Amsal 19:17 | Memiutangi Tuhan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

memiutangi tuhan
Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.
(Amsal 19:17)

Kebaktian Minggu yang lalu mengingatkan kita bahwa siapapun orangnya sebenarnya bisa menjadi saluran berkat dari Tuhan. Kali ini kita diajak untuk menemukan, bahwa ketika kita yang telah diberkati oleh Tuhan, kita sesunggunya menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk memberkati kehidupan yang lainnya. Di sinilah kita bisa menemukan, bahwa Tuhan makin hari makin pula memberkati kehidupan kita.

Ada sebuah kisah nyata terjadi di suatu daerah yang sedang mengalami peperangan. Daerah itu memiliki patung Tuhan Yesus. Sayangnya suatu hari, patung Tuhan Yesus itu kehilangan kedua lengannya oleh karena terkena bom. Masyarakat di daerah itu kemudian berembuk untuk memperbaiki kondisi patung tersebut. Namun apa yang terjadi, justru di kala mereka sedang semangat untuk memperbaiki, pendeta mereka berkata, "Lebih baik kedua lengan patung Tuhan Yesus itu dibiarkan saja buntung seperti itu! Hal itu akan mengingatkan kita semua, bahwa Tuhan Yesus juga menugaskan kita sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk menolong dan memberkati orang lain". Ya, kita semua adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk memberkati kehidupan orang lain, terlebih seperti yang dikatakan dalam ayat kita hari ini, "menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah".

Menarik untuk kita cermati bersama bahwa Kata Ibrani דל - dal (yang diterjemahkan dalam ayat kita hari ini menjadi "orang yang lemah") tidak semata-mata dihubungkan dengan kekurangan materi, tetapi juga kondisi serba kekurangan atas segala sesuatu. Atau dengan perkataan lain keadaan kurang dalam aspek lahiriah maupun kurang dalam aspek batiniah, adalah keadaan yang termasuk kategori דל - dal. Demikian pula dalam bahasa Inggris, kata poor tidak semata-mata dihubungkan dengan kepemilikan atas harta benda, contoh: you poor thing, "Kesian deh lu." (bdk kata Ibrani - dal, juga dipakai dalam 2 Samuel 3:1 - dal, kian lemah; 2 Samuel 13:4 - dal, merana. Kedua konteks ayat itu bukan dalam konteks kekurangan atau kelemahan secara materi, melainkan secara batiniah).

Sekarang, beralih pada satu hal yang mungkin sejak kita membaca ayat kita hari ini kita merasa sedikit "aneh". Memiutangi Tuhan. Aneh kan? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata piutang:

• uang yang dipinjamkan (yang dapat ditagih dari seseorang);
• utang piutang, uang yang dipinjam dari orang lain dan yang dipinjamkan kepada orang lain

Jadi, ketika Salomo mengatakan, "Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu", maka hal ini dapat dipahami seakan-akan Tuhan menjadi "berhutang" pada kita apabila kita berbuat baik kepada mereka yang lemah itu. Padahal, bukan itu maksud Salomo. Kita mengingat dalam Injil, Tuhan Yesus juga berkata kepada kita, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

Sebagai orang percaya, kita mengetahui bahwa dasar utama kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam memberkati orang lain adalah karena Tuhan yang lebih dulu memberkati kehidupan kita (seperti yang telah dilakukan-Nya kepada Israel dan kepada kita orang yang percaya kepada-Nya di dalam Yesus Kristus). Oleh sebab itulah maka kita juga memiliki dasar untuk hidup bersyukur di hadapan Tuhan, dengan cara menolong kehidupan orang lain juga, yang melalui perbuatan baik kita itu Tuhan bersukacita dan tidak ragu untuk semakin memberkati kehidupan kita.

Untuk didiskusikan:
Ceritakanlah pengalaman bapak dan ibu yang menunjukkan bahwa ketika kita memberkati kehidupan orang lain, Tuhan juga pasti akan semakin memberkati kehidupan kita. (GA)
Sumber gambar: Pixabay

Amsal 19:17 | Memiutangi Tuhan

memiutangi tuhan
Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.
(Amsal 19:17)

Kebaktian Minggu yang lalu mengingatkan kita bahwa siapapun orangnya sebenarnya bisa menjadi saluran berkat dari Tuhan. Kali ini kita diajak untuk menemukan, bahwa ketika kita yang telah diberkati oleh Tuhan, kita sesunggunya menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk memberkati kehidupan yang lainnya. Di sinilah kita bisa menemukan, bahwa Tuhan makin hari makin pula memberkati kehidupan kita.

Ada sebuah kisah nyata terjadi di suatu daerah yang sedang mengalami peperangan. Daerah itu memiliki patung Tuhan Yesus. Sayangnya suatu hari, patung Tuhan Yesus itu kehilangan kedua lengannya oleh karena terkena bom. Masyarakat di daerah itu kemudian berembuk untuk memperbaiki kondisi patung tersebut. Namun apa yang terjadi, justru di kala mereka sedang semangat untuk memperbaiki, pendeta mereka berkata, "Lebih baik kedua lengan patung Tuhan Yesus itu dibiarkan saja buntung seperti itu! Hal itu akan mengingatkan kita semua, bahwa Tuhan Yesus juga menugaskan kita sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk menolong dan memberkati orang lain". Ya, kita semua adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk memberkati kehidupan orang lain, terlebih seperti yang dikatakan dalam ayat kita hari ini, "menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah".

Menarik untuk kita cermati bersama bahwa Kata Ibrani דל - dal (yang diterjemahkan dalam ayat kita hari ini menjadi "orang yang lemah") tidak semata-mata dihubungkan dengan kekurangan materi, tetapi juga kondisi serba kekurangan atas segala sesuatu. Atau dengan perkataan lain keadaan kurang dalam aspek lahiriah maupun kurang dalam aspek batiniah, adalah keadaan yang termasuk kategori דל - dal. Demikian pula dalam bahasa Inggris, kata poor tidak semata-mata dihubungkan dengan kepemilikan atas harta benda, contoh: you poor thing, "Kesian deh lu." (bdk kata Ibrani - dal, juga dipakai dalam 2 Samuel 3:1 - dal, kian lemah; 2 Samuel 13:4 - dal, merana. Kedua konteks ayat itu bukan dalam konteks kekurangan atau kelemahan secara materi, melainkan secara batiniah).

Sekarang, beralih pada satu hal yang mungkin sejak kita membaca ayat kita hari ini kita merasa sedikit "aneh". Memiutangi Tuhan. Aneh kan? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata piutang:

• uang yang dipinjamkan (yang dapat ditagih dari seseorang);
• utang piutang, uang yang dipinjam dari orang lain dan yang dipinjamkan kepada orang lain

Jadi, ketika Salomo mengatakan, "Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu", maka hal ini dapat dipahami seakan-akan Tuhan menjadi "berhutang" pada kita apabila kita berbuat baik kepada mereka yang lemah itu. Padahal, bukan itu maksud Salomo. Kita mengingat dalam Injil, Tuhan Yesus juga berkata kepada kita, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

Sebagai orang percaya, kita mengetahui bahwa dasar utama kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam memberkati orang lain adalah karena Tuhan yang lebih dulu memberkati kehidupan kita (seperti yang telah dilakukan-Nya kepada Israel dan kepada kita orang yang percaya kepada-Nya di dalam Yesus Kristus). Oleh sebab itulah maka kita juga memiliki dasar untuk hidup bersyukur di hadapan Tuhan, dengan cara menolong kehidupan orang lain juga, yang melalui perbuatan baik kita itu Tuhan bersukacita dan tidak ragu untuk semakin memberkati kehidupan kita.

Untuk didiskusikan:
Ceritakanlah pengalaman bapak dan ibu yang menunjukkan bahwa ketika kita memberkati kehidupan orang lain, Tuhan juga pasti akan semakin memberkati kehidupan kita. (GA)
Sumber gambar: Pixabay

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email