Markus 10:35-45 | Malu Bertanya, Sesat di Jalan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

malu bertanya sesat di jalan
Renungan Warta, 21 Oktober 2018

Sewaktu saya mempersiapkan bahan renungan kita hari ini, saya cukup lama memberikan perhatian pada ayat 41. Saya bertanya-tanya mengapa sepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes yang dengan berani mengajukan permohonan untuk bisa duduk dalam kemuliaan Yesus, yaitu di sebelah kanan dan kiri Yesus, kelak? Mungkinkah karena jauh di dalam hati mereka saat itu (kesepuluh murid yang marah tadi), mereka juga sebenarnya menginginkan hal yang sama (mendapatkan posisi terbaik dalam jajaran pengikut Yesus)?

Jika benar dugaan saya bahwa sejatinya kesepuluh murid lainnya menjadi marah karena mereka sebenarnya menginginkan hal yang sama tetapi mereka tidak seberani dua kawan mereka yang memertanyakan (atau bahkan meminta) hal itu kepada Yesus, maka dalam hal keberanian bertanya dan meminta, kita patut mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Yakobus dan Yohanes (ayat 35-37). Patut diapresiasi karena melalui “kesalahan pemahaman” kedua orang murid itu, kita semua (termasuk kesepuluh murid yang marah tadi seharusnya ya) menjadi tahu bahwa perkara mengikut Yesus bukanlah tentang perebutan posisi di hadapan Yesus.

Semakin dekat dengan Yesus atau semakin lama mengikut Yesus maka menghasilkan kuasa untuk memerintah mereka yang agak jauh dari Yesus dan masih baru mengikut Yesus. Bukan itu yang diperintahkan oleh Yesus. Justru ketika seseorang mengikut Dia, maka yang terjadi malah kebalikannya: semakin dekat, semakin lama mengikut Yesus seharusnya jiwa mau melayani orang lain menjadi semakin tertanam di hati.

Bagi kita hari ini, masalahnya bukan lagi “malu bertanya, sesat di jalan”, tetapi lebih kepada “malu membaca dan malu melakukan maka sesat di jalan”. Pengalaman kehidupan orang percaya seperti yang dituliskan di dalam Alkitab di masa lampau seharusnya membuat kehidupan kita sebagai “orang percaya yang kekinian” menjadi semakin mengerti tentang apa yang seharusnya kita perbuat bagi kemuliaan nama Tuhan. (GA)

Tuhan mempunyai tiga macam hamba di dunia ini. Beberapa adalah ‘budak’ – yang melayani Dia karena takut. Yang lain adalah ‘orang bayaran’ – yang melayani untuk upah. Yang terakhir adalah ‘anak-anak’ – yang melayani karena mereka mengasihi Dia. (Uskup Agung Secker)

Markus 10:35-45 | Malu Bertanya, Sesat di Jalan

malu bertanya sesat di jalan
Renungan Warta, 21 Oktober 2018

Sewaktu saya mempersiapkan bahan renungan kita hari ini, saya cukup lama memberikan perhatian pada ayat 41. Saya bertanya-tanya mengapa sepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes yang dengan berani mengajukan permohonan untuk bisa duduk dalam kemuliaan Yesus, yaitu di sebelah kanan dan kiri Yesus, kelak? Mungkinkah karena jauh di dalam hati mereka saat itu (kesepuluh murid yang marah tadi), mereka juga sebenarnya menginginkan hal yang sama (mendapatkan posisi terbaik dalam jajaran pengikut Yesus)?

Jika benar dugaan saya bahwa sejatinya kesepuluh murid lainnya menjadi marah karena mereka sebenarnya menginginkan hal yang sama tetapi mereka tidak seberani dua kawan mereka yang memertanyakan (atau bahkan meminta) hal itu kepada Yesus, maka dalam hal keberanian bertanya dan meminta, kita patut mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Yakobus dan Yohanes (ayat 35-37). Patut diapresiasi karena melalui “kesalahan pemahaman” kedua orang murid itu, kita semua (termasuk kesepuluh murid yang marah tadi seharusnya ya) menjadi tahu bahwa perkara mengikut Yesus bukanlah tentang perebutan posisi di hadapan Yesus.

Semakin dekat dengan Yesus atau semakin lama mengikut Yesus maka menghasilkan kuasa untuk memerintah mereka yang agak jauh dari Yesus dan masih baru mengikut Yesus. Bukan itu yang diperintahkan oleh Yesus. Justru ketika seseorang mengikut Dia, maka yang terjadi malah kebalikannya: semakin dekat, semakin lama mengikut Yesus seharusnya jiwa mau melayani orang lain menjadi semakin tertanam di hati.

Bagi kita hari ini, masalahnya bukan lagi “malu bertanya, sesat di jalan”, tetapi lebih kepada “malu membaca dan malu melakukan maka sesat di jalan”. Pengalaman kehidupan orang percaya seperti yang dituliskan di dalam Alkitab di masa lampau seharusnya membuat kehidupan kita sebagai “orang percaya yang kekinian” menjadi semakin mengerti tentang apa yang seharusnya kita perbuat bagi kemuliaan nama Tuhan. (GA)

Tuhan mempunyai tiga macam hamba di dunia ini. Beberapa adalah ‘budak’ – yang melayani Dia karena takut. Yang lain adalah ‘orang bayaran’ – yang melayani untuk upah. Yang terakhir adalah ‘anak-anak’ – yang melayani karena mereka mengasihi Dia. (Uskup Agung Secker)

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER