Ulangan 10:12-22 | 7+8 = Cape Duluan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

lelah hati
Renungan Warta - 13 Mei 2018

Lima belas jam dalam sehari waktu kita, telah kita habiskan untuk tidur dan bekerja. Belum lagi jika kita bertemu dengan yang namanya macet di jalan. Sisanya tinggal 9 jam (dikurangi lagi dengan waktu macet di jalan, dll). Mungkin itu yang menyebabkan banyak orang yang berpikir dua hingga tiga kali untuk menyediakan waktu sekitar -/+ 2 jam dalam kebaktian-kebaktian harian di gereja yang umumnya memang diadakan pada malam hari (sepulang kerja). Cape duluan. Terlebih ketika rasa "cape duluan" itu juga akhirnya berdampak pada semangat untuk beribadah di hari Minggu. Ini pergumulan klasik yang dihadapi oleh semua orang bukan? Banyak orang yang tidak lagi berprinsip "menyediakan waktu untuk Tuhan" karena memang merasa "telah kehabisan waktu" setiap harinya. Ibadah tidak lagi menjadi sesuatu yang "menyegarkan jiwa" melainkan cuma jadi "nambahin beban aja".

Mari kita tambahkan pergumulannya. Katakanlah ada seseorang yang sudah "menyediakan waktunya untuk Tuhan" bersekutu dalam kumpulan orang percaya. Namun, yang didapatinya justru di gereja lebih "horor" dibandingkan di tempat kerja mereka: perkataan yang tidak membangun, tindakan yang menyakiti ... Itu semua bisa membuat "ruang bagi ibadah" menjadi semakin menyempit. Sudah "cape duluan" ditambah lagi "semakin nambah cape hatinya". Maka hal yang paling pertama yang bisa kita perjuangkan sebagai persekutuan orang percaya (gereja) adalah menciptakan suasana yang betul-betul di situ kasih Tuhan bisa ditemukan oleh semua orang.

Ada satu cara lagi yang bisa kita perjuangkan untuk mulai berani menyediakan waktu untuk Tuhan dalam persekutuan orang percaya. Semakin menyadari bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan Tuhan adalah berasal daripadaNya (Ulangan 10:21). Dengan mengingat kebaikan Tuhan kepada kita, semoga kita pun mengingat bahwa hidup kita adalah ungkapan syukur kita atas semua yang telah Dia lakukan bagi kita. (GA)

Kehidupan tanpa ibadah seperti perjalanan panjang tanpa sebuah penginapan - Demokritus dari Abdera

Ulangan 10:12-22 | 7+8 = Cape Duluan

lelah hati
Renungan Warta - 13 Mei 2018

Lima belas jam dalam sehari waktu kita, telah kita habiskan untuk tidur dan bekerja. Belum lagi jika kita bertemu dengan yang namanya macet di jalan. Sisanya tinggal 9 jam (dikurangi lagi dengan waktu macet di jalan, dll). Mungkin itu yang menyebabkan banyak orang yang berpikir dua hingga tiga kali untuk menyediakan waktu sekitar -/+ 2 jam dalam kebaktian-kebaktian harian di gereja yang umumnya memang diadakan pada malam hari (sepulang kerja). Cape duluan. Terlebih ketika rasa "cape duluan" itu juga akhirnya berdampak pada semangat untuk beribadah di hari Minggu. Ini pergumulan klasik yang dihadapi oleh semua orang bukan? Banyak orang yang tidak lagi berprinsip "menyediakan waktu untuk Tuhan" karena memang merasa "telah kehabisan waktu" setiap harinya. Ibadah tidak lagi menjadi sesuatu yang "menyegarkan jiwa" melainkan cuma jadi "nambahin beban aja".

Mari kita tambahkan pergumulannya. Katakanlah ada seseorang yang sudah "menyediakan waktunya untuk Tuhan" bersekutu dalam kumpulan orang percaya. Namun, yang didapatinya justru di gereja lebih "horor" dibandingkan di tempat kerja mereka: perkataan yang tidak membangun, tindakan yang menyakiti ... Itu semua bisa membuat "ruang bagi ibadah" menjadi semakin menyempit. Sudah "cape duluan" ditambah lagi "semakin nambah cape hatinya". Maka hal yang paling pertama yang bisa kita perjuangkan sebagai persekutuan orang percaya (gereja) adalah menciptakan suasana yang betul-betul di situ kasih Tuhan bisa ditemukan oleh semua orang.

Ada satu cara lagi yang bisa kita perjuangkan untuk mulai berani menyediakan waktu untuk Tuhan dalam persekutuan orang percaya. Semakin menyadari bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan Tuhan adalah berasal daripadaNya (Ulangan 10:21). Dengan mengingat kebaikan Tuhan kepada kita, semoga kita pun mengingat bahwa hidup kita adalah ungkapan syukur kita atas semua yang telah Dia lakukan bagi kita. (GA)

Kehidupan tanpa ibadah seperti perjalanan panjang tanpa sebuah penginapan - Demokritus dari Abdera

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER