Lukas 2:8-20 | Aneh Tapi Nyata - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

natal aneh tapi nyata
Aneh Tapi Nyata — Biasanya kita akan selalu mengingat kejadian atau peristiwa aneh yang kita temui. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata aneh, "tidak seperti yang biasa kita lihat, dengar, dsb; ajaib, ganjil.

Masih ingat nama SD kita masing-masing kan ya. Saya ketemu dengan beberapa nama SD di daerah Indonesia yang namanya tidak biasa - aneh, tapi nyata ada. Mari kita lihat ...

sd pocong
sd setan
sd bokong
sd kolor

Kebayangkan kalau ada orang yang tanya, "Kamu dulunya SD di mana?" Lalu dijawab, "SD ... Setan." Berantem deh mereka jadinya karena salah paham.

Setiap Desember tiba, apalagi malam Natal - hari Natal seperti ini, kita pun sebenarnya sedang merayakan kejadian yang aneh tapi nyata.

Kita langsung saja pada keanehan yang sampai hari ini banyak orang di luar sana yang tidak bisa menerimanya.

Lukas 2:11 - Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

Langsung ketemu ya keanehannya.
Keanehannya ada di kata: Tuhan.
Bagi banyak orang, itu jelas aneh.
- Tuhan kok lahir? Tuhan kok dilahirkan?
- Tuhan kok manusia? Atau malah, "Manusia kok dijadikan Tuhan"?

Saya gak mau bahas dari kata Yunaninya: Tuhan, kurios (yang memang bisa diterjemahkan menjadi Tuhan atau tuan, tergantung pada konteks ayatnya), sebab Yesus memang adalah Tuhan (bukan hanya sekedar tuan).

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa justru hal inilah yang membuat seringkali iman Kristen menjadi bahan olok-olok sepanjang masa. Dengan cara bagaimana? Dengan cara seperti itu tadi: Tuhan kok lahir - dilahirkan? Atau bahkan lebih jauh lagi: Kalau Yesus itu Tuhan, Bapa itu siapa? Tuhan juga? Berarti ada dua dong Tuhannya. Tiga malah dengan satu lagi siapa itu: Roh Kudus?

Sekali lagi, yang seperti ini memang seringkali membuat antara kita dan saudara sepupu kita jadi gak nyambung sama sekali.

Kalau mau sedikit nyambung (walaupun pada akhirnya memang beda iman juga), saya mah lebih suka menggunakan pemahaman tentang Firman Allah yang datang ke dunia dalam rupa manusia, daripada menggunakan kata Tuhan (dengan alasan yang tadi ya)

Buat kita, orang percaya, Natal adalah turunnya Firman Allah ke dunia. Buat saudara sepupu kita, Lailatul Qadar adalah turunnya Firman Allah ke dunia.
Buat kita, orang percaya, Firman Allah itu adalah Yesus. Buat saudara sepupu kita, Firman Allah yang turun ke dunia itu adalah Al Quran.

Sedangkan pemahaman tentang Firman Allah (Kalam Allah) yang tidak diciptakan (bukan makhluk) dan tidak berawal, tidak bermula (qadim) berpadanan dengan iman Kristen tentang Firman Allah yang sehakikat dengan Allah di dalam Yohanes 1:1 - Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Yang jelas pemahaman tentang Dia yang datang ke dunia dalam rupa manusia memang benar-benar tampak aneh bagi beberapa orang hingga hari ini. Untuk apa datang langsung? Kan bisa mengutus nabi, kenapa harus repot?

Saya kira tema Sinodal kita hari ini menjawab pertanyaan itu: Berita Mengagumkan yang membawa perubahan hidup.

Baca Juga: Kumpulan Renungan Natal

Puncak dari semua nubuat PL, misalnya yang dari paling mendasar lebih dahulu di Kejadian 3:15 - Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."

Semua nubuat keselamatan terjadi mulai dari Natal ini. Dia yang datang untuk menyelamatkan umat manusia seperti yang telah dijanjikanNya sejak zaman Adam untuk membawa perubahan dari binasa menuju hidup yang kekal.

Saya suka dengan cerita tentang seorang pria yang terjatuh ke dalam sebuah lubang dan tidak bisa keluar sendiri.

Orang yang subjektif melewatinya dan berkata, "Saya sangat bersimpati atas kejatuhan Anda."
Orang yang objektif akan berkata, "Suatu hal yang sangat logis bila seseorang bisa jatuh ke lubang tersebut."
Seorang Farisi berkata, "Hanya orang-orang jahat yang bisa jatuh ke lubang tersebut."
Seorang Fisika-wan akan menghitung besarnya gravitasi yang menyebabkan orang tersebut jatuh.
Seorang Reporter menginginkan wawancara eksklusif disiarkan langsung dari lubang tersebut.
Seorang penggerutu akan berkata, "Lubang-mu ini belum ada apa-apanya dibandingkan lubangku."
Seorang Hakim akan berkata, "Kau pantas untuk jatuh ke lubang tersebut."
Seorang Psikiater berkomentar, "Lubang itu hanya ada dalam pikiranmu saja."
Seorang Psikolog menjelaskan, "Kejatuhanmu adalah akibat dari kesalahan orang-orang di sekitarmu."
Seorang Motivator berkata, "Percayalah bahwa Anda adalah orang yang kuat dan Anda bisa keluar dari lubang itu dengan kekuatan Anda."

Semua datang, melihat dan hanya lewat saja tanpa turun langsung menolong orang yang jatuh ke dalam lubang itu.

Yesus, melihat seorang manusia jatuh kedalam lubang. Ia turun dari surga yang mulia, menjadi manusia agar bisa menolongnya keluar dari lubang tersebut. Itulah sebabnya kita merayakan Natal.

Mungkin sampai dengan hari ini atau bahkan selamanya akan selalu ada orang yang menganggap Natal (datangnya Allah - Firman Allah ke dalam dunia) adalah suatu hal yang aneh. Akan tetapi bagi kita sebagai orang percaya Natal adalah keanehan yang nyata yang menghasilkan keanehan yang nyata selanjutnya.

Kenaehan yang nyata selanjutnya?

Iya, keanehan yang nyata yang selanjutnya. Semua orang yang percaya adalah kelanjutan dari aneh tapi nyata-nya Natal yang menjadikan mereka seharusnya menjadi pribadi yang baru yang aneh tapi nyata.

Kita ini aneh tapi nyata, seorang yang selayaknya masuk dalam penghukuman tapi diberikan kuasa untuk mengalami perubahan hidup dari kebinasaan menuju kehidupan yang kekal.

Sudah memiliki perubahan hidup (dan disitulah keanehan kita) karena Natal belum? Apakah Natal telah mengubah kehidupan kita?

Jika kebutuhan terbesar kita adalah informasi, Tuhan mengirim seorang pendidik. Jika kebutuhan terbesar kita teknologi, Tuhan mengirim seorang ahli sains. Jika kebutuhan terbesar kita uang, Tuhan mengirim seorang ahli ekonomi. Tetapi karena kebutuhan terbesar kita adalah pengampunan, maka Tuhan telah mengirim seorang Juruselamat kepada kita. (Max Lucado, When Gos Whispers Your Name, 54)

Lukas 2:8-20 | Aneh Tapi Nyata

natal aneh tapi nyata
Aneh Tapi Nyata — Biasanya kita akan selalu mengingat kejadian atau peristiwa aneh yang kita temui. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata aneh, "tidak seperti yang biasa kita lihat, dengar, dsb; ajaib, ganjil.

Masih ingat nama SD kita masing-masing kan ya. Saya ketemu dengan beberapa nama SD di daerah Indonesia yang namanya tidak biasa - aneh, tapi nyata ada. Mari kita lihat ...

sd pocong
sd setan
sd bokong
sd kolor

Kebayangkan kalau ada orang yang tanya, "Kamu dulunya SD di mana?" Lalu dijawab, "SD ... Setan." Berantem deh mereka jadinya karena salah paham.

Setiap Desember tiba, apalagi malam Natal - hari Natal seperti ini, kita pun sebenarnya sedang merayakan kejadian yang aneh tapi nyata.

Kita langsung saja pada keanehan yang sampai hari ini banyak orang di luar sana yang tidak bisa menerimanya.

Lukas 2:11 - Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

Langsung ketemu ya keanehannya.
Keanehannya ada di kata: Tuhan.
Bagi banyak orang, itu jelas aneh.
- Tuhan kok lahir? Tuhan kok dilahirkan?
- Tuhan kok manusia? Atau malah, "Manusia kok dijadikan Tuhan"?

Saya gak mau bahas dari kata Yunaninya: Tuhan, kurios (yang memang bisa diterjemahkan menjadi Tuhan atau tuan, tergantung pada konteks ayatnya), sebab Yesus memang adalah Tuhan (bukan hanya sekedar tuan).

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa justru hal inilah yang membuat seringkali iman Kristen menjadi bahan olok-olok sepanjang masa. Dengan cara bagaimana? Dengan cara seperti itu tadi: Tuhan kok lahir - dilahirkan? Atau bahkan lebih jauh lagi: Kalau Yesus itu Tuhan, Bapa itu siapa? Tuhan juga? Berarti ada dua dong Tuhannya. Tiga malah dengan satu lagi siapa itu: Roh Kudus?

Sekali lagi, yang seperti ini memang seringkali membuat antara kita dan saudara sepupu kita jadi gak nyambung sama sekali.

Kalau mau sedikit nyambung (walaupun pada akhirnya memang beda iman juga), saya mah lebih suka menggunakan pemahaman tentang Firman Allah yang datang ke dunia dalam rupa manusia, daripada menggunakan kata Tuhan (dengan alasan yang tadi ya)

Buat kita, orang percaya, Natal adalah turunnya Firman Allah ke dunia. Buat saudara sepupu kita, Lailatul Qadar adalah turunnya Firman Allah ke dunia.
Buat kita, orang percaya, Firman Allah itu adalah Yesus. Buat saudara sepupu kita, Firman Allah yang turun ke dunia itu adalah Al Quran.

Sedangkan pemahaman tentang Firman Allah (Kalam Allah) yang tidak diciptakan (bukan makhluk) dan tidak berawal, tidak bermula (qadim) berpadanan dengan iman Kristen tentang Firman Allah yang sehakikat dengan Allah di dalam Yohanes 1:1 - Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Yang jelas pemahaman tentang Dia yang datang ke dunia dalam rupa manusia memang benar-benar tampak aneh bagi beberapa orang hingga hari ini. Untuk apa datang langsung? Kan bisa mengutus nabi, kenapa harus repot?

Saya kira tema Sinodal kita hari ini menjawab pertanyaan itu: Berita Mengagumkan yang membawa perubahan hidup.

Baca Juga: Kumpulan Renungan Natal

Puncak dari semua nubuat PL, misalnya yang dari paling mendasar lebih dahulu di Kejadian 3:15 - Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."

Semua nubuat keselamatan terjadi mulai dari Natal ini. Dia yang datang untuk menyelamatkan umat manusia seperti yang telah dijanjikanNya sejak zaman Adam untuk membawa perubahan dari binasa menuju hidup yang kekal.

Saya suka dengan cerita tentang seorang pria yang terjatuh ke dalam sebuah lubang dan tidak bisa keluar sendiri.

Orang yang subjektif melewatinya dan berkata, "Saya sangat bersimpati atas kejatuhan Anda."
Orang yang objektif akan berkata, "Suatu hal yang sangat logis bila seseorang bisa jatuh ke lubang tersebut."
Seorang Farisi berkata, "Hanya orang-orang jahat yang bisa jatuh ke lubang tersebut."
Seorang Fisika-wan akan menghitung besarnya gravitasi yang menyebabkan orang tersebut jatuh.
Seorang Reporter menginginkan wawancara eksklusif disiarkan langsung dari lubang tersebut.
Seorang penggerutu akan berkata, "Lubang-mu ini belum ada apa-apanya dibandingkan lubangku."
Seorang Hakim akan berkata, "Kau pantas untuk jatuh ke lubang tersebut."
Seorang Psikiater berkomentar, "Lubang itu hanya ada dalam pikiranmu saja."
Seorang Psikolog menjelaskan, "Kejatuhanmu adalah akibat dari kesalahan orang-orang di sekitarmu."
Seorang Motivator berkata, "Percayalah bahwa Anda adalah orang yang kuat dan Anda bisa keluar dari lubang itu dengan kekuatan Anda."

Semua datang, melihat dan hanya lewat saja tanpa turun langsung menolong orang yang jatuh ke dalam lubang itu.

Yesus, melihat seorang manusia jatuh kedalam lubang. Ia turun dari surga yang mulia, menjadi manusia agar bisa menolongnya keluar dari lubang tersebut. Itulah sebabnya kita merayakan Natal.

Mungkin sampai dengan hari ini atau bahkan selamanya akan selalu ada orang yang menganggap Natal (datangnya Allah - Firman Allah ke dalam dunia) adalah suatu hal yang aneh. Akan tetapi bagi kita sebagai orang percaya Natal adalah keanehan yang nyata yang menghasilkan keanehan yang nyata selanjutnya.

Kenaehan yang nyata selanjutnya?

Iya, keanehan yang nyata yang selanjutnya. Semua orang yang percaya adalah kelanjutan dari aneh tapi nyata-nya Natal yang menjadikan mereka seharusnya menjadi pribadi yang baru yang aneh tapi nyata.

Kita ini aneh tapi nyata, seorang yang selayaknya masuk dalam penghukuman tapi diberikan kuasa untuk mengalami perubahan hidup dari kebinasaan menuju kehidupan yang kekal.

Sudah memiliki perubahan hidup (dan disitulah keanehan kita) karena Natal belum? Apakah Natal telah mengubah kehidupan kita?

Jika kebutuhan terbesar kita adalah informasi, Tuhan mengirim seorang pendidik. Jika kebutuhan terbesar kita teknologi, Tuhan mengirim seorang ahli sains. Jika kebutuhan terbesar kita uang, Tuhan mengirim seorang ahli ekonomi. Tetapi karena kebutuhan terbesar kita adalah pengampunan, maka Tuhan telah mengirim seorang Juruselamat kepada kita. (Max Lucado, When Gos Whispers Your Name, 54)

Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email