Mazmur 122:1-9 | Dijual: Rumah Tuhan!

gereja dijual

Dijual: Rumah Tuhan! — Kalimat itu mungkin terasa asing di telinga kita sebagai orang percaya di Indonesia. Di sini ada begitu banyak saudara-saudara kita orang percaya yang bergumul berat untuk bisa punya satu Rumah Tuhan untuk beribadah.

Tengoklah peristiwa penutupan dan penolakan pembangunan gereja-gereja di mana aja? Yasmin, Dayeuhkolot dan banyak lagi di hampir seluruh bumi Nusantara. Kita di sini bergumul justru untuk memiliki satu tempat yang tenang, gereja, untuk bisa beribadah.

Hambatan muncul kuat luar biasa di negeri kita ini, mau bikin sertifikat aja susah, apalagi ngurus IMB. Itulah yang menyebabkan ada banyak saudara seiman kita yang akhirnya ibadah di mall-mall dan hotel-hotel. Datanglah ke mall, mall apa saja, pasti ada gereja di sana.

Ada satu buku yang menceritakan tentang sengsaranya hidup orang percaya di abad-abad mula-mula, judulnya: "Semakin Dibabat, Semakin Merambat"

Di Indonesia hari ini, kita tahu betul apa bentuk nyata dari kalimat itu. Kita gak boleh bangun gereja? Ok! Sewa ruangan di mall-mall atau hotel untuk kita bisa ibadah. Gitu aja kok repot. Kan Gereja itu bukan gedungnya, tetapi orangnya.

Beberapa hari yang lalu saya mimpin di Kompas-Gramedia, saya kira mau ibadah di gedung kantornya, tapi ternyata enggak. Mereka bikin di apartemen. Karena memang gak disediakan ruang ibadah di sana ternyata. "Hambatan yang tidak menjadi alasan untuk berhenti merambat".

Tapi sayangnya, lain di Indonesia, lain pula pengalaman di barat.


Di Jual: Rumah Tuhan! Kalimat itu gak asing (katanya) di sana. Katanya, ada banyak gereja-gereja yang gulung tikar dan berubah menjadi mall, atau bahkan menjadi tempat ibadah umat beragama lain. Ironis. Di sini kita kesusahan punya rumah ibadah, di sana mereka jual-jualin gitu aja. Tukeran sini kita sama mereka.

Dulu saya sempet ditanya juga sama teman tentang kenapa itu di barat gereja banyak yang tutup? Lalu saya jawab aja: "Oh itu karena mereka sekarang pindahan ke konsep megachurch, satu gedung yang buesar sekali dan menampung puluhan ribu orang untuk sekali ibadah". Itu sebenarnya jawaban yang menghibur diri aja. Semoga benar.

Saya mengajak kita untuk melihat dua realitas tadi sebelum kita melihat teks kita hari ini, Mazmur 122. Ada semangat yang berbeda dengan 2 realitas tadi dengan teks kita hari ini? Ada.
Mazmur 122:1-9
Doa sejahtera untuk Yerusalem
122:1 Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."
122:2 Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.
122:3 Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat,
122:4 ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel.
122:5 Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.
122:6 Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa.
122:7 Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!"
122:8 Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: "Semoga kesejahteraan ada di dalammu!"
122:9 Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.
Di Indonesia: Semangat ibadahnya ada, gedungnya susah.
Di Barat: gedungnya ada, semangat ibadahnya berkurang (katanya)

Di teks kita hari ini? Hmmm, gambaran yang sempurna.

Rumah Tuhan nya ada, diimbangi dengan semangat yang luar biasa dari orang israel untuk pergi beribadah.

Mari kita lihat ulang sedikit teks kita hari ini:
1. Mazmur 122:1 - Ada sukacita di sana, ada semangat untuk pergi ke rumah Tuhan di sana.
2. Mazmur 122:8 - Ada suasana yang harmonis, persaudaraan yang menyenangkan.
3. Mazmur 122:9 - ada niat yang tulus dari semua anggota jemaat untuk mencari kebaikan di antara sesama.

Terbayang gak sih suasana hidup bersama sebagai satu keluarga umat Tuhan seperti yang di gambarkan dalam teks kita yang beneran terjadi di masa raja Daud itu?

- Orang yang malas beribadah karena capek kerja semingguan penuh.
- Orang yang berantem dan gak kelar-kelar sampai akhir zaman nanti
- Orang yang bergosip
- Orang yang saling sikut sana sini.

Rasanya tak kita temukan bahkan dalam bayangan sekalipun tentang teks kita Mazmur 122 itu.

Pak, bu boleh tanya?
Gambarana apa sih yang sedang kita lihat nyata di depan mata kita sewaktu kita berada di rumah Tuhan? Sewaktu kita hidup bersama dengan keluarga jemaat Tuhan di tempat kita?

Siapa yang gak rindu dengan gambaran nyata yang sangat ideal yang pernah terjadi di masa raja Daud dalam Mazmur 122 itu?

Sudahkah kita juga merasakan hal yang sama sekarang? Atau kita sedang siap-siap bikin papan iklan besar-besar dan taruh itu di depan gedung gereja kita:

Dijual: Rumah Tuhan!

Post a Comment