Roma 12:1-8 | Jangkau Kaum Pria - Pdt. Gerry Atje
jangkau kaum pria
Persembahan yang benar
12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
12:4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,
12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.
12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;
12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
JANGKAU KAUM PRIA — Syalom bapak-bapak. Selamat datang di GKP jemaat Tangerang. Terimakasih untuk kehadirannya, ini menjadi penyemangat tersendiri bagi kami, kaum Pria di GKP Tangerang dan Pospel Curug, bisa berjumpa dengan saudara-saudara se-kaum pria di Klasis Jakarta.

Tema kita hari ini tentang menggapai pelayanan yang semakin berkualitas sebagai kaum pria yang berada di tengah persekutuan orang percaya.

Jujur, saya agak takut sebenarnya membahas tema kita ini. Karena biasanya kaum pria di jemaat-jemaat (baik komisi maupun para anggotanya) seringkali kelihatan "kalah semangat" dibandingkan dengan pelayanan kategorial lainnya, misalnya: pelayanan anak, lansia dan apalagi pelayanan kaum perempuan.

Kegiatan pelayanan kaum pria biasanya senasib dengan pemuda, timbul tenggelam. Mencari kebersamaan kaum pria di tengah jemaat sejumlah belasan orang kadang susahnya memang minta ampun.

Saya takut membahas tema ini membuat kita semua tertunduk lesu melihat keberadaan kaum pria di masing-masing jemaat yang jatuh bangun di situ.

Di tambah lagi bagian perikop kita hari ini. Coba kita baca ayat 3-8. Saya takut sewaktu kita membaca ayat 3-8, ada dua kelompok orang:
- Mereka yang tertunduk lesu karena gak tahu tentang apa yang menjadi karunia mereka.
- Mereka yang punya karunia tetapi tidak digunakan dan dikembangkan dalam pelayanan.

Bisa menyanyi tapi di gereja gak ada VG kaum pria. Atau biasanya karena sudah ada dalam satu pelayanan lainnya jadinya tidak ikut dalam pelayanan di kaum pria.

Ayat 3-8 kan berbicara tentang pelayanan yang seakan-akan tiap-tiap orang hanya memiliki satu karunia saja (yang digambarkan dengan satu tubuh, banyak anggota - ayat 4) untuk diberikan bagi Tuhan; Dan kita menjadi lupa bahwa rasul Paulus sudah terlebih dahulu menyebutkan sebelum ayat 3-8 tersebut agar kita membawa keseluruhan hidup kita (ayat 1, persembahkanlah tubuhmu) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja hari ini.

(1) Berbicara tentang kualitas, saya punya beberapa gambar.

melukis dengan kaki

bermain musik

dance

Jadi apa sebenarnya arti dari kata kualitas?
Kualitas tidak dimulai dengan kemampuan. Kualitas selalu dimulai dengan kemauan. Berati, kualitas selalu diukur dan dilihat hasilnya dari seberapa jauh kemauan seseorang.

Saya ambil contoh, kita mengerti tidak semua orang bisa berdoa di depan umum. Juga dipahami bilamana ada yang berkata: "Saya gak bisa jadi liturgos", misalnya.

Sebenarnya ini kan bukan perkara bisa atau tidak bisa. Akan tetapi perkara sejauh mana kita mau mencoba dan mempersiapkan diri.

Lebih baik orang yang gak bisa tapi mau berproses untuk belajar dari pada orang yang bisa tapi gak mau.

(2) Oleh karena itu sudah menjadi tugas bersama kita hari ini: mari terus menjangkau kaum pria untuk bersama-sama melayani dan berusaha untuk memberikan yang lebih baik lagi bagi Tuhan.

Ayat 3 berbicara tentang perubahan. Ada yang saya mau share sedikit tentang hal ini.

Dahulu, saya pernah berpikir begini: Kalau saya bisa dekat dengan anak-anak sekolah minggu, maka otomatis saya bisa juga mendekati baik bapak, ibu dan kakak-kakaknya. Sudah lengkap itu kan: Sekolah Minggu teraih, kaum bapak, kaum ibu dan pemudanya juga terjangkau.

Tetapi sekarang ini saya menyadari satu hal: Kalau mau perubahan besar terjadi dalam tempo yang lebih singkat lagi, harus dijangkau kaum pria di setiap keluarga.

Satu pria yang dijangkau dan menjadi bersemangat dalam pelayanan bagi Tuhan akan sangat berdampak besar bagi perubahan seisi keluarga.

Sharing: Bagaimana cara kaum pria masing-masing jemaat di Klasis Jakarta berusaha untuk terus menjangkau dan meraih kaum pria untuk ada dalam kebersamaan pelayanan jemaat?

Tuhan menolong kita senantiasa.

Roma 12:1-8 | Jangkau Kaum Pria

jangkau kaum pria
Persembahan yang benar
12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
12:4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,
12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.
12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;
12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
JANGKAU KAUM PRIA — Syalom bapak-bapak. Selamat datang di GKP jemaat Tangerang. Terimakasih untuk kehadirannya, ini menjadi penyemangat tersendiri bagi kami, kaum Pria di GKP Tangerang dan Pospel Curug, bisa berjumpa dengan saudara-saudara se-kaum pria di Klasis Jakarta.

Tema kita hari ini tentang menggapai pelayanan yang semakin berkualitas sebagai kaum pria yang berada di tengah persekutuan orang percaya.

Jujur, saya agak takut sebenarnya membahas tema kita ini. Karena biasanya kaum pria di jemaat-jemaat (baik komisi maupun para anggotanya) seringkali kelihatan "kalah semangat" dibandingkan dengan pelayanan kategorial lainnya, misalnya: pelayanan anak, lansia dan apalagi pelayanan kaum perempuan.

Kegiatan pelayanan kaum pria biasanya senasib dengan pemuda, timbul tenggelam. Mencari kebersamaan kaum pria di tengah jemaat sejumlah belasan orang kadang susahnya memang minta ampun.

Saya takut membahas tema ini membuat kita semua tertunduk lesu melihat keberadaan kaum pria di masing-masing jemaat yang jatuh bangun di situ.

Di tambah lagi bagian perikop kita hari ini. Coba kita baca ayat 3-8. Saya takut sewaktu kita membaca ayat 3-8, ada dua kelompok orang:
- Mereka yang tertunduk lesu karena gak tahu tentang apa yang menjadi karunia mereka.
- Mereka yang punya karunia tetapi tidak digunakan dan dikembangkan dalam pelayanan.

Bisa menyanyi tapi di gereja gak ada VG kaum pria. Atau biasanya karena sudah ada dalam satu pelayanan lainnya jadinya tidak ikut dalam pelayanan di kaum pria.

Ayat 3-8 kan berbicara tentang pelayanan yang seakan-akan tiap-tiap orang hanya memiliki satu karunia saja (yang digambarkan dengan satu tubuh, banyak anggota - ayat 4) untuk diberikan bagi Tuhan; Dan kita menjadi lupa bahwa rasul Paulus sudah terlebih dahulu menyebutkan sebelum ayat 3-8 tersebut agar kita membawa keseluruhan hidup kita (ayat 1, persembahkanlah tubuhmu) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja hari ini.

(1) Berbicara tentang kualitas, saya punya beberapa gambar.

melukis dengan kaki

bermain musik

dance

Jadi apa sebenarnya arti dari kata kualitas?
Kualitas tidak dimulai dengan kemampuan. Kualitas selalu dimulai dengan kemauan. Berati, kualitas selalu diukur dan dilihat hasilnya dari seberapa jauh kemauan seseorang.

Saya ambil contoh, kita mengerti tidak semua orang bisa berdoa di depan umum. Juga dipahami bilamana ada yang berkata: "Saya gak bisa jadi liturgos", misalnya.

Sebenarnya ini kan bukan perkara bisa atau tidak bisa. Akan tetapi perkara sejauh mana kita mau mencoba dan mempersiapkan diri.

Lebih baik orang yang gak bisa tapi mau berproses untuk belajar dari pada orang yang bisa tapi gak mau.

(2) Oleh karena itu sudah menjadi tugas bersama kita hari ini: mari terus menjangkau kaum pria untuk bersama-sama melayani dan berusaha untuk memberikan yang lebih baik lagi bagi Tuhan.

Ayat 3 berbicara tentang perubahan. Ada yang saya mau share sedikit tentang hal ini.

Dahulu, saya pernah berpikir begini: Kalau saya bisa dekat dengan anak-anak sekolah minggu, maka otomatis saya bisa juga mendekati baik bapak, ibu dan kakak-kakaknya. Sudah lengkap itu kan: Sekolah Minggu teraih, kaum bapak, kaum ibu dan pemudanya juga terjangkau.

Tetapi sekarang ini saya menyadari satu hal: Kalau mau perubahan besar terjadi dalam tempo yang lebih singkat lagi, harus dijangkau kaum pria di setiap keluarga.

Satu pria yang dijangkau dan menjadi bersemangat dalam pelayanan bagi Tuhan akan sangat berdampak besar bagi perubahan seisi keluarga.

Sharing: Bagaimana cara kaum pria masing-masing jemaat di Klasis Jakarta berusaha untuk terus menjangkau dan meraih kaum pria untuk ada dalam kebersamaan pelayanan jemaat?

Tuhan menolong kita senantiasa.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email