Yakobus 2:1-13 | Only God Can Judge Me - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

menghakimi
Renungan Warta, 9 September 2018

Hanya Tuhan yang berhak menghakimiku. Idealnya memang begitukan. Menghakimi, KBBI mendefiniskan itu sebagai kata kerja, yang artinya berlaku sebagai hakim terhadap sesuatu. Akan tetapi dalam keseharian seringkali seseorang dihakimi oleh mereka yang jelas-jelas bukan hakim tapi berlaku bak seorang hakim bagi hidup orang lain.

Lebih ironis lagi seseorang dapat dihakimi (oleh seorang yang bukan hakim) dengan alasan-alasan yang kadang belum tentu pasti benar. Misalnya: Orang yang bertato itu pasti jahat. Kata siapa? Belum pernah saja bertemu dengan orang yang tatoan tapi baik hati kan. Maksud saya, apapun keadaan seseorang, jelas kita tidak layak untuk memberikan penghakiman atas apa yang ada dalam hidupnya atau bahkan lebih jauh lagi apa yang ada di dalam hatinya.

Jemaat yang dilayani oleh Yakobus mengalami pergumulan terkait perkara penghakiman itu. Jika kita membaca apa yang terjadi di ayat 1-3, kita bisa membayangkan bagaimana gereja menjadi seperti “stadion kecil” yang berkelas-kelas. Ada yang VVIP, VIP, kelas 1,2,3 dan kelas paling belakang yang berdiri atau duduk ngampar. Ukurannya dari ... pakaian yang dikenakan atau perhiasan yang dikenakan dan lain lain.

Jauh dilubuk hati yang paling dalam setiap kita ketika datang menghadap Tuhan (di gereja), hanya satu yang kita butuhkan, yaitu: kasih Tuhan yang merangkul, memulihkan dan memperbarui kehidupan kita. Dunia bisa saja memilah-milah kelas atau kelompok: si kaya dan si miskin (ayat 5). Namun Allah di dalam Kristus tahu apa yang menjadi kebutuhan utama dari semua orang: diraih, dipulihkan untuk diselamatkan.

Sudahkah kita di tempat dimana Tuhan telah manaruh kita untuk melayani-Nya, menjadi perpanjangan tanganNya dalam melaksanakan misiNya yang sebenar itu? (GA)

Orang berdosa masa kini adalah rasul dari hari esok.
Itulah mengapa, dengan melupakan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan saudara-saudara kita, marilah kita melihat ketidaksempurnaan kita, supaya kita sungguh-sungguh melupakan apa yang dilupakan oleh Tuhan; Dosa yang sungguh-sungguh disesali,yang dilupakan oleh Tuhan, kita tidak perlu lagi mengingatnya. (Meister Eckhart)

Yakobus 2:1-13 | Only God Can Judge Me

menghakimi
Renungan Warta, 9 September 2018

Hanya Tuhan yang berhak menghakimiku. Idealnya memang begitukan. Menghakimi, KBBI mendefiniskan itu sebagai kata kerja, yang artinya berlaku sebagai hakim terhadap sesuatu. Akan tetapi dalam keseharian seringkali seseorang dihakimi oleh mereka yang jelas-jelas bukan hakim tapi berlaku bak seorang hakim bagi hidup orang lain.

Lebih ironis lagi seseorang dapat dihakimi (oleh seorang yang bukan hakim) dengan alasan-alasan yang kadang belum tentu pasti benar. Misalnya: Orang yang bertato itu pasti jahat. Kata siapa? Belum pernah saja bertemu dengan orang yang tatoan tapi baik hati kan. Maksud saya, apapun keadaan seseorang, jelas kita tidak layak untuk memberikan penghakiman atas apa yang ada dalam hidupnya atau bahkan lebih jauh lagi apa yang ada di dalam hatinya.

Jemaat yang dilayani oleh Yakobus mengalami pergumulan terkait perkara penghakiman itu. Jika kita membaca apa yang terjadi di ayat 1-3, kita bisa membayangkan bagaimana gereja menjadi seperti “stadion kecil” yang berkelas-kelas. Ada yang VVIP, VIP, kelas 1,2,3 dan kelas paling belakang yang berdiri atau duduk ngampar. Ukurannya dari ... pakaian yang dikenakan atau perhiasan yang dikenakan dan lain lain.

Jauh dilubuk hati yang paling dalam setiap kita ketika datang menghadap Tuhan (di gereja), hanya satu yang kita butuhkan, yaitu: kasih Tuhan yang merangkul, memulihkan dan memperbarui kehidupan kita. Dunia bisa saja memilah-milah kelas atau kelompok: si kaya dan si miskin (ayat 5). Namun Allah di dalam Kristus tahu apa yang menjadi kebutuhan utama dari semua orang: diraih, dipulihkan untuk diselamatkan.

Sudahkah kita di tempat dimana Tuhan telah manaruh kita untuk melayani-Nya, menjadi perpanjangan tanganNya dalam melaksanakan misiNya yang sebenar itu? (GA)

Orang berdosa masa kini adalah rasul dari hari esok.
Itulah mengapa, dengan melupakan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan saudara-saudara kita, marilah kita melihat ketidaksempurnaan kita, supaya kita sungguh-sungguh melupakan apa yang dilupakan oleh Tuhan; Dosa yang sungguh-sungguh disesali,yang dilupakan oleh Tuhan, kita tidak perlu lagi mengingatnya. (Meister Eckhart)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER