Filipi 2:25-30 | Maafkan Aku Tuhan Karena ... - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Berdoa di Gereja
Syalom bapak dan ibu semua. Apa kabar? Sebelum membahas renungan kita hari ini, saya mau menyampaikan ucapan terima kasih kepada jemaat Cibubur karena jemaat Cibubur adalah salah satu jemaat GKP yang hadir di pernikahan saya (di Menden, Blora - Jawa Tengah) pada 7 Juli 2018. Itu saya terkejut luar biasa karena tempatnya di Menden itu jauh sekali ... Jadi, terima kasih banyak untuk perhatian jemaat Cibubur kepada kami sekeluarga.

Mengawali renungan kita hari ini, saya mau menunjukkan beberapa gambar.

Bertaruh Nyawa ke Sekolah

melayani mempertaruhkan jiwa

Saya menunjukkan dua gambar tadi karena di zaman sekarang ternyata masih banyak lho orang-orang yang mengalami perjuangan bertaruh nyawa seperti itu - dan kita semua terenyuh melihat hal-hal seperti itu -

Dari situ kemudian saya beralih pada mencari referensi yang konkret di tengah kehidupan jemaat ( di Tangerang) - ini sekalian aja bapak dan ibu di Cibubur boleh cek ke dalam kehidupan jemaat kita di sini juga - Ada gak pelayanan di tengah jemaat kita hari ini (di Tangerang dan di Cibubur) yang sampai sebegitunya? Sampai mempertaruhkan jiwa, nyawa ... Saya cari-cari terus tapi ndak ketemu yang namanya melayani hingga mempertaruhkan nyawa itu.

Yang saya temukan justru kejujuran bahwa jangankan sampai mempertaruhkan nyawa, jiwa, bahkan untuk sampai pada "melayani dengan sekuat tenagaku" saja ini cuma berarti "melayani dengan sisa tenagaku yang ada". Sayangnya, tenaganya sudah gak ada lagi karena sudah habis kecapean duluan dengan semua aktivitas keseharian kita.

Jadi, siapa yang melayani hingga mempertaruhkan jiwa sekarang ini? Kalau di luar mah mungkin ada ya, yang sampai seharafiah itu, contohnya: misionaris yang datang ke daerah pedalaman. Lha kita? Kalau di zaman baheula (dahulu), zaman orang tua kita, juga banyak yang melayani hingga mempertaruhkan jiwa. Sebut saja pengalaman akan peristiwa gedoran ...

Kenyataannya, jika kita merujuk pada masa lampau, banyak sekali orang yang melayani hingga mempertaruhkan jiwa mereka. Apalagi jika kita merujuk pada zaman gereja mula-mula, saya ingat satu kutipan (tapi saya lupa siapa yang ngomong begini) "Darah para syuhada Kristen (martir, orang yang mati karena mempertahankan iman di dalam Kristus) adalah fondasi - tiang gereja".

Salah satunya adalah dia yang ada dalam perikop kita hari ini: Epafroditus. Dari arti namanya, kata yunani: epi - Aphrodite (kesayangan dewi Aprodit), sudah jelas Epafroditus ini adalah kaum pagan penyembah berhala yang kemudian beralih pada Jalan Tuhan.

Saya cukup yakin sebelum hari ini kita gak terlalu kenal dengan yang namanya Epafroditus ini. Namanya hanya disebut 2 kali di dalam Alkitab (Filipi 2:25, 4:18). Akan tetapi itu tak mengapa karena meski kita gak tahu banyak tentang Epafroditus, Filipi 2:30 sudah menggambarkan segalanya tentang dia.

Filipi 2:30 - Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.


Dalam bahan DPA GKP (dan saya cek juga dari tafsirnya kembali) disebutkan bahwa kata Yunani yang digunakan dalam kalimat "mempertaruhkan jiwa - Yunani: paraboleulamenos te psyche" adalah kata yang biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang berjudi dan mempertaruhkan segalanya tanpa berpikir panjang. Artinya ini menggambarkan keberanian seseorang untuk mengambil resiko tersebar, yaitu: kehilangan nyawanya.

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan satu hal ini saja: Saat kita melayani (di keluarga, di tempat kerja atau bahkan di gereja) pasti ada kalanya kita merasa bener-bener sumpek-lelah-eneg ... Apalagi saaat kita tengok kanan-kiri kita, makin nambah gak semangat ... Misalnya: Pas Kebaktian Keluarga, kita sebagai tuan dan nyonya rumah sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut yang hadir nanti, eh yang hadir malah cuma 3 orang (padahal kita siap untuk seluruh anggota jemaat di sektor kita - 30 orang) ... Lha ini pada ke mana ya orang-orangnya? Atau saat kita pelayanan sedang semangat tingkat tinggi, lalu kita tengok kanan kiri ... kok cuma bertiga aja ya kita di sini? (Padahal harusnya ber-tiga puluh).

Saat semangat berada dititik akut untuk merasa lelah-sumpek-eneg dan semua hal yang semakin membuat semangat kita menurun ... Semoga kita mengingat tentang dia, Epafroditus, dan berkata: "Tuhan, apa yang sedang kulakukan bagiMu sekarang ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan dia ... Maafkan aku Tuhan karena aku masih ngasih pelayanan ke Tuhan cuma recehan aja."

Filipi 2:25-30 | Maafkan Aku Tuhan Karena ...

Berdoa di Gereja
Syalom bapak dan ibu semua. Apa kabar? Sebelum membahas renungan kita hari ini, saya mau menyampaikan ucapan terima kasih kepada jemaat Cibubur karena jemaat Cibubur adalah salah satu jemaat GKP yang hadir di pernikahan saya (di Menden, Blora - Jawa Tengah) pada 7 Juli 2018. Itu saya terkejut luar biasa karena tempatnya di Menden itu jauh sekali ... Jadi, terima kasih banyak untuk perhatian jemaat Cibubur kepada kami sekeluarga.

Mengawali renungan kita hari ini, saya mau menunjukkan beberapa gambar.

Bertaruh Nyawa ke Sekolah

melayani mempertaruhkan jiwa

Saya menunjukkan dua gambar tadi karena di zaman sekarang ternyata masih banyak lho orang-orang yang mengalami perjuangan bertaruh nyawa seperti itu - dan kita semua terenyuh melihat hal-hal seperti itu -

Dari situ kemudian saya beralih pada mencari referensi yang konkret di tengah kehidupan jemaat ( di Tangerang) - ini sekalian aja bapak dan ibu di Cibubur boleh cek ke dalam kehidupan jemaat kita di sini juga - Ada gak pelayanan di tengah jemaat kita hari ini (di Tangerang dan di Cibubur) yang sampai sebegitunya? Sampai mempertaruhkan jiwa, nyawa ... Saya cari-cari terus tapi ndak ketemu yang namanya melayani hingga mempertaruhkan nyawa itu.

Yang saya temukan justru kejujuran bahwa jangankan sampai mempertaruhkan nyawa, jiwa, bahkan untuk sampai pada "melayani dengan sekuat tenagaku" saja ini cuma berarti "melayani dengan sisa tenagaku yang ada". Sayangnya, tenaganya sudah gak ada lagi karena sudah habis kecapean duluan dengan semua aktivitas keseharian kita.

Jadi, siapa yang melayani hingga mempertaruhkan jiwa sekarang ini? Kalau di luar mah mungkin ada ya, yang sampai seharafiah itu, contohnya: misionaris yang datang ke daerah pedalaman. Lha kita? Kalau di zaman baheula (dahulu), zaman orang tua kita, juga banyak yang melayani hingga mempertaruhkan jiwa. Sebut saja pengalaman akan peristiwa gedoran ...

Kenyataannya, jika kita merujuk pada masa lampau, banyak sekali orang yang melayani hingga mempertaruhkan jiwa mereka. Apalagi jika kita merujuk pada zaman gereja mula-mula, saya ingat satu kutipan (tapi saya lupa siapa yang ngomong begini) "Darah para syuhada Kristen (martir, orang yang mati karena mempertahankan iman di dalam Kristus) adalah fondasi - tiang gereja".

Salah satunya adalah dia yang ada dalam perikop kita hari ini: Epafroditus. Dari arti namanya, kata yunani: epi - Aphrodite (kesayangan dewi Aprodit), sudah jelas Epafroditus ini adalah kaum pagan penyembah berhala yang kemudian beralih pada Jalan Tuhan.

Saya cukup yakin sebelum hari ini kita gak terlalu kenal dengan yang namanya Epafroditus ini. Namanya hanya disebut 2 kali di dalam Alkitab (Filipi 2:25, 4:18). Akan tetapi itu tak mengapa karena meski kita gak tahu banyak tentang Epafroditus, Filipi 2:30 sudah menggambarkan segalanya tentang dia.

Filipi 2:30 - Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.


Dalam bahan DPA GKP (dan saya cek juga dari tafsirnya kembali) disebutkan bahwa kata Yunani yang digunakan dalam kalimat "mempertaruhkan jiwa - Yunani: paraboleulamenos te psyche" adalah kata yang biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang berjudi dan mempertaruhkan segalanya tanpa berpikir panjang. Artinya ini menggambarkan keberanian seseorang untuk mengambil resiko tersebar, yaitu: kehilangan nyawanya.

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan satu hal ini saja: Saat kita melayani (di keluarga, di tempat kerja atau bahkan di gereja) pasti ada kalanya kita merasa bener-bener sumpek-lelah-eneg ... Apalagi saaat kita tengok kanan-kiri kita, makin nambah gak semangat ... Misalnya: Pas Kebaktian Keluarga, kita sebagai tuan dan nyonya rumah sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut yang hadir nanti, eh yang hadir malah cuma 3 orang (padahal kita siap untuk seluruh anggota jemaat di sektor kita - 30 orang) ... Lha ini pada ke mana ya orang-orangnya? Atau saat kita pelayanan sedang semangat tingkat tinggi, lalu kita tengok kanan kiri ... kok cuma bertiga aja ya kita di sini? (Padahal harusnya ber-tiga puluh).

Saat semangat berada dititik akut untuk merasa lelah-sumpek-eneg dan semua hal yang semakin membuat semangat kita menurun ... Semoga kita mengingat tentang dia, Epafroditus, dan berkata: "Tuhan, apa yang sedang kulakukan bagiMu sekarang ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan dia ... Maafkan aku Tuhan karena aku masih ngasih pelayanan ke Tuhan cuma recehan aja."

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER