Mazmur 100:1-5 | Antara Daud, Fanny & Kita

Mazmur 100:1-5

Pertemukanlah antara saat yang sukar dengan janji Tuhan yang sudah disiapkan Tuhan bagi kita, maka lahirlah Pujian dan Mazmur bagi-Nya.

Antara Daud, Fanny & Kita — Syalom bapak ibu semua. Dalam beberapa minggu terakhir ini saya kembali kepada komitmen awal saya dulu untuk menulis renungan di warta jemaat. Memang belum mencakup semua renungan (baru untuk renungan minggu dan renungan kategorial, karena yang untuk KRT ada dari Sinode).

Khusus untuk yang hari minggu ini yang kadang membuat saya jadi bingung ... Bingungnya tu begini: saya harus masuk dari jalan mana lagi setelah saya menulis renungan yang dibahas di khotbah minggu di warta jemaat? Mau pake "No Woman No Cry" seperti yang ada di warta, gak seru atuh wong bapak dan ibu sudah baca kok di warta ...

Baca juga

Oleh sebab itu hari ini saya mau mengawali renungan kita dengan berkenalan dengan perempuan ini ...
fanny crosby
Ada yang kenal dengan perempuan di gambar itu? Ok, pasti banyak yang gak tahu ya. Kalau lagu-lagu yang ini kenal gak?
- S'lamat di Tangan Yesus
- Ku Berbahagia
- Di Jalanku Ku Diiring
- Mampirlah Dengar Doaku

Bahkan senandung lagunya saja kita sudah kenal ya. Liriknya pun pasti banyak yang hafal.


Yang digambar tadi adalah Fanny J. Crosby, yang menciptakan lagu-lagu tadi (di antara ratusan lagu lainnya yang dia ciptakan). Kenapa dia pakai kacamata hitam? Karena dia buta, sejak kecil matanya tidak bisa melihat karena kesalahan obat yang diberikan dokter. Sejak kecil pula Fanny hidup sebagai anak yatim dan diasuh oleh ibu dan neneknya.

Bagaimana dengan Daud yang menulis Mazmur 100:1-5 ini? Kalau kita baca Mazmur 100, isinya seruan kegembiraan ya - nyanyian syukur.
Mazmur 100:1-5
Pujilah Allah dalam BaitNya
100:1 Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!
100:2 Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!
100:3 Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
100:4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!
100:5 Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Melawan Lupa

Saya takutnya orang hanya melihat Daud saat dia masih jadi gembala kecil (yang sukses mengalahkan singa dan mengalahkan goliath), lalu melompat ke kehidupan Daud yang sudah menjadi raja.

Banyak orang yang, mungkin, lupa bahwa ada masa-masa sulit yang terjadi pada Daud di antara dua periode kehidupannya itu. Apa yang terjadi di antara dua periode yang kita sebut tadi? Daud hidup luntang-lantung karena dikejar-kejar Saul dan mau dibunuh Saul.

Ini tebakan saya saja, puluhan Mazmur yang digubah oleh Daud yang bisa kita baca dalam kitab Mazmur terjadi saat Daud merefleksikan dirinya ketika lari luntang-lantung dikejar-kejar Saul dan bertemu dengan banyak kesusahan di hidupnya saat itu.


Pujian Tanpa Syarat

Kalau begitu, apa makna pujian?
Bagi Daud, Fanny J. Crosby dan seharusnya kita, pujian itu tidak bersyarat. Saya memuji Tuhan syaratnya kalau saya senang, bahagia, hidup bagus, tapi saat saya dongkol, marah, jatuh dll. maka saya gak bisa memuji TUhan.

Kalau begitu mah jadinya kapan dong kita memuji Tuhan jika pujian ada syaratnya seperti tadi? Faktanya: Penderitaan akan selalu ada di dalam kehidupan setiap orang. Satu penderitaan lewat, akan datang lagi penderitaan yang lainnya dalam kehidupan kita. Selalu ada. Semoga kita tidak melupakan satu hal ini juga bahwa janji Tuhan pun selalu ada dalam setiap langkah peristiwa kehidupan kita semua.

Mengolah semua "energi negatif" (semua perasaan gak enak akibat dari penderitaan atau pergumulan) yang ada dalam kenyataan kehidupan kita di dalam ketertundukan pada janji Tuhan.

Boleh kasih contoh? Coba baca Mazmur 13. Penderitaan, kemarahan selalu ada, tetapi dipadukan dengan ketertundukan akan janji Tuhan yang pasti akan dinyatakan. Dibalik setiap pujian selalu ada penderitaan yang mau didamaikan oleh janji Tuhan.

Pertemukanlah antara saat yang sukar dengan janji Tuhan yang sudah disiapkan Tuhan bagi kita, maka lahirlah Pujian dan Mazmur bagi-Nya. Teruslah bermazmur bagi Tuhan. Agar berkat-Nya nyata bagi kita sekalian.

Allah tidak akan selalu membebaskan kita dari masalah-masalah kita dengan cara yang kita ingin agar Allah lakukan. Dia melakukan dengan cara-Nya sendiri, tetapi dalam jangka panjang, cara-Nya itu selalu yang terbaik, dan itu selalu membuahkan pujian bagi Allah. (Robert J. Morgan, The Red Sea Rules, 48)

Post a Comment