Kidung Agung 8:5-7 | Cinta Ngos-Ngosan di Tengah Jalan - Pdt. Gerry Atje
renungan pernikahan
Kenapa ya orang kalau mengekspresikan rasa suka untuk kali pertamanya itu hampir selalu dengan kalimat ... jatuh cinta? I’m falling in love with you, wo ai ni, ich liebe dich. Seharusnya kita ini heran kenapa dari dulu bilangnya selalu begitu jika kita suka dengan seseorang terlebih yang akhirnya jadi suami atau istri bapak dan ibu. Jatuh cinta ... padahal jatuh itu kan pasti sakit, gak enak. Mungkin satu-satunya frase dengan kata jatuh yang menyenangkan ya cuma ini doang. Ada lagikah frase jatuh yang enak? Gak ada. Ketiban durian runtuh juga sama gak enaknya.

Kenapa orang kalau jatuh, di frase jatuh cinta, justru malah jadi seneng? Padahal sakit juga lho itu jatuh cinta tapi tetep aja cinta kan. Beda kalau kita ini jatuh sakit, sakit gigi ... kita gak mau tetep jatuh sakit gigi. Gak enak. Tapi jatuh cinta persis seperti apa yang dikatakan dalam perikop kita hari ini.

Kidung Agung 8:5-7
8:5 Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? --Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau.
8:6 Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
8:7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

Pernah ngerasain sakit karena cinta tapi tetap cinta?
- Ditolak parah (Ngaca dulu! Baru bilang cinta!)
- Disuruh-suruh (Inget itu gak ... yang bikin candi 1000 ... Itu kan disuruh-suruh tapi mau juga kan karena cinta)
- Dikhianati ...
... tapi semuanya jadi gak ada artinya karena kita masih tetap saja cinta ...

Hari ini kita ada di sini menyaksikan kedua orang saudara dan saudari kita membuka lembaran yang baru dalam kehidupan: menjadi satu keluarga yang diberkati oleh TUHAN. Saya mau mengajak kita untuk mendasarkan cinta di tengah keluarga kita semua bukan hanya sekedar berani “jatuh cinta” aja.

Kidung Agung 8:5-7, ini kalau kita baca di masa-masa awalnya kita membangun keluarga kita bilang “aku jatuh cinta” ... wih ini mah gak ada yang ngelawan. Tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga ... (katanya berapa tahun indah-indahnya jatuh cinta keluarga yang baru itu?)

Seperti ...
- Materai – sangat kuat, ada hukumnya
- Nyala api Tuhan – tidak terpadamkan
- Air yang banyak ... – gak takut kerendem air (kebanjiran gak takut)
- Sekalipun harta benda ... – biarpun gak punya apa-apa yang penting sama kamu.
Itu semua so sweet banget!!

Tapi coba sudah lewat masa-masa “bulan madu” dan “tahun madu” .... satu tahun pertama lewat, dua tahun lewat ... lalu?
- Mulai mikir beli susu anak
- Mulai mikir biaya anak sekolah
- Mulai mikir biaya kalau sakit
- Mulai mikir karena dapur kadang ngebul kadang enggak

Masih dengan mudah mengaminkan Kidung Agung 8:5-7? Atau mulai sulit ... saat kita mulai ribut-ribut masalah ekonomi: sandang, pangan, papan; Saat jatuh cinta tidak seperti waktu dulu yang manis banget ... tapi sudah mulai berasa sakitnya jatuh. Saat jatuh cinta mulai ngos-ngosan di tengah jalan, jalan yang menanjak dan kita merasa kehabisan daya.

Keluarga bukan sekedar berani jatuh cinta, tapi juga harus berani bangun cinta. Menghidupkan cinta setiap hari sampai maut memisahkan. Jatuh cinta itu mudah, membangun cinta jelas membutuhkan perjuangan dari kedua orang yang telah dipersatukan oleh Tuhan mulai saat mereka mengucapkan ...

Di hadapan Allah dan jemaat-Nya,
saya mengaku telah memilih dan menerimamu ... sebagai suami/istriku dan berjanji:
Akan hidup suci sesuai dengan isi Alkitab.
Bersama-sama membangun dan memelihara pernikahan sebagai seorang yang taat pada Tuhan.
Tidak akan meninggalkanmu baik dalam suka maupun dalam duka, baik dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit, baik dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan, keberhasilan maupun dalam kegagalan ... sampai maut memisahkan kita.

Kidung Agung 8:5-7 | Cinta Ngos-Ngosan di Tengah Jalan

renungan pernikahan
Kenapa ya orang kalau mengekspresikan rasa suka untuk kali pertamanya itu hampir selalu dengan kalimat ... jatuh cinta? I’m falling in love with you, wo ai ni, ich liebe dich. Seharusnya kita ini heran kenapa dari dulu bilangnya selalu begitu jika kita suka dengan seseorang terlebih yang akhirnya jadi suami atau istri bapak dan ibu. Jatuh cinta ... padahal jatuh itu kan pasti sakit, gak enak. Mungkin satu-satunya frase dengan kata jatuh yang menyenangkan ya cuma ini doang. Ada lagikah frase jatuh yang enak? Gak ada. Ketiban durian runtuh juga sama gak enaknya.

Kenapa orang kalau jatuh, di frase jatuh cinta, justru malah jadi seneng? Padahal sakit juga lho itu jatuh cinta tapi tetep aja cinta kan. Beda kalau kita ini jatuh sakit, sakit gigi ... kita gak mau tetep jatuh sakit gigi. Gak enak. Tapi jatuh cinta persis seperti apa yang dikatakan dalam perikop kita hari ini.

Kidung Agung 8:5-7
8:5 Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? --Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau.
8:6 Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
8:7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

Pernah ngerasain sakit karena cinta tapi tetap cinta?
- Ditolak parah (Ngaca dulu! Baru bilang cinta!)
- Disuruh-suruh (Inget itu gak ... yang bikin candi 1000 ... Itu kan disuruh-suruh tapi mau juga kan karena cinta)
- Dikhianati ...
... tapi semuanya jadi gak ada artinya karena kita masih tetap saja cinta ...

Hari ini kita ada di sini menyaksikan kedua orang saudara dan saudari kita membuka lembaran yang baru dalam kehidupan: menjadi satu keluarga yang diberkati oleh TUHAN. Saya mau mengajak kita untuk mendasarkan cinta di tengah keluarga kita semua bukan hanya sekedar berani “jatuh cinta” aja.

Kidung Agung 8:5-7, ini kalau kita baca di masa-masa awalnya kita membangun keluarga kita bilang “aku jatuh cinta” ... wih ini mah gak ada yang ngelawan. Tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga ... (katanya berapa tahun indah-indahnya jatuh cinta keluarga yang baru itu?)

Seperti ...
- Materai – sangat kuat, ada hukumnya
- Nyala api Tuhan – tidak terpadamkan
- Air yang banyak ... – gak takut kerendem air (kebanjiran gak takut)
- Sekalipun harta benda ... – biarpun gak punya apa-apa yang penting sama kamu.
Itu semua so sweet banget!!

Tapi coba sudah lewat masa-masa “bulan madu” dan “tahun madu” .... satu tahun pertama lewat, dua tahun lewat ... lalu?
- Mulai mikir beli susu anak
- Mulai mikir biaya anak sekolah
- Mulai mikir biaya kalau sakit
- Mulai mikir karena dapur kadang ngebul kadang enggak

Masih dengan mudah mengaminkan Kidung Agung 8:5-7? Atau mulai sulit ... saat kita mulai ribut-ribut masalah ekonomi: sandang, pangan, papan; Saat jatuh cinta tidak seperti waktu dulu yang manis banget ... tapi sudah mulai berasa sakitnya jatuh. Saat jatuh cinta mulai ngos-ngosan di tengah jalan, jalan yang menanjak dan kita merasa kehabisan daya.

Keluarga bukan sekedar berani jatuh cinta, tapi juga harus berani bangun cinta. Menghidupkan cinta setiap hari sampai maut memisahkan. Jatuh cinta itu mudah, membangun cinta jelas membutuhkan perjuangan dari kedua orang yang telah dipersatukan oleh Tuhan mulai saat mereka mengucapkan ...

Di hadapan Allah dan jemaat-Nya,
saya mengaku telah memilih dan menerimamu ... sebagai suami/istriku dan berjanji:
Akan hidup suci sesuai dengan isi Alkitab.
Bersama-sama membangun dan memelihara pernikahan sebagai seorang yang taat pada Tuhan.
Tidak akan meninggalkanmu baik dalam suka maupun dalam duka, baik dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit, baik dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan, keberhasilan maupun dalam kegagalan ... sampai maut memisahkan kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email