Markus 9:33-37 | Cari Apa dan Siapa di Gereja? - Pdt. Gerry Atje
gosip
Renungan Warta, 23 September 2018

Cari Tuhan dan hanya tentang mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya ketika kita ke gereja. Lagi-lagi seperti minggu yang lalu kita masih juga bisa mengatakan, “seharusnya memang begitukan”. Akan tetapi, dalam prakteknya seringkali banyak orang yang teralihkan pandangannya ketika mereka ada di gereja karena ... orang-orang yang ada di dalam gereja itu sendiri. Maksud hati berjumpa dengan Tuhan, tetapi di gereja juga seseorang bisa berjumpa dengan orang-orang yang ... misalkan saja, penggosip yang menyebalkan atau orang sombong yang angkuh (sekali lagi ini cuma misalnya aja lho). Dan tepat di saat itu terjadi, disitulah konflik mulai memercikkan apinya siap membakar seseorang dengan kemarahan.

Bacaan Alkitab kita hari ini mengisahkan tentang para murid yang mulai mempertengkarkan “siapa yang terbesar di antara mereka sebagai pengikut Kristus” (ayat 34). Padahal dalam perjalanan mereka sebagai murid-Nya kita tahu juga bahwa para murid di dalam narasi Injil-injil, kebanyakan gak ngertinya mereka (lihat misalnya di perikop sebelum perikop kita hari ini, Markus 9:32). Bersyukurnya adalah pertengkaran para murid meributkan soalan siapa yang terbesar di antara mereka berhasil diredam oleh Yesus di dalam perikop kita hari ini (ayat 35-37 – walaupun masih juga aroma yang sama muncul di Markus 10:35-45, yang lagi-lagi diredam kembali oleh Yesus).

Persoalannya, dalam konteks hari ini, siapa yang bisa meredam rasa dongkol seseorang jika sayangnya mereka bertemu dengan ... misalkan, penggosip yang menyebalkan atau orang sombong yang angkuh (sekali lagi ini cuma misalnya aja lho)? Andaikan dengan menjawab bahwa yang bisa meredam rasa dongkol itu adalah fokus kita kepada Tuhan saja, dan itu bisa menyelesaikan persoalan ... Jadilah orang yang mencari kedamaian di hati ketika datang kepada Sumber Damai yang Sejati itu. (GA)

Salah jika kita mengatakan orang tertentu ‘membuat kita marah’. Kita menjadi marah karena kita sudah memiliki kemarahan dalam diri kita dan kita mengizinkan seseorang untuk menariknya keluar. Tetapi tidak seorangpun yang dapat membuat kita marah. (Henry Brandt)

Markus 9:33-37 | Cari Apa dan Siapa di Gereja?

gosip
Renungan Warta, 23 September 2018

Cari Tuhan dan hanya tentang mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya ketika kita ke gereja. Lagi-lagi seperti minggu yang lalu kita masih juga bisa mengatakan, “seharusnya memang begitukan”. Akan tetapi, dalam prakteknya seringkali banyak orang yang teralihkan pandangannya ketika mereka ada di gereja karena ... orang-orang yang ada di dalam gereja itu sendiri. Maksud hati berjumpa dengan Tuhan, tetapi di gereja juga seseorang bisa berjumpa dengan orang-orang yang ... misalkan saja, penggosip yang menyebalkan atau orang sombong yang angkuh (sekali lagi ini cuma misalnya aja lho). Dan tepat di saat itu terjadi, disitulah konflik mulai memercikkan apinya siap membakar seseorang dengan kemarahan.

Bacaan Alkitab kita hari ini mengisahkan tentang para murid yang mulai mempertengkarkan “siapa yang terbesar di antara mereka sebagai pengikut Kristus” (ayat 34). Padahal dalam perjalanan mereka sebagai murid-Nya kita tahu juga bahwa para murid di dalam narasi Injil-injil, kebanyakan gak ngertinya mereka (lihat misalnya di perikop sebelum perikop kita hari ini, Markus 9:32). Bersyukurnya adalah pertengkaran para murid meributkan soalan siapa yang terbesar di antara mereka berhasil diredam oleh Yesus di dalam perikop kita hari ini (ayat 35-37 – walaupun masih juga aroma yang sama muncul di Markus 10:35-45, yang lagi-lagi diredam kembali oleh Yesus).

Persoalannya, dalam konteks hari ini, siapa yang bisa meredam rasa dongkol seseorang jika sayangnya mereka bertemu dengan ... misalkan, penggosip yang menyebalkan atau orang sombong yang angkuh (sekali lagi ini cuma misalnya aja lho)? Andaikan dengan menjawab bahwa yang bisa meredam rasa dongkol itu adalah fokus kita kepada Tuhan saja, dan itu bisa menyelesaikan persoalan ... Jadilah orang yang mencari kedamaian di hati ketika datang kepada Sumber Damai yang Sejati itu. (GA)

Salah jika kita mengatakan orang tertentu ‘membuat kita marah’. Kita menjadi marah karena kita sudah memiliki kemarahan dalam diri kita dan kita mengizinkan seseorang untuk menariknya keluar. Tetapi tidak seorangpun yang dapat membuat kita marah. (Henry Brandt)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email