Yesaya 6:1-13 | Menunggu Lebaran Monyet - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

monyet
Renungan Warta, 27 Mei 2018

Sejak kapan orang mulai menggunakan istilah “lebaran monyet”? Istilah itu digunakan oleh banyak orang ketika merujuk pada satu kejadian yang entah kapan terjadinya nanti. “Kapan ya saya bisa nonton final Liga Champion langsung di luar negeri? N’tar! Lebaran monyet!” Ternyata istilah itu digunakan dalam salah satu lagu jadoel Benyamin S. yang kala itu berduet dengan Ida Royani, berjudul “Siapa Punya?” (pada penghujung lagunya Ida Royani berujar, “N'tar lebaran monyet“).

Ini pergumulan kita semua sebagai orang percaya bahwa ketika seseorang dipanggil Tuhan untuk melayani-Nya, saya takutnya banyak orang yang menjawab seperti itu, “N’tar, Lebaran monyet”. Maksudnya banyak orang yang mengabaikan panggilan dan kepercayaan dari Tuhan, menunda hingga entah kapan waktunya menjawab panggilan itu. Membaca perikop kita hari ini membuat kita sangat mengerti persoalan utama mengapa banyak orang cenderung enggan untuk menjawab panggilan Tuhan. Menyadari diri bukan orang suci. “Masih banyak dosanya saya, Tuhan. Saya merasa diri tidak layak.” Faktanya, tidak akan pernah ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjadi orang suci (tanpa dosa, kecuali Yesus).

Pertanyaan saya, jadi kapan dong waktunya setiap orang bisa menjawab panggilan Tuhan itu? Menunggu menjadi orang suci itu sama seperti menunggu lebaran monyet. Tidak akan pernah bisa terjadi. Setiap kita bergumul dengan berbagai keberdosaan kita tiap-tiap waktu. Jadi, apa yang dilakukan oleh Tuhan melalui malaikat-Nya kepada Yesaya (ayat 5-6) adalah yang bisa dilakukan oleh Dia setiap saat dalam kehidupan kita: Ketidakkudusan (kita) yang dihampiri kekudusan-Nya sehingga setiap orang yang tidak kudus, dikuduskan-Nya dan diperbaharui kehidupannya. Justru ketika setiap orang berani menjawab panggilan dari Tuhan, di saat itulah dia memiliki kemungkinan terbesar untuk melihat pembaharuan kehidupan yang nyata dalam kesehariannya. (GA)

Pendeta hanyalah saudara Kristus, bukan raksasa spiritual. Dia berjuang dengan masalah yang sama seperti Anda. - John C. Maxwell

Yesaya 6:1-13 | Menunggu Lebaran Monyet

monyet
Renungan Warta, 27 Mei 2018

Sejak kapan orang mulai menggunakan istilah “lebaran monyet”? Istilah itu digunakan oleh banyak orang ketika merujuk pada satu kejadian yang entah kapan terjadinya nanti. “Kapan ya saya bisa nonton final Liga Champion langsung di luar negeri? N’tar! Lebaran monyet!” Ternyata istilah itu digunakan dalam salah satu lagu jadoel Benyamin S. yang kala itu berduet dengan Ida Royani, berjudul “Siapa Punya?” (pada penghujung lagunya Ida Royani berujar, “N'tar lebaran monyet“).

Ini pergumulan kita semua sebagai orang percaya bahwa ketika seseorang dipanggil Tuhan untuk melayani-Nya, saya takutnya banyak orang yang menjawab seperti itu, “N’tar, Lebaran monyet”. Maksudnya banyak orang yang mengabaikan panggilan dan kepercayaan dari Tuhan, menunda hingga entah kapan waktunya menjawab panggilan itu. Membaca perikop kita hari ini membuat kita sangat mengerti persoalan utama mengapa banyak orang cenderung enggan untuk menjawab panggilan Tuhan. Menyadari diri bukan orang suci. “Masih banyak dosanya saya, Tuhan. Saya merasa diri tidak layak.” Faktanya, tidak akan pernah ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjadi orang suci (tanpa dosa, kecuali Yesus).

Pertanyaan saya, jadi kapan dong waktunya setiap orang bisa menjawab panggilan Tuhan itu? Menunggu menjadi orang suci itu sama seperti menunggu lebaran monyet. Tidak akan pernah bisa terjadi. Setiap kita bergumul dengan berbagai keberdosaan kita tiap-tiap waktu. Jadi, apa yang dilakukan oleh Tuhan melalui malaikat-Nya kepada Yesaya (ayat 5-6) adalah yang bisa dilakukan oleh Dia setiap saat dalam kehidupan kita: Ketidakkudusan (kita) yang dihampiri kekudusan-Nya sehingga setiap orang yang tidak kudus, dikuduskan-Nya dan diperbaharui kehidupannya. Justru ketika setiap orang berani menjawab panggilan dari Tuhan, di saat itulah dia memiliki kemungkinan terbesar untuk melihat pembaharuan kehidupan yang nyata dalam kesehariannya. (GA)

Pendeta hanyalah saudara Kristus, bukan raksasa spiritual. Dia berjuang dengan masalah yang sama seperti Anda. - John C. Maxwell

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER