Ester 6:1-14 | Negeri di Awan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

dieng negeri di atas awan
Renungan Warta, 10 Juni 2018

Menjadi orang benar di tempat yang salah itu tidak enak. Kita perlu mengetahui latar belakang kebencian Haman terhadap Mordekhai di Ester 3:1-10. Penolakan Mordekhai bersujud kepada Haman yang sudah dijelaskannya bahwa itu dilakukan karena dia adalah orang Yahudi yang tidak bersujud di hadapan manusia (tangan kanan Ahasyweros sebagai ilah asing), ternyata tidak cukup untuk membuat Haman memahami bahwa sikap Mordekhai itu bukan ditujukan sebagai sikap memberontak terhadap raja (Ester 3:4). Kebencian yang diawali dengan kegagalan memahami orang lain yang ada di sekitar Haman (Ester 3:5-10).

Perikop yang kita baca hari ini (Ester 6:1-14) menjadi bukti bahwa Mordekhai memang tidak bermaksud melakukan makar (perbuatan menjatuhkan pemerintah yang sah) karena kita mengetahui bahwa Mordekhai juga pernah melakukan kebaikan terhadap raja Ahasyweros dengan memberitahukan pegawai-pegawai pemerintahannya (sida-sida) ada yang berencana untuk membunuh raja (Ester 6:1-3; 2:21-23). Selain keberanian Ester (Ester 4:10-17), kebaikan hati Mordekhai menjadi titik tolak terselamatkannya Israel dari jerat genosida (pemusnahan satu bangsa).

Hidup di negeri ber-bhinneka seperti ibu pertiwi ini, konflik seperti yang terjadi antara Haman dan Mordekhai memang tidak bisa terelakkan. Jangankan mengambil konteks seluas tanah air beta, di kehidupan berjemaat pun kita mengalami pergumulan yang sama: berkonflik karena kegagalan memahami di antara kita, satu sama lain. Satu kebersamaan yang terdiri dari latar belakang yang berbeda memang selalu rentan kesalahpahaman. Akan tetapi, rasanya kita sepakat bahwa ketika semua orang berlomba-lomba untuk menunjukkan kebaikan yang ada dalam diri mereka; Maka dari sanalah tercipta satu kehidupan yang memang dirindukan oleh setiap orang. Mengutip lagu Katon Bagaskara, seperti ada di “Negeri di awan”. Sudahkah kita ada di sana sekarang? (GA)

Kebaikan adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan bisa dilihat oleh orang buta. (Mark Twain)

Ester 6:1-14 | Negeri di Awan

dieng negeri di atas awan
Renungan Warta, 10 Juni 2018

Menjadi orang benar di tempat yang salah itu tidak enak. Kita perlu mengetahui latar belakang kebencian Haman terhadap Mordekhai di Ester 3:1-10. Penolakan Mordekhai bersujud kepada Haman yang sudah dijelaskannya bahwa itu dilakukan karena dia adalah orang Yahudi yang tidak bersujud di hadapan manusia (tangan kanan Ahasyweros sebagai ilah asing), ternyata tidak cukup untuk membuat Haman memahami bahwa sikap Mordekhai itu bukan ditujukan sebagai sikap memberontak terhadap raja (Ester 3:4). Kebencian yang diawali dengan kegagalan memahami orang lain yang ada di sekitar Haman (Ester 3:5-10).

Perikop yang kita baca hari ini (Ester 6:1-14) menjadi bukti bahwa Mordekhai memang tidak bermaksud melakukan makar (perbuatan menjatuhkan pemerintah yang sah) karena kita mengetahui bahwa Mordekhai juga pernah melakukan kebaikan terhadap raja Ahasyweros dengan memberitahukan pegawai-pegawai pemerintahannya (sida-sida) ada yang berencana untuk membunuh raja (Ester 6:1-3; 2:21-23). Selain keberanian Ester (Ester 4:10-17), kebaikan hati Mordekhai menjadi titik tolak terselamatkannya Israel dari jerat genosida (pemusnahan satu bangsa).

Hidup di negeri ber-bhinneka seperti ibu pertiwi ini, konflik seperti yang terjadi antara Haman dan Mordekhai memang tidak bisa terelakkan. Jangankan mengambil konteks seluas tanah air beta, di kehidupan berjemaat pun kita mengalami pergumulan yang sama: berkonflik karena kegagalan memahami di antara kita, satu sama lain. Satu kebersamaan yang terdiri dari latar belakang yang berbeda memang selalu rentan kesalahpahaman. Akan tetapi, rasanya kita sepakat bahwa ketika semua orang berlomba-lomba untuk menunjukkan kebaikan yang ada dalam diri mereka; Maka dari sanalah tercipta satu kehidupan yang memang dirindukan oleh setiap orang. Mengutip lagu Katon Bagaskara, seperti ada di “Negeri di awan”. Sudahkah kita ada di sana sekarang? (GA)

Kebaikan adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan bisa dilihat oleh orang buta. (Mark Twain)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER