Mazmur 119:97-104 | Kurang Gizi - Pdt. Gerry Atje

Renungan Warta Jemaat, 8 April 2018.
Kurang Gizi
Mazmur 119:97-104

Jujur saja, tampilan Alkitab kita memang tidak menarik. Melihat bentuk Alkitab yang "se-tebal jasa" (bahasa orang Sewan, maksudnya: tebel banget gitu) mungkin sudah membuat kita malas 'tengok'. Kalaupun kita akhirnya tergerak membuka Alkitab, kita akan bertemu tulisan yang "kuecil-kuecil banget" sehingga perlu ekstra perhatian hanya untuk mulai membacanya saja. Anggaplah kita sukses melewati dua hal itu dan kita mulai membaca Alkitab kita, biasanya seseorang akan selalu punya kesempatan bertanya setelah membaca: "Maksud ayat ini apa ya? Kok saya kurang mengerti." Seabrek halangan untuk bisa mulai akrab dan intim dengan Firman Tuhan memang menjadi pergumulan yang dihadapi semua orang.

Oleh sebab itulah perikop kita hari ini menjadi menarik. Karena Daud ternyata sukses dalam mengalahkan seabrek halangan itu dan mendapatkan manfaat dari keintimannya dengan Firman Tuhan: Menjadi lebih bijaksana (ayat 98), lebih berakal budi (ayat 99), lebih berpengertian (ayat 100), lebih mengenali apa artinya janji Tuhan yang -katanya- manis itu (dan memang benar manis adanya).

Apa yang membuat Daud bisa mengalahkan seabrek halangan yang kita hadapi sekarang dan akhirnya membuat perbedaan besar antara dirinya dengan diri kita? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu tentunya. Akan tetapi paling tidak kita semua sebagai orang percaya sepakat bahwa di dalam Alkitab terkandung "nilai gizi penuh" yang diperlukan oleh keseluruhan ke-diri-an kita untuk bisa bukan hanya sekedar survive (mampu bertahan) tetapi menjadi pribadi yang menang (mengalahkan pergumulan).

Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman, dahulu saya ini gak suka masakan cumi. Apa itu masakan kok hitam seperti itu, gak enak. Tapi lama-lama akhirnya nyoba juga dan ternyata enak. Mungkin membaca Alkitab juga seperti itu ya ... Awalnya rasa-rasa gak enak, tapi setelah sekali saja kita menemukan citarasa "janji manis yang terbukti" di dalam kehidupan kita, perubahan terjadi. Bersyukurnya, melahap Firman Tuhan tidak akan memiliki efek samping yang merugikan samasekali. Jadi bagaimana? Kita mulai menikmati perjalanan hidup kita bersama Firman Tuhan di dalam Alkitab atau masih membiarkan diri kita kekurangan gizi? (GA)

Alkitab yang rusak biasanya adalah milik seorang yang utuh. (Charles Spurgeon)

Mazmur 119:97-104 | Kurang Gizi


Renungan Warta Jemaat, 8 April 2018.
Kurang Gizi
Mazmur 119:97-104

Jujur saja, tampilan Alkitab kita memang tidak menarik. Melihat bentuk Alkitab yang "se-tebal jasa" (bahasa orang Sewan, maksudnya: tebel banget gitu) mungkin sudah membuat kita malas 'tengok'. Kalaupun kita akhirnya tergerak membuka Alkitab, kita akan bertemu tulisan yang "kuecil-kuecil banget" sehingga perlu ekstra perhatian hanya untuk mulai membacanya saja. Anggaplah kita sukses melewati dua hal itu dan kita mulai membaca Alkitab kita, biasanya seseorang akan selalu punya kesempatan bertanya setelah membaca: "Maksud ayat ini apa ya? Kok saya kurang mengerti." Seabrek halangan untuk bisa mulai akrab dan intim dengan Firman Tuhan memang menjadi pergumulan yang dihadapi semua orang.

Oleh sebab itulah perikop kita hari ini menjadi menarik. Karena Daud ternyata sukses dalam mengalahkan seabrek halangan itu dan mendapatkan manfaat dari keintimannya dengan Firman Tuhan: Menjadi lebih bijaksana (ayat 98), lebih berakal budi (ayat 99), lebih berpengertian (ayat 100), lebih mengenali apa artinya janji Tuhan yang -katanya- manis itu (dan memang benar manis adanya).

Apa yang membuat Daud bisa mengalahkan seabrek halangan yang kita hadapi sekarang dan akhirnya membuat perbedaan besar antara dirinya dengan diri kita? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu tentunya. Akan tetapi paling tidak kita semua sebagai orang percaya sepakat bahwa di dalam Alkitab terkandung "nilai gizi penuh" yang diperlukan oleh keseluruhan ke-diri-an kita untuk bisa bukan hanya sekedar survive (mampu bertahan) tetapi menjadi pribadi yang menang (mengalahkan pergumulan).

Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman, dahulu saya ini gak suka masakan cumi. Apa itu masakan kok hitam seperti itu, gak enak. Tapi lama-lama akhirnya nyoba juga dan ternyata enak. Mungkin membaca Alkitab juga seperti itu ya ... Awalnya rasa-rasa gak enak, tapi setelah sekali saja kita menemukan citarasa "janji manis yang terbukti" di dalam kehidupan kita, perubahan terjadi. Bersyukurnya, melahap Firman Tuhan tidak akan memiliki efek samping yang merugikan samasekali. Jadi bagaimana? Kita mulai menikmati perjalanan hidup kita bersama Firman Tuhan di dalam Alkitab atau masih membiarkan diri kita kekurangan gizi? (GA)

Alkitab yang rusak biasanya adalah milik seorang yang utuh. (Charles Spurgeon)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email