Ester 4:1-17 | Hati yang Tergugah - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

hati yang tergugah
Renungan Warta, 4 November 2018

Tidak mudah menggugah hati seseorang, apalagi banyak orang, untuk bisa mengerti apa yang sudah seharusnya menjadi keprihatinan bersama. Hati yang tidak tergugah berbanding lurus dengan menetapnya sikap acuh tak acuh terhadap permasalahan yang ada. Bukan hanya itu saja, sejujurnya tidak mudah pula merangkai kata yang tepat dalam usaha kita menggugah hati seseorang untuk melakukan pergerakan. Salah-salah, nantinya seperti kejadian “tampang Boyolali”: maksudnya ingin menggugah hati, namun ternyata ada yang menanggapi lain. Tak tepat sasaran.

Perikop Alkitab yang kita baca bersama mengisahkan tentang perjuangan Mordekhai untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari ancaman genosida (pemusnahan satu bangsa) karena kebencian Haman, seorang pembesar kerajaan Persia. Semua orang Yahudi yang berada di wilayah kekuasaan Persia meratap-tangis bersama mendengar ancaman yang nyata itu (lih. ayat 1-4), kecuali ... Ester (ayat 10-11). Pada awalnya.

Di antara banyak arti kata politik, Mordekhai melakukan apa yang dikatakan oleh Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Saya sungguh menyukai cara Mordekhai ber-politik dengan Ester dalam perikop kita. Mari kita lihat kembali bagaimana cara Mordekhai menggugah hati Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." (ayat 13-14)

Menyampaikan pandangannya secara tajam dan menohok namun membuka pikiran (sehingga muncul pergerakan hati) dan yang terpenting adalah tanpa melukai perasaan. Yang terakhir itu loh yang paling susah: tanpa melukai perasaan. (GA)

Banyak orang yang tak peduli dengan apa yang terjadi selama peristiwa itu tidak menimpanya. (William H. Taft)
Sumber gambar: Pixabay

Ester 4:1-17 | Hati yang Tergugah

hati yang tergugah
Renungan Warta, 4 November 2018

Tidak mudah menggugah hati seseorang, apalagi banyak orang, untuk bisa mengerti apa yang sudah seharusnya menjadi keprihatinan bersama. Hati yang tidak tergugah berbanding lurus dengan menetapnya sikap acuh tak acuh terhadap permasalahan yang ada. Bukan hanya itu saja, sejujurnya tidak mudah pula merangkai kata yang tepat dalam usaha kita menggugah hati seseorang untuk melakukan pergerakan. Salah-salah, nantinya seperti kejadian “tampang Boyolali”: maksudnya ingin menggugah hati, namun ternyata ada yang menanggapi lain. Tak tepat sasaran.

Perikop Alkitab yang kita baca bersama mengisahkan tentang perjuangan Mordekhai untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari ancaman genosida (pemusnahan satu bangsa) karena kebencian Haman, seorang pembesar kerajaan Persia. Semua orang Yahudi yang berada di wilayah kekuasaan Persia meratap-tangis bersama mendengar ancaman yang nyata itu (lih. ayat 1-4), kecuali ... Ester (ayat 10-11). Pada awalnya.

Di antara banyak arti kata politik, Mordekhai melakukan apa yang dikatakan oleh Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Saya sungguh menyukai cara Mordekhai ber-politik dengan Ester dalam perikop kita. Mari kita lihat kembali bagaimana cara Mordekhai menggugah hati Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." (ayat 13-14)

Menyampaikan pandangannya secara tajam dan menohok namun membuka pikiran (sehingga muncul pergerakan hati) dan yang terpenting adalah tanpa melukai perasaan. Yang terakhir itu loh yang paling susah: tanpa melukai perasaan. (GA)

Banyak orang yang tak peduli dengan apa yang terjadi selama peristiwa itu tidak menimpanya. (William H. Taft)
Sumber gambar: Pixabay

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER