Hakim-Hakim 9:1-21 | Koplingnya Rusak - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

koplingnya rusak
Koplingnya Rusak — Syalom bapak dan ibu semua. Penghujung tahun 2018 ini kita mempersiapkan diri menyongsong tahun yang baru sebentar lagi (2019) dengan pembacaan Alkitab kita sekarang.

Seumur-umur saya pelayanan, saya belum pernah membawa renungan dari bagian perikop kita hari ini (dan selalu menyenangkan untuk membahas apa yang belum pernah dibahas). Saya cukup yakin juga bahwa banyak di antara kita yang baru kali pertamanya membaca bagian kisah di perikop kita.

Kalau membaca tentang Gideon-nya, kita sering baca. Tahu lah kita kisah Gideon dari awal hingga menang melawan Midian. Akan tetapi kelanjutan kisahnya setelah Gideon wafat? Cukup jarang dibahas.

Perikop yang kita baca hari ini adalah kisah sedih tentang apa yang terjadi setelah Gideon wafat.

Ada beberapa tokoh yang disebutkan dalam perikop kita hari ini, yaitu: Abimelekh dan Yotam. Siapakah Abimelekh dan Yotam? Mari kita lihat sebentar ke dalam

Hakim-hakim 8:30-31
Gideon mempunyai tujuh puluh anak laki-laki, semuanya anak kandungnya, sebab ia beristeri banyak; juga gundiknya yang tinggal di Sikhem melahirkan seorang anak laki-laki baginya, lalu ia memberikan nama Abimelekh kepada anak itu.

Dari ayat selanjutnya (Hakim-hakim 8:33-35), kita juga menjadapatkan keterangan bahwa Israel kembali terpuruk ke dalam penyembahan berhala.

Hakim-hakim 8:33-35
Setelah Gideon mati, kembalilah orang Israel berjalan serong dengan mengikuti para Baal dan membuat Baal-Berit menjadi allah mereka; orang Israel tidak ingat kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah melepaskan mereka dari tangan semua musuhnya di sekelilingnya, juga tidak menunjukkan terima kasihnya kepada keturunan Yerubaal-Gideon seimbang dengan segala yang baik yang telah dilakukannya kepada orang Israel.

Dalam konteks inilah kita membaca perikop kita hari ini.

Sekarang, mari kita melihat perikop kita. Kalau tema Sinodal kita hari ini mengambil arah tentang "ambisi". kita semua bisa melihat bagaimana ambisi Abimelekh di ayat ini:

Hakim-hakim 9:4-5
Sesudah itu mereka memberikan kepadanya tujuh puluh uang perak dari kuil Baal-Berit, lalu Abimelekh memberi perak itu sebagai upah kepada petualang-petualang dan orang-orang nekat supaya mengikuti dia. Ia pergi ke rumah ayahnya di Ofra, lalu membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, tujuh puluh orang, di atas satu batu. Tetapi Yotam, anak bungsu Yerubaal tinggal hidup, karena ia menyembunyikan diri.

Apa yang terjadi? Politik busuk (uang dan membunuh saudara-saudaranya sendiri) demi ambisinya menjadi pemimpin.

Hakim-hakim 9:7-21 pastilah menjadi bagian yang luput dari perkiraan Abimelekh, sebab salah satu dari 70 anak (yang seharusnya terbunuh itu) ternyata ada yang selamat karena menyembunyikan diri (ayat 5).

Hakim-hakim 9:7-21 menjadi gambaran tentang kesedihan Yotam sekaligus juga (boleh gak disebut) "kemarahan" Yotam terhadap apa yang telah terjadi.

Simak gambaran analoginya:
"Semak belukar berduri (ini Abimelekh) yang mau melindungi pohon-pohon (ini gambaran tentang anak-anak Gideon, Yotam dan saudara-saudaranya yang 70 itu)".

Lucu ya, pohon yang berlindung ke semak duri, bukankah seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya.

Menjelang tahun baru, saya ingin mengajak kita untuk merenungkan satu hal saja dari perikop kita hari ini.

Ini ibaratnya orang bawa motor, mau jalan kenceng nge gas, tapi koplingnya rusak. Alhasil, jalannya seret, gak mulus dan salah-salah bisa nabrak.

Nah, keluarga anak-anak Gideon ini setelah Gideon tiada ya seperti itu: koplingnya rusak jadinya nabrak. Coba kita lihat bersama dua ayat ini:

Hakim-hakim 8:28
Demikianlah orang Midian tunduk kepada orang Israel dan tidak dapat menegakkan kepalanya lagi; maka amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya pada zaman Gideon.

Hakim-hakim 8:33
Setelah Gideon mati, kembalilah orang Israel berjalan serong dengan mengikuti para Baal dan membuat Baal-Berit menjadi allah mereka;

Betul ya, koplingnya rusak.
Peralihannya rusak.

Oleh sebab itu kalau kita hari ini mau ngomong tentang Tahun Baru: semangat baru, pengharapan baru, era baru, ah omong kosonglah kalau koplingnya tetap masih rusak.

Yang mana koplingnya? Keadaan di dalam kehidupan keluarga kita, itu koplingnya. Merasa punya kemampuan nge-gas poll tapi koplingnya rusak, ya percuma atuh.

Jangan lupa, jika kita berbicara hakim-hakim maka Israel belum ada di masa kerajaan bersatu (yang nantinya baru di awali di zaman Saul). Masa Hakim-hakim itu mirip dengan masa Indonesia sebelum 17 Agustus 1945, kita masih berjuang di masing-masing suku, daerah sendiri-sendiri. Belum ada "pahlawan nasional", yang ada adalah "pahlawan daerah masing-masing". Belum ada TNI, yang ada masing masing daerah berjuang melawan penjajah di kala itu.

Ini rumus patennya kan ya:
Di dalam kita kuat, di luar juga pasti kuat. Akan tetapi jika di dalamnya hancur-rusak, diluarnya juga biasanya sulit untuk menjadikan keadaan yang baik.

Pergumulan yang datang dari luar mah kita kuat hadapi kok, kalau keluarga kita - yang di dalamnya kita - kuat.

Akan tetapi, bagaimana kalau ditengah keluarganya sendiri tidak kuat (Bukankah ini yang terjadi di dalam kehidupan keluarga anak-anak Gideon setelah Gideon wafat)? Jika di dalam tidak kuat, bahkan keadaan diluar yang baik-baik saja pun itu bisa menghancurkan kita, karena di dalamnya kita tidak kuat.

Nanti malam ada doa keluarga tutup tahun. Saya mau titip doa di tengah keluarga bapak dan ibu masing-masing: Berdoalah selalu agar Tuhan senantiasa membuat kita, se-keluarga menjadi keluarga yang kuat, tangguh dalam menghadapi segala perkara.
Sumber gambar: Pixabay

Hakim-Hakim 9:1-21 | Koplingnya Rusak

koplingnya rusak
Koplingnya Rusak — Syalom bapak dan ibu semua. Penghujung tahun 2018 ini kita mempersiapkan diri menyongsong tahun yang baru sebentar lagi (2019) dengan pembacaan Alkitab kita sekarang.

Seumur-umur saya pelayanan, saya belum pernah membawa renungan dari bagian perikop kita hari ini (dan selalu menyenangkan untuk membahas apa yang belum pernah dibahas). Saya cukup yakin juga bahwa banyak di antara kita yang baru kali pertamanya membaca bagian kisah di perikop kita.

Kalau membaca tentang Gideon-nya, kita sering baca. Tahu lah kita kisah Gideon dari awal hingga menang melawan Midian. Akan tetapi kelanjutan kisahnya setelah Gideon wafat? Cukup jarang dibahas.

Perikop yang kita baca hari ini adalah kisah sedih tentang apa yang terjadi setelah Gideon wafat.

Ada beberapa tokoh yang disebutkan dalam perikop kita hari ini, yaitu: Abimelekh dan Yotam. Siapakah Abimelekh dan Yotam? Mari kita lihat sebentar ke dalam

Hakim-hakim 8:30-31
Gideon mempunyai tujuh puluh anak laki-laki, semuanya anak kandungnya, sebab ia beristeri banyak; juga gundiknya yang tinggal di Sikhem melahirkan seorang anak laki-laki baginya, lalu ia memberikan nama Abimelekh kepada anak itu.

Dari ayat selanjutnya (Hakim-hakim 8:33-35), kita juga menjadapatkan keterangan bahwa Israel kembali terpuruk ke dalam penyembahan berhala.

Hakim-hakim 8:33-35
Setelah Gideon mati, kembalilah orang Israel berjalan serong dengan mengikuti para Baal dan membuat Baal-Berit menjadi allah mereka; orang Israel tidak ingat kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah melepaskan mereka dari tangan semua musuhnya di sekelilingnya, juga tidak menunjukkan terima kasihnya kepada keturunan Yerubaal-Gideon seimbang dengan segala yang baik yang telah dilakukannya kepada orang Israel.

Dalam konteks inilah kita membaca perikop kita hari ini.

Sekarang, mari kita melihat perikop kita. Kalau tema Sinodal kita hari ini mengambil arah tentang "ambisi". kita semua bisa melihat bagaimana ambisi Abimelekh di ayat ini:

Hakim-hakim 9:4-5
Sesudah itu mereka memberikan kepadanya tujuh puluh uang perak dari kuil Baal-Berit, lalu Abimelekh memberi perak itu sebagai upah kepada petualang-petualang dan orang-orang nekat supaya mengikuti dia. Ia pergi ke rumah ayahnya di Ofra, lalu membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, tujuh puluh orang, di atas satu batu. Tetapi Yotam, anak bungsu Yerubaal tinggal hidup, karena ia menyembunyikan diri.

Apa yang terjadi? Politik busuk (uang dan membunuh saudara-saudaranya sendiri) demi ambisinya menjadi pemimpin.

Hakim-hakim 9:7-21 pastilah menjadi bagian yang luput dari perkiraan Abimelekh, sebab salah satu dari 70 anak (yang seharusnya terbunuh itu) ternyata ada yang selamat karena menyembunyikan diri (ayat 5).

Hakim-hakim 9:7-21 menjadi gambaran tentang kesedihan Yotam sekaligus juga (boleh gak disebut) "kemarahan" Yotam terhadap apa yang telah terjadi.

Simak gambaran analoginya:
"Semak belukar berduri (ini Abimelekh) yang mau melindungi pohon-pohon (ini gambaran tentang anak-anak Gideon, Yotam dan saudara-saudaranya yang 70 itu)".

Lucu ya, pohon yang berlindung ke semak duri, bukankah seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya.

Menjelang tahun baru, saya ingin mengajak kita untuk merenungkan satu hal saja dari perikop kita hari ini.

Ini ibaratnya orang bawa motor, mau jalan kenceng nge gas, tapi koplingnya rusak. Alhasil, jalannya seret, gak mulus dan salah-salah bisa nabrak.

Nah, keluarga anak-anak Gideon ini setelah Gideon tiada ya seperti itu: koplingnya rusak jadinya nabrak. Coba kita lihat bersama dua ayat ini:

Hakim-hakim 8:28
Demikianlah orang Midian tunduk kepada orang Israel dan tidak dapat menegakkan kepalanya lagi; maka amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya pada zaman Gideon.

Hakim-hakim 8:33
Setelah Gideon mati, kembalilah orang Israel berjalan serong dengan mengikuti para Baal dan membuat Baal-Berit menjadi allah mereka;

Betul ya, koplingnya rusak.
Peralihannya rusak.

Oleh sebab itu kalau kita hari ini mau ngomong tentang Tahun Baru: semangat baru, pengharapan baru, era baru, ah omong kosonglah kalau koplingnya tetap masih rusak.

Yang mana koplingnya? Keadaan di dalam kehidupan keluarga kita, itu koplingnya. Merasa punya kemampuan nge-gas poll tapi koplingnya rusak, ya percuma atuh.

Jangan lupa, jika kita berbicara hakim-hakim maka Israel belum ada di masa kerajaan bersatu (yang nantinya baru di awali di zaman Saul). Masa Hakim-hakim itu mirip dengan masa Indonesia sebelum 17 Agustus 1945, kita masih berjuang di masing-masing suku, daerah sendiri-sendiri. Belum ada "pahlawan nasional", yang ada adalah "pahlawan daerah masing-masing". Belum ada TNI, yang ada masing masing daerah berjuang melawan penjajah di kala itu.

Ini rumus patennya kan ya:
Di dalam kita kuat, di luar juga pasti kuat. Akan tetapi jika di dalamnya hancur-rusak, diluarnya juga biasanya sulit untuk menjadikan keadaan yang baik.

Pergumulan yang datang dari luar mah kita kuat hadapi kok, kalau keluarga kita - yang di dalamnya kita - kuat.

Akan tetapi, bagaimana kalau ditengah keluarganya sendiri tidak kuat (Bukankah ini yang terjadi di dalam kehidupan keluarga anak-anak Gideon setelah Gideon wafat)? Jika di dalam tidak kuat, bahkan keadaan diluar yang baik-baik saja pun itu bisa menghancurkan kita, karena di dalamnya kita tidak kuat.

Nanti malam ada doa keluarga tutup tahun. Saya mau titip doa di tengah keluarga bapak dan ibu masing-masing: Berdoalah selalu agar Tuhan senantiasa membuat kita, se-keluarga menjadi keluarga yang kuat, tangguh dalam menghadapi segala perkara.
Sumber gambar: Pixabay

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email