Yeremia 31:7-9 | Yang Tersisih, Yang Dikasihi - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

yang tersisih, yang dikasihi
Perjanjian baru
31:7 Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel!
31:8 Sesungguhnya, Aku akan membawa mereka dari tanah utara dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; di antara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali ke mari!
31:9 Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku.
YANG TERSISIH, YANG DIKASIHI — Tema kita hari ini benar-benar mengena dengan kehidupan keseharian kita ya. Terutama kalimat yang pertama itu: "Yang Tersisih".

Kalau ditanya siapa yang punya pengalaman tersisih? Kita pasti semua acung tangan nih.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata tersisih sebagai: tersingkir, terasingkan, terpisah, terpinggirkan. Tersisih juga terjadi apabila mulai muncul perasaan merasa atau dianggap paling hina, paling gak tau apa-apa, paling ... (semua yang negatif).

Semua orang sangat mungkin untuk mudah merasakan diri sebagai "yang tersisih" dan jelas tidak semua orang bisa secepat itu untuk beralih pada kalimat selanjutnya di tema kita hari ini: "yang dikasihi".

Baca Juga: Daftar Isi Renungan berdasarkan Perikop Alkitab

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, ada beberapa bagian yang menjadi contoh konkret tentang bagaimana rasanya menjadi yang tersisih.

Saya mau cek dan ricek sebentar ke bapak dan ibu, coba kita baca kembali Yeremia 31:7 Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel!

Menurut bapak dan ibu bangsa Israel saat ayat itu diperdengarkan kepada mereka oleh Yeremia waktu itu, bagaimana kondisi bangsa Israel? Sedang dalam kondisi bersukacita atau malah sedih? Dalam kondisi enak atau malah lagi gak enak?

Saya nebak kalau banyak di antara kita yang mengira bangsa Israel sedang dalam kondisi yang enak, baik, bergembira karena di ayat 7 itu dikatakan: "TUHAN telah menyelamatkan", padahal sebenarnya di saat ayat itu didengar oleh bangsa Israel, mereka masih berada dalam kondisi gak enak, yaitu: pembuangan di Babel. Tuhan memang pada akhirnya menyelamatkan Israel (setelah 70 tahun di pembuangan), tetapi saat ayat itu diperdengarkan kepada bangsa Israel, mereka masih berada dan bahkan baru saja mengalami kehancuran Yerusalem (pembuangan ke negeri asing: Babel dan Asyur).

Bayangkan ada satu orang yang lagi terpuruk (misalnya: baru diputusin pacar, baru diPHK) lalu ada yang ngomong:
- bersorak-sorailah
- bersukacitalah
- Tuhan telah berbuat baik

Pasti dia jadi kesel: "gak nyambung banget tu orang yang ngomong bersukacitalah".

Saya mau ambil satu pointer dari situ.
Seringkali apa yang tampak di depan mata kita, tentang kondisi kehidupan yang kita alami saat ini (waktu kita bergumul), tidak menggambarkan apa yang bisa kita terima di masa depan dari Tuhan.
- Hari ini saya diputusin, pasti besok kalau pacaran lagi kejadiannya begitu juga.
- Hari ini saya gagal, tahun depan pasti gagal juga.

atau bisa jadi begini:
- Orang yang tatoan pasti berandal. Padahal belum tentu.
- Orang yang jenggotan pasti bukan orang Kristen. Ini karena saya kemarin mau beli somay, eh ternyata kebetulan somaynya itu somay B2, sempet dilarang sama yang jual karena saya kan jenggotan. hehe.

Bagaimana cara seseorang bereaksi dan bersikap tentang hari ini - bahkan jikapun benar hari ini adalah hari yang buruk -, dalam bahasa tema kita "meskipun aku tersisih, tetapi aku dikasihi", akan menjadi langkah awal setiap orang untuk menemukan kebenaran akan janji Tuhan tentang apa yang bisa kita temukan di depan sana.

Yang terakhir, kenapa harus ada kalimat awal di tema kita hari ini ya: "yang tersisih"? Maksud saya kenapa temanya gak langsung saja: "yang dikasihi"?

Jawabannya: Karena memang di sepanjang perjalanan kehidupan kita, akan selalu ada orang yang seperti di Markus 10:48a itu. "Diam!, elu itu gak penting!"

Buat orang Israel, Bartimeus ini seperti orang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Gak bisa lari ke mana-mana lagi kalau sudah dikejar oleh pertanyaan orang Yahudi yang menyisihkan dirinya sebagai orang yang buta itu. "Heh, kamu buta karena dosa kan! Buktinya kamu dan bapak kamu sama sama buta."

Bartimeus dalam bahasa Ibrani-Aram artinya: anak (bar-) orang yang tidak suci (-tame). Beberapa penafsir menyebutkan bahwa kebutaan yang dialami oleh Bartimeus juga dialami oleh ayahnya sehingga bisa jadi namanya adalah sebutan ‘turun-temurun’: anak yang buta dari seorang ayah yang buta (lih. Pulpit Commentary). Dapatkah kita bayangkan soalan berat yang dihadapi olehnya? Secara ekonomi dia bergumul dengan kekurangan (hingga sampai mengemis), secara sosial-psikologis di cap sebagai orang berdosa, tidak suci (bnd. Yoh. 9:1-2).

Semoga kita tidak menjadi seseorang yang menyisihkan orang yang lain, seperti yang telah diteladankan oleh Yesus.

Di dalam iman kita bahkan kita ini adalah orang-orang yang tersisih semua karena dosa. Akan tetapi karena kita memiliki imam besar yang telah menunjukkan kasih besarNya kepada kita, maka kita dipulihkan kembali dan diselamatkannya. Yang tersisih, yang dikasihi.

Yeremia 31:7-9 | Yang Tersisih, Yang Dikasihi

yang tersisih, yang dikasihi
Perjanjian baru
31:7 Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel!
31:8 Sesungguhnya, Aku akan membawa mereka dari tanah utara dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; di antara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali ke mari!
31:9 Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku.
YANG TERSISIH, YANG DIKASIHI — Tema kita hari ini benar-benar mengena dengan kehidupan keseharian kita ya. Terutama kalimat yang pertama itu: "Yang Tersisih".

Kalau ditanya siapa yang punya pengalaman tersisih? Kita pasti semua acung tangan nih.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata tersisih sebagai: tersingkir, terasingkan, terpisah, terpinggirkan. Tersisih juga terjadi apabila mulai muncul perasaan merasa atau dianggap paling hina, paling gak tau apa-apa, paling ... (semua yang negatif).

Semua orang sangat mungkin untuk mudah merasakan diri sebagai "yang tersisih" dan jelas tidak semua orang bisa secepat itu untuk beralih pada kalimat selanjutnya di tema kita hari ini: "yang dikasihi".

Baca Juga: Daftar Isi Renungan berdasarkan Perikop Alkitab

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, ada beberapa bagian yang menjadi contoh konkret tentang bagaimana rasanya menjadi yang tersisih.

Saya mau cek dan ricek sebentar ke bapak dan ibu, coba kita baca kembali Yeremia 31:7 Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel!

Menurut bapak dan ibu bangsa Israel saat ayat itu diperdengarkan kepada mereka oleh Yeremia waktu itu, bagaimana kondisi bangsa Israel? Sedang dalam kondisi bersukacita atau malah sedih? Dalam kondisi enak atau malah lagi gak enak?

Saya nebak kalau banyak di antara kita yang mengira bangsa Israel sedang dalam kondisi yang enak, baik, bergembira karena di ayat 7 itu dikatakan: "TUHAN telah menyelamatkan", padahal sebenarnya di saat ayat itu didengar oleh bangsa Israel, mereka masih berada dalam kondisi gak enak, yaitu: pembuangan di Babel. Tuhan memang pada akhirnya menyelamatkan Israel (setelah 70 tahun di pembuangan), tetapi saat ayat itu diperdengarkan kepada bangsa Israel, mereka masih berada dan bahkan baru saja mengalami kehancuran Yerusalem (pembuangan ke negeri asing: Babel dan Asyur).

Bayangkan ada satu orang yang lagi terpuruk (misalnya: baru diputusin pacar, baru diPHK) lalu ada yang ngomong:
- bersorak-sorailah
- bersukacitalah
- Tuhan telah berbuat baik

Pasti dia jadi kesel: "gak nyambung banget tu orang yang ngomong bersukacitalah".

Saya mau ambil satu pointer dari situ.
Seringkali apa yang tampak di depan mata kita, tentang kondisi kehidupan yang kita alami saat ini (waktu kita bergumul), tidak menggambarkan apa yang bisa kita terima di masa depan dari Tuhan.
- Hari ini saya diputusin, pasti besok kalau pacaran lagi kejadiannya begitu juga.
- Hari ini saya gagal, tahun depan pasti gagal juga.

atau bisa jadi begini:
- Orang yang tatoan pasti berandal. Padahal belum tentu.
- Orang yang jenggotan pasti bukan orang Kristen. Ini karena saya kemarin mau beli somay, eh ternyata kebetulan somaynya itu somay B2, sempet dilarang sama yang jual karena saya kan jenggotan. hehe.

Bagaimana cara seseorang bereaksi dan bersikap tentang hari ini - bahkan jikapun benar hari ini adalah hari yang buruk -, dalam bahasa tema kita "meskipun aku tersisih, tetapi aku dikasihi", akan menjadi langkah awal setiap orang untuk menemukan kebenaran akan janji Tuhan tentang apa yang bisa kita temukan di depan sana.

Yang terakhir, kenapa harus ada kalimat awal di tema kita hari ini ya: "yang tersisih"? Maksud saya kenapa temanya gak langsung saja: "yang dikasihi"?

Jawabannya: Karena memang di sepanjang perjalanan kehidupan kita, akan selalu ada orang yang seperti di Markus 10:48a itu. "Diam!, elu itu gak penting!"

Buat orang Israel, Bartimeus ini seperti orang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Gak bisa lari ke mana-mana lagi kalau sudah dikejar oleh pertanyaan orang Yahudi yang menyisihkan dirinya sebagai orang yang buta itu. "Heh, kamu buta karena dosa kan! Buktinya kamu dan bapak kamu sama sama buta."

Bartimeus dalam bahasa Ibrani-Aram artinya: anak (bar-) orang yang tidak suci (-tame). Beberapa penafsir menyebutkan bahwa kebutaan yang dialami oleh Bartimeus juga dialami oleh ayahnya sehingga bisa jadi namanya adalah sebutan ‘turun-temurun’: anak yang buta dari seorang ayah yang buta (lih. Pulpit Commentary). Dapatkah kita bayangkan soalan berat yang dihadapi olehnya? Secara ekonomi dia bergumul dengan kekurangan (hingga sampai mengemis), secara sosial-psikologis di cap sebagai orang berdosa, tidak suci (bnd. Yoh. 9:1-2).

Semoga kita tidak menjadi seseorang yang menyisihkan orang yang lain, seperti yang telah diteladankan oleh Yesus.

Di dalam iman kita bahkan kita ini adalah orang-orang yang tersisih semua karena dosa. Akan tetapi karena kita memiliki imam besar yang telah menunjukkan kasih besarNya kepada kita, maka kita dipulihkan kembali dan diselamatkannya. Yang tersisih, yang dikasihi.

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER