Galatia 5:1-15 | Merdeka Rasa Hamba - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Indonesia Merdeka
Syalom bapak dan ibu semua. Bagaimana dengan perayaan kemerdekaan hari ini? Selalu ya tiap tahun kita merayakan 17-an dan dengan semangat kita mengatakan: Merdeka! Tahun ini pun jika kita di sini diseru: Merdeka! Pasti kita jawab dengan bersemangat juga: Merdeka!

Saya mau mengajak kita untuk membayangkan apa rasanya menjadi orang-orang yang mungkin ketika diseru: Merdeka! ... mereka akan menjawab dengan tidak sesemangat kita. Saya mau menunjukkan beberapa gambar ...

harga bbm papua

arti kemerdekaan
Dan masih banyak hal lainnya yang lebih sedih lagi apabila kita tiap tahun mengingat bahwa semakin bertambah usia kemerdekaan negeri kita ini.

Dalam pembukaan UUD 45 bagian paling akhir, "... serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." Sudah terwujud? Belum.

Berbicara tentang kemerdekaan bangsa kita sebenarnya tak ubahnya berbicara tentang kemerdekaan kita sebagai orang percaya. Saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal saja hari ini.


Pertama, ayat 1. Sudah merdeka, tetapi rasa tetap hamba.

Sama seperti bangsa Indonesia sudah bebas merdeka dari penjajah, kita sebagai orang percaya pun sudah dimerdekakan oleh Kristus dari kuk perhambaan dosa.

Akan tetapi, toh tetap saja ada orang-orang yang hidup seperti yang terjadi di dalam perikop kita hari ini: ribut karena sunat, padahal sunat tidak menyelamatkan (ayat 4,6).

Ini mungkin sama seperti orang yang sedang berjalan sambil minggul pikulan yang berat ... lalu ada orang naik mobil pick-up, "Pak, sini ... naik mobil saja yuu di belakang." Kemudian naiklah orang itu ke belakang mobil. Pas jalan, supirnya nengok ke belakang, "Lha pak, kenapa masih minggul itu pikulan? Ya mbok ditaruh saja di bak mobilnya biar bapak bisa duduk manis aja." Bapak itupun jawab: "Gak ah mas, takut mobilnya jadi keberatan jalannya".

Yang terakhir, ayat 15. Saya takutnya apa yang leluhur kita musuhi di masa lalu, justru menjadi "sahabat" bangsa kita hari ini.

Jangan salah lho ya, dahulu Tuhan Yesus juga "menggigit dan membinasakan". Tetapi musuhnya itu iblis. Pahlawan pejuang kemerdekaan kita juga sama, "menggigit dan membinasakan". Tetapi musuhnya itu penjajahan, disintegrasi bangsa, dll yang membuat Indonesia tidak bersatu.

Lha sekarang ini, sedihlah kita kalau di antara kita sendiri saling gigit dan membinasakan apa yang dahulu sudah dimusnahkan oleh pejuang bangsa kita (dan apa yang telah dikalahkan oleh Tuhan Yesus).

Coba lihat kalau ada politikus kita di atas sana yang saling gigit, biasanyakan pada dinasehatin tuh: "Bapak-ibu ini kan negarawan, orang yang berjuang demi kebaikan bangsa. Legowo sajalah demi kepentingan bangsa."

Kita mungkin benar bukan negarawan, akan tetapi bukan berarti kita tidak bisa berjuang untuk mengisi kemerdekaan yang telah diberikan kepada kita hari ini dengan cuma-cuma itu.

Minimal berjuanglah semua cita-cita kemerdekaan yang sebenar itu betul-betul dinyatakan dalam kehidupan keluarga, lingkungan di sekitar kita dan bahkan dalam kehidupan beriman di tengah jemaat hari ini dan seterusnya.

Galatia 5:1-15 | Merdeka Rasa Hamba

Indonesia Merdeka
Syalom bapak dan ibu semua. Bagaimana dengan perayaan kemerdekaan hari ini? Selalu ya tiap tahun kita merayakan 17-an dan dengan semangat kita mengatakan: Merdeka! Tahun ini pun jika kita di sini diseru: Merdeka! Pasti kita jawab dengan bersemangat juga: Merdeka!

Saya mau mengajak kita untuk membayangkan apa rasanya menjadi orang-orang yang mungkin ketika diseru: Merdeka! ... mereka akan menjawab dengan tidak sesemangat kita. Saya mau menunjukkan beberapa gambar ...

harga bbm papua

arti kemerdekaan
Dan masih banyak hal lainnya yang lebih sedih lagi apabila kita tiap tahun mengingat bahwa semakin bertambah usia kemerdekaan negeri kita ini.

Dalam pembukaan UUD 45 bagian paling akhir, "... serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." Sudah terwujud? Belum.

Berbicara tentang kemerdekaan bangsa kita sebenarnya tak ubahnya berbicara tentang kemerdekaan kita sebagai orang percaya. Saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal saja hari ini.


Pertama, ayat 1. Sudah merdeka, tetapi rasa tetap hamba.

Sama seperti bangsa Indonesia sudah bebas merdeka dari penjajah, kita sebagai orang percaya pun sudah dimerdekakan oleh Kristus dari kuk perhambaan dosa.

Akan tetapi, toh tetap saja ada orang-orang yang hidup seperti yang terjadi di dalam perikop kita hari ini: ribut karena sunat, padahal sunat tidak menyelamatkan (ayat 4,6).

Ini mungkin sama seperti orang yang sedang berjalan sambil minggul pikulan yang berat ... lalu ada orang naik mobil pick-up, "Pak, sini ... naik mobil saja yuu di belakang." Kemudian naiklah orang itu ke belakang mobil. Pas jalan, supirnya nengok ke belakang, "Lha pak, kenapa masih minggul itu pikulan? Ya mbok ditaruh saja di bak mobilnya biar bapak bisa duduk manis aja." Bapak itupun jawab: "Gak ah mas, takut mobilnya jadi keberatan jalannya".

Yang terakhir, ayat 15. Saya takutnya apa yang leluhur kita musuhi di masa lalu, justru menjadi "sahabat" bangsa kita hari ini.

Jangan salah lho ya, dahulu Tuhan Yesus juga "menggigit dan membinasakan". Tetapi musuhnya itu iblis. Pahlawan pejuang kemerdekaan kita juga sama, "menggigit dan membinasakan". Tetapi musuhnya itu penjajahan, disintegrasi bangsa, dll yang membuat Indonesia tidak bersatu.

Lha sekarang ini, sedihlah kita kalau di antara kita sendiri saling gigit dan membinasakan apa yang dahulu sudah dimusnahkan oleh pejuang bangsa kita (dan apa yang telah dikalahkan oleh Tuhan Yesus).

Coba lihat kalau ada politikus kita di atas sana yang saling gigit, biasanyakan pada dinasehatin tuh: "Bapak-ibu ini kan negarawan, orang yang berjuang demi kebaikan bangsa. Legowo sajalah demi kepentingan bangsa."

Kita mungkin benar bukan negarawan, akan tetapi bukan berarti kita tidak bisa berjuang untuk mengisi kemerdekaan yang telah diberikan kepada kita hari ini dengan cuma-cuma itu.

Minimal berjuanglah semua cita-cita kemerdekaan yang sebenar itu betul-betul dinyatakan dalam kehidupan keluarga, lingkungan di sekitar kita dan bahkan dalam kehidupan beriman di tengah jemaat hari ini dan seterusnya.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER