Matius 25:14-30 | Malas Merugi - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

pergumulan
Syalom bapa ibu semua, apa kabar?
Dingin sekali di Bandung malam tadi ... 18 derajat Celcius. Saya tadi malam berangkat dari Tangerang, cukup macet di jalan sampe-sampe nyampenya itu baru jam 3 pagi tadi. Turun bis lalu naik angkot dan angkotnya mogok ... nyambung naik becak sambil menggigil.

Hari ini kita mau merenungkan satu bagian Alkitab yang sudah cukup populer, siapa yang gak tau kisah tentang perumpamaan talenta ini? Kita semua tau. - Ada tiga orang hamba, tuannya mau pergi ke luar negeri lalu ngasih 5, 2, 1 talenta kepada tiga orang hambanya itu, yang 5 jadi 10, yang 2 jadi 4 dan yang 1 tetap jadi 1 karena ... ditimbun dalam tanah.

Bahkan kita tidak asing lagi dengan istilah talenta. Kalo zaman sekarang artinya jadi mengerucut pada "kemampuan, bakat ..." Kalo arti harafiahnya sebenarnya talenta itu adalah ukuran timbangan seberat 34 kg atau jumlah uang yang sangat besar: 1 talenta = 6000 dinar, satu dinar adalah upah satu hari kerja. Coba saja kalikan 100 ribu supaya kita dapat gambaran UMRnya - 1 talenta = 6000 dinar = Rp. 600.000.000,- (untuk satu talentanya).

Betulkan hampir setiap kita tahu jalan ceritanya bahkan artinya juga kita tahu. Nah, kalo begitu renungan kita akan jadi sangat singkat - bisa langsung kita aminkan saja di sini kan karena kita semua sudah paham - (hehe becanda).

Saya mau mengajak kita untuk mendasarkan diri pada satu hal ini: Pasti banyak di antara kita yang mengambil asumsi termudah bahwa yang namanya 5 jadi 10 dan 2 jadi 4 itu adalah sesuatu yang langsung "brek" jadi gitu, langsung untung. Padahal kita semua tahu juga bahwa hampir tidak ada yang namanya keberhasilan tanpa melewati jalan merugi.

Maksud saya, di Alkitab kita yang 5 jadi 10, 2 jadi 4 itu seakan-akan langsung untung terus: 5 jadi 6 lalu jadi 7 dan sampai 10.

Saya mau melakukan pengandaian yang agak dramatis.
Bagaimana kalo kita menyamakan terlebih dahulu semua hamba itu ke titik sama-sama tinggal 1 talenta.

Yang mendapatkan 5 talenta, dia berusaha tapi mengalami kerugian hingga turun jadi 4 ... dan terus merugi hingga tinggal 1 talenta. Yang mendapatkan 2 talenta juga sama, dia berusaha tapi mengalami kerugian hingga tinggal 1 talenta. Hamba yang terakhir yang mendapatkan 1 talenta masih tetap 1 talenta. (Sekarang tiga orang hamba itu masing-masing telah memiliki modal yang sama: satu talenta. Perbedaannya, hamba yang pertama dan kedua sudah mengalami kerugian karena usaha mereka yang gagal).


Jika pengandaian kita betul-betul terjadi dalam perjalan hidup mereka, maka kita bisa menyadari bahwa masalah utamanya bukan terletak pada "modal awal" yang diterima (karena setiap orang pasti memiliki "talenta" dalam kehidupan mereka).

Dalam perikop kita hari ini, yang lima talenta itu bisa saja merugi hingga turun menjadi satu talenta (misalnya) lalu tidak berbuat apa-apa lagi. Atau, dia terus berjuang hingga walaupun di awalnya mengalami kerugian, namun penolakannya untuk berhenti bergerak (sebut saja menolak menjadi malas karena merugi) membawa dia meraih keuntungan di kemudian hari. Kadang, merugi di awal memang harga yang harus dibayar guna "membeli" pengalaman yang membuat seseorang lebih memahami situasi. Terpenting di sini berarti apa yang seorang lakukan saat dia mengalami kerugian? Menjadi malas atau tetap memiliki sikap pantang menyerah untuk melanjutkan perjuangannya menuju sukses?

Saya mau ambil contoh konkret saja, pak bu ...

(1) Ada gak yang dulu waktu PDKT (pendekatan), ditolak berkali-kali? Tapi tetep keukeuh berusaha sampai akhirnya eh nikah juga dengan orang yang pernah menolak. Jadi malas gak sewaktu ditolak pertama kali? Lha, kalo malas mah gak bakal nikah-nikah atuh ya.

Saya suka satu kutipan, ini saya baca di bukunya Anthony Robbins, Unlimited Power, hlm. 217. "Manusia itu bukannya malas. Hanya saja, sasaran-sasaran mereka itu tidak berkuasa, yaitu sasaran mereka tidak menginspirasikan mereka."

(2) Mengacu pada tema (Sinodal) kita hari ini, malas berarti menyia-nyiakan kepercayaan dari Tuhan ... Yang saya takutkan adalah banyak orang yang persis seperti hamba yang diberi satu talenta itu. Padahal yang satu talenta itu bisa juga lho untung 10, kalo dia mau bekerja keras.

Saya mau cerita,
Dari dulu saya itu ngiri kalo melihat ada pemuda-pemudi atau bapak dan ibu yang terjun dalam pelayanan di sana-sini, jadi ketua ini dan itu, pengurus ini dan itu ... Saya? Gak pernah. (Pernah sih jadi pengurus, tapi bukan jadi ketuanya juga ...)

Saya ingat dulu waktu SMA, jadi liturgos saja saya itu groginya luar biasa (mata kedap-kedip karena grogi, mulut bergetar dan menyebabkan keringat keluar dengan deras. Serius ini begitu). Makanya saya kadang bingung juga kenapa sekarang bisa jadi pendeta gini ya ...

Saya takutnya, banyak orang pun sama. Mengalami banyak hal pengalaman merugi lalu berujung pada malas melanjutkan.

Menjadi anggota Majelis Jemaat baru, eh pas baca warta malah keseleo lidah ... akhirnya jadi malas. Menjadi pengurus, eh maksudnya mau jadi liturgos tapi malah salah nyanyi: KJ 144b dikiranya nyanyi "Suara Yesus kudengar" yang KJ 33 (ini beneran pernah terjadi lho).

Maksud saya, memang seringkali merugi di awal itu adalah benar-benar sesuatu yang tidak bisa kita elakkan, itu harga yang harus dibayar untuk membeli pengalaman.

Mengacu pada jalan hidup ketiga hamba dalam perikop kita hari ini, kehidupan jemaat dan kehidupan kita diwakili oleh semangat yang mana nih? Semangat hamba yang diberi 5 dan 2 talenta itu atau hamba yang diberi 1 talenta yang memilih untuk "takut, malas merugi" hingga tidak mau (lagi) berbuat apa-apa? Ingat, "modal awal" sama sekali tidak menentukan hasil akhirnya. Hanya semangat yang tidak pernah padam yang menentukan hasil akhir.

Matius 25:14-30 | Malas Merugi

pergumulan
Syalom bapa ibu semua, apa kabar?
Dingin sekali di Bandung malam tadi ... 18 derajat Celcius. Saya tadi malam berangkat dari Tangerang, cukup macet di jalan sampe-sampe nyampenya itu baru jam 3 pagi tadi. Turun bis lalu naik angkot dan angkotnya mogok ... nyambung naik becak sambil menggigil.

Hari ini kita mau merenungkan satu bagian Alkitab yang sudah cukup populer, siapa yang gak tau kisah tentang perumpamaan talenta ini? Kita semua tau. - Ada tiga orang hamba, tuannya mau pergi ke luar negeri lalu ngasih 5, 2, 1 talenta kepada tiga orang hambanya itu, yang 5 jadi 10, yang 2 jadi 4 dan yang 1 tetap jadi 1 karena ... ditimbun dalam tanah.

Bahkan kita tidak asing lagi dengan istilah talenta. Kalo zaman sekarang artinya jadi mengerucut pada "kemampuan, bakat ..." Kalo arti harafiahnya sebenarnya talenta itu adalah ukuran timbangan seberat 34 kg atau jumlah uang yang sangat besar: 1 talenta = 6000 dinar, satu dinar adalah upah satu hari kerja. Coba saja kalikan 100 ribu supaya kita dapat gambaran UMRnya - 1 talenta = 6000 dinar = Rp. 600.000.000,- (untuk satu talentanya).

Betulkan hampir setiap kita tahu jalan ceritanya bahkan artinya juga kita tahu. Nah, kalo begitu renungan kita akan jadi sangat singkat - bisa langsung kita aminkan saja di sini kan karena kita semua sudah paham - (hehe becanda).

Saya mau mengajak kita untuk mendasarkan diri pada satu hal ini: Pasti banyak di antara kita yang mengambil asumsi termudah bahwa yang namanya 5 jadi 10 dan 2 jadi 4 itu adalah sesuatu yang langsung "brek" jadi gitu, langsung untung. Padahal kita semua tahu juga bahwa hampir tidak ada yang namanya keberhasilan tanpa melewati jalan merugi.

Maksud saya, di Alkitab kita yang 5 jadi 10, 2 jadi 4 itu seakan-akan langsung untung terus: 5 jadi 6 lalu jadi 7 dan sampai 10.

Saya mau melakukan pengandaian yang agak dramatis.
Bagaimana kalo kita menyamakan terlebih dahulu semua hamba itu ke titik sama-sama tinggal 1 talenta.

Yang mendapatkan 5 talenta, dia berusaha tapi mengalami kerugian hingga turun jadi 4 ... dan terus merugi hingga tinggal 1 talenta. Yang mendapatkan 2 talenta juga sama, dia berusaha tapi mengalami kerugian hingga tinggal 1 talenta. Hamba yang terakhir yang mendapatkan 1 talenta masih tetap 1 talenta. (Sekarang tiga orang hamba itu masing-masing telah memiliki modal yang sama: satu talenta. Perbedaannya, hamba yang pertama dan kedua sudah mengalami kerugian karena usaha mereka yang gagal).


Jika pengandaian kita betul-betul terjadi dalam perjalan hidup mereka, maka kita bisa menyadari bahwa masalah utamanya bukan terletak pada "modal awal" yang diterima (karena setiap orang pasti memiliki "talenta" dalam kehidupan mereka).

Dalam perikop kita hari ini, yang lima talenta itu bisa saja merugi hingga turun menjadi satu talenta (misalnya) lalu tidak berbuat apa-apa lagi. Atau, dia terus berjuang hingga walaupun di awalnya mengalami kerugian, namun penolakannya untuk berhenti bergerak (sebut saja menolak menjadi malas karena merugi) membawa dia meraih keuntungan di kemudian hari. Kadang, merugi di awal memang harga yang harus dibayar guna "membeli" pengalaman yang membuat seseorang lebih memahami situasi. Terpenting di sini berarti apa yang seorang lakukan saat dia mengalami kerugian? Menjadi malas atau tetap memiliki sikap pantang menyerah untuk melanjutkan perjuangannya menuju sukses?

Saya mau ambil contoh konkret saja, pak bu ...

(1) Ada gak yang dulu waktu PDKT (pendekatan), ditolak berkali-kali? Tapi tetep keukeuh berusaha sampai akhirnya eh nikah juga dengan orang yang pernah menolak. Jadi malas gak sewaktu ditolak pertama kali? Lha, kalo malas mah gak bakal nikah-nikah atuh ya.

Saya suka satu kutipan, ini saya baca di bukunya Anthony Robbins, Unlimited Power, hlm. 217. "Manusia itu bukannya malas. Hanya saja, sasaran-sasaran mereka itu tidak berkuasa, yaitu sasaran mereka tidak menginspirasikan mereka."

(2) Mengacu pada tema (Sinodal) kita hari ini, malas berarti menyia-nyiakan kepercayaan dari Tuhan ... Yang saya takutkan adalah banyak orang yang persis seperti hamba yang diberi satu talenta itu. Padahal yang satu talenta itu bisa juga lho untung 10, kalo dia mau bekerja keras.

Saya mau cerita,
Dari dulu saya itu ngiri kalo melihat ada pemuda-pemudi atau bapak dan ibu yang terjun dalam pelayanan di sana-sini, jadi ketua ini dan itu, pengurus ini dan itu ... Saya? Gak pernah. (Pernah sih jadi pengurus, tapi bukan jadi ketuanya juga ...)

Saya ingat dulu waktu SMA, jadi liturgos saja saya itu groginya luar biasa (mata kedap-kedip karena grogi, mulut bergetar dan menyebabkan keringat keluar dengan deras. Serius ini begitu). Makanya saya kadang bingung juga kenapa sekarang bisa jadi pendeta gini ya ...

Saya takutnya, banyak orang pun sama. Mengalami banyak hal pengalaman merugi lalu berujung pada malas melanjutkan.

Menjadi anggota Majelis Jemaat baru, eh pas baca warta malah keseleo lidah ... akhirnya jadi malas. Menjadi pengurus, eh maksudnya mau jadi liturgos tapi malah salah nyanyi: KJ 144b dikiranya nyanyi "Suara Yesus kudengar" yang KJ 33 (ini beneran pernah terjadi lho).

Maksud saya, memang seringkali merugi di awal itu adalah benar-benar sesuatu yang tidak bisa kita elakkan, itu harga yang harus dibayar untuk membeli pengalaman.

Mengacu pada jalan hidup ketiga hamba dalam perikop kita hari ini, kehidupan jemaat dan kehidupan kita diwakili oleh semangat yang mana nih? Semangat hamba yang diberi 5 dan 2 talenta itu atau hamba yang diberi 1 talenta yang memilih untuk "takut, malas merugi" hingga tidak mau (lagi) berbuat apa-apa? Ingat, "modal awal" sama sekali tidak menentukan hasil akhirnya. Hanya semangat yang tidak pernah padam yang menentukan hasil akhir.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER