Markus 10:46-52 | Maju Mundur Pantang Terus - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Renungan Warta, 15 April 2018
Maju Mundur Pantang Terus
Markus 10:46-52

Maunya sih menulis judul “maju terus pantang mundur”. Akan tetapi, sepertinya slogan itu seringkali kehilangan jiwa-semangatnya ketika seseorang berhadapan dengan soalan yang berat.

Perkenalkan, namanya Bartimeus anak Timeus. Arti namanya seberat pergumulan yang dihadapinya setiap hari. Bartimeus dalam bahasa Ibrani-Aram artinya: anak (bar-) orang yang tidak suci (-tame). Beberapa penafsir menyebutkan bahwa kebutaan yang dialami oleh Bartimeus juga dialami oleh ayahnya sehingga bisa jadi namanya adalah sebutan ‘turun-temurun’: anak yang buta dari seorang ayah yang buta (lih. Pulpit Commentary). Dapatkah kita bayangkan soalan berat yang dihadapi olehnya? Secara ekonomi dia bergumul dengan kekurangan (hingga sampai mengemis), secara sosial-psikologis di cap sebagai orang berdosa, tidak suci (bnd. Yoh. 9:1-2).

Membaca perikop kita hari ini tentang perjuangan Bartimeus dalam ‘menentang arus’ seharusnya menjadi kekuatan bagi semua orang yang hari ini juga berada dalam situasi “maju mundur (pantang terus)” dihidupnya. Bisingnya suara keramaian tidak membuat dia tak mengenali suara Yesus (ayat 47); Hardikan negativisme dari banyak orang tidak membuatnya kehilangan semangat untuk maju terus (ayat 48). Pun ia pantang mundur ketika akhirnya Yesus memanggil dirinya yang (masih) buta saat itu (ayat 50).

Kisah Bartimeus berujung happy-ending. Sikap ‘maju terus pantang mundur’-nya berbuah manis (ay. 52). Setiap orang dapat mengubah kepahitan hidup menjadi berkat asalkan memiliki sikap yang tepat dihadapan Tuhan. (GA)

Ada sebuah obat di dalam Alkitab, bukan bagi setiap jiwa yang berdusta dan sakit, melainkan setiap jiwa yang tidak membutuhkan obat yang sama. (R.A. Torrey)

Markus 10:46-52 | Maju Mundur Pantang Terus


Renungan Warta, 15 April 2018
Maju Mundur Pantang Terus
Markus 10:46-52

Maunya sih menulis judul “maju terus pantang mundur”. Akan tetapi, sepertinya slogan itu seringkali kehilangan jiwa-semangatnya ketika seseorang berhadapan dengan soalan yang berat.

Perkenalkan, namanya Bartimeus anak Timeus. Arti namanya seberat pergumulan yang dihadapinya setiap hari. Bartimeus dalam bahasa Ibrani-Aram artinya: anak (bar-) orang yang tidak suci (-tame). Beberapa penafsir menyebutkan bahwa kebutaan yang dialami oleh Bartimeus juga dialami oleh ayahnya sehingga bisa jadi namanya adalah sebutan ‘turun-temurun’: anak yang buta dari seorang ayah yang buta (lih. Pulpit Commentary). Dapatkah kita bayangkan soalan berat yang dihadapi olehnya? Secara ekonomi dia bergumul dengan kekurangan (hingga sampai mengemis), secara sosial-psikologis di cap sebagai orang berdosa, tidak suci (bnd. Yoh. 9:1-2).

Membaca perikop kita hari ini tentang perjuangan Bartimeus dalam ‘menentang arus’ seharusnya menjadi kekuatan bagi semua orang yang hari ini juga berada dalam situasi “maju mundur (pantang terus)” dihidupnya. Bisingnya suara keramaian tidak membuat dia tak mengenali suara Yesus (ayat 47); Hardikan negativisme dari banyak orang tidak membuatnya kehilangan semangat untuk maju terus (ayat 48). Pun ia pantang mundur ketika akhirnya Yesus memanggil dirinya yang (masih) buta saat itu (ayat 50).

Kisah Bartimeus berujung happy-ending. Sikap ‘maju terus pantang mundur’-nya berbuah manis (ay. 52). Setiap orang dapat mengubah kepahitan hidup menjadi berkat asalkan memiliki sikap yang tepat dihadapan Tuhan. (GA)

Ada sebuah obat di dalam Alkitab, bukan bagi setiap jiwa yang berdusta dan sakit, melainkan setiap jiwa yang tidak membutuhkan obat yang sama. (R.A. Torrey)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER