Kejadian 9:1-17 | Jalan Terbaik - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

jalan terbaik
Renungan Warta, 18 Februari 2018

Jujur saja, perikop kita ini sulit. Ada beberapa pertanyaan yang kita bisa ajukan ketika membaca setidaknya mulai dari Kej. 6. Pertanyaan seperti, ‘mengapa Allah melakukan tindakan keras terhadap ciptaan-Nya di bumi?’ Dalam pasal 6-7 kita melihat kemarahan Allah terhadap perilaku jahat manusia di bumi yang berujung pada tindakan keras Allah terhadap makhluk di bumi. Pemusnahan dengan banjir besar adalah tindakan keras dari Allah terhadap ciptaan-Nya di bumi. Akan tetapi tunggu dulu, jika kita cermat membaca latar belakang perikop kita hari ini yang terdapat dalam Kej. 6:3, kita menemukan bahwa Allah telah memerikan waktu yang cukup lama untuk manusia bisa bertobat (yaitu 120 tahun). Hal itu membuat kita bisa mengerti bahwa tindakan keras Allah adalah sikap ketegasan Allah terhadap kemarahan-Nya akan perilaku jahat manusia di bumi yang tidak berubah-ubah (bertobat) dalam jangka waktu yang lama.

Pertanyaan yang paling penting yang tersirat dalam perikop kita hari ini adalah ‘mengapa kali ini Allah mengubah kebijakan-Nya dengan jalan tanpa kekerasan?’ (Kej. 9:8-17). Bagi kita ini adalah kabar baik, bahwa Allah memerikan kesempatan yang lebih luas lagi untuk manusia bisa berubah dari jalan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Pertobatan dan perubahan hidup yang sejati dihasilkan bukan dengan jalan melakukan kekerasan terhadap manusia yang ingin diubahkan.

Sebagai orang percaya kita sangat mengerti bahwa tindakan keras Allah sudah digantikan-Nya dengan tindakan kasih-Nya di dalam kurban Yesus Kristus. Dia yang telah datang ke dalam dunia, mati dan kemudian bangkit lalu naik ke sorga menjadi puncak “perjanjian pelangi” bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Kasih yang telah ditunjukkan-Nya itulah yang senantiasa menjadi pandu di dalam kehidupan kita sekarang untuk melakukan hal yang sama, bahwa jalan terbaik adalah memang dengan memilih jalan tanpa kekerasan sehingga setiap orang yang datang kepada-Nya (atau bertobat) bukan terlebih karena rasa takut tetapi karena rasa syukur akan kasih yang telah ditunjukkan-Nya bagi hidup kita. (GA)

Allah mengasihi kita bukan pertama-tama karena kita layak untuk dikasihi-Nya, tetapi karena Allah itu adalah kasih adanya. (C. S. Lewis)

Kejadian 9:1-17 | Jalan Terbaik

jalan terbaik
Renungan Warta, 18 Februari 2018

Jujur saja, perikop kita ini sulit. Ada beberapa pertanyaan yang kita bisa ajukan ketika membaca setidaknya mulai dari Kej. 6. Pertanyaan seperti, ‘mengapa Allah melakukan tindakan keras terhadap ciptaan-Nya di bumi?’ Dalam pasal 6-7 kita melihat kemarahan Allah terhadap perilaku jahat manusia di bumi yang berujung pada tindakan keras Allah terhadap makhluk di bumi. Pemusnahan dengan banjir besar adalah tindakan keras dari Allah terhadap ciptaan-Nya di bumi. Akan tetapi tunggu dulu, jika kita cermat membaca latar belakang perikop kita hari ini yang terdapat dalam Kej. 6:3, kita menemukan bahwa Allah telah memerikan waktu yang cukup lama untuk manusia bisa bertobat (yaitu 120 tahun). Hal itu membuat kita bisa mengerti bahwa tindakan keras Allah adalah sikap ketegasan Allah terhadap kemarahan-Nya akan perilaku jahat manusia di bumi yang tidak berubah-ubah (bertobat) dalam jangka waktu yang lama.

Pertanyaan yang paling penting yang tersirat dalam perikop kita hari ini adalah ‘mengapa kali ini Allah mengubah kebijakan-Nya dengan jalan tanpa kekerasan?’ (Kej. 9:8-17). Bagi kita ini adalah kabar baik, bahwa Allah memerikan kesempatan yang lebih luas lagi untuk manusia bisa berubah dari jalan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Pertobatan dan perubahan hidup yang sejati dihasilkan bukan dengan jalan melakukan kekerasan terhadap manusia yang ingin diubahkan.

Sebagai orang percaya kita sangat mengerti bahwa tindakan keras Allah sudah digantikan-Nya dengan tindakan kasih-Nya di dalam kurban Yesus Kristus. Dia yang telah datang ke dalam dunia, mati dan kemudian bangkit lalu naik ke sorga menjadi puncak “perjanjian pelangi” bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Kasih yang telah ditunjukkan-Nya itulah yang senantiasa menjadi pandu di dalam kehidupan kita sekarang untuk melakukan hal yang sama, bahwa jalan terbaik adalah memang dengan memilih jalan tanpa kekerasan sehingga setiap orang yang datang kepada-Nya (atau bertobat) bukan terlebih karena rasa takut tetapi karena rasa syukur akan kasih yang telah ditunjukkan-Nya bagi hidup kita. (GA)

Allah mengasihi kita bukan pertama-tama karena kita layak untuk dikasihi-Nya, tetapi karena Allah itu adalah kasih adanya. (C. S. Lewis)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER