Mazmur 19:1-15 | Keluarga yang Mendukung Pelayanan - Pdt. Gerry Atje
19:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (19-2) Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;
19:2 (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.
19:3 (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;
19:4 (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,
19:5 (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.
19:6 (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.
19:7 (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.
19:8 (19-9) Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.
19:9 (19-10) Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,
19:10 (19-11) lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
19:11 (19-12) Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.
19:12 (19-13) Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.
19:13 (19-14) Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.
19:14 (19-15) Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.
Syalom bapak dan ibu semua.
Tema kita hari ini aneh ya. Aneh karena memang semua keluarga seperti itu: mendukung pelayanan. Tidak bisa tidak, satu-satunya pilihan adalah memang mendukung pelayanan. Saya gak mau langsung nge-bom dengan kalimat “pelayanan adalah salah satu cara kita mengungkapkan syukur kita kepada Tuhan”, tapi coba kita yang ada di Tangerang mikir-mikir seperti ini …
Dibandingkan dengan saudara-saudari kita yang beragama Islam, yang sholatnya itu 5x sehari, kita jelas lebih fleksibel – cenderung lebih sedikit. Syukur-syukur kalau memang ada yang berdoa sama-sama keluarga lebih dari 5x sehari.

Dibandingkan dengan gereja-gereja yang kebaktian kategorialnya itu seminggu sekali, bukankah kita di sini sangat bernegosiasi dengan Tuhan: “Tuhan, bagaimana kalau dua minggu satu kali saja kebaktian kategorialnya?” Misalnya Tuhan bilang ke kita: “Ok, tapi harus rajin ya.” (Eh malah tetap juga susah datangnya, … misalnya begitu)

Dibandingkan dengan gereja-gereja yang ibadah Minggunya itu bisa 3 jam sendirian, kita di sini cuma paling lama berapa? 90 Menit …

Rapat. Nah ini dia kalau kita di komisi-komisi, panitia atau bahkan jadi anggota Majelis Jemaat … Rapat berapa lama? Pernah tau ada rapat mingguan MJ itu bias dari pulang gereja sampai malam hari? Di sini kita bersyukur karena kita rapat paling lama juga cuma 90 menit, biasanya juga selesai dalam waktu 60 menit kecuali sedang ada banyak yang dibahas …
Saya bukan bermaksud membanding-bandingkan untuk bagaimana gitu ya … tapi memang kita disini sebagai jemaat Tuhan di GKP Tangerang betul-betul enak dalam beberapa hal jika berkaca dari pengalaman saudara-saudari kita di jemaat lainnya seperti yang misalnya tadi saya sampaikan.

Karena udah enak, jadi seharusnya memang gak ada alasan lagi selain mendukung pelayanan … Menjadi keluarga yang mendukung pelayanan.

Di renungan warta saya sharing tentang kebiasaan yang mungkin menjadi pengalaman beberapa orang di luar sana … Betul gak nih zaman pacaran dulu masih sama seperti di masa sekarang yang udah berkeluarga? Masih tetap ngingetin sate? Saat teduh ya, bukan sate ayam kambing. Masih sering makan bareng berdoa bareng ke gereja bareng?

Sebetulnya mah untuk mengucap syukur atas kebaikan Tuhan, seseorang bisa inget sendiri kalau dia sedang …
- Melihat keindahan alam semesta (ayat 1-7). Malam hari, keluar dari rumah … nengok ke atas, bintang bertaburan di atas langit (masih kelihatan bintang banyak kan di rumah kita?)
- Sewaktu kita membaca Alkitab sendiri kita jadi tahu bahwa Tuhan senantiasa berkarya dalam perjalanan umat percaya dari zaman ke zaman (ayat 8-11).

Akan tetapi toh tetap saja yang namanya lupa karena setiap orang adalah orang yang super-sibuk, harus ada juga yang mengingatkan. Saling mengingatkan dan saling mendukung di dalam Tuhan (ayat 12-14, disinilah peran keluarga jika kita mau mengaitkan dengan perikop kita hari ini).

Di kebaktian keluarga minggu kemarin kita sudah membahas ini juga: lebih baik dibawelin daripada didiemin. Harusnya malah jadi takut kalau udah didiemin: gak pulang gak dicariin, gak kebaktian gak diingetin … Tandanya udah gak peduli lagi. Mau baik kek, mau ngaco kek … Bodo-amat, gak ada urusan lagi. Kalau udah begini malah jadi menyeramkan.

Saya mau menggambarkan sedikit saja.
Di rumah pasti kita punya lemari makan … Setiap diri kita bayangkan saja seperti memiliki sebuah lemari makan yang harus kita isi supaya gak kosong. Sewaktu kita melihat orang tua kita semangat dan setia beribadah, di situ kita mengisi lemari di dalam diri kita, menaruh datanya di lemari diri kita. Sewaktu kita di PHK, istri menyemangati dan berdoa sama-sama. Keisi lagi lemarinya.

Waktu di kemudian hari kita kembali dilanda kesulitan dan pergumulan yang berat, yang kita buka kali pertamanya ya lemari itu, isinya apa? Tadi kan di atas contoh isinya yang baik-baik. Coba kalau ternyata di isinya dengan yang gak ada manfaatnya sama sekali atau bahkan sewaktu kita buka lemari itu, malah kosong – gak ada isinya apa-apa …

Semoga doa Daud di ayat 15 adalah doa kita semua agar kita dijadikan oleh Tuhan sebagai perpanjangan tangan-Nya supaya setiap lemari yang berada di dalam diri setiap orang yang dalam kehidupan keseharian kita bisa berisi hal-hal yang bermanfaat dan memberi kekuatan kepada setiap orang terutama waktu pergumulan datang menghampiri.

Mazmur 19:1-15 | Keluarga yang Mendukung Pelayanan

19:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (19-2) Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;
19:2 (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.
19:3 (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;
19:4 (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,
19:5 (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.
19:6 (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.
19:7 (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.
19:8 (19-9) Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.
19:9 (19-10) Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,
19:10 (19-11) lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
19:11 (19-12) Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.
19:12 (19-13) Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.
19:13 (19-14) Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.
19:14 (19-15) Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.
Syalom bapak dan ibu semua.
Tema kita hari ini aneh ya. Aneh karena memang semua keluarga seperti itu: mendukung pelayanan. Tidak bisa tidak, satu-satunya pilihan adalah memang mendukung pelayanan. Saya gak mau langsung nge-bom dengan kalimat “pelayanan adalah salah satu cara kita mengungkapkan syukur kita kepada Tuhan”, tapi coba kita yang ada di Tangerang mikir-mikir seperti ini …
Dibandingkan dengan saudara-saudari kita yang beragama Islam, yang sholatnya itu 5x sehari, kita jelas lebih fleksibel – cenderung lebih sedikit. Syukur-syukur kalau memang ada yang berdoa sama-sama keluarga lebih dari 5x sehari.

Dibandingkan dengan gereja-gereja yang kebaktian kategorialnya itu seminggu sekali, bukankah kita di sini sangat bernegosiasi dengan Tuhan: “Tuhan, bagaimana kalau dua minggu satu kali saja kebaktian kategorialnya?” Misalnya Tuhan bilang ke kita: “Ok, tapi harus rajin ya.” (Eh malah tetap juga susah datangnya, … misalnya begitu)

Dibandingkan dengan gereja-gereja yang ibadah Minggunya itu bisa 3 jam sendirian, kita di sini cuma paling lama berapa? 90 Menit …

Rapat. Nah ini dia kalau kita di komisi-komisi, panitia atau bahkan jadi anggota Majelis Jemaat … Rapat berapa lama? Pernah tau ada rapat mingguan MJ itu bias dari pulang gereja sampai malam hari? Di sini kita bersyukur karena kita rapat paling lama juga cuma 90 menit, biasanya juga selesai dalam waktu 60 menit kecuali sedang ada banyak yang dibahas …
Saya bukan bermaksud membanding-bandingkan untuk bagaimana gitu ya … tapi memang kita disini sebagai jemaat Tuhan di GKP Tangerang betul-betul enak dalam beberapa hal jika berkaca dari pengalaman saudara-saudari kita di jemaat lainnya seperti yang misalnya tadi saya sampaikan.

Karena udah enak, jadi seharusnya memang gak ada alasan lagi selain mendukung pelayanan … Menjadi keluarga yang mendukung pelayanan.

Di renungan warta saya sharing tentang kebiasaan yang mungkin menjadi pengalaman beberapa orang di luar sana … Betul gak nih zaman pacaran dulu masih sama seperti di masa sekarang yang udah berkeluarga? Masih tetap ngingetin sate? Saat teduh ya, bukan sate ayam kambing. Masih sering makan bareng berdoa bareng ke gereja bareng?

Sebetulnya mah untuk mengucap syukur atas kebaikan Tuhan, seseorang bisa inget sendiri kalau dia sedang …
- Melihat keindahan alam semesta (ayat 1-7). Malam hari, keluar dari rumah … nengok ke atas, bintang bertaburan di atas langit (masih kelihatan bintang banyak kan di rumah kita?)
- Sewaktu kita membaca Alkitab sendiri kita jadi tahu bahwa Tuhan senantiasa berkarya dalam perjalanan umat percaya dari zaman ke zaman (ayat 8-11).

Akan tetapi toh tetap saja yang namanya lupa karena setiap orang adalah orang yang super-sibuk, harus ada juga yang mengingatkan. Saling mengingatkan dan saling mendukung di dalam Tuhan (ayat 12-14, disinilah peran keluarga jika kita mau mengaitkan dengan perikop kita hari ini).

Di kebaktian keluarga minggu kemarin kita sudah membahas ini juga: lebih baik dibawelin daripada didiemin. Harusnya malah jadi takut kalau udah didiemin: gak pulang gak dicariin, gak kebaktian gak diingetin … Tandanya udah gak peduli lagi. Mau baik kek, mau ngaco kek … Bodo-amat, gak ada urusan lagi. Kalau udah begini malah jadi menyeramkan.

Saya mau menggambarkan sedikit saja.
Di rumah pasti kita punya lemari makan … Setiap diri kita bayangkan saja seperti memiliki sebuah lemari makan yang harus kita isi supaya gak kosong. Sewaktu kita melihat orang tua kita semangat dan setia beribadah, di situ kita mengisi lemari di dalam diri kita, menaruh datanya di lemari diri kita. Sewaktu kita di PHK, istri menyemangati dan berdoa sama-sama. Keisi lagi lemarinya.

Waktu di kemudian hari kita kembali dilanda kesulitan dan pergumulan yang berat, yang kita buka kali pertamanya ya lemari itu, isinya apa? Tadi kan di atas contoh isinya yang baik-baik. Coba kalau ternyata di isinya dengan yang gak ada manfaatnya sama sekali atau bahkan sewaktu kita buka lemari itu, malah kosong – gak ada isinya apa-apa …

Semoga doa Daud di ayat 15 adalah doa kita semua agar kita dijadikan oleh Tuhan sebagai perpanjangan tangan-Nya supaya setiap lemari yang berada di dalam diri setiap orang yang dalam kehidupan keseharian kita bisa berisi hal-hal yang bermanfaat dan memberi kekuatan kepada setiap orang terutama waktu pergumulan datang menghampiri.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL