Lukas 1:26-38 | Bagi Tuhan Tak Ada Yang Mustahil? - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Banyak orang yang terkecoh dengan ayat 37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”. Kebanyakan orang mengira bahwa ayat 37 itu tidak bersyarat, padahal itu bersyarat. Coba kita cek ya ...
- Bagi Tuhan tiada yang mustahil, siapa yang sepakat?
- Bagi Tuhan ada yang mustahil, siapa yang sepakat?

Nah, itu dia ... ayat 37 bersyarat. Saya tunjukkan ya:
- Apakah Tuhan bisa berbohong dengan tidak menepati janji-Nya? Mustahil Tuhan berbohong.
- Apakah mungkin Tuhan tidak mengampuni umat yang mau bertobat? Tidak mungkin Tuhan tidak mengampuni yang mau bertobat.

Jadi ada gak yang mustahil dilakukan oleh Tuhan? Ada!
Sedikit syok dengan kenyataan itu? Dulu saya juga syok sewaktu pertama kali dengar ada yang mengkritisi kalimat di ayat 37 tadi dengan cara yang seperti itu ... kayak jebakan badman gitukan ya. Ngeselin. Lalu kita mulai bertanya, ayat 37 ini benar atau gak sih? Jelas benar ayat 37. Tidak salah. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan jika itu seturut dengan kehendak-Nya. Nah yang digarisbawahi itulah syaratnya yang sering dilupakan orang.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja mengenai Maria di dalam perikop kita hari ini.
Lukas 1:26-38
1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Yang pertama,
Lihat runtutan kejadian di dalam ayat perikop kita hari ini ...
Ayat 29 “Maria terkejut ...” Syok. Bagaimana tidak terkejut – syok apabila yang terjadi ternyata tidak seperti yang ada dalam bayangan pikiran kita. Hingga ayat 34 “Bagaimana mungkin ...” Maria yang terus mempertanyakan.

Keterkejutan dan terus menerus bertanya. Banyak orang yang biasanya lama sekali bergumul dan muter-muter di sini apabila keterkejutan terjadi di dalam kehidupan keseharian kita. Tiba-tiba naik pangkat ... syok, tapi membahagiakan. Ini mah gak apa-apa. Coba yang terjadi sebaliknya ... Tiba-tiba jadi pengacara (pengangguran banyak acara) ... Apa gak terkejut, syok seseorang jadinya ...

Banyak orang yang sewaktu mengalami apa yang dialami oleh Maria dalam perikop kita hari ini, lama sekali berputar-putar dalam pertanyaan yang tidak pernah ada habisnya ... Mengapa begini Tuhan? Mengapa begitu Tuhan?

Point paling pertama yang hendak kita renungkan bersama adalah ...
Membiarkan Tuhan bebas membentuk hidup kita seturut dengan kehendak-Nya dan percaya bahwa yang dilakukan-Nya itu adalah baik.
Itu yang dilakukan oleh Maria sehingga Maria tidak berputar berlama-lama di dalam keterkejutan syoknya dan pertanyaan yang tidak ada habisnya.

Yang terakhr,
Ayat 38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Menerima cara Tuhan membentuk kehidupan kita seturut dengan kehendaknya dan tahu bahwa itu adalah cara terbaik dari Tuhan untuk hidup kita.

Kelebihan Maria adalah dia berhasil keluar dari lingkaran keterkejutan dan pertanyaan (ayat 29 dan 34) dan berujung pada titik penerimaan dirinya terhadap apa yang diizinkan Tuhan terjadi dalam kehidupannya (ayat 38).

Saya pernah membaca cerita tentang Edison. Suatu hari Edison pergi ke lab nya di pagi hari, namun apa yang terjadi .. sesampainya di lab nya Edison menemukan lab nya itu sedang terbakar. Lalu apa yang dilakukan oleh Edison? Meraung-raung karena lab nya terbakar? Tidak. Edison berkata kepada anak-anaknya yang ada bersama dia waktu itu: “Nak, panggil ibu kalian ke sini, sudah lama kita tidak lihat ada kembang api sama-sama. Sekarang kita bisa lihat kembang api di sini.”

Cara terbaik – terbahagia dalam menjalani kehidupan memang hanya dengan cara penyerahan diri yang total pada kehendak Tuhan dalam membentuk dan membangun kehidupan kita.

Lukas 1:26-38 | Bagi Tuhan Tak Ada Yang Mustahil?


Banyak orang yang terkecoh dengan ayat 37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”. Kebanyakan orang mengira bahwa ayat 37 itu tidak bersyarat, padahal itu bersyarat. Coba kita cek ya ...
- Bagi Tuhan tiada yang mustahil, siapa yang sepakat?
- Bagi Tuhan ada yang mustahil, siapa yang sepakat?

Nah, itu dia ... ayat 37 bersyarat. Saya tunjukkan ya:
- Apakah Tuhan bisa berbohong dengan tidak menepati janji-Nya? Mustahil Tuhan berbohong.
- Apakah mungkin Tuhan tidak mengampuni umat yang mau bertobat? Tidak mungkin Tuhan tidak mengampuni yang mau bertobat.

Jadi ada gak yang mustahil dilakukan oleh Tuhan? Ada!
Sedikit syok dengan kenyataan itu? Dulu saya juga syok sewaktu pertama kali dengar ada yang mengkritisi kalimat di ayat 37 tadi dengan cara yang seperti itu ... kayak jebakan badman gitukan ya. Ngeselin. Lalu kita mulai bertanya, ayat 37 ini benar atau gak sih? Jelas benar ayat 37. Tidak salah. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan jika itu seturut dengan kehendak-Nya. Nah yang digarisbawahi itulah syaratnya yang sering dilupakan orang.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja mengenai Maria di dalam perikop kita hari ini.
Lukas 1:26-38
1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Yang pertama,
Lihat runtutan kejadian di dalam ayat perikop kita hari ini ...
Ayat 29 “Maria terkejut ...” Syok. Bagaimana tidak terkejut – syok apabila yang terjadi ternyata tidak seperti yang ada dalam bayangan pikiran kita. Hingga ayat 34 “Bagaimana mungkin ...” Maria yang terus mempertanyakan.

Keterkejutan dan terus menerus bertanya. Banyak orang yang biasanya lama sekali bergumul dan muter-muter di sini apabila keterkejutan terjadi di dalam kehidupan keseharian kita. Tiba-tiba naik pangkat ... syok, tapi membahagiakan. Ini mah gak apa-apa. Coba yang terjadi sebaliknya ... Tiba-tiba jadi pengacara (pengangguran banyak acara) ... Apa gak terkejut, syok seseorang jadinya ...

Banyak orang yang sewaktu mengalami apa yang dialami oleh Maria dalam perikop kita hari ini, lama sekali berputar-putar dalam pertanyaan yang tidak pernah ada habisnya ... Mengapa begini Tuhan? Mengapa begitu Tuhan?

Point paling pertama yang hendak kita renungkan bersama adalah ...
Membiarkan Tuhan bebas membentuk hidup kita seturut dengan kehendak-Nya dan percaya bahwa yang dilakukan-Nya itu adalah baik.
Itu yang dilakukan oleh Maria sehingga Maria tidak berputar berlama-lama di dalam keterkejutan syoknya dan pertanyaan yang tidak ada habisnya.

Yang terakhr,
Ayat 38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Menerima cara Tuhan membentuk kehidupan kita seturut dengan kehendaknya dan tahu bahwa itu adalah cara terbaik dari Tuhan untuk hidup kita.

Kelebihan Maria adalah dia berhasil keluar dari lingkaran keterkejutan dan pertanyaan (ayat 29 dan 34) dan berujung pada titik penerimaan dirinya terhadap apa yang diizinkan Tuhan terjadi dalam kehidupannya (ayat 38).

Saya pernah membaca cerita tentang Edison. Suatu hari Edison pergi ke lab nya di pagi hari, namun apa yang terjadi .. sesampainya di lab nya Edison menemukan lab nya itu sedang terbakar. Lalu apa yang dilakukan oleh Edison? Meraung-raung karena lab nya terbakar? Tidak. Edison berkata kepada anak-anaknya yang ada bersama dia waktu itu: “Nak, panggil ibu kalian ke sini, sudah lama kita tidak lihat ada kembang api sama-sama. Sekarang kita bisa lihat kembang api di sini.”

Cara terbaik – terbahagia dalam menjalani kehidupan memang hanya dengan cara penyerahan diri yang total pada kehendak Tuhan dalam membentuk dan membangun kehidupan kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER