Matius 22:15-22 | Berkarya di Tengah Dunia - Pdt. Gerry Atje
Tema kita hari ini berat ya ... Berkarya di Tengah Dunia.
Sewaktu saya mempersiapkan renungan ini, saya sampe kepikiran tentang Atlas lho pak bu ...


Berkarya di Tengah Dunia.
Serasa seluruh dunia ada di pundak kita dan kita ditugaskan untuk berkarya di situ.
Jujur, ada beberapa ketakutan saya sewaktu saya membaca tema kita hari ini.

KETAKUTAN 1
Saya takut kalo seseorang membaca tema kita hari ini mulai dari kata awalnya saja, "Berkarya ...", lalu orang tersebut akan bertanya balik kepada Tuhan: "Tuhan, saya disuruh berkarya? Berkarya yang bagaimana ini? Saya harus ngapain ... harus berbuat apa?

Lalu orang itu mulai mengeluarkan suatu daftar panjang:
- Saya ... kerjaan aja gak ada.
- Main gitar gak bisa, piano apalagi ...
- Suara fals gak sembuh-sembuh ...
- Saya kan orang berdoa 
- ... dan seterusnya ...

Semuanya disebutin. Tujuannya untuk menegaskan pada dirinya sendiri bahwa memang benar dirinya tidak bisa berkarya apa-apa. Berarti kan kita mau melawan pikiran-pikiran yang seperti itu ya pak bu.

Lalu saya mulai mencari dasar dalam teks Alkitab kita melalui pembacaan leksionari kita yang intinya mau memotivasi supaya setiap kita bisa yakin bahwa kita semua ni benar lho bisa berkarya. 

Muncul lagi ketakutan saya, KETAKUTAN 2
Saya takut seseorang dengan mudah mementahkannya.
"Mari kita berkarya seperti Yesus, Paulus, Daud, Yesaya, bahkan Koresy yang disebut 'tidak mengenal Allah'."

Alih-alih tersadarkan, seseorang bisa mementahkannya dengan berkata: "Ya iya lah mereka bisa. Tuhan Yesus kan memang berkarya, Daud, Paulus, Yesaya, Koresy itu siapa? Mereka kan memang orang-orang besar."

Sampai di sini saya mau ajak kita merenungkan satu fakta:
Percuma, mau itu orang punya banyak kelebihan kek atau kebalikannya (mereka merasa punya banyak kekurangan kek). Percuma, kalo di dalam diri orang itu gak ada niat - kemauan untuk memulai melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi Tuhan.
Mari kita ambil contoh.
Biar dikata di suatu lingkungan Curug ini ada banyak orang percayanya, tapi bila gak ada niat - gak ada kemauan untuk mulai berani membuka pos pelayanan - pos kebaktian hingga saat ini menjadi Bajem GKI Curug, gak akan ada Gereja Tuhan di Curug. 

Berkarya selalu dimulai dari niat dan kemauan lalu melakukannya bersama-sama dengan Tuhan. Entah seseorang itu menganggap dan merasa dirinya itu punya banyak kekurangan kah (atau kebalikannya), itu sama sekali bukan hal yang paling utama. Bukankah kekuatan kita ini bukan terletak pada diri kita sendiri? Bukankah kekuatan kita ini yang berasal dari Tuhan. 

Niat, Mau + Mulai Melakukan Sesuatu yang bermanfaat = Berkarya

Saya mau cerita sedikit nih pak bu, sebelum saya pindah pelayanan ke GKP Tangerang, saya pelayanan di GKP Tanjung Priok. Di Tanjung Priok ada satu anggota jemaat yang kalo saat memberikan persembahan pujian di depan jemaat, lalu jemaat biasanya mendengarkannya sambil senyum-senyum. Lalu saya bertanya kan ke anggota jemaat yang lain kenapa kok pada senyam-senyum begitu. Ternyata, dulunya bapak ini suaranya fals kalau nyanyi ... tapi bapak ini terus menerus memuji Tuhan hingga akhirnya fals nya makin berkurang dan sekarang sudah bagus nyanyinya. 

Bahkan jika seorang mulai melakukan sesuatu yang bermanfaat itu dengan modal nol atau bahkan minus, andai saja dia terus mau berjuang dan berjalan bersama dengan Tuhan, bisa kok Tuhan melakukan sesuatu dan mengubahkan menjadi lebih baik.

Yang terakhir, KETAKUTAN 3
Saya takut saat seseorang mulai berani berkata kepada Tuhan, "Ok Tuhan, saya mau mulai melakukan sesuatu yang bermanfaat merskipun rasanya saya ini ada banyak kekurangan dan keterbatasannya", lalu dia mulai berhadapan dengan kalimat selanjutnya dalam tema kita hari ini: "... di Tengah Dunia", yang "ngejatohin dia". 

Ini mungkin seperti ibu-ibu yang baru aja belajar masak-masak - lagi semangat-semangatnya masak-masak, lalu masakannya itu di komen: "Masakan macam apa ini? gak enak! Sayur kok asem begini!" ... ("Itu kan sayur asem memang") ... "Ah, gak enak lah sayurnya!"

Dalam perikop kita hari ini, Yesus tahu rasanya yang seperti itu. Bahkan lebih pedih lagi.
Coba kita lihat perikop kita Matius 16-17, Sopan dan manis bukan kelihatannya. Sekarang coba lihat dua ayat yang mengapit ayat tersebut, ayat 15 dan 18:

Matius 15
Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 
Matius 16-17
Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Matius 18
Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?

Nah, ketahuan deh maksudnya itu cuma manis di depan, tapi sebenarnya jahat. Yesus ditempatkan di situasi yang sulit karena jika Yesus menjawab tidak boleh membayar pajak berarti Yesus melawan pemerintahan Romawi yang menjadi penjajah Israel saat itu (lihat ada orang-orang Herodian kan dalam perikop kita itu. Mereka itu pendukung-pendukungnya pemerintah Romawi). Tapi jika Yesus menjawab boleh membayar pajak, maka yang marah adalah orang-orang Yahudi yang saat itu masih selalu beranggapan bahwa yang harus dihormati itu hanya Tuhan (Teokrasi), bukan pemerintahan saat itu yang adalah (apalagi ini mereka) penjajah.

Berhadapan dengan dunia tempat di mana kita berkarya yang justru tidak seperti yang ada dalam bayangan kita tentang "betapa menyenangkannya berkarya itu". Maunya selalu bertemu dengan orang yang menopang, ngasih semangat, menenangkan ... tapi kenyataannya? Akan selalu ada (benar?) waktunya kita bertemu dengan otang yang usil, ngeselin bahkan mungkin bisa jadi jahat, persis seperti yang di alami Yesus dalam perikop kita hari ini. 

Ini cerita saya yang terakhir, 
Sewaktu saya masih di Priok, suatu hari ada seorang ibu yang datang dan kemudian bicara ke saya, "Pak, saya mau pindah gereja aja kalau begini keadaannya." Lalu saya ngobrollah dengan ibu tadi untuk tahu apa masalahnya ... Kemudian, salah satu omongan yang masih saya ingat adalah ini ... "Bu, kita akan selalu ketemu dengan yang seperti itu. Kalaupun ibu pindah, di tempat yang baru pun pasti ada waktunya ketemu dengan masalah yang sama seperti ini. Mungkin karena kita menjadi semakin lebih saling mengenal satu sama lain maka masalah-masalah muncul, ketimbang yang baru melihat 'rumput tetangga lebih hijau' ... mereka baru lihat dari luar saja belum masuk ke dalam rumah. Mungkin pula dengan menghadapi masalah yang seperti ini, dengan kebaikan-kebaikan ibu, perubahan menuju yang lebih baik situasinya bisa terjadi." (Dan keadaan pun seiring berjalannya waktu menjadi membaik. Puji Tuhan!)

Selamat berjuang, selamat menemukan karya Tuhan dibalik kebersediaan bapak dan ibu untuk mulai melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kemuliaan Tuhan dalam keseharian kita.

Matius 22:15-22
22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
22:22 Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

Matius 22:15-22 | Berkarya di Tengah Dunia

Tema kita hari ini berat ya ... Berkarya di Tengah Dunia.
Sewaktu saya mempersiapkan renungan ini, saya sampe kepikiran tentang Atlas lho pak bu ...


Berkarya di Tengah Dunia.
Serasa seluruh dunia ada di pundak kita dan kita ditugaskan untuk berkarya di situ.
Jujur, ada beberapa ketakutan saya sewaktu saya membaca tema kita hari ini.

KETAKUTAN 1
Saya takut kalo seseorang membaca tema kita hari ini mulai dari kata awalnya saja, "Berkarya ...", lalu orang tersebut akan bertanya balik kepada Tuhan: "Tuhan, saya disuruh berkarya? Berkarya yang bagaimana ini? Saya harus ngapain ... harus berbuat apa?

Lalu orang itu mulai mengeluarkan suatu daftar panjang:
- Saya ... kerjaan aja gak ada.
- Main gitar gak bisa, piano apalagi ...
- Suara fals gak sembuh-sembuh ...
- Saya kan orang berdoa 
- ... dan seterusnya ...

Semuanya disebutin. Tujuannya untuk menegaskan pada dirinya sendiri bahwa memang benar dirinya tidak bisa berkarya apa-apa. Berarti kan kita mau melawan pikiran-pikiran yang seperti itu ya pak bu.

Lalu saya mulai mencari dasar dalam teks Alkitab kita melalui pembacaan leksionari kita yang intinya mau memotivasi supaya setiap kita bisa yakin bahwa kita semua ni benar lho bisa berkarya. 

Muncul lagi ketakutan saya, KETAKUTAN 2
Saya takut seseorang dengan mudah mementahkannya.
"Mari kita berkarya seperti Yesus, Paulus, Daud, Yesaya, bahkan Koresy yang disebut 'tidak mengenal Allah'."

Alih-alih tersadarkan, seseorang bisa mementahkannya dengan berkata: "Ya iya lah mereka bisa. Tuhan Yesus kan memang berkarya, Daud, Paulus, Yesaya, Koresy itu siapa? Mereka kan memang orang-orang besar."

Sampai di sini saya mau ajak kita merenungkan satu fakta:
Percuma, mau itu orang punya banyak kelebihan kek atau kebalikannya (mereka merasa punya banyak kekurangan kek). Percuma, kalo di dalam diri orang itu gak ada niat - kemauan untuk memulai melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi Tuhan.
Mari kita ambil contoh.
Biar dikata di suatu lingkungan Curug ini ada banyak orang percayanya, tapi bila gak ada niat - gak ada kemauan untuk mulai berani membuka pos pelayanan - pos kebaktian hingga saat ini menjadi Bajem GKI Curug, gak akan ada Gereja Tuhan di Curug. 

Berkarya selalu dimulai dari niat dan kemauan lalu melakukannya bersama-sama dengan Tuhan. Entah seseorang itu menganggap dan merasa dirinya itu punya banyak kekurangan kah (atau kebalikannya), itu sama sekali bukan hal yang paling utama. Bukankah kekuatan kita ini bukan terletak pada diri kita sendiri? Bukankah kekuatan kita ini yang berasal dari Tuhan. 

Niat, Mau + Mulai Melakukan Sesuatu yang bermanfaat = Berkarya

Saya mau cerita sedikit nih pak bu, sebelum saya pindah pelayanan ke GKP Tangerang, saya pelayanan di GKP Tanjung Priok. Di Tanjung Priok ada satu anggota jemaat yang kalo saat memberikan persembahan pujian di depan jemaat, lalu jemaat biasanya mendengarkannya sambil senyum-senyum. Lalu saya bertanya kan ke anggota jemaat yang lain kenapa kok pada senyam-senyum begitu. Ternyata, dulunya bapak ini suaranya fals kalau nyanyi ... tapi bapak ini terus menerus memuji Tuhan hingga akhirnya fals nya makin berkurang dan sekarang sudah bagus nyanyinya. 

Bahkan jika seorang mulai melakukan sesuatu yang bermanfaat itu dengan modal nol atau bahkan minus, andai saja dia terus mau berjuang dan berjalan bersama dengan Tuhan, bisa kok Tuhan melakukan sesuatu dan mengubahkan menjadi lebih baik.

Yang terakhir, KETAKUTAN 3
Saya takut saat seseorang mulai berani berkata kepada Tuhan, "Ok Tuhan, saya mau mulai melakukan sesuatu yang bermanfaat merskipun rasanya saya ini ada banyak kekurangan dan keterbatasannya", lalu dia mulai berhadapan dengan kalimat selanjutnya dalam tema kita hari ini: "... di Tengah Dunia", yang "ngejatohin dia". 

Ini mungkin seperti ibu-ibu yang baru aja belajar masak-masak - lagi semangat-semangatnya masak-masak, lalu masakannya itu di komen: "Masakan macam apa ini? gak enak! Sayur kok asem begini!" ... ("Itu kan sayur asem memang") ... "Ah, gak enak lah sayurnya!"

Dalam perikop kita hari ini, Yesus tahu rasanya yang seperti itu. Bahkan lebih pedih lagi.
Coba kita lihat perikop kita Matius 16-17, Sopan dan manis bukan kelihatannya. Sekarang coba lihat dua ayat yang mengapit ayat tersebut, ayat 15 dan 18:

Matius 15
Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 
Matius 16-17
Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Matius 18
Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?

Nah, ketahuan deh maksudnya itu cuma manis di depan, tapi sebenarnya jahat. Yesus ditempatkan di situasi yang sulit karena jika Yesus menjawab tidak boleh membayar pajak berarti Yesus melawan pemerintahan Romawi yang menjadi penjajah Israel saat itu (lihat ada orang-orang Herodian kan dalam perikop kita itu. Mereka itu pendukung-pendukungnya pemerintah Romawi). Tapi jika Yesus menjawab boleh membayar pajak, maka yang marah adalah orang-orang Yahudi yang saat itu masih selalu beranggapan bahwa yang harus dihormati itu hanya Tuhan (Teokrasi), bukan pemerintahan saat itu yang adalah (apalagi ini mereka) penjajah.

Berhadapan dengan dunia tempat di mana kita berkarya yang justru tidak seperti yang ada dalam bayangan kita tentang "betapa menyenangkannya berkarya itu". Maunya selalu bertemu dengan orang yang menopang, ngasih semangat, menenangkan ... tapi kenyataannya? Akan selalu ada (benar?) waktunya kita bertemu dengan otang yang usil, ngeselin bahkan mungkin bisa jadi jahat, persis seperti yang di alami Yesus dalam perikop kita hari ini. 

Ini cerita saya yang terakhir, 
Sewaktu saya masih di Priok, suatu hari ada seorang ibu yang datang dan kemudian bicara ke saya, "Pak, saya mau pindah gereja aja kalau begini keadaannya." Lalu saya ngobrollah dengan ibu tadi untuk tahu apa masalahnya ... Kemudian, salah satu omongan yang masih saya ingat adalah ini ... "Bu, kita akan selalu ketemu dengan yang seperti itu. Kalaupun ibu pindah, di tempat yang baru pun pasti ada waktunya ketemu dengan masalah yang sama seperti ini. Mungkin karena kita menjadi semakin lebih saling mengenal satu sama lain maka masalah-masalah muncul, ketimbang yang baru melihat 'rumput tetangga lebih hijau' ... mereka baru lihat dari luar saja belum masuk ke dalam rumah. Mungkin pula dengan menghadapi masalah yang seperti ini, dengan kebaikan-kebaikan ibu, perubahan menuju yang lebih baik situasinya bisa terjadi." (Dan keadaan pun seiring berjalannya waktu menjadi membaik. Puji Tuhan!)

Selamat berjuang, selamat menemukan karya Tuhan dibalik kebersediaan bapak dan ibu untuk mulai melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kemuliaan Tuhan dalam keseharian kita.

Matius 22:15-22
22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
22:22 Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


Terima Renungan Melalui Email