atau bahkan oleh orang lain di luar sana.

Nasrani - Kristen - Masihan
Di Arab, setahu saya, pengikut Yesus menyebut diri mereka sebagai Masihan (Lihat misalnya penjelasan Mun'im Sirry: Umat Kristiani Bukan Nashara). Bukan Nasrani. Masihan, dari kata Al-Masih (bahasa arab), Kristus - Mesias - Christ menjadi Kristen (Christian). Di dalam Alkitab dan juga sejarah, kata Nasrani itu sudah ada sejak zaman sebelum Yesus datang ke dunia. Nasrani adalah sekte agama Yahudi yang sudah ada sejak zaman Nehemia (Lihat misalnya ulasan Rabbi Ben Abrahamson tentang Sejarah Nasrani)

Islam - Muslim
Sudah dibahas tadi ya. Muslim itu bukan nama agama. Muslim dalam bahasa Arab adalah pribadi yang patuh dan berserah diri pada Tuhan. Islam, baru ini nama agama. Jika kata Muslim artinya adalah seseorang yang patuh dan tunduk pada kehendak Allah; Maka kita pun sebagai orang percaya juga patuh dan tunduk pada kehendak Allah (ini artinya muslim) sebagaimana yang dinyatakan di dalam Injil Yesus Kristus (ini artinya pengikut Kristus atau Kristen). Kita ini muslim, hanya saja kita memang tidak beragama Islam. Kita ini pengikut Yesus atau disebut dengan Kristen.

Bersunat - Tak Bersunat
Beberapa orang masih menganggap Kristen itu anti sunat. Padahal orang Kristen boleh-boleh saja bersunat. Yang tidak boleh adalah menganggap bahwa dengan melakukan sunat itu maka keselamatan diraih, ini mah pola pikir Yahudi. Keselamatan bagi kita adalah anugerah yang diberikan Allah melalui Yesus.

Persoalan-persoalan seperti itulah yang terjadi di dalam kehidupan berjemaat di Kolose. Memilah-milah perbedaan untuk jadi ribut. Yang lebih repot lagi adalah karena berbeda dengan kita hari ini yang bersinggungan dengan saudara sepupu kita yang memang berbeda iman, nah ini jemaat di Kolose itu satu iman lho, tapi mereka ribut juga.


Ini menarik ya, kalau kita memerhatikan kota Kolose, letaknya tidak persis di pingiran pantai. Ini tidak sama seperti kota atau daerah pekabaran Injil para rasul yang umumnya berada di tepian laut (lihat misalnya di peta: Filipi dan Tesalonika).

Biasanyakan rasul Paulus menggunakan jalur laut untuk berpindah-pindah tempat melakukan pekabaran Injil. Di daerah pinggir laut, rasul bertemu dengan beberapa orang yang menjadi percaya kemudian membentuk jemaat dan setelah itu rasul pergi lagi ke daerah lainnya untuk melanjutkan pekabaran injil. Itulah sebabnya yang kita baca di dalam Alkitab disebut surat. Kenapa? Ya karena memang bentuknya surat untuk jemaat Kristen mula-mula yang dididik oleh Allah melalui para rasul.

Tapi untuk Kolose, letaknya tidak di pinggir laut. Dia agak ke tengah. Seperti misalnya antara Tanjung Priok yang dipinggir pantai dengan Cawang yang di tengahan lagi. Artinya kan orang-orang yang berada di tengah kota akan cenderung menetap. Tidak seperti yang dipinggir laut, singgah sebentar lalu pergi lagi.

Maksud saya begini, apabila ada orang yang menjadi percaya di kota pinggir laut yang kebetulan singgah sebentar saja di kota tersebut ... apabila terjadi persoalan-persoalan ditengah jemaat, ya namanya juga orang cuma singgah, dia bisa tidak terlibat lebih jauh lagi dalam persoalan-persoalan itu.

Sedangkan jemaat di Kolose yang ada di tengah (bukan di pinggir pantai)? Tidak bisa seperti itu. Mereka tidak cuma orang yang singgah sebentar lalu pergi. Saat pergumulan datang dalam persekutuan orang percaya di Kolose, mereka harus menghadapi itu terus dan menemukan solusi terbaik bagi jemaat dan iman mereka.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja hari ini tentang identitas iman kita (tema sinodal kita kan tentang identitas iman kristen).

Yang pertama, mencari dasar hidup bersama di dalam perbedaan.

Saya suka dengan ayat 11
dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Yesus itu memang datang untuk semua umat manusia. Dia tidak datang untuk menyelamatkan orang bersunat saja (Yahudi) atau hanya untuk orang-orang yang bagus saja (beradab, tuan bukan hamba, dll).

Permasalahannya, manusianya percaya gak dengan apa yang telah Allah lakukan melalui kehadiran Firman yang menjadi manusia (Yesus) itu? Ada yang menerima dan ada juga yang menolak (ini kan perbedaan kita dengan saudara sepupu kita. Kita menerima Yesus sebagai Firman Allah itu adalah sehakikat dengan Allah (karena Firman Allah tidak terpisahkan dari dzat Allah, qadim - dalam bahasa Islam, tidak berawal - tidak bermula dan tidak diciptakan); Sedangkan saudara-saudara kita menolak hal itu).

Perbedaan iman inilah yang membuat seringkali kita sebagai orang percaya menjadi kebawa menyebut: saya non-muslim. Lha? Kok Non Muslim? Kan aneh. Masak bapak dan ibu mengatakan diri bapak dan ibu sendiri sebagai orang yang tidak patuh dan tunduk dan berserah pada Allah? Kita ini kan orang yang patuh, tunduk dan berserah pada Allah di dalam Yesus Kristus seperti yang dinyatakan di dalam Alkitab. Kita ini muslim lho, orang yang patuh dan taat dan tunduk kepada Allah dengan cara iman kita sendiri. Dan sudah jelas kita memang bukan beragama Islam, kita adalah pengikut Yesus yang disebut Kristen.

Yang terakhir, ini yang paling saya suka. Ayat 12-17. Ini identitas Kristen sekali.

Hitunglah ada berapa kata sifat yang ada di seantero ayat 12-17: Belaskasihan, kemurahan, kerendahan hati, lemah lembut, sabar, mengampuni, berdamai sejahtera, berkata-kata seperti Kristus, bertindak dengan ucapan syukur.

Kita sebagai orang Kristen, lebih suka "dihancurkan" daripada "menghancurkan", kita lebih suka "disalahpahami tapi kita akur" daripada kita jadi ribut karena "membela iman kita" dengan cara "perang, debat, demo ... pokoknya semua yang reaktif itu seringkali "gak kita banget".

Saya jadi ingat satu cerita waktu zaman banyak gereja yang dibakar pas kerusuhan dulu itu. Satu pendeta GKP (kalau gak salah Pdt. Erik Egne) menceritakan: "Saya mah dulu malah bilang ke yang rusuh-rusuh itu, tuh di situ ada gereja. Bakar saja." Kita jadi bingung denger cerita itu kan, lalu bertanya kok gitu? Pendeta Erik kemudian menjelaskan: "Ya gak apa-apa atuh kalau gereja dibakar, berarti kan kita bisa bangun gereja yang lebih bagus lagi nantinya." Nah, ini Kristen banget juga kan. Lebih baik dibakar daripada ribut, nanti patungan bikin gedung gereja yang lebih bagus lagi.

Untuk menutup renungan ini, saya mau share tentang kisah nyata di sejarah gereja. Tentang Telemakhus.


Pada abad keempat adalah seorang rahib yang bernama Telemakhus. Walau kekristenan pada waktu itu telah menjadi agama resmi kekaisaran Romawi (tahun 313), pola hidup dan kebiasaan masyarakat belum banyak terpengaruh oleh kekristenan itu sendiri. Orang-orang Roma masih menyenangi kematian gladiator yang kalah dalam pertarungan di stadion Koloseum. Mereka adalah penonton yang haus darah.

Pada suatu hari, ketika pertarungan antar gladiator sedang berlangsung seru, ditimpali pekik dan sorak para penonton, seorang yang berjubah hitam, yang tak lain adalah Telemakhus, melompat masuk ke dalam arena. Pakaian yang dikenakannya sungguh kontras dengan pakaian baja yang mengkilap, yang dipakai oleh para gladiator.

Ia menyorongkan tubuhnya ke tengah-tengah para gladiator yang sedang bertarung itu, berusaha untuk memisah dan melerai mereka. Tak berapa lama kemudian, dengan pekikan penonton yang semakin beringas, Telemakhus pun rebah, mati di arena.

Namun kematiannya tidak sia-sia. Paling tidak, sang Kaisar tersentuh hatinya menyaksikan kematian Telemakhus. Sebuah dekrit pun akhirnya dikeluarkan. Dekrit itu mengatakan bahwa pertarungan gladiator tidak lagi diperkenankan.

Itulah dia identitas Kristen yang sejati. Menjadi pribadi yang patuh dan tunduk kepada Allah sebagaimana yang telah dinyatakan dan diteladankan di dalam Yesus Kristus. Kita ini memang lebih suka dihancurkan daripada menghancurkan. Dihancurkan untuk bisa mengubahkan kehidupan.

Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email