Ulangan 11:13-21 | Most Wanted: Ing Ngarso Sung Tulodo - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Syalom. Mengawali renungan kita hari ini saya mau bikin kuis tentang sejarah Indonesia. Kita pasti familiar dengan semboyan yang tertulis di setiap dasi sekolah kita waktu SD: Tut Wuri Handayani. Kuisnya, siapakah nama dua "temannya" Tut Wuri Handayani? Yep ... Ing Ngarso Sung Tulodo (memberi teladan di depan), Ing Madya Mangun Karso (memberi semangat di tengah), Tut Wuri Handayani (memberi dorongan dari belakang).

Saya sewaktu mempersiapkan bahan ini kepikiran gini lho: Kenapa hanya Tut Wuri Handayani saja yang dijadikan sebagai semboyan pendidikan kita? Tut Wuri Handayani itu kalau dilihat dari narasi yang diucapkan oleh Ki Hadjar Dewantara ada di baris paling akhir. Padahal tiga semboyan itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita mengambil hanya satu (yang paling terakhir saja pulak) dan seakan-akan membuang dua yang pertama itu ... malah jadi bikin rancu. Saya tunjukin rancunya di mana ya:

Apa beda semboyan Tut Wuri Handayani dengan calo angkot yang teriak-teriak di terminal Kalideres? "Ayo, ayo ... enam empat - enam empat, Kutabumi langsung meluncur!" Pas angkotnya penuh, calonya ikut naik gak? Enggak. "Kok, gak naik om?", terus dijawab deh, "Yaelah pake nanya pulak, saya mah kan cuma ngasih tau aja ke bapak kalau bapak mau ke Kutabumi, ini angkotnya ayo naik".

Ketemu rancunya?
Tut Wuri Handayani - mendorong dari belakang. Dorongan yang seperti apa nih? Mendorong sampai di mana? (Sampai di terminal?). Makanya supaya gak menimbulkan kerancuan (bisa dipahami secara salah), tiga semboyan itu memang satu paket. Jikapun harus memilih, menurut saya sih ya harusnya memilih yang pertama: Ing Ngarso Sung Tulodo, karena dengan begitu jadi enak dia mau ada di depan kek, di tengah kek, atau di belakang sekalipun kek ... keteladanannya sudah jelas disebutkan.


Kalau contoh pake bahasa Kristennya mah mungkin yang sederhananya begini:
(Cerita 1) Di suatu pagi hari Minggu, sebelum berangkat ke gereja. "Anak-anak! Ayo bangun, pada ke gereja gih kalian!" Lalu anak-anaknya bilang, "Masih ngantuk, papa tuh belum siap-siap emang gak ke gereja juga?" Bapaknya pun menyahut, "Ya enggaklah bapak mah gak ke gereja, bapak kan udah gede."
(Cerita 2) Di suatu pagi hari Minggu, sebelum berangkat ke gereja. "Anak-anak, ayo bangun! Kita semua mau pergi ke gereja. Buruan mandi dan siap-siap, tinggal kamu aja nih yang belum siap-siap." Lalu anaknya yang melihat bapak dan ibunya yang sudah siap pun bergegas bangun dan bersiap diri".

Bacaan Alkitab kita hari ini menyebutkan beberapa hal yang sangat spesifik (ayat 18-20)
- Mengikatkan tanda di tangan dan dahi
- Harus diajarkan kepada anak-anak mereka
- Bahkan harus ditulis di tiang pintu rumah dan gerbang

Saya mau menunjukkan dua gambar:

tefilin yahudi
Yang itu namanya "Tefilin" yang sudah dibahas dalam "Renungan Warta" dan yang bawah ini namanya rambut pe'yot berdasarkan Imamat 19:27.

rambut peyot yahudi
Hebat ya yang seperti itu masih terus bertahan dan mewaris kepada anak cucu orang-orang Yahudi. Ada satu hal yang saya mau ingatkan buat kita: Teks Alkitab kita Ulangan 11:13-21 ini ditulis tahun 1500an SM, gambar yang kita lihat tadi itu ada di tahun 2000an M. Artinya jarak tahunnya tuh lama banget, mencapai 35 abad! Dan itu masih dilakukan hingga sekarang. Israel yang sudah berkali-kali jatuh bangun dihajar Tuhan, mulai dari Pembuangan tahun 600an SM dan dihancurkan lagi pada tahun 70 M dan jangan juga lupakan peristiwa Holocaust (pembantaian Yahudi oleh Nazi).

Kenapa mereka masih terus melakukan apa yang mungkin di anggap oleh "orang modern" sebagai "ketinggalan jaman, gak modis banget, dll" itu? Kalau buat saya jawabannya adalah karena tri semboyan yang tadi kita bahas di awal itu dilakukan dengan baik oleh para orang tua mereka dan dilakukan dengan intens (berkesinambungan, terus menerus).

Sialnya bagi kita, kadang kala bahkan sudah pun "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani"-nya dilakukan .. tetap aja tuh gak jalan. Persis seperti lagu Sekolah Minggu: "Ditarik-tarik kenapa tak mau datang, didorong-dorong kenapa tak mau maju ..."

Lha, memangnya kita anak Sekolah Minggu yang harus dijewer dulu baru jalan? Yeeeee .... siapa yang bilang memang yang jewer itu "orang", kalau Tuhan yang jewer biar mereka mau jalan dan datang, bagaimana dong?

Ulangan 11:13-21 | Most Wanted: Ing Ngarso Sung Tulodo

Syalom. Mengawali renungan kita hari ini saya mau bikin kuis tentang sejarah Indonesia. Kita pasti familiar dengan semboyan yang tertulis di setiap dasi sekolah kita waktu SD: Tut Wuri Handayani. Kuisnya, siapakah nama dua "temannya" Tut Wuri Handayani? Yep ... Ing Ngarso Sung Tulodo (memberi teladan di depan), Ing Madya Mangun Karso (memberi semangat di tengah), Tut Wuri Handayani (memberi dorongan dari belakang).

Saya sewaktu mempersiapkan bahan ini kepikiran gini lho: Kenapa hanya Tut Wuri Handayani saja yang dijadikan sebagai semboyan pendidikan kita? Tut Wuri Handayani itu kalau dilihat dari narasi yang diucapkan oleh Ki Hadjar Dewantara ada di baris paling akhir. Padahal tiga semboyan itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita mengambil hanya satu (yang paling terakhir saja pulak) dan seakan-akan membuang dua yang pertama itu ... malah jadi bikin rancu. Saya tunjukin rancunya di mana ya:

Apa beda semboyan Tut Wuri Handayani dengan calo angkot yang teriak-teriak di terminal Kalideres? "Ayo, ayo ... enam empat - enam empat, Kutabumi langsung meluncur!" Pas angkotnya penuh, calonya ikut naik gak? Enggak. "Kok, gak naik om?", terus dijawab deh, "Yaelah pake nanya pulak, saya mah kan cuma ngasih tau aja ke bapak kalau bapak mau ke Kutabumi, ini angkotnya ayo naik".

Ketemu rancunya?
Tut Wuri Handayani - mendorong dari belakang. Dorongan yang seperti apa nih? Mendorong sampai di mana? (Sampai di terminal?). Makanya supaya gak menimbulkan kerancuan (bisa dipahami secara salah), tiga semboyan itu memang satu paket. Jikapun harus memilih, menurut saya sih ya harusnya memilih yang pertama: Ing Ngarso Sung Tulodo, karena dengan begitu jadi enak dia mau ada di depan kek, di tengah kek, atau di belakang sekalipun kek ... keteladanannya sudah jelas disebutkan.


Kalau contoh pake bahasa Kristennya mah mungkin yang sederhananya begini:
(Cerita 1) Di suatu pagi hari Minggu, sebelum berangkat ke gereja. "Anak-anak! Ayo bangun, pada ke gereja gih kalian!" Lalu anak-anaknya bilang, "Masih ngantuk, papa tuh belum siap-siap emang gak ke gereja juga?" Bapaknya pun menyahut, "Ya enggaklah bapak mah gak ke gereja, bapak kan udah gede."
(Cerita 2) Di suatu pagi hari Minggu, sebelum berangkat ke gereja. "Anak-anak, ayo bangun! Kita semua mau pergi ke gereja. Buruan mandi dan siap-siap, tinggal kamu aja nih yang belum siap-siap." Lalu anaknya yang melihat bapak dan ibunya yang sudah siap pun bergegas bangun dan bersiap diri".

Bacaan Alkitab kita hari ini menyebutkan beberapa hal yang sangat spesifik (ayat 18-20)
- Mengikatkan tanda di tangan dan dahi
- Harus diajarkan kepada anak-anak mereka
- Bahkan harus ditulis di tiang pintu rumah dan gerbang

Saya mau menunjukkan dua gambar:

tefilin yahudi
Yang itu namanya "Tefilin" yang sudah dibahas dalam "Renungan Warta" dan yang bawah ini namanya rambut pe'yot berdasarkan Imamat 19:27.

rambut peyot yahudi
Hebat ya yang seperti itu masih terus bertahan dan mewaris kepada anak cucu orang-orang Yahudi. Ada satu hal yang saya mau ingatkan buat kita: Teks Alkitab kita Ulangan 11:13-21 ini ditulis tahun 1500an SM, gambar yang kita lihat tadi itu ada di tahun 2000an M. Artinya jarak tahunnya tuh lama banget, mencapai 35 abad! Dan itu masih dilakukan hingga sekarang. Israel yang sudah berkali-kali jatuh bangun dihajar Tuhan, mulai dari Pembuangan tahun 600an SM dan dihancurkan lagi pada tahun 70 M dan jangan juga lupakan peristiwa Holocaust (pembantaian Yahudi oleh Nazi).

Kenapa mereka masih terus melakukan apa yang mungkin di anggap oleh "orang modern" sebagai "ketinggalan jaman, gak modis banget, dll" itu? Kalau buat saya jawabannya adalah karena tri semboyan yang tadi kita bahas di awal itu dilakukan dengan baik oleh para orang tua mereka dan dilakukan dengan intens (berkesinambungan, terus menerus).

Sialnya bagi kita, kadang kala bahkan sudah pun "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani"-nya dilakukan .. tetap aja tuh gak jalan. Persis seperti lagu Sekolah Minggu: "Ditarik-tarik kenapa tak mau datang, didorong-dorong kenapa tak mau maju ..."

Lha, memangnya kita anak Sekolah Minggu yang harus dijewer dulu baru jalan? Yeeeee .... siapa yang bilang memang yang jewer itu "orang", kalau Tuhan yang jewer biar mereka mau jalan dan datang, bagaimana dong?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER