Lukas 17:20-36 | Ketinggalan Kereta - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

ketinggalan kereta
Renungan Warta, 28 Oktober 2018

Banyak orang yang mengantungkan kehidupan kesehariannya pada kereta. Bangun pagi, berangkat kerja dan begitu pula di sore harinya pulang kerja naik kereta. Begitu berharganya satuan waktu hingga menghitung detik bila perlu, dapat kita lihat saat seseorang mengejar jadwal kereta. Yah, memang akan datang kereta selanjutnya dalam beberapa menit ke depan, namun disitulah seseorang bisa mengetahui betapa berharganya satuan waktu detik karena ketinggalan satu detik artinya harus menunggu lagi puluhan menit berikutnya yang bisa jadi membuat dia terlambat masuk kantor.

Ada yang menarik dalam pembacaan Alkitab kita hari ini tentang bagaimana Tuhan Yesus menggambarkan bahwa kelak, ketika hari kedatangan Tuhan kembali tiba, ada keterangan: “yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (ayat 34-36). Ada yang ditinggalkan oleh Tuhan sementara yang lainnya diangkat kembali ke sorga bersama-sama Tuhan Yesus (lih. Yoh. 14:1-3).

Berbeda dengan orang-orang yang ketinggalan kereta karena terlambat datang ke stasiun, Yesus menggambarkan “kereta menuju surga” itulah yang datang menjemput ke stasiun bernama bumi, tempat di mana kita berada.

Ini masalah utamanya, dalam keseharian kita “mengejar kereta”, kita umumnya sudah mengetahui jadwal-jadwal keberangkatannya sehingga dapat semakin bergegas supaya tidak ketinggalan. Akan tetapi, berbicara tentang bilamana Tuhan datang menjemput kita kembali ke surga kelak ... kita sama sekali tidak tahu kapan waktunya “kereta itu datang menjemput”. Yang kita tahu hanyalah akan ada orang-orang yang ditinggalkan sedangkan yang lainnya lagi diangkut pulang ke surga.

Mempersiapkan diri supaya kita tidak ketinggalan kereta untuk berangkat kerja di pagi hari sudah kita temukan solusinya: jangan telat bangun pagi. Akan tetapi, berbicara tentang kesiapan kita dalam menyambut hari kedatangan Tuhan nanti adalah sesuatu yang sulit. Karena banyak orang menganggap bahwa kedatangan-Nya itu masih lama, sehingga merasa masih punya banyak waktu untuk berleha-leha menjawab semua tugas pengutusan kita dari Tuhan. (GA)

Nilai manusia: Bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Bukan apa yang dia peroleh, melainkan apa yang dia berikan. Bukan apa pangkatnya, tetapi apa yang telah diperbuatnya dengan tugas yang diberikan Allah kepadanya (Anonim)

Lukas 17:20-36 | Ketinggalan Kereta

ketinggalan kereta
Renungan Warta, 28 Oktober 2018

Banyak orang yang mengantungkan kehidupan kesehariannya pada kereta. Bangun pagi, berangkat kerja dan begitu pula di sore harinya pulang kerja naik kereta. Begitu berharganya satuan waktu hingga menghitung detik bila perlu, dapat kita lihat saat seseorang mengejar jadwal kereta. Yah, memang akan datang kereta selanjutnya dalam beberapa menit ke depan, namun disitulah seseorang bisa mengetahui betapa berharganya satuan waktu detik karena ketinggalan satu detik artinya harus menunggu lagi puluhan menit berikutnya yang bisa jadi membuat dia terlambat masuk kantor.

Ada yang menarik dalam pembacaan Alkitab kita hari ini tentang bagaimana Tuhan Yesus menggambarkan bahwa kelak, ketika hari kedatangan Tuhan kembali tiba, ada keterangan: “yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (ayat 34-36). Ada yang ditinggalkan oleh Tuhan sementara yang lainnya diangkat kembali ke sorga bersama-sama Tuhan Yesus (lih. Yoh. 14:1-3).

Berbeda dengan orang-orang yang ketinggalan kereta karena terlambat datang ke stasiun, Yesus menggambarkan “kereta menuju surga” itulah yang datang menjemput ke stasiun bernama bumi, tempat di mana kita berada.

Ini masalah utamanya, dalam keseharian kita “mengejar kereta”, kita umumnya sudah mengetahui jadwal-jadwal keberangkatannya sehingga dapat semakin bergegas supaya tidak ketinggalan. Akan tetapi, berbicara tentang bilamana Tuhan datang menjemput kita kembali ke surga kelak ... kita sama sekali tidak tahu kapan waktunya “kereta itu datang menjemput”. Yang kita tahu hanyalah akan ada orang-orang yang ditinggalkan sedangkan yang lainnya lagi diangkut pulang ke surga.

Mempersiapkan diri supaya kita tidak ketinggalan kereta untuk berangkat kerja di pagi hari sudah kita temukan solusinya: jangan telat bangun pagi. Akan tetapi, berbicara tentang kesiapan kita dalam menyambut hari kedatangan Tuhan nanti adalah sesuatu yang sulit. Karena banyak orang menganggap bahwa kedatangan-Nya itu masih lama, sehingga merasa masih punya banyak waktu untuk berleha-leha menjawab semua tugas pengutusan kita dari Tuhan. (GA)

Nilai manusia: Bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Bukan apa yang dia peroleh, melainkan apa yang dia berikan. Bukan apa pangkatnya, tetapi apa yang telah diperbuatnya dengan tugas yang diberikan Allah kepadanya (Anonim)

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER