I Samuel 1:1-28 | Dear Facebook - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

dear facebook
Renungan Warta, 18 November 2018

Dear Facebook — Dahulu, sebelum ada media online seperti Facebook, Twitter, Instagram atau Blog, banyak orang yang mencurahkan isi hatinya di dalam diary (biasanya buku kecil yang kadang diberi kunci supaya gak ada orang yang baca selain yang menulis). Isi diary biasanya macam-macam. Dari mulai menceritakan kejadian yang menyukakan hati sampai hal-hal yang membuat penulisnya kesal pun ada di situ. Di zaman sekarang, mencurahkan isi hati menjadi lebih terbuka luas lagi karena orang bisa dengan mudah memainkan jemarinya hanya lewat HP dan orang lain bisa membacanya.


Realita akan banyaknya orang yang mudah mencurahkan isi hatinya melalui berbagai media membuat saya bertanya-tanya apakah setiap orang juga sudah mencurahkan isi hatinya sedemikian rupa kepada Tuhan? Dalam perikop kita hari ini kita bertemu dengan seorang perempuan yang mengalami penderitaan di dalam kehidupannya (ayat 2 dan 7). Saya ingin menyoroti ayat 7-8 karena disitu kita menjadi tahu jelas akan bentuk penderitaan yang dialami oleh Hana di rumah dan apa hasilnya ketika Hana “men-share-nya” kepada suaminya. Membaca ayat 8 rasanya kita menjadi tahu bahwa bagi Hana perkataan suaminya itu belum cukup untuk menenangkan hatinya. – Mirip ya dengan sewaktu kita posting uneg-uneg di medsos, apakah perkataan komen dari teman-teman kita cukup menenangkan hati kita? –

Semoga setiap orang tidak melupakan apa yang juga dilakukan oleh Hana dalam perikop kita hari ini untuk mendapatkan ketenangan hatinya yang sejati. Hana: “ ... aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN” (ayat 15). Tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan ketenangan yang sejati hanya dengan mencurahkan isi hati di dalam “dear diary” atau “dear facebook, dear twitter, dll”. Ketenangan yang sejati hanya bisa didapatkan ketika seseorang sudah membicarakan isi hatinya kepada TUHAN.

Jadi, sudahkah kita hari ini membicarakan isi hati kita kepada Dia? (GA)

Semakin spesifik kita dalam permintaan kita, semakin waspada kita terhadap jawaban doa setelah itu datang. Maka, akan spesifik pula kita dengan ucapan syukur dan pujian kita kepada Tuhan kemudian. (John C. Maxwell)
Sumber gambar: Pixabay

I Samuel 1:1-28 | Dear Facebook

dear facebook
Renungan Warta, 18 November 2018

Dear Facebook — Dahulu, sebelum ada media online seperti Facebook, Twitter, Instagram atau Blog, banyak orang yang mencurahkan isi hatinya di dalam diary (biasanya buku kecil yang kadang diberi kunci supaya gak ada orang yang baca selain yang menulis). Isi diary biasanya macam-macam. Dari mulai menceritakan kejadian yang menyukakan hati sampai hal-hal yang membuat penulisnya kesal pun ada di situ. Di zaman sekarang, mencurahkan isi hati menjadi lebih terbuka luas lagi karena orang bisa dengan mudah memainkan jemarinya hanya lewat HP dan orang lain bisa membacanya.


Realita akan banyaknya orang yang mudah mencurahkan isi hatinya melalui berbagai media membuat saya bertanya-tanya apakah setiap orang juga sudah mencurahkan isi hatinya sedemikian rupa kepada Tuhan? Dalam perikop kita hari ini kita bertemu dengan seorang perempuan yang mengalami penderitaan di dalam kehidupannya (ayat 2 dan 7). Saya ingin menyoroti ayat 7-8 karena disitu kita menjadi tahu jelas akan bentuk penderitaan yang dialami oleh Hana di rumah dan apa hasilnya ketika Hana “men-share-nya” kepada suaminya. Membaca ayat 8 rasanya kita menjadi tahu bahwa bagi Hana perkataan suaminya itu belum cukup untuk menenangkan hatinya. – Mirip ya dengan sewaktu kita posting uneg-uneg di medsos, apakah perkataan komen dari teman-teman kita cukup menenangkan hati kita? –

Semoga setiap orang tidak melupakan apa yang juga dilakukan oleh Hana dalam perikop kita hari ini untuk mendapatkan ketenangan hatinya yang sejati. Hana: “ ... aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN” (ayat 15). Tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan ketenangan yang sejati hanya dengan mencurahkan isi hati di dalam “dear diary” atau “dear facebook, dear twitter, dll”. Ketenangan yang sejati hanya bisa didapatkan ketika seseorang sudah membicarakan isi hatinya kepada TUHAN.

Jadi, sudahkah kita hari ini membicarakan isi hati kita kepada Dia? (GA)

Semakin spesifik kita dalam permintaan kita, semakin waspada kita terhadap jawaban doa setelah itu datang. Maka, akan spesifik pula kita dengan ucapan syukur dan pujian kita kepada Tuhan kemudian. (John C. Maxwell)
Sumber gambar: Pixabay

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Load comments

Terima Renungan Terbaru Melalui Email