Yehezkiel 37:1-14 | Bukan Mumi, Bukan Zombie - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Tidak seperti hari raya Gerewaji lainnya, hari Pentakosta ini agak sedikit dilupakan dibandingkan Natal, Jumat Agung, Paskah bahkan dengan hari Kenaikan.

Kita cek ya ...
Natal, Jumat Agung dan Paskah ... orang familiar dengan mengucapkan “Selamat Natal / Jumat Agung / Paskah”. Kenaikan, ada juga ucapannya dan sering diucapkan karena memang kentara tanggal merah hari liburnya ada. Kalau Pentakosta? Udah jatuhnya di hari Minggu, amat sangat jarang orang mengucapkan “Selamat Pentakosta ya” – Bahkan mungkin banyak orang yang gak tau kalau hari ini Pentakosta sebelum ke gereja.

Dalam semangat Pentakosta, kita hari ini membahas bahan renungan kita dari Yehezkiel 37:1-14 ... Saya mau mengawali dengan nonton tayangan ini ... Sebelumnya, ada nanti yang sekali nonton langsung ngeuh (sadar) maksudnya film pendek ini apa? Soalnya saya dulu waktu baru nonton rada gak nyambung dengan maksudnya apa ... Tapi ya sekarang udah ngerti karena beberapa kali nonton, dulu mah gak ngerti di awalnya langsung gak ditonton kelanjutannya ... Ok, ini dia film nya

Donghaeng – Again


Langsung ngerti gak maksudnya apa? Ada orang yang patah semangat ... merasa diri gak ada lagi yang bisa dilakukannya ... Lalu Tuhan menunjukan kepada dia, “Tuh lihat tumbuhan itu masih bisa tumbuh dan hidup walaupun di tengah tembok yang rapat”. Kemudian orang itu semangatnya muncul lagi.

Perikop yang kita baca hari ini tentang Israel yang betul-betul patah semangat dan kehilangan harapan di tanah pembuangan – negeri asing ... kehilangan pengharapan mirip-mirip seperti yang kita tonton tadi. Bedanya, Tuhan nunjukin tanggapan terhadap omongan hopeless nya Israel itu (ayat 11) melalui penglihatan Nabi Yehezkiel: ada tulang berserakan dan saling lepas, dibuang ke lembah, lalu dihidupkan kembali – dikasih urat, daging lalu kulit dan akhirnya dihembuskan nafas kehidupan kembali. Hidup baru.

Jika kita memperhatikan perikop kita hari ini, Tuhan dua kali menyebutkan kalimat seperti ini: “Supaya mereka tahu bahwa Akulah TUHAN ...”. Bahkan di seluruh kitab Yehezkiel ini Tuhan puluhan kali berkata seperti itu kepada Israel (Yeh. 5:13, 6:7,10,13,14, 7:4,27, 11:10,12, 12:5 dst ... tinggal di search di sabda web). Kalau ada orang yang harus diomongin puluhan bahkan sampai ratusan kali itu artinya “udah akut hilang pengharapannya”.

Kabar buruknya adalah persis seperti Israel di waktu itu, kita tidak perlu kehilangan nafas untuk bisa merasakan mati. Cukup hilangkan satu kata ini dalam kamus kehidupan kita: Pengharapan (ayat 11), maka tepat di saat itu kita tak ubahnya seperti orang mati meskipun faktanya kita masih hidup ... bernafas. Dalam keseharian kita ada banyak kesempatan kita tergoda untuk menjadi “mati pengharapan”. Saat kehidupan berjalan tidak seperti yang kita bayangkan: melamar kerja tapi belum juga dapat kerja, di sini gagal di sana gagal, terpuruk, PHK dan putus hubungan yang lainnya ...

Firman Tuhan hari ini adalah tentang seseorang yang mengira kehidupan sudah habis, namun ternyata dia salah. Dibalik duka Israel karena pembuangan (dan tentu saja duka kita semua karena banyak hal berat yang terjadi dalam hidup kita), TUHAN menyediakan kehidupan baru bagi mereka yang percaya. Kehidupan masih ada saat pengharapan ada, tanpa pengharapan maka kita tak ubahnya seperti mumi atau zombie ... hidup tetapi lebih mirip mati.

Hari ini kita juga bersama-sama akan menyaksikan empat keluarga kita membabtiskan anak-anaknya. Saya mau mengajak kita untuk melihat dari sisi ini:

Pertama, Sewaktu Tuhan menganugerahkan seorang anak untuk hadir ke dalam dunia, di situ Tuhan sudah melakukan bagian-Nya: karunia terindah itu telah dibentuk dan dijadikan oleh Tuhan sejak dari kandungan. Jika mau pake bahasa pemazmur, Tuhan menenun aku sejak aku dalam kandungan (Mazmur 139:13).

Jadi setelah lahir ke dunia, sekarang gilirang Tuhan yang bertanya ke bapak dan ibu: “Ini anak mau di isi apa? Mau dibentuk bagaimana?”

Kabar buruknya kids zaman now makin canggih. Entah dia dibentuk oleh orangtuanya atau tidak (berarti orangtuanya gak peduli ya sama anaknya), kids zaman now bisa mengisi dan membentuk diri mereka sendiri lho. Dari mana? Youtube, Facebook, Instagram, Twitter dll dll yang ada di online itu.

Semoga dengan semangat Pentakosta kita bisa semakin saling membentuk dengan jalan saling menopang, saling menguatkan, saling mengasihi satu sama lain terutama bagi anak-anak kita di dalam Roh-Nya yang Kudus yang selalu menyertai kita.

Yehezkiel 37:1-14 | Bukan Mumi, Bukan Zombie


Tidak seperti hari raya Gerewaji lainnya, hari Pentakosta ini agak sedikit dilupakan dibandingkan Natal, Jumat Agung, Paskah bahkan dengan hari Kenaikan.

Kita cek ya ...
Natal, Jumat Agung dan Paskah ... orang familiar dengan mengucapkan “Selamat Natal / Jumat Agung / Paskah”. Kenaikan, ada juga ucapannya dan sering diucapkan karena memang kentara tanggal merah hari liburnya ada. Kalau Pentakosta? Udah jatuhnya di hari Minggu, amat sangat jarang orang mengucapkan “Selamat Pentakosta ya” – Bahkan mungkin banyak orang yang gak tau kalau hari ini Pentakosta sebelum ke gereja.

Dalam semangat Pentakosta, kita hari ini membahas bahan renungan kita dari Yehezkiel 37:1-14 ... Saya mau mengawali dengan nonton tayangan ini ... Sebelumnya, ada nanti yang sekali nonton langsung ngeuh (sadar) maksudnya film pendek ini apa? Soalnya saya dulu waktu baru nonton rada gak nyambung dengan maksudnya apa ... Tapi ya sekarang udah ngerti karena beberapa kali nonton, dulu mah gak ngerti di awalnya langsung gak ditonton kelanjutannya ... Ok, ini dia film nya

Donghaeng – Again


Langsung ngerti gak maksudnya apa? Ada orang yang patah semangat ... merasa diri gak ada lagi yang bisa dilakukannya ... Lalu Tuhan menunjukan kepada dia, “Tuh lihat tumbuhan itu masih bisa tumbuh dan hidup walaupun di tengah tembok yang rapat”. Kemudian orang itu semangatnya muncul lagi.

Perikop yang kita baca hari ini tentang Israel yang betul-betul patah semangat dan kehilangan harapan di tanah pembuangan – negeri asing ... kehilangan pengharapan mirip-mirip seperti yang kita tonton tadi. Bedanya, Tuhan nunjukin tanggapan terhadap omongan hopeless nya Israel itu (ayat 11) melalui penglihatan Nabi Yehezkiel: ada tulang berserakan dan saling lepas, dibuang ke lembah, lalu dihidupkan kembali – dikasih urat, daging lalu kulit dan akhirnya dihembuskan nafas kehidupan kembali. Hidup baru.

Jika kita memperhatikan perikop kita hari ini, Tuhan dua kali menyebutkan kalimat seperti ini: “Supaya mereka tahu bahwa Akulah TUHAN ...”. Bahkan di seluruh kitab Yehezkiel ini Tuhan puluhan kali berkata seperti itu kepada Israel (Yeh. 5:13, 6:7,10,13,14, 7:4,27, 11:10,12, 12:5 dst ... tinggal di search di sabda web). Kalau ada orang yang harus diomongin puluhan bahkan sampai ratusan kali itu artinya “udah akut hilang pengharapannya”.

Kabar buruknya adalah persis seperti Israel di waktu itu, kita tidak perlu kehilangan nafas untuk bisa merasakan mati. Cukup hilangkan satu kata ini dalam kamus kehidupan kita: Pengharapan (ayat 11), maka tepat di saat itu kita tak ubahnya seperti orang mati meskipun faktanya kita masih hidup ... bernafas. Dalam keseharian kita ada banyak kesempatan kita tergoda untuk menjadi “mati pengharapan”. Saat kehidupan berjalan tidak seperti yang kita bayangkan: melamar kerja tapi belum juga dapat kerja, di sini gagal di sana gagal, terpuruk, PHK dan putus hubungan yang lainnya ...

Firman Tuhan hari ini adalah tentang seseorang yang mengira kehidupan sudah habis, namun ternyata dia salah. Dibalik duka Israel karena pembuangan (dan tentu saja duka kita semua karena banyak hal berat yang terjadi dalam hidup kita), TUHAN menyediakan kehidupan baru bagi mereka yang percaya. Kehidupan masih ada saat pengharapan ada, tanpa pengharapan maka kita tak ubahnya seperti mumi atau zombie ... hidup tetapi lebih mirip mati.

Hari ini kita juga bersama-sama akan menyaksikan empat keluarga kita membabtiskan anak-anaknya. Saya mau mengajak kita untuk melihat dari sisi ini:

Pertama, Sewaktu Tuhan menganugerahkan seorang anak untuk hadir ke dalam dunia, di situ Tuhan sudah melakukan bagian-Nya: karunia terindah itu telah dibentuk dan dijadikan oleh Tuhan sejak dari kandungan. Jika mau pake bahasa pemazmur, Tuhan menenun aku sejak aku dalam kandungan (Mazmur 139:13).

Jadi setelah lahir ke dunia, sekarang gilirang Tuhan yang bertanya ke bapak dan ibu: “Ini anak mau di isi apa? Mau dibentuk bagaimana?”

Kabar buruknya kids zaman now makin canggih. Entah dia dibentuk oleh orangtuanya atau tidak (berarti orangtuanya gak peduli ya sama anaknya), kids zaman now bisa mengisi dan membentuk diri mereka sendiri lho. Dari mana? Youtube, Facebook, Instagram, Twitter dll dll yang ada di online itu.

Semoga dengan semangat Pentakosta kita bisa semakin saling membentuk dengan jalan saling menopang, saling menguatkan, saling mengasihi satu sama lain terutama bagi anak-anak kita di dalam Roh-Nya yang Kudus yang selalu menyertai kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER