Pengkhotbah 3:1-15 | Siap 2014? - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Siap 2014? 


Minggu paling awal di tahun 2014 ... Tahun yang baru pasti selalu membawa harapan yang baru. Setelah 52 minggu berlalu di tahun yang lalu, boleh gak saya nanya: Jika kita harus memilih satu kata untuk menggambarkan apa yang telah terjadi di tahun yang kemarin, kita akan memilih satu kata apa? “Tahun kemarin adalah tahun ...”
Luarbiasa! Perjuangan. Berkat. Damai. ... atau ... Mengerikan! Ancur! 

Kalau dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, dikatakan: “Ada waktu untuk ‘A’, ada waktu untuk ‘Z’” ... antara satu dan yang lain sama sekali bertolak belakang: “Ada waktu untuk ‘yang menyenangkan’” ... dan ada waktu untuk ‘yang tak menyenangkan’”. 

Yang saya takut adalah ketika ada seseorang yang merasa bahwa disepanjang tahun yang lalu itu, dia merasa bahwa disepanjang tahun yang telah berlalu itu yang dialaminya adalah ... hal yang menyenangkan? Ya gak masalah kalau yang dialaminya itu banyak hal-hal yang menyenangkannya. Kalau ternyata yang dialaminya itu banyakan hal-hal yang tidak menyenangkan, gmana? 
Ada waktu untuk dapat kerja, ada waktu untuk kehilangan pekerjaan. 
Ada waktu untuk damai, ada waktu untuk ribut. 
Ada waktu untuk punya uang, ada waktu untuk bokek. 
Ada waktu unttuk sehat, ada waktu untuk sakit. 

“Tuhan, yang saya alami disepanjang tahun kemarin itu banyakan yang ‘akhiran-akhirannya’. Saya kehilangan pekerjaan makanya lebih sering bokek, lalu karena bokek kami ribut terus dan akhirnya banyak yang sakit.” Lengkap sudah. 

Ngeri gak sih kalau ada orang yang menyimpulkan bahwa di sepanjang tahun yang lalu itu, ya gak enak? Dan menjalani hari di tahun yang baru yang masih panjang dan masih kosong ini (sejarah hidup kita kan belum tertulis di tahun yang baru ini) sudah penuh dengan “isi” .. coretan beban yang semakin membuat langkah kaki kita bukan tambah ringan, tapi malah makin menjadi berat. 

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan seputar hal itu. Ada tiga hal yang mau kita renungkan bersama hari ini:

Yang pertama, 
Ayat 11b “ ... kita tidak dapat menyelami pekerjaan Tuhan dari awal sampai akhir.” 

Saya suka sekali cerita tentang seorang anak kecil yang sedang main di tepi danau dengan perahu-perahuan kecilnya itu. Dihanyutkan perahu kecilnya itu ke danau dan ternyata perahu kecilnya itu makin ke tengah danau dan si anak tak bisa lagi menjangkau perahu kecilnya itu. Anak itu nangis. Seorang bapak mendengar si anak itu nangis lalu menghampiri anak itu. Tanpa bicara si bapak itu kemudian mengambil batu dan mulai melempari perahu kecil si anak itu yang ada di tengah danau. Melihat hal itu, si anak makin nangis dan marah kepada si bapak yang melempari perahu kecilnya itu. Tapi si bapak itu tetap saja melempari perahu itu dengan batu.

Tak berapa lama kemudian, si anak berhenti menangisnya. Kenapa? Karena dia mulai mengerti apa yang sedang dilakukan oleh si bapak itu. Ternyata yang dilakukan oleh bapak itu bukanlah melempari kapal dengan batu, melainkan menciptakan gelombang air supaya perahu si anak itu bisa terdorong dan kembali lagi ke tepian danau .. untuk si anak itu. 

Kita bener-bener gak tahu ya, apa yang sedang Tuhan lakukan dan kerjakan bagi hidup kita. Kadang pada awalnya sangat misteri, hingga akhirnya tiba waktu penyataan itu. Kita sangka Tuhan sedang merusak, padahal ... seperti anak kecil itu tadi, malah sebaliknya. 

Ini bukan curcol pak, bu ... saya cuma mau cerita aja. 
Tahun 2013, saya juga sakit kok, lumayan. Di awal jelas bingung, sedih, marah, dan semua kawan negatif lainnya jadi satu. Tetapi di satu titik kemudian saya kepikiran, “Mungkin Tuhan memang ngasih izin untuk ngalamin hal itu, supaya saya bisa membantu orang yang ngalamin hal yang sama seperti sakit yang saya alamin kemarin itu.” 

Karena kita tidak isa menyelami pekerjaan-pekerjaan Tuhan, jangan buru-buru ambil kesimpulan. Carilah ratusan kemungkinan yang lain yang membangun dan meneguhkan kehidupan diri kita. Hidup kita ini kan sudah berat ya, ngapain ditambahin jadi makin berat dengan berpikir yang tidak-tidak tentang masa depan hidup kita? Berpikirlah yang membangun. Tuhan bukan musuh kita. 

Yang kedua adalah ... 
Ayat 2-8 (saya gak perlu baca lagi ya ayatnya .. “ada waktu untuk ‘a’, ada waktu untuk ‘z’”)

Karena segala sesuatu ada waktunya ... mari kita bertanya apakah kita benar-benar sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala sesuatunya itu? 

+ Siap menghadapi yang terbaik dari Tuhan? Siap! 
- Kalau menghadapi yang gak enak yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita, siap? Nah lho! 

Inget istri Ayub sewaktu yang gak enak terjadi dalam kehidupan mereka dia bilang apa? “Berhenti memuji Tuhan! Mulailah mengutuk-Nya!” Lalu Ayub bilang apa? “Lagakmu kayak orang gila saja! Mengapa engkau hanya mau menerima yang baik dari Tuhan?” 

Satu contoh tokoh Alkitab yang sukses memakai prinsip mempersiapkan diri menghadapi segala sesuatu adalah ... Yusuf. Masih inget dong, ‘tujuh tahun masa kelimpahan dan tujuh tahun masa kekurangan’. Apa yang kemudian Yusuf lakukan? Dia nabung! Dia mempersiapkan diri baik menghadapi yang enak, maupun yang gak enak. Kita? 

Yang terakhir ... 
Kalimat paling favorit dari pasal 3 ini “ ... Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.” 

Masih inget di awal tadi kita mengandaikan bahwa ada seseorang yang mungkin menyimpulkan bahwa tahun yang lalu itu .. diri atau kehidupannya itu ancur-ancuran? Kalau bapak dan ibu ketemu dengan orang seperti itu, apa yang akan bapak dan ibu sharingkan dengannya? Kalau saya, saya Cuma mau bilang .. 
“Tahun 2014 ini siapa tahu inilah tahunnya Tuhan menjelaskan segala sesuatunya. Kenapa Dia mengizinkan hal-hal yang kita pandang gak enak itu terjadi di tahun lalu. Siapa tahu, tahun 2014 ini usai sudah masa sulit dan kita menuai apa yang telah kita tabur dengan air mata dan perjuangan.” 

Selamat berjuang selalu di tahun yang baru ini. 
Kita gak sendirian. 

Pengkhotbah 3:1-15 | Siap 2014?

Siap 2014? 


Minggu paling awal di tahun 2014 ... Tahun yang baru pasti selalu membawa harapan yang baru. Setelah 52 minggu berlalu di tahun yang lalu, boleh gak saya nanya: Jika kita harus memilih satu kata untuk menggambarkan apa yang telah terjadi di tahun yang kemarin, kita akan memilih satu kata apa? “Tahun kemarin adalah tahun ...”
Luarbiasa! Perjuangan. Berkat. Damai. ... atau ... Mengerikan! Ancur! 

Kalau dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, dikatakan: “Ada waktu untuk ‘A’, ada waktu untuk ‘Z’” ... antara satu dan yang lain sama sekali bertolak belakang: “Ada waktu untuk ‘yang menyenangkan’” ... dan ada waktu untuk ‘yang tak menyenangkan’”. 

Yang saya takut adalah ketika ada seseorang yang merasa bahwa disepanjang tahun yang lalu itu, dia merasa bahwa disepanjang tahun yang telah berlalu itu yang dialaminya adalah ... hal yang menyenangkan? Ya gak masalah kalau yang dialaminya itu banyak hal-hal yang menyenangkannya. Kalau ternyata yang dialaminya itu banyakan hal-hal yang tidak menyenangkan, gmana? 
Ada waktu untuk dapat kerja, ada waktu untuk kehilangan pekerjaan. 
Ada waktu untuk damai, ada waktu untuk ribut. 
Ada waktu untuk punya uang, ada waktu untuk bokek. 
Ada waktu unttuk sehat, ada waktu untuk sakit. 

“Tuhan, yang saya alami disepanjang tahun kemarin itu banyakan yang ‘akhiran-akhirannya’. Saya kehilangan pekerjaan makanya lebih sering bokek, lalu karena bokek kami ribut terus dan akhirnya banyak yang sakit.” Lengkap sudah. 

Ngeri gak sih kalau ada orang yang menyimpulkan bahwa di sepanjang tahun yang lalu itu, ya gak enak? Dan menjalani hari di tahun yang baru yang masih panjang dan masih kosong ini (sejarah hidup kita kan belum tertulis di tahun yang baru ini) sudah penuh dengan “isi” .. coretan beban yang semakin membuat langkah kaki kita bukan tambah ringan, tapi malah makin menjadi berat. 

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan seputar hal itu. Ada tiga hal yang mau kita renungkan bersama hari ini:

Yang pertama, 
Ayat 11b “ ... kita tidak dapat menyelami pekerjaan Tuhan dari awal sampai akhir.” 

Saya suka sekali cerita tentang seorang anak kecil yang sedang main di tepi danau dengan perahu-perahuan kecilnya itu. Dihanyutkan perahu kecilnya itu ke danau dan ternyata perahu kecilnya itu makin ke tengah danau dan si anak tak bisa lagi menjangkau perahu kecilnya itu. Anak itu nangis. Seorang bapak mendengar si anak itu nangis lalu menghampiri anak itu. Tanpa bicara si bapak itu kemudian mengambil batu dan mulai melempari perahu kecil si anak itu yang ada di tengah danau. Melihat hal itu, si anak makin nangis dan marah kepada si bapak yang melempari perahu kecilnya itu. Tapi si bapak itu tetap saja melempari perahu itu dengan batu.

Tak berapa lama kemudian, si anak berhenti menangisnya. Kenapa? Karena dia mulai mengerti apa yang sedang dilakukan oleh si bapak itu. Ternyata yang dilakukan oleh bapak itu bukanlah melempari kapal dengan batu, melainkan menciptakan gelombang air supaya perahu si anak itu bisa terdorong dan kembali lagi ke tepian danau .. untuk si anak itu. 

Kita bener-bener gak tahu ya, apa yang sedang Tuhan lakukan dan kerjakan bagi hidup kita. Kadang pada awalnya sangat misteri, hingga akhirnya tiba waktu penyataan itu. Kita sangka Tuhan sedang merusak, padahal ... seperti anak kecil itu tadi, malah sebaliknya. 

Ini bukan curcol pak, bu ... saya cuma mau cerita aja. 
Tahun 2013, saya juga sakit kok, lumayan. Di awal jelas bingung, sedih, marah, dan semua kawan negatif lainnya jadi satu. Tetapi di satu titik kemudian saya kepikiran, “Mungkin Tuhan memang ngasih izin untuk ngalamin hal itu, supaya saya bisa membantu orang yang ngalamin hal yang sama seperti sakit yang saya alamin kemarin itu.” 

Karena kita tidak isa menyelami pekerjaan-pekerjaan Tuhan, jangan buru-buru ambil kesimpulan. Carilah ratusan kemungkinan yang lain yang membangun dan meneguhkan kehidupan diri kita. Hidup kita ini kan sudah berat ya, ngapain ditambahin jadi makin berat dengan berpikir yang tidak-tidak tentang masa depan hidup kita? Berpikirlah yang membangun. Tuhan bukan musuh kita. 

Yang kedua adalah ... 
Ayat 2-8 (saya gak perlu baca lagi ya ayatnya .. “ada waktu untuk ‘a’, ada waktu untuk ‘z’”)

Karena segala sesuatu ada waktunya ... mari kita bertanya apakah kita benar-benar sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala sesuatunya itu? 

+ Siap menghadapi yang terbaik dari Tuhan? Siap! 
- Kalau menghadapi yang gak enak yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita, siap? Nah lho! 

Inget istri Ayub sewaktu yang gak enak terjadi dalam kehidupan mereka dia bilang apa? “Berhenti memuji Tuhan! Mulailah mengutuk-Nya!” Lalu Ayub bilang apa? “Lagakmu kayak orang gila saja! Mengapa engkau hanya mau menerima yang baik dari Tuhan?” 

Satu contoh tokoh Alkitab yang sukses memakai prinsip mempersiapkan diri menghadapi segala sesuatu adalah ... Yusuf. Masih inget dong, ‘tujuh tahun masa kelimpahan dan tujuh tahun masa kekurangan’. Apa yang kemudian Yusuf lakukan? Dia nabung! Dia mempersiapkan diri baik menghadapi yang enak, maupun yang gak enak. Kita? 

Yang terakhir ... 
Kalimat paling favorit dari pasal 3 ini “ ... Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.” 

Masih inget di awal tadi kita mengandaikan bahwa ada seseorang yang mungkin menyimpulkan bahwa tahun yang lalu itu .. diri atau kehidupannya itu ancur-ancuran? Kalau bapak dan ibu ketemu dengan orang seperti itu, apa yang akan bapak dan ibu sharingkan dengannya? Kalau saya, saya Cuma mau bilang .. 
“Tahun 2014 ini siapa tahu inilah tahunnya Tuhan menjelaskan segala sesuatunya. Kenapa Dia mengizinkan hal-hal yang kita pandang gak enak itu terjadi di tahun lalu. Siapa tahu, tahun 2014 ini usai sudah masa sulit dan kita menuai apa yang telah kita tabur dengan air mata dan perjuangan.” 

Selamat berjuang selalu di tahun yang baru ini. 
Kita gak sendirian. 

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER