Yosua 24:14-15 | Ibadah Masa Gitu - Pdt. Gerry Atje
Indahnya Perbedaan
Renungan Warta, 26 Agustus 2018

Tema sinodal kita hari ini sulit. Terlebih setelah baru-baru ini kita terkaget mendengar kejadian yang dialami oleh Meliana, Tanjung Balai. (Tema Sinodal) Betapa kita tidak bersyukur bertanah air Indonesia. Apa yang bisa kita syukuri melihat pengalaman pahit seperti kejadian yang menimpa ibu Meliana? Tujuh puluh tiga tahun merdeka, tetapi rasanya seperti masih dalam suasana perang kemerdekaan dengan musuh yang salah.

Sudah selayaknya kita semua memertanyakan apa arti dari ibadah kita sekarang ini. Ironisnya, seseorang bisa saja (katakanlah) beribadah yang tidak sesuai dengan “cara kita” tetapi mampu menunjukkan sikap hidup yang baik dan sayangnya bisa juga terjadi kebalikan dari itu; Seseorang beribadah dengan cara yang “benar menurut kita” tetapi hal itu tetap tidak menjaminnya untuk bersikap baik dalam kehidupan bersama.

Pada zaman Yosua, beribadah pada ilah-ilah bangsa lain sudah barang tentu menghasilkan cara kehidupan yang tidak berkenan di hadapan TUHAN, Allah Israel. Namun demikian, toh Israel tetap hidup berdampingan juga dengan bangsa Kanaan yang memang diperkenankan TUHAN untuk tetap ada di Negeri Perjanjian itu (Hakim-hakim 3:5).

Di zaman sekarang, nuansanya sedikit berbeda. Kita sudah terbiasa melihat “seorang Islam yang jauh lebih Kristiani daripada seorang Kristen” (atau bisa juga sebaliknya, “seorang Kristen yang jauh lebih islami daripada seorang Islam) jika dilihat dari kebaikan hati dalam sebuah kehidupan bersama.

Bukankah nilai-nilai moral adalah bahasa universal? Itu bukan bahasa agama, itu bahasa universal yang bisa digapai oleh seseorang yang bahkan mengaku mereka itu tidak beragama.

Jadi, kita yang katanya mengaku diri beragama apakah memang benar telah menata hidup kita sedemikian rupa sehingga tatanan kehidupan bersama kita menjadi betul-betul a-gama (dari bahasa Sansekerta, artinya tidak kacau)? (GA)

Pergi ke gereja tidak membuat Anda menjadi orang Kristen. Sama seperti masuk ke garasi tidak membuat Anda menjadi sebuah mobil. (Billy Sunday)

Yosua 24:14-15 | Ibadah Masa Gitu

Indahnya Perbedaan
Renungan Warta, 26 Agustus 2018

Tema sinodal kita hari ini sulit. Terlebih setelah baru-baru ini kita terkaget mendengar kejadian yang dialami oleh Meliana, Tanjung Balai. (Tema Sinodal) Betapa kita tidak bersyukur bertanah air Indonesia. Apa yang bisa kita syukuri melihat pengalaman pahit seperti kejadian yang menimpa ibu Meliana? Tujuh puluh tiga tahun merdeka, tetapi rasanya seperti masih dalam suasana perang kemerdekaan dengan musuh yang salah.

Sudah selayaknya kita semua memertanyakan apa arti dari ibadah kita sekarang ini. Ironisnya, seseorang bisa saja (katakanlah) beribadah yang tidak sesuai dengan “cara kita” tetapi mampu menunjukkan sikap hidup yang baik dan sayangnya bisa juga terjadi kebalikan dari itu; Seseorang beribadah dengan cara yang “benar menurut kita” tetapi hal itu tetap tidak menjaminnya untuk bersikap baik dalam kehidupan bersama.

Pada zaman Yosua, beribadah pada ilah-ilah bangsa lain sudah barang tentu menghasilkan cara kehidupan yang tidak berkenan di hadapan TUHAN, Allah Israel. Namun demikian, toh Israel tetap hidup berdampingan juga dengan bangsa Kanaan yang memang diperkenankan TUHAN untuk tetap ada di Negeri Perjanjian itu (Hakim-hakim 3:5).

Di zaman sekarang, nuansanya sedikit berbeda. Kita sudah terbiasa melihat “seorang Islam yang jauh lebih Kristiani daripada seorang Kristen” (atau bisa juga sebaliknya, “seorang Kristen yang jauh lebih islami daripada seorang Islam) jika dilihat dari kebaikan hati dalam sebuah kehidupan bersama.

Bukankah nilai-nilai moral adalah bahasa universal? Itu bukan bahasa agama, itu bahasa universal yang bisa digapai oleh seseorang yang bahkan mengaku mereka itu tidak beragama.

Jadi, kita yang katanya mengaku diri beragama apakah memang benar telah menata hidup kita sedemikian rupa sehingga tatanan kehidupan bersama kita menjadi betul-betul a-gama (dari bahasa Sansekerta, artinya tidak kacau)? (GA)

Pergi ke gereja tidak membuat Anda menjadi orang Kristen. Sama seperti masuk ke garasi tidak membuat Anda menjadi sebuah mobil. (Billy Sunday)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL