1 Petrus 2:1-10 | Yang Permanen Dan Yang Temporal - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

permanen temporer
Renungan Warta, 25 Februari 2018

Bayangkanlah suatu hari kita sedang berjalan di suatu tempat setelah hujan deras berhenti tadi pagi. Saat kita berjalan, mata kita menemukan selembar kertas tergeletak di tengah jalan yang kita lalui. Kertas yang kotor karena terkena becekan tanah. Akan tetapi kita mengenali kertas itu ... Selembar uang seratus ribuan yang jatuh di jalan dan menjadi kotor. Pertanyaannya, apakah Anda akan mengambil uang itu atau tidak? ... Boleh bertanya lagi? Kenapa Anda tetap mengambil uang kertas yang sudah kotor itu? Jawaban: Karena nilai uang kertas itu bukan terletak terutama pada tampilan fisiknya melainkan pada yang terkandung di dalam kertas tersebut yaitu sebagai mata uang yang diterima menjadi alat tukar yang sah. Kita tidak peduli se-lêcêk sekotor apapun itu kertas, toh nilainya bukan terletak pada “tampilan luarnya”.

Menarik untuk dicermati bahwa Yesus dalam perikop kita bukan digambarkan bak “batu permata yang mahal” melainkan kebalikan dari itu. Yesus adalah batu penjuru yang telah dibuang oleh para tukang bangunan (ayat 7). Para murid yang dahulu ketika Yesus mati disalib“terbuang”, ramai-ramai melarikan diri, sekarang justru mengetahui bahwa ada rencana Allah yang indah dibalik peristiwa itu yang kini justru membuat mereka ramai-ramai memberitakan kabar baik penyelamatan Allah yang telah dilakukan melalui Sang Batu Penjuru yang terbuang itu.

Ada maksud Allah dibalik semua peristiwa yang kita alami. Peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus menunjukkan itu pada kita. Satu hal yang harus kita ingat selalu adalah pergumulan yang kita alami itu sifatnya adalah temporal (sementara). Sedangkan Allah di dalam karya Yesus telah memberikan kabar baik yang permanen (tetap): ada kuasa kebangkitan dan kehidupan yang baru di setiap pergumulan yang terjadi dalam hidup kita ini. Memastikan hidup kita selalu dekat dengan Tuhan adalah sumber kekuatan kita ketika kita ingin menemukan segala berkat yang tersedia dibalik setiap pergumulan yang kita dalam kehidupan keseharian kita ini. (GA)

Hidup dalam terang kebangkitan berarti hidup sebagai orang yang berharap mampu melihat ‘plus’ di tengah ‘minus’, kebesaran dan kemuliaan di tengah penderitaan. (Paul Schutz)

1 Petrus 2:1-10 | Yang Permanen Dan Yang Temporal

permanen temporer
Renungan Warta, 25 Februari 2018

Bayangkanlah suatu hari kita sedang berjalan di suatu tempat setelah hujan deras berhenti tadi pagi. Saat kita berjalan, mata kita menemukan selembar kertas tergeletak di tengah jalan yang kita lalui. Kertas yang kotor karena terkena becekan tanah. Akan tetapi kita mengenali kertas itu ... Selembar uang seratus ribuan yang jatuh di jalan dan menjadi kotor. Pertanyaannya, apakah Anda akan mengambil uang itu atau tidak? ... Boleh bertanya lagi? Kenapa Anda tetap mengambil uang kertas yang sudah kotor itu? Jawaban: Karena nilai uang kertas itu bukan terletak terutama pada tampilan fisiknya melainkan pada yang terkandung di dalam kertas tersebut yaitu sebagai mata uang yang diterima menjadi alat tukar yang sah. Kita tidak peduli se-lêcêk sekotor apapun itu kertas, toh nilainya bukan terletak pada “tampilan luarnya”.

Menarik untuk dicermati bahwa Yesus dalam perikop kita bukan digambarkan bak “batu permata yang mahal” melainkan kebalikan dari itu. Yesus adalah batu penjuru yang telah dibuang oleh para tukang bangunan (ayat 7). Para murid yang dahulu ketika Yesus mati disalib“terbuang”, ramai-ramai melarikan diri, sekarang justru mengetahui bahwa ada rencana Allah yang indah dibalik peristiwa itu yang kini justru membuat mereka ramai-ramai memberitakan kabar baik penyelamatan Allah yang telah dilakukan melalui Sang Batu Penjuru yang terbuang itu.

Ada maksud Allah dibalik semua peristiwa yang kita alami. Peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus menunjukkan itu pada kita. Satu hal yang harus kita ingat selalu adalah pergumulan yang kita alami itu sifatnya adalah temporal (sementara). Sedangkan Allah di dalam karya Yesus telah memberikan kabar baik yang permanen (tetap): ada kuasa kebangkitan dan kehidupan yang baru di setiap pergumulan yang terjadi dalam hidup kita ini. Memastikan hidup kita selalu dekat dengan Tuhan adalah sumber kekuatan kita ketika kita ingin menemukan segala berkat yang tersedia dibalik setiap pergumulan yang kita dalam kehidupan keseharian kita ini. (GA)

Hidup dalam terang kebangkitan berarti hidup sebagai orang yang berharap mampu melihat ‘plus’ di tengah ‘minus’, kebesaran dan kemuliaan di tengah penderitaan. (Paul Schutz)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER