Matius 26:6-13 | Logika Bersyukur: Bersyukur Tanpa Logika - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Syalom bapak ibu semua.
Melogikakan rasa syukur. Seringkali kita mendengar banyak orang bilang bersyukur itu logikanya karena Tuhan sudah berbuat baik di dalam kehidupan kita. Benar ya ... Sepakat? Sepakat! Nah, saya sebelum merenung-renung tentang perikop kita hari ini awalnya sepakat dengan pernyataan itu. Tetapi sekarang setelah membaca perikop kita hari ini jadi tidak sepenuhnya sepakat.

Kenapa saya jadi tidak sepenuhnya sepakat dengan anggapan bahwa "bersyukur itu logikanya karena Tuhan sudah berbuat baik lebih dulu" ... karena sewaktu orang mulai melogikakan rasa syukurnya di hadapan Tuhan ... dia gak akan pernah dapat tuh yang namanya "sesuai logika, logis, masuk akal - sebanding dengan apa yang sudah Tuhan buat bagi kita".

Coba kita cek ya:
- Seberapa besar Tuhan telah berbuat baik pada kita? Sangat besar, maksimal, sudah full ... semuanya yang ada di dalam kehidupan kita adalah karena kebaikan Tuhan.
- Bersyukur karena itu? Bersyukur dong!
- Bersyukur dengan maksimal ... semuanya? Ya enggak juga sih ...
Kalau saya jahat, Tuhan masih tetap baik; Tetapi kalau saya yang dijahatin orang, saya jadi eneg.

Sewaktu orang mulai berani melogikakan rasa syukurnya di hadapan Tuhan, justru di saat itulah seharusnya dia berhadapan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak logis, tidak masuk akal dari Tuhan untuk kita dan begitu juga sebaliknya dari kita untuk Tuhan.

Contohnya ya dalam perikop kita hari ini:
26:6 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta,
26:7 datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan.
26:8 Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: "Untuk apa pemborosan ini?
26:9 Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin."
26:10 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.
26:11 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.
26:12 Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku.
26:13 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
Di mana letak logikanya seseorang datang ke hadapan Yesus lalu mencurahkan 1/2 liter (lih. Yoh. 12:3 - setengah kati, NIV [klik]: or about 0,5 liter) minyak Narwastu (Yoh. 12:5) yang seharga kurang sedikit dari total gaji UMR yang dikumpulkan selama 1 tahun (300 dinar, 1 dinar upah satu hari, Rp. 100.000 x 300 = Rp. 30.000.000,-)

Apakah logis orang melakukan itu? Tidak masuk akal.
Itulah sebabnya di dalam ayat 8 spontan para murid "ngedumel": buat apa pemborosan kayak gitu?!?!

Akan tetapi, apa yang dianggap tidak logis dalam pikiran orang lain sewaktu Maria datang ke hadapan Yesus dan mengungkapkan rasa syukurnya pada Tuhan karena Dia sudah melakukan yang teramat baik dengan membangkitkan kembali Lazarus, saudaranya, ... toh bagi Maria tindakan yang tidak masuk akal itu menjadi sangat logis. Rela hati melakukan apa yang disebut orang lain "tidak masuk akal, pemborosan", namun itulah logika bersyukur Maria: Bersyukur tanpa logika - karena saat dimasukkan ke dalam logika jadinya gak logis.

Hari ini saya mengajak kita untuk merenungkan bahwa perjalanan hidup kita ini seperti orang yang sedang mengumpulkan kebaikan-kebaikan Tuhan yang memang sudah disediakan bagi kita.

Bersyukurnya bagi kita untuk dapat mengungkapkan rasa syukur kita yang melampaui logika (tanpa logika) adalah karena Tuhan sudah mencontohkan itu terlebih dahulu pada kita dengan memberi berkat yang melampaui logika kita.

Contoh konkret ya ...
Dalam waktu dekat ini kita akan mengadakan peneguhan komisi dan panitia pelayanan di tengah jemaat. Nah, ini salah satu kesempatan besar kita untk menemukan berkat Tuhan yang melampaui logika kita itu. Kenapa? Karena pasti kita berpikir bahwa kita tidak akan mampu melakukan pelayanan itu bagi Tuhan. Logika kita mengatakan: Tuhan, saya tidak mampu. Akan tetapi Tuhan memberikan berkat yang melampaui logika kita dengan cara memampukan kita untuk menjawab kepercayaan dari-Nya itu.

Ada satu ayat yang saya suka dan menjadi pengingatan buat saya kalau saya sedang merasakan seperti itu tadi (Tuhan saya tidak mampu) ... Kita baca bersama ya
(Roma 10:11) Karena Kitab Suci berkata:
"Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan."

Saat kita mengetahui bahwa Tuhan memberikan apa yang jauh melebihi dari apa yang bisa kita bayangkan dan pikirkan oleh logika kita, di situlah kita memiliki alasan untuk tidak main logika (hitung-hitungan) dengan Tuhan sewaktu kita hendak mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya.

Saya mau menutup renungan kita ini dengan satu cerita.
Suatu hari ada orang yang mau panen kelapa. Dia panjat pohon kelapa yang tinggiii sekalii. Sewaktu dia sudah ada di atas pohon, lalu dia lihat ke bawah dia jadi ketakutan sendiri untuk turun. Dia pun berdoa pada Tuhan, "Tuhan, tolong selamatkan saya supaya saya gak jatuh sewaktu turun dari pohon kelapa yang tinggi banget ini. Ternyata naiknya gak susah, turunnya eh susah banget. Kalau Tuhan nolong saya, saya mau bawa persembahan syukur buat Tuhan."

Lama dia berdoa seperti itu pada Tuhan hingga akhirnya dia mulai turun dari pohon kelapa itu. Turun 5 meter ... selamat. Turun lagi 5 meter ... sehat. Sampai akhirnya dia ada di 5 meter sebelum sampai ke tanah. Sudah dekat seperti itu dia mulai mikir, "Ah selamat kok saya ini turunnya. Kenapad tadi harus ngomong gitu ya ke Tuhan. Pakek janji persembahan syukur pula kalau saya gak jatuh."

Di tengah rasa sesalnya dia masih terus turun dari pohon kelapa itu dan akhirnya dia memiliki ide: di 1 meter sebelum dia sampai ke tanah, dia lalu menjatuhkan dirinya dengan sengaja ke tanah ... lalu bilang: "Ya Tuhan teryata saya jatuh nih dari pohon kelapa yang tinggi ini ... persembahan syukurnya gak jadi ya."

Hahaha bisa aja tu orang.
Semoga kita tidak menjadi orang yang lupa untuk bersyukur kepada Tuhan atas kebaikan-kebaikan Tuhan yang telah dan akan selalu Tuhan jadikan di tengah kehidupan kita.

Matius 26:6-13 | Logika Bersyukur: Bersyukur Tanpa Logika


Syalom bapak ibu semua.
Melogikakan rasa syukur. Seringkali kita mendengar banyak orang bilang bersyukur itu logikanya karena Tuhan sudah berbuat baik di dalam kehidupan kita. Benar ya ... Sepakat? Sepakat! Nah, saya sebelum merenung-renung tentang perikop kita hari ini awalnya sepakat dengan pernyataan itu. Tetapi sekarang setelah membaca perikop kita hari ini jadi tidak sepenuhnya sepakat.

Kenapa saya jadi tidak sepenuhnya sepakat dengan anggapan bahwa "bersyukur itu logikanya karena Tuhan sudah berbuat baik lebih dulu" ... karena sewaktu orang mulai melogikakan rasa syukurnya di hadapan Tuhan ... dia gak akan pernah dapat tuh yang namanya "sesuai logika, logis, masuk akal - sebanding dengan apa yang sudah Tuhan buat bagi kita".

Coba kita cek ya:
- Seberapa besar Tuhan telah berbuat baik pada kita? Sangat besar, maksimal, sudah full ... semuanya yang ada di dalam kehidupan kita adalah karena kebaikan Tuhan.
- Bersyukur karena itu? Bersyukur dong!
- Bersyukur dengan maksimal ... semuanya? Ya enggak juga sih ...
Kalau saya jahat, Tuhan masih tetap baik; Tetapi kalau saya yang dijahatin orang, saya jadi eneg.

Sewaktu orang mulai berani melogikakan rasa syukurnya di hadapan Tuhan, justru di saat itulah seharusnya dia berhadapan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak logis, tidak masuk akal dari Tuhan untuk kita dan begitu juga sebaliknya dari kita untuk Tuhan.

Contohnya ya dalam perikop kita hari ini:
26:6 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta,
26:7 datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan.
26:8 Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: "Untuk apa pemborosan ini?
26:9 Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin."
26:10 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.
26:11 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.
26:12 Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku.
26:13 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
Di mana letak logikanya seseorang datang ke hadapan Yesus lalu mencurahkan 1/2 liter (lih. Yoh. 12:3 - setengah kati, NIV [klik]: or about 0,5 liter) minyak Narwastu (Yoh. 12:5) yang seharga kurang sedikit dari total gaji UMR yang dikumpulkan selama 1 tahun (300 dinar, 1 dinar upah satu hari, Rp. 100.000 x 300 = Rp. 30.000.000,-)

Apakah logis orang melakukan itu? Tidak masuk akal.
Itulah sebabnya di dalam ayat 8 spontan para murid "ngedumel": buat apa pemborosan kayak gitu?!?!

Akan tetapi, apa yang dianggap tidak logis dalam pikiran orang lain sewaktu Maria datang ke hadapan Yesus dan mengungkapkan rasa syukurnya pada Tuhan karena Dia sudah melakukan yang teramat baik dengan membangkitkan kembali Lazarus, saudaranya, ... toh bagi Maria tindakan yang tidak masuk akal itu menjadi sangat logis. Rela hati melakukan apa yang disebut orang lain "tidak masuk akal, pemborosan", namun itulah logika bersyukur Maria: Bersyukur tanpa logika - karena saat dimasukkan ke dalam logika jadinya gak logis.

Hari ini saya mengajak kita untuk merenungkan bahwa perjalanan hidup kita ini seperti orang yang sedang mengumpulkan kebaikan-kebaikan Tuhan yang memang sudah disediakan bagi kita.

Bersyukurnya bagi kita untuk dapat mengungkapkan rasa syukur kita yang melampaui logika (tanpa logika) adalah karena Tuhan sudah mencontohkan itu terlebih dahulu pada kita dengan memberi berkat yang melampaui logika kita.

Contoh konkret ya ...
Dalam waktu dekat ini kita akan mengadakan peneguhan komisi dan panitia pelayanan di tengah jemaat. Nah, ini salah satu kesempatan besar kita untk menemukan berkat Tuhan yang melampaui logika kita itu. Kenapa? Karena pasti kita berpikir bahwa kita tidak akan mampu melakukan pelayanan itu bagi Tuhan. Logika kita mengatakan: Tuhan, saya tidak mampu. Akan tetapi Tuhan memberikan berkat yang melampaui logika kita dengan cara memampukan kita untuk menjawab kepercayaan dari-Nya itu.

Ada satu ayat yang saya suka dan menjadi pengingatan buat saya kalau saya sedang merasakan seperti itu tadi (Tuhan saya tidak mampu) ... Kita baca bersama ya
(Roma 10:11) Karena Kitab Suci berkata:
"Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan."

Saat kita mengetahui bahwa Tuhan memberikan apa yang jauh melebihi dari apa yang bisa kita bayangkan dan pikirkan oleh logika kita, di situlah kita memiliki alasan untuk tidak main logika (hitung-hitungan) dengan Tuhan sewaktu kita hendak mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya.

Saya mau menutup renungan kita ini dengan satu cerita.
Suatu hari ada orang yang mau panen kelapa. Dia panjat pohon kelapa yang tinggiii sekalii. Sewaktu dia sudah ada di atas pohon, lalu dia lihat ke bawah dia jadi ketakutan sendiri untuk turun. Dia pun berdoa pada Tuhan, "Tuhan, tolong selamatkan saya supaya saya gak jatuh sewaktu turun dari pohon kelapa yang tinggi banget ini. Ternyata naiknya gak susah, turunnya eh susah banget. Kalau Tuhan nolong saya, saya mau bawa persembahan syukur buat Tuhan."

Lama dia berdoa seperti itu pada Tuhan hingga akhirnya dia mulai turun dari pohon kelapa itu. Turun 5 meter ... selamat. Turun lagi 5 meter ... sehat. Sampai akhirnya dia ada di 5 meter sebelum sampai ke tanah. Sudah dekat seperti itu dia mulai mikir, "Ah selamat kok saya ini turunnya. Kenapad tadi harus ngomong gitu ya ke Tuhan. Pakek janji persembahan syukur pula kalau saya gak jatuh."

Di tengah rasa sesalnya dia masih terus turun dari pohon kelapa itu dan akhirnya dia memiliki ide: di 1 meter sebelum dia sampai ke tanah, dia lalu menjatuhkan dirinya dengan sengaja ke tanah ... lalu bilang: "Ya Tuhan teryata saya jatuh nih dari pohon kelapa yang tinggi ini ... persembahan syukurnya gak jadi ya."

Hahaha bisa aja tu orang.
Semoga kita tidak menjadi orang yang lupa untuk bersyukur kepada Tuhan atas kebaikan-kebaikan Tuhan yang telah dan akan selalu Tuhan jadikan di tengah kehidupan kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER