Matius 28:1-10 | Tidak Dianggap - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

tak dianggap
Kebangkitan Yesus
28:1 Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.
28:2 Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya.
28:3 Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.
28:4 Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.
28:5 Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.
28:6 Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.
28:7 Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu."
28:8 Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.
28:9 Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
28:10 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku."
Tidak dianggap. Pernah? Paling tidak merasa diri tidak dianggap oleh orang lain yang ada dalam kehidupan kita ... Tidak dianggap, tidak diperhitungkan, tidak diakui ... adalah salah satu perasaan yang terbesar terberat yang bisa dialami oleh seseorang ... kita. Rasa itu melemahkan, menyakitkan ... bahkan bisa sampai “mematikan”.

Saya ingat dulu papa saya pernah cerita waktu masih pelayanan di GKP Cideres, papa pernah pulang dari pelayanan, hari sudah malam. Mama dirumah sudah masak untuk makan malam ... eh terus itu papa gak makan masakan yang dibuat mama (mungkin karena di waktu kebaktian sudah makan kali ya). Bapak ibu tau apa yang dilakukan mama saya waktu itu? Mama saya (katanya ya, karena waktu itu saya sama adek belum lahir) nangis kenceng-kenceng sambil teriak, “Papa udah gak sayang mama lagi!!!”

Busyet! Itu kan cuma perkara sepele ... masalah makanan yang gak kemakan karena memang sudah makan di tempat kebaktian tadi (mungkin). Akan tetapi, perasaan itu muncul ... tidak dianggap, tidak diperhatikan. Makanya dulu, waktu kami sekeluarga pulang kampung ke rumah eyang di Tuban, setiap kali kami pergi jalan-jalan sore keluar rumah lalu makan malam di luar, papa mama selalu bilang: “Gerry, Bondan ... nanti kalau nyampe rumah eyang lagi harus makan lagi masakannya eyang uti.

Sekali lagi, itu hanya masalah yang sepele: masakan. Akan tetapi bisa dirasakan sebagai bentuk dari sebuah pengabaian, tidak dianggap.

Ada pengalaman-pengalaman lain yang lebih rumit? Sepertinya ada ... ...

Suami yang tidak dianggap
Istri yang tidak dianggap
Anak yang tidak dianggap
Kawan yang tidak dianggap
... Kekasih yang tidak dianggap

Mengerikan.
Ada, hadir, eksis ... tetapi diacuhkan, diabaikan, tidak diakui, tidak diperhitungkan, dianggap sebelah mata atau bahkan dianggap tidak ada sekalian saja.


Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, sangat menarik karena perasaan yang sama – tidak dianggap – (oleh kebanyakan orang pada waktu itu) juga bisa hadir dalam perasaan dua hal dalam teks Alkitab kita hari ini. Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal yang tidak dianggap itu ...

(1) Ayat 1. Tentang perempuan-perempuan.
Ada yang waktu baca perikop kita hari ini nanya-nanya gak? Kemana para pengikut Yesus yang laki-lakinya? Kenapa justru berita dahsyat tentang kebangkitan Tuhan dipercayakan untuk diberitakan melalui para perempuan untuk kali pertamanya?

Jangan lupa, Yahudi itu sangat patrialkal budayanya. Perempuan seringkali tidak dianggap. Bahkan kalau ada perkara di persidangan, kesaksian seorang perempuan itu seringkali tidak dianggap sebagai fakta jika tidak didukung oleh kesaksian lelaki. Contoh dalam teks kita lah, ada kalimat “Maria yang lain” ... itu siapa?

Akan tetapi justru kepada mereka yang tidak dianggap itulah kabar baik sukacita Paska dipercayakan Tuhan.

(2) Ayat 7, 10. Tentang Galilea.
Ada yang waktu baca teks kita hari ini nanya-nanya gak? Kenapa Yesus justru memilih Galilea untuk menjumpai para murid-Nya? Kenapa gak di Yerusalem yang menjadi “Jakarta”-nya Israel? Pusat kota. Galilea itu kan daerah orang Samaria. Itu dia permasalahannya. Galilea adalah daerah orang-orang yang tidak dianggap, tidak diperhitungkan, tidak diakui ... oleh orang Israel. Dianggap buruk.

Saya kalau lagi jalan keluar naik angkot atau bis gitu, pak bu, kadang ditanya kan: Tinggal di mana? Lalu saya nyebut: Priok. Beberapa orang masih ada lho yang denger kata Priok itu ngasih reaksi yang agak-agak gimana gitu ... daerah panas, keras, preman, kerlap-kerlip malam.

Kembali ke teks Alkitab kita hari ini, kenapa Galilea, bukan yang lain? Gak ada yang tahu alasan Tuhan kenapa. Btw, ini GKP Tanjung Priok kan namanya juga Galilea kan ... kenapa coba dikasih nama Galilea? Apa karena dekat sungai aja? :)

Yang jelas, dari dua hal tadi ... baik para perempuan dan Galilea memiliki satu kesamaan: Yang tidak dianggap oleh dunia (orang-orang), ketika orang-orang menutup mata dan memberi nilai dan batasan kriteria ... Tuhan membuka mata-Nya lebar-lebar untuk berkarya melalui siapapun juga.

Tidak terkecuali ... kita. Bapak dan ibu dan teman muda dan saya ... yang mungkin hari ini pun memiliki perasaan awal yang sama, yang melemahkan ... dan kadang mematikan semangat .. Karena merasa menjadi orang yang tidak dianggap.

Matius 28:1-10 | Tidak Dianggap

tak dianggap
Kebangkitan Yesus
28:1 Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.
28:2 Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya.
28:3 Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.
28:4 Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.
28:5 Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.
28:6 Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.
28:7 Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu."
28:8 Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.
28:9 Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
28:10 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku."
Tidak dianggap. Pernah? Paling tidak merasa diri tidak dianggap oleh orang lain yang ada dalam kehidupan kita ... Tidak dianggap, tidak diperhitungkan, tidak diakui ... adalah salah satu perasaan yang terbesar terberat yang bisa dialami oleh seseorang ... kita. Rasa itu melemahkan, menyakitkan ... bahkan bisa sampai “mematikan”.

Saya ingat dulu papa saya pernah cerita waktu masih pelayanan di GKP Cideres, papa pernah pulang dari pelayanan, hari sudah malam. Mama dirumah sudah masak untuk makan malam ... eh terus itu papa gak makan masakan yang dibuat mama (mungkin karena di waktu kebaktian sudah makan kali ya). Bapak ibu tau apa yang dilakukan mama saya waktu itu? Mama saya (katanya ya, karena waktu itu saya sama adek belum lahir) nangis kenceng-kenceng sambil teriak, “Papa udah gak sayang mama lagi!!!”

Busyet! Itu kan cuma perkara sepele ... masalah makanan yang gak kemakan karena memang sudah makan di tempat kebaktian tadi (mungkin). Akan tetapi, perasaan itu muncul ... tidak dianggap, tidak diperhatikan. Makanya dulu, waktu kami sekeluarga pulang kampung ke rumah eyang di Tuban, setiap kali kami pergi jalan-jalan sore keluar rumah lalu makan malam di luar, papa mama selalu bilang: “Gerry, Bondan ... nanti kalau nyampe rumah eyang lagi harus makan lagi masakannya eyang uti.

Sekali lagi, itu hanya masalah yang sepele: masakan. Akan tetapi bisa dirasakan sebagai bentuk dari sebuah pengabaian, tidak dianggap.

Ada pengalaman-pengalaman lain yang lebih rumit? Sepertinya ada ... ...

Suami yang tidak dianggap
Istri yang tidak dianggap
Anak yang tidak dianggap
Kawan yang tidak dianggap
... Kekasih yang tidak dianggap

Mengerikan.
Ada, hadir, eksis ... tetapi diacuhkan, diabaikan, tidak diakui, tidak diperhitungkan, dianggap sebelah mata atau bahkan dianggap tidak ada sekalian saja.


Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, sangat menarik karena perasaan yang sama – tidak dianggap – (oleh kebanyakan orang pada waktu itu) juga bisa hadir dalam perasaan dua hal dalam teks Alkitab kita hari ini. Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal yang tidak dianggap itu ...

(1) Ayat 1. Tentang perempuan-perempuan.
Ada yang waktu baca perikop kita hari ini nanya-nanya gak? Kemana para pengikut Yesus yang laki-lakinya? Kenapa justru berita dahsyat tentang kebangkitan Tuhan dipercayakan untuk diberitakan melalui para perempuan untuk kali pertamanya?

Jangan lupa, Yahudi itu sangat patrialkal budayanya. Perempuan seringkali tidak dianggap. Bahkan kalau ada perkara di persidangan, kesaksian seorang perempuan itu seringkali tidak dianggap sebagai fakta jika tidak didukung oleh kesaksian lelaki. Contoh dalam teks kita lah, ada kalimat “Maria yang lain” ... itu siapa?

Akan tetapi justru kepada mereka yang tidak dianggap itulah kabar baik sukacita Paska dipercayakan Tuhan.

(2) Ayat 7, 10. Tentang Galilea.
Ada yang waktu baca teks kita hari ini nanya-nanya gak? Kenapa Yesus justru memilih Galilea untuk menjumpai para murid-Nya? Kenapa gak di Yerusalem yang menjadi “Jakarta”-nya Israel? Pusat kota. Galilea itu kan daerah orang Samaria. Itu dia permasalahannya. Galilea adalah daerah orang-orang yang tidak dianggap, tidak diperhitungkan, tidak diakui ... oleh orang Israel. Dianggap buruk.

Saya kalau lagi jalan keluar naik angkot atau bis gitu, pak bu, kadang ditanya kan: Tinggal di mana? Lalu saya nyebut: Priok. Beberapa orang masih ada lho yang denger kata Priok itu ngasih reaksi yang agak-agak gimana gitu ... daerah panas, keras, preman, kerlap-kerlip malam.

Kembali ke teks Alkitab kita hari ini, kenapa Galilea, bukan yang lain? Gak ada yang tahu alasan Tuhan kenapa. Btw, ini GKP Tanjung Priok kan namanya juga Galilea kan ... kenapa coba dikasih nama Galilea? Apa karena dekat sungai aja? :)

Yang jelas, dari dua hal tadi ... baik para perempuan dan Galilea memiliki satu kesamaan: Yang tidak dianggap oleh dunia (orang-orang), ketika orang-orang menutup mata dan memberi nilai dan batasan kriteria ... Tuhan membuka mata-Nya lebar-lebar untuk berkarya melalui siapapun juga.

Tidak terkecuali ... kita. Bapak dan ibu dan teman muda dan saya ... yang mungkin hari ini pun memiliki perasaan awal yang sama, yang melemahkan ... dan kadang mematikan semangat .. Karena merasa menjadi orang yang tidak dianggap.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER