Yakobus 2:1-4 | Gereja Tanpa Tembok - Pdt. Gerry Atje

Gereja Tanpa Tembok

Pernah gak sih terbayang apa yang dikuatirkan oleh Yakobus dalam teks pembacaan Alkitab kita hari ini itu terjadi benar-benar di sana pada waktu itu? Saya kebayang .... Tentang orang-orang yang dikatakan oleh Yakobus dalam ayat yang ke 3,
dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: 
"Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",

Mereka pasti adalah orang-prang yang dengan mudahnya mengubah raut wajah mereka. Mungkin hanya sepersekian detik mereka bisa mengubah tampak muka mereka itu ...
- dari yang berwajah manis ... menjadi asem - pahit
- dari yang tampak ramah ... jadi ... sangar

Coba aja di test, di ayat tiga itu kan ada tiga kalimat:
1. Silahkan tuan duduk di tempat yang baik ini!
2. Berdirilah di sana!
3. Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!

Coba itu tiga kalimat itu cocoknya pake raut muka dan nada suara yang gmana? Cocok gak kalimat yang nomer 2 dan tiga itu pake wajah manis dan ramah? Cocok? Ah yang bener! Gak cocoklah!

Segala sesuatu yang di dalamnya kita sudah mulai untuk mencoba membangun tembok - sekat pemisah ... itu pasti akan selalu melemahkan - mengurangi kekuatan yang sesungguhnya.

Itu ibaratnya ruangan ibadah gereja kita ini nih ya sekarang yang seluas ini ... lalu tiba-tiba ada yang membangun satu tembok tinggi yang membagi dua bagian antara barisan kursi sebelah kiri saya dan barisan kursi di sebelah kanan saya.

Harusnya kita seluas ruangan "gereja tanpa tembok" ini, tapi karena temboknya itu ada di tengah dan membagi dua ... jadi gak kelihatan lah seluas yang seharusnya. Itu cuma contoh aja ya, bukan kenyataan.

Saya gak tahu apakah jemaat yang diingatkan oleh Yakobus ini sudah se-ekstrim yang kita baca atau belum. Akan tetapi kalau kita baca seperti yang kayak ayat tiga tadi itu ... ya berarti kemungkinan besar memang kejadiannya sudah pernah terjadi.

Pertanyaan pentingnya adalah .. apakah kejadian-kejadian seperti dalam ayat tiga itu masih terus bisa kita temukan sampai dengan hari ini ... walaupun ... semua orang tahu bahwa membangun tembok pemisah itu benar-benar banyak meruginya.

Mungkin tidak se-ekstrim seperti yang kita baca dalam ayat tiga. Tetapi justru karena tidak ekstrim seperti ayat tiga itu, bukannya itu jadi lebih menakutkan? Yang ekstrim menakutkan ... yang tidak ekstrim jauh lebih menakutkan lagi.

Orang bisa duduk bersama, tetapi sebenarnya mereka terpisah. Temboknya gak kelihatan. Duduk bersama tetapi diem-dieman, senyum pas berhadapan muka, tetapi di belakang cemberut.
Tembok yang paling menakutkan adalah tembok yang seseorang bangun tetapi tidak pernah kasat mata.

Hari ini, mari kita lihat hidup kita ...
Apakah kita sedang membangun sebuah tembok pemisah atau kita sedang mau menghancurkannya?

Kuncinya ...
Ayat 4

bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

Susah ya kuncinya ...
Karena kuncinya meruntuhkan keinginan untuk membangun tembok pemisah itu adalah keluar dari hati kita masing-masing. Mendamaikan dirinya sendiri sebelum berdamai dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Pengalaman-pengalaman di hari kemarin ketika hidup bersama dengan orang-orang lain ... Itu bisa jadi modal yang cukup bagi siapa saja untuk mulai membawa sebuah batu bata merah dan mulai menumpuknya menjadi satu tembok.
- Dia jahat
- Dia curang
- Dia nyakitin
- Dia bersikap buruk

Cukup modalnya? 
Tinggal di bangun deh kalau sudah begitu ...

Sekali lagi .. ayat empat menjadi kuncinya.
Kita bukan hakim. Oleh sebab itu berhentilah bersikap bak seorang hakim yang menghakimi. "Tapi dia sudah begitu nyakitin!" Stop. Itu urusan dia atau mereka sama Tuhan.

Tugas kita hanya sampai pada menjaga hati dan pikiran kita tetap damai dan berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri dan semua orang. Cuma itu saja.

Selebihnya ...
Kasih ke Tuhan. Dia tahu apa yang harus Dia lakukan untuk kita, untuk dia ... atau untuk mereka.

Yakobus 2:1-4 | Gereja Tanpa Tembok


Gereja Tanpa Tembok

Pernah gak sih terbayang apa yang dikuatirkan oleh Yakobus dalam teks pembacaan Alkitab kita hari ini itu terjadi benar-benar di sana pada waktu itu? Saya kebayang .... Tentang orang-orang yang dikatakan oleh Yakobus dalam ayat yang ke 3,
dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: 
"Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",

Mereka pasti adalah orang-prang yang dengan mudahnya mengubah raut wajah mereka. Mungkin hanya sepersekian detik mereka bisa mengubah tampak muka mereka itu ...
- dari yang berwajah manis ... menjadi asem - pahit
- dari yang tampak ramah ... jadi ... sangar

Coba aja di test, di ayat tiga itu kan ada tiga kalimat:
1. Silahkan tuan duduk di tempat yang baik ini!
2. Berdirilah di sana!
3. Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!

Coba itu tiga kalimat itu cocoknya pake raut muka dan nada suara yang gmana? Cocok gak kalimat yang nomer 2 dan tiga itu pake wajah manis dan ramah? Cocok? Ah yang bener! Gak cocoklah!

Segala sesuatu yang di dalamnya kita sudah mulai untuk mencoba membangun tembok - sekat pemisah ... itu pasti akan selalu melemahkan - mengurangi kekuatan yang sesungguhnya.

Itu ibaratnya ruangan ibadah gereja kita ini nih ya sekarang yang seluas ini ... lalu tiba-tiba ada yang membangun satu tembok tinggi yang membagi dua bagian antara barisan kursi sebelah kiri saya dan barisan kursi di sebelah kanan saya.

Harusnya kita seluas ruangan "gereja tanpa tembok" ini, tapi karena temboknya itu ada di tengah dan membagi dua ... jadi gak kelihatan lah seluas yang seharusnya. Itu cuma contoh aja ya, bukan kenyataan.

Saya gak tahu apakah jemaat yang diingatkan oleh Yakobus ini sudah se-ekstrim yang kita baca atau belum. Akan tetapi kalau kita baca seperti yang kayak ayat tiga tadi itu ... ya berarti kemungkinan besar memang kejadiannya sudah pernah terjadi.

Pertanyaan pentingnya adalah .. apakah kejadian-kejadian seperti dalam ayat tiga itu masih terus bisa kita temukan sampai dengan hari ini ... walaupun ... semua orang tahu bahwa membangun tembok pemisah itu benar-benar banyak meruginya.

Mungkin tidak se-ekstrim seperti yang kita baca dalam ayat tiga. Tetapi justru karena tidak ekstrim seperti ayat tiga itu, bukannya itu jadi lebih menakutkan? Yang ekstrim menakutkan ... yang tidak ekstrim jauh lebih menakutkan lagi.

Orang bisa duduk bersama, tetapi sebenarnya mereka terpisah. Temboknya gak kelihatan. Duduk bersama tetapi diem-dieman, senyum pas berhadapan muka, tetapi di belakang cemberut.
Tembok yang paling menakutkan adalah tembok yang seseorang bangun tetapi tidak pernah kasat mata.

Hari ini, mari kita lihat hidup kita ...
Apakah kita sedang membangun sebuah tembok pemisah atau kita sedang mau menghancurkannya?

Kuncinya ...
Ayat 4

bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

Susah ya kuncinya ...
Karena kuncinya meruntuhkan keinginan untuk membangun tembok pemisah itu adalah keluar dari hati kita masing-masing. Mendamaikan dirinya sendiri sebelum berdamai dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Pengalaman-pengalaman di hari kemarin ketika hidup bersama dengan orang-orang lain ... Itu bisa jadi modal yang cukup bagi siapa saja untuk mulai membawa sebuah batu bata merah dan mulai menumpuknya menjadi satu tembok.
- Dia jahat
- Dia curang
- Dia nyakitin
- Dia bersikap buruk

Cukup modalnya? 
Tinggal di bangun deh kalau sudah begitu ...

Sekali lagi .. ayat empat menjadi kuncinya.
Kita bukan hakim. Oleh sebab itu berhentilah bersikap bak seorang hakim yang menghakimi. "Tapi dia sudah begitu nyakitin!" Stop. Itu urusan dia atau mereka sama Tuhan.

Tugas kita hanya sampai pada menjaga hati dan pikiran kita tetap damai dan berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri dan semua orang. Cuma itu saja.

Selebihnya ...
Kasih ke Tuhan. Dia tahu apa yang harus Dia lakukan untuk kita, untuk dia ... atau untuk mereka.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL