Markus 10:1-12 | Pada Mulanya Allah Menciptakan Pernikahan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

cincin pernikahan
Renungan Warta, Minggu 7 Oktober 2018

Lagi-lagi kita bertemu dengan orang-orang Farisi yang datang pada Yesus bermaksud untuk mencobai-Nya dengan bertanya: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" (ayat 2, bnd. Matius 19:3). Permasalahannya begini, jika Yesus menjawab: tidak boleh, maka para Farisi akan mengkontradiksikan ajaran Yesus dengan ajaran Musa (yang memperbolehkan perceraian di Ulangan 24:1-4) dan pengajaran para rabi Yahudi di zaman Yesus. Akan tetapi, jika Yesus menjawab boleh (seperti yang ada di Ulangan 24:1-4, tanpa pengetahuan akan latar belakang konteks Musa saat itu, ayat 5) maka para Farisi akan membenturkan Yesus dengan pengajaran para Rabi besar Israel saat itu yang memang terbagi dua: antara pengajaran Rabi Shammai (yang menafsirkan Ulangan 24:1-4 perceraian hanya dapat terjadi apabila terjadi perzinahan) dan Rabi Hillel (yang terpopuler di zaman Yesus yang menekankan perceraian dapat terjadi oleh kuasa suami dengan berbagai macam alasan –bnd. Matius 19:3, “... dengan alasan apa saja”–, termasuk di antaranya apabila istri tersebut kurang pandai memasak – Lih. Pulpit Commentary: Matius 19:3, Markus 10:3). Jadi ini memang situasi yang pelik.

Yesus mengetahui maksud jahat Farisi ini. Ia juga mengetahui bahwa Musa memperbolehkan perceraian di konteks zaman dahulu justru untuk melindungi hak dan martabat kaum wanita. Peraturan Musa ini bukan untuk mendorong atau memberi hak istimewa kepada orang Yahudi untuk menceraikan istrinya. Perceraian pada jaman nabi Musa diizinkan demi mentolerir suatu kesalahan karena kekerasan hati mereka. Maka perceraian tidak pernah sesuai dengan rencana awal Allah Bapa saat menciptakan laki-laki dan perempuan.

Kekristenan sebagai pengikut Kristus mendasarkan pandangan akan pernikahan pada apa yang menjadi pengajaran Yesus ini (ayat 6-12). Bahwa pada mulanya (ayat 6) pernikahan diciptakan oleh Allah diantara seorang Adam dan seorang Hawa (monogami, bukan poligami); Bahwa perceraian bukanlah kehendak Allah (ayat 9). Apa jadinya jika Adam dan Hawa ketika menghadapi pergumulan kala itu (Kejadian 3), lalu mereka bercerai? (GA)

Anda dapat menikah dengan orang yang tepat dan memperlakukannya dengan salah, dan ia menjadi pasangan yang salah. Atau, Anda dapat menikah dengan orang yang salah, dan memperlakukannya dengan benar, dan ia akan menjadi pasangan yang tepat. Yang lebih penting daripada menikah dengan orang yang tepat adalah menjadi orang (pasangan) yang tepat dan benar. - Zig Ziglar

Markus 10:1-12 | Pada Mulanya Allah Menciptakan Pernikahan

cincin pernikahan
Renungan Warta, Minggu 7 Oktober 2018

Lagi-lagi kita bertemu dengan orang-orang Farisi yang datang pada Yesus bermaksud untuk mencobai-Nya dengan bertanya: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" (ayat 2, bnd. Matius 19:3). Permasalahannya begini, jika Yesus menjawab: tidak boleh, maka para Farisi akan mengkontradiksikan ajaran Yesus dengan ajaran Musa (yang memperbolehkan perceraian di Ulangan 24:1-4) dan pengajaran para rabi Yahudi di zaman Yesus. Akan tetapi, jika Yesus menjawab boleh (seperti yang ada di Ulangan 24:1-4, tanpa pengetahuan akan latar belakang konteks Musa saat itu, ayat 5) maka para Farisi akan membenturkan Yesus dengan pengajaran para Rabi besar Israel saat itu yang memang terbagi dua: antara pengajaran Rabi Shammai (yang menafsirkan Ulangan 24:1-4 perceraian hanya dapat terjadi apabila terjadi perzinahan) dan Rabi Hillel (yang terpopuler di zaman Yesus yang menekankan perceraian dapat terjadi oleh kuasa suami dengan berbagai macam alasan –bnd. Matius 19:3, “... dengan alasan apa saja”–, termasuk di antaranya apabila istri tersebut kurang pandai memasak – Lih. Pulpit Commentary: Matius 19:3, Markus 10:3). Jadi ini memang situasi yang pelik.

Yesus mengetahui maksud jahat Farisi ini. Ia juga mengetahui bahwa Musa memperbolehkan perceraian di konteks zaman dahulu justru untuk melindungi hak dan martabat kaum wanita. Peraturan Musa ini bukan untuk mendorong atau memberi hak istimewa kepada orang Yahudi untuk menceraikan istrinya. Perceraian pada jaman nabi Musa diizinkan demi mentolerir suatu kesalahan karena kekerasan hati mereka. Maka perceraian tidak pernah sesuai dengan rencana awal Allah Bapa saat menciptakan laki-laki dan perempuan.

Kekristenan sebagai pengikut Kristus mendasarkan pandangan akan pernikahan pada apa yang menjadi pengajaran Yesus ini (ayat 6-12). Bahwa pada mulanya (ayat 6) pernikahan diciptakan oleh Allah diantara seorang Adam dan seorang Hawa (monogami, bukan poligami); Bahwa perceraian bukanlah kehendak Allah (ayat 9). Apa jadinya jika Adam dan Hawa ketika menghadapi pergumulan kala itu (Kejadian 3), lalu mereka bercerai? (GA)

Anda dapat menikah dengan orang yang tepat dan memperlakukannya dengan salah, dan ia menjadi pasangan yang salah. Atau, Anda dapat menikah dengan orang yang salah, dan memperlakukannya dengan benar, dan ia akan menjadi pasangan yang tepat. Yang lebih penting daripada menikah dengan orang yang tepat adalah menjadi orang (pasangan) yang tepat dan benar. - Zig Ziglar

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER